Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Masih bersama macan


__ADS_3

“Wah kalau belum ngelihat ceweknya, jangan


mau Can..!”


“Ya kalau melihat ceweknya di foto sih udah Iah, tapi kalo menatap langsung yang belum…”


“Oo gitu, kamu bawa photonya Can? Kalau bawa,


coba aku lihat cakep enggak orangnya.”


“Kalau ceweknya jelas cantik.”


“Mana fotonya? Coba lihat?!” aku penasaran.


Masih menutup wajah dengan sarung, Macan


kedesal-kedesel mengeluarkan dompet lalu membukanya dengan segera mengeluarkan foto, lalu menyerahkanya padaku, dari balik sarungnya.


Aku menerima foto itu dan melihat, mengarahkan foto itu ke cahaya lampu listrik


yang membias ke arahku.


“Bagaimana Ian, cantik khan?”suara Macan dari bawah sarungnya.


“Entar dulu, aku seperti kenal dengan foto ini……, wah tak salah lagi, ini Idarayya..!” kataku


spontan.


“Lho kamu kok kenal Ian?” Macan sudah


membuka wajahnya dari tutup sarung.


“Benar khan…?”


“Iya emang bener itu namanya.., tapi kok kamu


bisa tau namanya?”


“Dia dulu pacarku Can…”


“Pacarmu Ian, wah celaka aku.”


“Cilaka bagaimana?”


“Udah kamu apakan aja Ian, jangan-jangan udah tak prawan…?”


“Ya tak aku apa-apakan, emangnya ku apakan?


Tak prawan gimana? Emangnya aku sebejad


itu?!”


“Ya siapa tau…!”


“Wah kamu tega amat Can, berpikiran begitu


padaku,”


“Tapi sudah kamu cium?”


“Cuma sedikit…”


“Awas nanti kalau ternyata telah tak perawan,


kita tuntaskan dengan golok…”


“Kita lihat aja nanti…”


Begitulah, akhirnya Macan menikah dengan


Idaraya, dan sampai sekarang, hubungan dia dan aku melebihi dari seorang saudara sekandung..


Kulihat Macan keluar dari kamar, lalu


menghampiriku, di wajahnya masih mengurat cap bantal tidur, lalu dia menyalamiku,


“Dah dari tadi Ian?”

__ADS_1


“Baru aja datang… aku dipesan kyai tuk


nemuimu…”


“Kamu baru dari Pondok?”


“Enggak, aku dari rumah, aku ketemu kyai di


Subang,"


“Dipesan apa sama kyai?”


“Disuruh ngajak kamu ngedan…”


“Byuuh, giak sanggup aku ngedan, kalau mau jadi orang gila, kamu aja sendiri, aku.. kekkekekikik,"


Apa kata anakku kalau aku menjadi orang gila,


kalau kamu ngajak aku mukulin orang, ayo


sekarang juga berangkat, tapi kalau ngajak aku


jadi orang gila, aku angkat tangan, aku punya


istri, punya anak, la kamu..?”


Aku tak kaget kalau Macan tak mau, karena kyai telah mengatakan sebelumnya.


“Yah kalau kamu tak mau ya udah….” kataku


melemah.


“Terus terang Ian, kalau amalan-amalan lain, aku sanggup menjalani, tapi kalau amalan ngedan, byuuh, aku tak sianggup Ian, aku tak sanggup orang mengatakan wah si Macan yang hebat itu sekarang uedan, keberatan ilmu, apa tak malu


aku nantinya??, lagian menurutku apa gunanya ngedan itu?”


“Ee kamu ini bagaimana sih Can, waliyulloh syaih Abdul Q......., aja melakukan, kok kamu


menyangsikan gimana kamu?”


“Bukan menyangsikan begitu, aku ini kan bekas orang bejad, tentu tak semengerti kamu.”


menjelaskan akan manfaatnya, tapi setelah aku membaca kitab manakibnya syaih Abdul q......,


aku dapat menarik kesimpulan, bahwa laku


ngedan itu dilakukan untuk membersihkan hati.”


“Membersihkan hati yang bagaimana Ian… aku


ndak mudeng sama sekali.”


“Dalam hati manusia, cenderung mempunyai sifat sombong, iri, dengki, membanggakan diri,


dianggap unggul, pengen dianggap gagah,


dimulyakan manusia lain, dianggap kaya, dianggap berilmu dan dianggap-dianggap yang lain,,


Ah apa untungnya dianggap tak ada kan? Juga dalam hati manusia itu selalu ada perasaan mencela orang lain, perlawanan dari sifat ingin dianggap, hati manusia juga tak ingin dicela, dan sifat-


sifat itu semua mengotori hati, sehingga hati tertutup oleh cahaya ilmu Alloh Taala, maka jika manusia sadar, harus berusaha menghilangkan segala macam penutup hati itu, nah jalan yang mencakup pembersihan menyeluruh, adalah


dengan cara menjadi gila..”


“Jelaskanlah lebih detail lagi Ian, biar aku


ngerti…”


Inilah yang ku suka dari Macan, biarpun


dia tak mengerti ilmu agama, tapi dia selalu


bersemangat kalau diajak ngomong masalah ilmu.


“Yah dalam diri orang gila apa sih yang perlu


disombongkan, dibanggakan, diiri didengki,

__ADS_1


dipuja, tak ada orang yang melihat orang gila,


lalu bilang orang gila itu hebat, kebanyakan


orang pasti dicemooh, nah saat dihina itulah,


kita menempatkan hati, menguatkannya,,


Membuat hilang perasaan pengen dianggap Wah dan hebat, yang tiada guna sama sekali, dipuja sampai ujung tenggorokan saja, kamu lihat para pemimpin negara kita, di depan dihormati, tapi di belakang dihujad, apa enaknya hidup palsu seperti itu.


Apalagi tidak dimulyakan tapi pengen


dianggap mulya, bukankah itu palsu di atas palsu.


Maka dalam nggila itu, kalau kita sudah mampu menghilangkan dari hati segala macam sifat,


yang menurut manusia itu muliya, tapi teramat


tercela itu, langkah selanjutnya, belajar


memasrahkan diri pada takdir Alloh, atas tubuh kita, memasrahkan sepasrah pasrahnya.


“Kita berusaha sepasrah mungkin, pasrah atas


rizqi, pasrah atas nasib, menerima apapun dari Alloh tiada menolak,,


Kalau sudah dalam tanggungan Alloh hati akan senang, tak ada beban, tak ada susah, tak ada kekawatiran, sekalipun saat itu nyawa dicabut, karena semua adalah kehendakNya, kalau sudah begitu pikiran akan tenang, dan hati lapang, karena ilmu Alloh yang masuk ke dalam hati, tak ada penghalang lagi…


Yang ada ketentraman dan kedamaian haqiqi.


Sesungguhnya para wali ALLAH itu tiada rasa


takut, dan tiada susah.”


Kataku mengakhiri pembicaraan sambil


menyruput kopi dan menyalakan rokok djisamsoe


filter.


“Walaupun begitu aku belum berani menjalankan Ian, kelihatannya berat sekali.” kata Macan sambil ikut menyalakan rokok djisamsoe kretek.


Aku hanya menginap semalam di rumah Macan, malam itu aku dan dia duduk di samping rumah di bawah pohon nangka.


Di sana terdapat meja memanjang dan dua kursi kayu panjang, suasana sangat sepi. Kami nikmati secangkir kopi dan ketela goreng.


Macan mengeluarkan hpnya,


“Ian pernah gak kamu memotret hantu?” tanya


Macan.


“Motret hantu Can, emang bisa…?”tanyaku balik heran.


“Aku kemaren motret diri sendiri Ian, tapi ada


bayangan orang tua di belakangku, coba lihat


ini..?”


Macan mengangsurkan hpnya ke depanku


setelah membuka galerinya.


Kulihat wajah Macan, dan memang ada bayangan


orang tua, seperti asap tapi tak begitu jelas.


“Wah kok bisa begitu ya?” kataku,


”Berarti bener bisa dipotret hantu itu.”


“Coba Ian kamu yang ilmunya lebih tinggi, kamu tarik hantu yang ada di sekitar sini, biar aku potret…” idenya macan.


“Apa bisa…?” tanyaku ragu.


“Ya namanya juga nyoba, ya belum tau…” katanya sambil tertawa.

__ADS_1


Aku mulai mempersiapkan diri, sambil duduk di kursi, tubuh ku tegakkan, kutarik nafas panjang, kusimpan di perut, wirid yang biasanya kubaca puluhan ribu, kini ku baca tiga kali-tiga kali tanpa napas, terasa tenaga yang di pusarku bangkit, terasa dingin, mengalir seperti ribuan semut berjalan, juga kurasakan aliran tenaga di bawah dadaku sebelah kanan terasa panas, mengalir kearah pertengahan dadaku, bertemu dengan tenaga dingin sehingga terasa ada pusaran,,


Bersambunnnggg..


__ADS_2