
“Gak, aku suka, setahun sekalipun jika mas Ian
bicara di depanku, aku akan rela duduk selalu
mendengarkan."
“Ah kau ngaco aja…, udah ah, tuh pemilik sepatu bata liatin kita, kamu balik ke butikmu sana gi…” kataku,
“Ntar istirahat siang, ke tempatku ya mas…, aku dah sediain makan siang spesial.”
“Iya entar aku kesana, sama Edy, juga Ikrom
ya..?” tanyaku.
“Nggak mas sendiri.”
“Iya…, ntar habis sholat dzuhur aku kesana.”
biasanya setiap siang ada istirahat 1 jam, dan
penjaga toko bergiliran.
Rasanya dunia seperti ini benar-benar bukan
duniaku, kalau aku tidak segera pergi
meninggalkannya, sepertinya aku akan terseret pada pusarannya, aku harus mengambil
keputusan final.
Jam setengah satu siang, berarti ada setengah jam waktu aku berada di tempat Mbak Lina, dan aku sudah duduk di kursi rotan yang ada di
ruangan belakang Butik, ruangan dengan luas 5 meter persegi, ditata dengan artistik,
Setidaknya menurut pandanganku, dinding satu tembok dilapis wallpaper bermotif kembang,
dipadu dengan warna cat bermotif warna bedak yang lembut, dibatas garis warna putih,
pencahayaan ruangan di buat terang tapi dalam arah tertentu menyorot, sehingga ruangan
kelihatan setengah redup.
“Mas Ian duduk saja yang manis, biar aku yang melayani makannya, ya itung-itung belajar
menjadi istri mas.”
Kata Lina dengan tanpa canggung, nadanya dipenuhi kebahagiaan.
Di atas meja di depanku yang berbentuk bundar dari bahan kayu jati dan dilapis fiber ada
berbagai makanan, tapi pandanganku hanya
tertuju pada makanan yang ku suka, ada soto,
dan paru goreng, juga begedel kentang.
Tercium bau harum minyak wangi yang lembut ketika Mbak Lina memasangkan sapu tangan
kecil di pangkuanku, hmm, ribet amat, kalau
menurutku makan ya makan, langsung santap,
langsung selesai, kalau pedesen dirokoki, udah gitu aja, kenapa pakai repot.
“Lin…” panggilku, ketika dia menata sendok dan piring di depanku, karena melihat dia seperti itu, bisa-bisa acara makan belum selesai, waktuku istirahat kerja sudah habis.
“Ada apa mas?” tanyanya, sambil masih
meletakkan garpu, dan kertas tissu.
“Udahlah… kamu duduk kita makan.., aku ndak
usah dilayani.” kataku sudah tidak sabar.
“Mas Ian ndak suka ya dengan pelayananku?”
tanyanya, sambil berhenti bergerak.
“Bukan begitu, tapi waktu kita pendek, coba
lihat, ini sudah 10 menit aku duduk di sini, tapi
makannya belum juga mulai, ntar nasi baru aku masukkan mulut waktu istirahatku sudah habis,
Nanti saja kalau kita sudah nikah, kamu
menunjukkan pelayananmu yang paling top,
__ADS_1
sekarang kamu duduk kita segera makan
bareng.” kataku menjelaskan.
“iya… iya aku duduk.” katanya sambil mulut
dimanyunkan. Dalam hitungan menit, apa-apa
yang ingin ku makan segera pindah di perutku,
aku bukan orang yang suka bertele-tele, selalu
apa adanya, tak suka banyak unggah ungguh asal dalam kebenaran dan tidak menyalahi agama,
Maka lakukan dengan tanpa ragu, mengambil yang perlu dan meninggalkan yang tidak ada
manfaatnya.
Dan tak sampai lima menit makan selesai.
“Bagaimana mas, enak makanan bikinanku?” tanya Mbak Lina.
Aku acungkan jempol dan tak komentar, dan dia tertawa, kadang bahasa isyarat itu lebih
mewakili dan lebih mendalam, apalagi kalau
jempolnya digoyang berulang-ulang, itu
menunjukan penekanan yang amat sangat, bahasa seperti itu orang tuli juga tahu, kecuali orang buta, kalau orang buta mungkin harus jempol ditempel di hidungnya, pakai jempol kaki juga dia gak ngerti, paling bilang jempolmu kok bau trasi ya…
“Mas… apa mas Ian gak menembakku?”
“Apa? Menembak?” tanyaku heran.
“Iya , menembak, kan kalau mau pacaran mau
jadian ditembak gitu.”
“Ooo maksudnya jadian?”
“Iya, kan kata kerennya pakai kata menembak.”
jelasnya.
“Kok kata menembak keren, aku jadi ingat dulu
“Ya, apa mas Ian gak mau kita jadian sekarang.”
Kata dia sambil menggenggam tangan kasarku.
“Sebaiknya kamu pertimbangkan lagi Lin…, kamu kan belum tau betul siapa diriku.”
“Apa aku yang harus menembak mas…” katanya sambil menatapku dengan tatapan tak sabar.
“Memangnya ada perempuan yang menembak
lelaki?” tanyaku membiarkan tangannya yang
lembut memainkan jemariku.
“Ya adalah…”
“Tapi menurut hematku jangan dulu, aku tak mau kau menyesal di kemudian hari.”
“Gak, aku tak akan menyesal, aku sudah yakin
seyakin yakinnya, hanya mas yang pantas
menjadi imamku, menjadi pembimbingku, menjadi pendamping sepanjang hidupku.”
Katanya bersemangat.
Jelas membuatku juga tergetar, karena aku juga lelaki normal, mungkin yang mengatakan kambing
yang bisa bicara, aku tak akan perduli, sekarang yang mengatakan seorang gadis yang sempurna,
Sedang mimpi dia mengatakan seperti itu saja
tak pernah terlintas di benakku.
Tapi aku jadi ingat, orang kalah itu adalah orang yang menjadikan nafsunya sebagai Tuhannya,
yang selalu terseret dan dituruti apa dan
kemana nafsu itu menyeret.
Cepat-cepat aku tulis Asma Alloh di hatiku, ku
__ADS_1
pejamkan mata sesaat untuk menyempurnakan bentuknya, terasa aliran hangat mengaliri setiap nadi, menyadarkan dan membersihkan anasir jahat yang mulai mau menguasai, dan terasanya sangat nyata.
Siapa yang membaca boleh mempraktekkannya, dan akan merasakan apa yang aku rasakan, jika mengalami hal yang menimpa sepertiku.
Itu yang dinamakan, ja’al haq wa zahaqol batil.
Syaitan itu mengalir di aliran darah, lalu jika
kita menghadirkan Asma Alloh, saat syaitan itu hampir menguasai dan mengalir di setiap darah kita, maka Asma Alloh yang kita konsentrasikan itu akan menetralisir kekuatan syaitan di tubuh,
Dan efeknya, alirannya bisa dirasakan benar-
benar nyata.
Tanganku yang digenggam Lina sekarang tak
bedanya, aku menggenggam kaki kursi atau meja yang patah, tak ada getaran apa-apa.
“Ku rasa kamu terlalu muluk-muluk, begini saja, kita biarkan seminggu, nanti kalau sudah
seminggu, jika kamu masih suka denganku, aku yang akan menembakmu, dan kita langsung saja nikah. Bagaimana?” kataku.
“Bener mas?”
“Bener lah,”
“Aku kembali dulu ke tempat kerjaku ya… dan
terimakasih atas makan siangnya.” kataku sambil bangkit dari kursi.
Lina mencium tanganku, ku biarkan saja dan
menempelkan tanganku ke pipinya. Aku segera beranjak kembali ke tempatku bekerja.
—————————————–
Pulang kerja, aku dan kedua temanku mampir di warung bubur kacang hijau,
“Aku besok jadi pulang.” kataku.
“Pulang? La trus kerjaanmu di toko sepatu bata bagaimana?” tanya Edy.
“Aku sudah keluar, tadi waktu tutup toko.”
jelasku.
“Wah jadi besok pulang betul? Sudah pasti?”
yakin Ikrom.
“Ya sudah pasti.” jelasku.
“Trus Mbak Lina bagaimana?” tanya Edy.
“Bagaimana apanya?” tanyaku balik.
“Apa kamu sudah pamit dengannya?” tanya Edy lagi.
“Ya nanti kan kamu yang pamitkan kan bisa, ya
itu juga kalau dia nanya, kalau tidak nanya ya ndak usah, kan aku ndak ada hubungan apa-apa sama dia.” kataku menjelaskan.
“Ya udah nanti aku yang omong.” sela Ikrom.
“Aku minta maaf, jika aku menyulitkan kalian
selama ini, juga terima kasih atas kebaikan
kalian berdua padaku, aku amat berhutang budi pada kalian berdua.” kataku ketika kami sudah
masuk gang menuju tempat kami berdua tinggal.
Tiba-tiba kedua temanku itu memelukku dan
menangis,
“Tidak Yan.. kami yang merasa berhutang budi
amat banyak, selama ini kami telah kamu bimbing tanpa kamu pernah memerintahkan kami melakukan suatu ibadah apapun, tapi kamu mencontohkan, bagaimana berbudi pekerti, sehingga kami melihat hasil, bukan sekedar bicara omong kosong, kami selama hidup belum pernah menemui teman sebaik dirimu,
Aku yang biasanya males sholat, sekarang sudah tak pernah ku tinggalkan, kami berterima kasih sekali Ian.” kata Edy.
“Iya bener, kamu telah memberi contoh,
bagaimana kami harus berbuat, sehingga manusia........
Bersambung.....
__ADS_1