
Dan Iblis tetap mempertahankan kebenaran yang dia yakini. Untungnya iblis itu hanya menggoda iman, bukan minta ijin pada Allah untuk menyerang dan menaklukkan manusia dengan serangan nyata, kalau saja waktu itu iblis meminta Allah untuk diberi ijin menyerang manusia maka manusia akan kalah melawan iblis, karena iblis itu hanya meminta ijin untuk menggoda, menguji dengan ujian,lantas karena hanya menguji dan menggoda, iblis lalu tak berdaya apa-apa, dan mengapa-apakan manusia, dia akhirnya tak bisa berbuat banyak, hanya bisa menggoda saja, dan merancang aneka godaan, tentu saja iblis yang cerdas tak begitu saja menyerah, dia lalu menggoda manusia untuk mengganggu manusia yang lain, meniupkan rasa iri dan dengki, menggoda jin juga yang lebih punya daya pada manusia untuk bisa di godanya untuk menggoda manusia dengan merasukinya, dan iblis memberi hadiah keilmuan kepada jin atau manusia yang mau bersekutu dengannya.
Dari situlah timbul masalah, penyakit atau apa juga yang menimpa manusia sebenarnya kalau ditelusuri itu adalah ulah iblis, dan Allah memberi ijin pada iblis untuk melakukan itu, seperti terjadi kejadian medis atau kejadian alam sebenarnya kalau orang mau menelusuri asal kejadian akan ditemukan kenyataan hakikat kejadian, ada penyakit di diri manusia, dan ada sebab musababnya, sering kali manusia hanya menghilangkan efeknya, dan mengobati boroknya, dan sebab borok itu terjadi sama sekali tak diobati, sering menebang pohon, tapi akar dari pohon itu tak dicabut. Entah kejadian alam, atau kejadian sakit di tubuh, jika ditelusuri dengan akal yang cerdas, bahkan jika manusia itu dibukakan asli kejadian, ya akan kembali pada penciptaan Adam, seperti gunung berapi saja, jika orang itu tau, sebenarnya ada para jin yang menyalakan kompor atau perapian besar di bawah tanah, logika saja, apa ada barang yang bisa terbakar, kalau tanpa pencampuran bahan bakar yang tepat, manusia saja kalau mau menyalakan kompor, harus ada gas, harus gasnya disimpen dalam tabung gas, ada selang dan lain-lain, sampai kompor bisa menyala, kalau gas habis juga tak akan menyala lagi itu kompor, jadi itu yang terjadi sebagaimana kenapa kejadian alam itu terjadi, tak bisa terjadi dengan sendirinya, di alam ini Allah telah menentukan hukum, sarat sareat, sebab akibat, dan manusia menggali sunnatulloh itu, menggali aturan atau sarat dan sareatnya, ada unsur, namanya sarat, dan ada perbuatan menyatukan unsur dengan ramuan yang pas, sehingga memperoleh hasil yang diharapkan, semua mobil, pesawat, makan, minum, dan apa saja, itu memadukan unsur alam, dengan paduan yang tepat, sehingga dihasilkan apa yang di inginkan, pesawat bisa terbang, mobil bisa jalan, makanan asin karena kebanyakan garam, memadukan unsur dengan tepat itu namanya sareat, tujuan dicapainya tujuan pengambilan sarat, atau benda, atau perbuatan, dan memadukan lalu tujuan yang akan dicapai itu namanya hakikat, dan menjalankan semua sampai dari adanya sarat, sareat, hakekat, dijalankan di satu perbuatan itu namanya tarekat.
Skip...
Sekali lagi aku mau bercerita soal mimpiku, ini mimpiku sendiri, jadi jangan dikomentari kalau mau cerita maka ceritakan mimpimu sendiri, siapa yang hadir dalam mimpiku, maka itu bukan karenaku, sebab mimpi yang ku alami juga bukan karena kehendakku, jika aku di dalam mimpi makan enak dan naik mobil mewah, sebaiknya jangan didengki, sebab itu juga cuma mimpi, kalau mau, mimpi saja sendiri, jangan merebut mimpiku, dan jika ada yang komentar, mimpi saja kok diceritakan, ya saya akan jawab, mimpi saja kok mau maunya dibaca. Aku bermimpi, hari masih sore, tapi di majlisku yang sederhana datang seorang yang mengeluhkan sakit, setelah ku tanya sana sini, lalu ku obati dengan pengobatan sebagaimana biasa ku lakukan, minta pada Allah sakitnya disembuhkan dan yang menyebabkan sakit khususnya para jin di dalam tubuhnya dibersihkan, agar sakitnya tak kembali lagi, menurut pendapatku, dan memang atas ijin Allah orang itu sembuh. Ternyata kejadian itu tak sesederhana itu, semua orang yang hadir di majlis juga tau kalau orang yang berobat itu sembuh karena bukan aku hebat, tapi karena Allah menyembuhkan, dan aku hanya sebagai hamba yang bisanya hanya meminta pada Allah, tapi bagi orang awam yang kebanyakan atau orang umum tak hanya seperti itu, malah aku yang diminta menyembuhkan malah dituduh sebagai yang menyebabkan sakit ngelus dada, ternyata jelas-jelas berbuat baik itu belum tentu dinilai baik di mata orang lain. Anak menantu orang yang sakit dan anaknya
datang ke rumahku, marah-marah dan menuduhku sebagai yang menyebabkan sakit yang dialami oleh ibunya yang sakit, buktinya setelah ku sentuh langsung sembuh, ah aku tak mau banyak bicara, aku tinggalkan saja tamu
yang mengajak ribut, dan menuduhku yang menyebabkan keluarganya sakit, malah ku
__ADS_1
dengar aku mau diperkarakan, ya Allah… aku menangis pada Allah sendiri dalam kamar, minta diberi kekuatan menerima cobaan ini…. setelah marah-marah kedua orang itu keluar dari rumahku dengan tanpa permisi, setelah berdebat dengan ibunya sendiri, yang sering disuntik bius agar tak keluar keluh kesahnya kalau lagi mengalami rasa sakit.
Lanjut mimpi lagi. Datang seorang yang membawa anaknya yang kecil sakit, ya aku tanpa banyak kata segera mencoba mengobati anak itu, ternyata karena diganggu jin, sehingga mau diambil nyawanya,jin itu dikirim seseorang karena permasalahan warisan. Dan sebenarnya yang dituju ayahnya, tapi yang kena anaknya, sekalian ku cabut saja ruh dukun santet yang menyerang anak itu ada 3 dukun, dan jin yang ada di anak itu ku keluarkan semua. Anaknya sudah enakan, dan kelihatan mulai sembuh. Tapi cerita ternyata tak sampai disitu, habis dari rumahku, anak itu meninggal dunia.
Dan besoknya ayahnya dengan membawa dukun melabrakku, menuduhku yang menyebabkan anaknya mati.
“Saya ingin minta kejelasan soal kematian anakku..” kata pak Jo dengan muka agak tak suka.
“Begini pak kyai, anda itu kan seorang kyai, bagaimana mungkin anda menyebabkan anak kecil itu mati, anak kecil itu mati secara tak wajar, bagaimana pertanggung jawaban sampean, ini kakak anak itu,” kata dukun yang dibawa, dia menunjuk anak remaja yang juga hadir.
“Bagaimana saya bisa dituduh?” tanyaku dengan berusaha tenang dan tak terpancing emosi,.
__ADS_1
“Bapak kemaren ke rumahku, minta tolong padaku, saya juga tak meminta, bapak yang datang sendiri, juga tak saya undang, bahkan waktu anak bapak ke sini saya juga sama sekali tak menyentuhnya, bagaimana mungkin saya malah yang dituduh menyebabkannya mati? Kemarin bapak kan melihat sendiri bagaimana saya mengobatinya, juga kemarin pas di sini, malah ruhnya dukun yang menyebabkan anak bapak sakit sudah saya panggil, dan bapak bicara sendiri dengan ruh dukun itu, la kok malah sekarang saya yang dituduh?”
“Kami ingin minta kejelasan.” kata dukun itu ngotot.
“Kejelasan yang bagaimana?” tanyaku
“Ya kejelasan apa penyebab anak ini meninggal.”
“Bukannya bapak ini kemarin sudah jelas?” kataku menunjuk kepada ayah anak itu.
“Iya kan pak?”
__ADS_1
“Iya…” jawab pak Jo.
“Tapi sekarang saya ingin lebih jelas lagi.”