Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Wali Syaitan


__ADS_3

“Itu kan kasihan sopir busnya gak dapat uang, la misal semua penumpang itu punya kebisaan seperti istri sampean, lha semua bus yang ada di Indonesia akhirnya gulung tikar, gak ada yang operasi, sebab gak ada yang dapat uang, padahal sopir bus itu juga kondekturnya kan juga punya anak bini yang harus dihidupi, ini misal saja sampean, jualan bubur kacang hijau, la semua yang beli memakai ilmu kayak ilmu yang dipakai istri sampean, apa sampean gak bubar sehari dua hari jualan, soale bubur habis, tapi ndak ada sama sekali uang yang masuk, semua makan gratis.”


“Jadi ndak boleh ya pakai ilmu seperti itu?”


“Ya boleh gak sampean bubur kacang hijuanya dimakan banyak orang tapi gratis semua?”


“Ya gak boleh, nanti bagaimana makan anak istri saya.”


“Nah tau begitu, jadi sebenarnya kebaikan itu sangat mudah mempelajarinya, orang punya budi pekerti mulia dan baik itu mudah, lihat saja, kalau orang lain itu melakukan sesuatu perbuatan pada kita, kita gak mau, maka jangan lakukan perbuatan itu pada orang lain, ilmu itu


bermanfaat kalau bisa bermanfaat untuk orang lain, apapun ilmu kok bermanfaat untuk banyak orang, maka itu dikatakan ilmu manfaat, kalau merugikan orang lain, sekalipun ilmu, ya tidak dikatakan bermanfaat, namanya merugikan dan tindakan apapun itu, termasuk merugikan orang lain itu tetap dicatat oleh Allah, akan dimintai pertanggung jawaban, sekecil apapun, la kok mempelajari sesuatu kok yang nantinya akan menyusahkan diri sendiri, kalau mempelajari sesuatu itu kalau menurutku yang menguntung kan di dunia juga di akherat, sekalipun menguntungkan di dunia, tapi kok merugikan di akherat, ya tetap saja itu namanya merugikan diri sendiri, misal pinter korupsi, sampai gak ketangkep-ketangkep, atau jagoan nyopet, tapi gak pernah ketangkep, atau jago menghamili


anak orang dan gak pernah ketangkep, ya tetap saja nanti ada hukumnya Allah yang akan


menghisap, memperhitungkan, malah di sana


lebih hebat hukumannya,”


Jelasku panjang lebar, gak tau paham apa enggak. Lanjutku, karena melihat pak Sutono terdiam.


“Sebenarnya apa saja keilmuan yang bersandarnya pada selain Allah itu merugikan, misal ilmu yang memakai khodam jin.” “Maksudnya memakai khodam jin pak? Soale saya pernah mengikuti gemblengan, kata gurunya itu khodamnya malaikat.”


“Ya memakai tidak khodam jin bisa dilihat dari bentuk menjalaninya.”


“Ada berbagai ilmu, ilmu itu ada yang dipelajari ada juga yang diberikan langsung oleh Allah, ilmu yang dipelajari itu berasal dari hasil laku


manusia atau warisan dari bangsa jin, segala ilmu yang dipelajari untuk memperoleh kelebihan atau kesaktian terntentu itu semua berkhodam jin, entah ilmu hikmah, ilmu kejawen, ilmu karuhun, aji-aji kesaktian…”


“Lhoh masak begitu to pak kyai? Apa ndak


khodamnya malaikat juga ada? Misal saya itu


berdzikir dari asma Allah apa saya juga


dapatnya khodam jin, bukan malaikat?”

__ADS_1


“Nah itulah yang perlu dipahami dan dimengerti bisa jadi malah syaitan yang masuk menjadi


khodam kita tanpa kita sendiri tau dan memahaminya, malah mengira syaitan itu adalah pertolongan Allah.


“Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan


masuknya dengan puasa”.


Setan jin menguasai manusia dengan cara


mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia.


Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal


manusia dilarang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah. Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah.


Jadi mujahadah itu adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan. Allah s.w.t berfirman:


“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)


ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang


sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat.


Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang. Jadi, berdzikir kepada Allah s.w.t yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah.


Selanjutnya, ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.


“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:


“Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka


meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-


malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (30) Kamilah pelindung- pelindungmu di dalam kehidupan didunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)

__ADS_1


Firman Allah s.w.t : “Kami adalah pelindung-


pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa malaikat- malaikat yang diturunkan Allah s.w.t kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya.


Jadi, bagi pengembara-pengembara di jalan


Allah, kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan


mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah


waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin.


Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan.Jadi


Wali itu ada dua:


(1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan


(2) Auliyaausy-Syayaathiin(Walinya setan). Allah s.w.t menegaskan dengan


firman-Nya:


“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali- walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”


(QS.al-Baqoroh.2/257)


“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan- setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak


percaya.“ (QS. Al-A’raaf; 7/27).


Seorang pengembara di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah lelaku, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini.


Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapatkan khodamnya ayat kursi. Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat- tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara.


Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2