Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Aku ingin pulang


__ADS_3

“Gak, aku suka, setahun sekalipun jika mas Ian


bicara di depanku, aku akan rela duduk selalu


mendengarkan."


“Ah kau ngaco aja…, udah ah, tuh pemilik sepatu bata liatin kita, kamu balik ke butikmu sana gi…” kataku,


“Ntar istirahat siang, ke tempatku ya mas…, aku dah sediain makan siang spesial.”


“Iya entar aku kesana, sama Edy, juga Ikrom


ya..?” tanyaku.


“Nggak mas sendiri.”


“Iya…, ntar habis sholat dzuhur aku kesana.”


biasanya setiap siang ada istirahat 1 jam, dan


penjaga toko bergiliran.


Rasanya dunia seperti ini benar-benar bukan


duniaku, kalau aku tidak segera pergi


meninggalkannya, sepertinya aku akan terseret pada pusarannya, aku harus mengambil


keputusan final.


Jam setengah satu siang, berarti ada setengah jam waktu aku berada di tempat Mbak Lina, dan aku sudah duduk di kursi rotan yang ada di


ruangan belakang Butik, ruangan dengan luas 5 meter persegi, ditata dengan artistik,


Setidaknya menurut pandanganku, dinding satu tembok dilapis wallpaper bermotif kembang,


dipadu dengan warna cat bermotif warna bedak yang lembut, dibatas garis warna putih,


pencahayaan ruangan di buat terang tapi dalam arah tertentu menyorot, sehingga ruangan


kelihatan setengah redup.


“Mas Ian duduk saja yang manis, biar aku yang melayani makannya, ya itung-itung belajar


menjadi istri mas.”


Kata Lina dengan tanpa canggung, nadanya dipenuhi kebahagiaan.


Di atas meja di depanku yang berbentuk bundar dari bahan kayu jati dan dilapis fiber ada


berbagai makanan, tapi pandanganku hanya


tertuju pada makanan yang ku suka, ada soto,


dan paru goreng, juga begedel kentang.


Tercium bau harum minyak wangi yang lembut ketika Mbak Lina memasangkan sapu tangan


kecil di pangkuanku, hmm, ribet amat, kalau


menurutku makan ya makan, langsung santap,


langsung selesai, kalau pedesen dirokoki, udah gitu aja, kenapa pakai repot.


“Lin…” panggilku, ketika dia menata sendok dan piring di depanku, karena melihat dia seperti itu, bisa-bisa acara makan belum selesai, waktuku istirahat kerja sudah habis.


“Ada apa mas?” tanyanya, sambil masih


meletakkan garpu, dan kertas tissu.


“Udahlah… kamu duduk kita makan.., aku ndak


usah dilayani.” kataku sudah tidak sabar.


“Mas Ian ndak suka ya dengan pelayananku?”


tanyanya, sambil berhenti bergerak.


“Bukan begitu, tapi waktu kita pendek, coba


lihat, ini sudah 10 menit aku duduk di sini, tapi


makannya belum juga mulai, ntar nasi baru aku masukkan mulut waktu istirahatku sudah habis,


Nanti saja kalau kita sudah nikah, kamu


menunjukkan pelayananmu yang paling top,

__ADS_1


sekarang kamu duduk kita segera makan


bareng.” kataku menjelaskan.


“iya… iya aku duduk.” katanya sambil mulut


dimanyunkan. Dalam hitungan menit, apa-apa


yang ingin ku makan segera pindah di perutku,


aku bukan orang yang suka bertele-tele, selalu


apa adanya, tak suka banyak unggah ungguh asal dalam kebenaran dan tidak menyalahi agama,


Maka lakukan dengan tanpa ragu, mengambil yang perlu dan meninggalkan yang tidak ada


manfaatnya.


Dan tak sampai lima menit makan selesai.


“Bagaimana mas, enak makanan bikinanku?” tanya Mbak Lina.


Aku acungkan jempol dan tak komentar, dan dia tertawa, kadang bahasa isyarat itu lebih


mewakili dan lebih mendalam, apalagi kalau


jempolnya digoyang berulang-ulang, itu


menunjukan penekanan yang amat sangat, bahasa seperti itu orang tuli juga tahu, kecuali orang buta, kalau orang buta mungkin harus jempol ditempel di hidungnya, pakai jempol kaki juga dia gak ngerti, paling bilang jempolmu kok bau trasi ya…


“Mas… apa mas Ian gak menembakku?”


“Apa? Menembak?” tanyaku heran.


“Iya , menembak, kan kalau mau pacaran mau


jadian ditembak gitu.”


“Ooo maksudnya jadian?”


“Iya, kan kata kerennya pakai kata menembak.”


jelasnya.


“Kok kata menembak keren, aku jadi ingat dulu


“Ya, apa mas Ian gak mau kita jadian sekarang.”


Kata dia sambil menggenggam tangan kasarku.


“Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi Lin…, kamu kan belum tau betul siapa diriku.”


“Apa aku yang harus menembak mas…” katanya sambil menatapku dengan tatapan tak sabar.


“Memangnya ada perempuan yang menembak


lelaki?” tanyaku membiarkan tangannya yang


lembut memainkan jemariku.


“Ya adalah…”


“Tapi menurut hematku jangan dulu, aku tak mau kau menyesal di kemudian hari.”


“Gak, aku tak akan menyesal, aku sudah yakin


seyakin yakinnya, hanya mas yang pantas


menjadi imamku, menjadi pembimbingku, menjadi pendamping sepanjang hidupku.”


Katanya bersemangat.


Jelas membuatku juga tergetar, karena aku juga lelaki normal, mungkin yang mengatakan kambing


yang bisa bicara, aku tak akan perduli, sekarang yang mengatakan seorang gadis yang sempurna,


Sedang mimpi dia mengatakan seperti itu saja


tak pernah terlintas di benakku.


Tapi aku jadi ingat, orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya,


yang selalu terseret dan dituruti apa dan


kemana nafsu itu menyeret.


Cepat-cepat aku tulis Asma Alloh di hatiku, ku

__ADS_1


pejamkan mata sesaat untuk menyempurnakan bentuknya, terasa aliran hangat mengaliri setiap nadi, menyadarkan dan membersihkan anasir jahat yang mulai mau menguasai, dan terasanya sangat nyata.


Siapa yang membaca boleh mempraktekkannya, dan akan merasakan apa yang aku rasakan, jika mengalami hal yang menimpa sepertiku.


Itu yang dinamakan, ja’al haq wa zahaqol batil.


Syaitan itu mengalir di aliran darah, lalu jika


kita menghadirkan Asma Alloh, saat syaitan itu hampir menguasai dan mengalir di setiap darah kita, maka Asma Alloh yang kita konsentrasikan itu akan menetralisir kekuatan syaitan di tubuh,


Dan efeknya, alirannya bisa dirasakan benar-


benar nyata.


Tanganku yang digenggam Lina sekarang tak


bedanya, aku menggenggam kaki kursi atau meja yang patah, tak ada getaran apa-apa.


“Ku rasa kamu terlalu muluk-muluk, begini saja, kita biarkan seminggu, nanti kalau sudah


seminggu, jika kamu masih suka denganku, aku yang akan menembakmu, dan kita langsung saja nikah. Bagaimana?” kataku.


“Bener mas?”


“Bener lah,”


“Aku kembali dulu ke tempat kerjaku ya… dan


terimakasih atas makan siangnya.” kataku sambil bangkit dari kursi.


Lina mencium tanganku, ku biarkan saja dan


menempelkan tanganku ke pipinya. Aku segera beranjak kembali ke tempatku bekerja.


—————————————–


Pulang kerja, aku dan kedua temanku mampir di warung bubur kacang hijau,


“Aku besok jadi pulang.” kataku.


“Pulang? La trus kerjaanmu di toko sepatu bata bagaimana?” tanya Edy.


“Aku sudah keluar, tadi waktu tutup toko.”


jelasku.


“Wah jadi besok pulang betul? Sudah pasti?”


yakin Ikrom.


“Ya sudah pasti.” jelasku.


“Trus Mbak Lina bagaimana?” tanya Edy.


“Bagaimana apanya?” tanyaku balik.


“Apa kamu sudah pamit dengannya?” tanya Edy lagi.


“Ya nanti kan kamu yang pamitkan kan bisa, ya


itu juga kalau dia nanya, kalau tidak nanya ya ndak usah, kan aku ndak ada hubungan apa-apa sama dia.” kataku menjelaskan.


“Ya udah nanti aku yang omong.” sela Ikrom.


“Aku minta maaf, jika aku menyulitkan kalian


selama ini, juga terima kasih atas kebaikan


kalian berdua padaku, aku amat berhutang budi pada kalian berdua.” kataku ketika kami sudah


masuk gang menuju tempat kami berdua tinggal.


Tiba-tiba kedua temanku itu memelukku dan


menangis,


“Tidak Yan.. kami yang merasa berhutang budi


amat banyak, selama ini kami telah kamu bimbing tanpa kamu pernah memerintahkan kami melakukan suatu ibadah apapun, tapi kamu mencontohkan, bagaimana berbudi pekerti, sehingga kami melihat hasil, bukan sekedar bicara omong kosong, kami selama hidup belum pernah menemui teman sebaik dirimu,


Aku yang biasanya males sholat, sekarang sudah tak pernah ku tinggalkan, kami berterima kasih sekali Ian.” kata Edy.


“Iya bener, kamu telah memberi contoh,


bagaimana kami harus berbuat, sehingga manusia........


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2