
“Nerima gimana, la dia juga gak nyatain apa-apa, ndak ngasih apa-apa, aku mau nerima apa?”
kataku dan kami mulai berjalan tenang karena
telah melewati pasar sayur.
“Si Lina itu naksir aku, atau suka padaku, itu kan masih perkiraanmu saja, la kenapa harus ribut..”
Kataku ku buat dengan nada mangkel, tapi
mulutku masih tertawa.
“Ya ndak gitu Yan, ya emang ini masih perkiraan, tapi andaikan ini bener-bener terjadi, dia jatuh cinta padamu, ini misalkan lo ya.., kalau dinilai dari sudut pandangmu, dia termasuk cewek tipe idamanmu gak?” tanyanya.
“Ya… ku akui si Lina tuh cantik, kaya, malah
cantik dan kayanya sudah di atas bayanganku,
tapi terus terang bukan aku takut apabila nanti
aku jadi cowoknya, dia bosan, lalu aku
dibuangnya kayak buang ingus, dicampakkannya kayak mennyampakkan sampah ke tong sampah, bukan takut seperti itu, tapi jujur dia bukan typeku, terlalu muluk la bagiku, atau mungkin entahlah, walau aku jujur, aku juga lelaki normal,
Yang jelas tertarik dan merasa wah dengan
kecantikannya dan keunggulannya, tapi kalau
ditanya hati nuraniku, aku tak ingin jadi
kekasihnya, hanya bikin kebat-kebit aja, nyiksa
hati..” kataku panjang lebar, tak tau apa Edi
paham dengan yang ku maksudkan.
“Wah kenapa kebat-kebit kuwatir Yan?”
“Banyaklah alasannya, kalau diuraikan satu
persatu, akan makan waktu lama,” kataku
singkat, tak terasa kami berdua telah sampai di belakang Plaza,
“Aku ndak ikut ke tempat mbak Ningsih ya.”
kataku langsung masuk ke Plaza,
“Lhoh ndak sarapan?” kata Edi berhenti,
“Gampanglah nanti saja.” kataku nyelonong
masuk lorong depan etalase kerja di sepatu
bata, dan melakukan kesibukan tiap hari,
membersihkan barang dagangan, menawarkan dan merayu pembeli yang datang, apalagi kalau gadis yang datang, pasti kena ku rayu untuk beli sepatu, kadang padahal aku rayu untuk beli sepatu pria, tapi karena rayuanku pas jadi ya
akhirnya mau juga, apalagi aku copot sepatunya dan ku pakaikan sepatu baru, kayaknya ku lihat berbunga-bunga wajahnya pertama ada rasa senang.
Tapi mulai satu minggu bekerja ditemani pelayan wanita yang ada, membuatku bosan, walau dua wanita pelayan sering mengajakku ngobrol, ah kayaknya duniaku bukan di sini, aku seperti orang yang tersesat saja, monoton dan tak tau jalan, gelap dan teramat bisu dari
perkembangan, aku seperti robot yang
__ADS_1
dipakaikan pakaian manusia, suntuk mulai
menggelayuti pikiranku, untung ada hari jum’at
libur giliran, jadi aku bisa menelaah diri,
mengurai dan memikirkan apakah ini jalan yang ku ingini?
Seperti hari jum’at itu, aku libur dan ku pakai
jalan, mengobati rasa rinduku, dari pagi aku
sudah berangkat, bilang pada Edi dan Ikrom
untuk jalan-jalan, karena liburan, aku tak mau
suntuk dalam kamar,
Aku jalan saja, tak tau arah, dan tak memilih arah, jam sepuluh sudah sampai di pintu tol Porong, aku belok ketika ku lihat sebuah masjid, ah kurasakan batinku lebih tenang kalau aku jalan seperti ini lebih bebas
dan tanpa terikat siapapun, lebih bebas
merenungi dan menangkap segala gerak-gerik
Alloh atas dunia ini, ku ambil wudhu dan masuk masjid lalu setelah sholat takhiyatul masjid, aku pun tiduran selonjoran, ah betapa damainya, dunia tanpa beban.
Seseorang setengah tua, menghampiriku, lalu
mengucap salam, ku jawab, dan bersalaman
dengan ku dia memperkenalkan diri bernama pak Teguh.
“Dari mana mas?” tanyanya sopan.
jawabku juga ku buat halus.
“Kok di masjid ini, apa gak kerja?” tanyanya lagi.
“Lagi libur pak…, ini lagi jalan-jalan, nyari
suasana baru….” jawabku ringan.
Kami pun berdialog, yang asalnya membahas
tentang perkenalan kami, sampai membahas
tentang kesukaanku jalan kaki.
Ternyata pak Teguh juga orang yang suka jalan, walau tak sesering sepertiku, dia juga cerita kalau dia asalnya bekerja di jawatan kereta api, sampai waktu azan kami ngobrol, dan adzan
dikumandangkan, kami pun sibuk dengan diri
masing-masing, aku mencari Al-qur’an ku baca sambil menunggu imam naik ke mimbar, untuk khotbah jum’ah.
Setiap manusia itu selalu merasa cepat bosan
bila berdiri dalam dunia yang tidak disukainya
atau dunia yang bukan sama sekali dunianya,
begitu juga aku, walaupun di dunia baruku itu
semua materi selalu ada dan tercukupi, tapi hati yang dalam pencarian selalu cepat bosan dan seakan semuanya hambar sama sekali tak ada rasa manis yang bisa dikecap.
__ADS_1
Aku telah pindah kerja di sepatu bata, kemaren malam bos sepatu bata yang dari Belanda datang menemuiku dan menawarkanku, untuk dijadikan kepala bagian pemasaran di Bali.
Jika dikumpulkan dengan orang bodoh, maka aku mungkin adalah barisan terdepan, sebab orang paling bodoh sekalipun pasti masih ingin uang yang banyak, tapi kenapa aku sama sekali tak menginginkan uang seperti orang lain.
Jika jalan kaki itu sama cepatnya dengan naik
bus, maka aku lebih memilih jalan kaki, apapun yang tidak membutuhkan uang itu pasti jadi
pilihan terdepanku, selalu terbersit dalam
pikiranku, jika tidak memakai uang bisa, kenapa harus memakai uang, dan kenyataannya hidup di dunia ini bersebrangan dengan pola pikirku yang ngawur, sak karepe udele dewe,
yah setidaknya itu yang selalu terlintas di pikiran dangkalku.Terus terang menurut pendapatku, bila aku mempunyai uang, batinku akan terasa tak tenang, selalu ingin mencari lebih, dan selalu tak kerasan di tempat yang sama pada kesempatan yang sama, selalu ingin makan yang enak-enak,
Selalu ingin membeli apa saja yang nilai
kemanfaatannya perlu diragukan untuk saat ini, jika haji ke Mekkah bisa tidak memakai uang,
maka aku akan memilih barisan paling depan
kloter penerbangan, tapi kenyataannya semua
harus memakai uang.
“Aku tak kerasan Ed..” kataku kepada Edi.
“Maksudmu kamu mau pulang?” tanya Edi sambil berjalan menyusuri jalan rel kereta api.
“Iya, aku ingin pulang.”
“Bukannya kamu sudah dipercaya yang punya
pabrik sepatu bata?”
“Tapi aku merasa ini bukan duniaku.”
“Lalu bagaimana kelanjutannya?” tanya Edi
hambar.
“Ya aku pulang lah…”
Tiba-tiba urat leherku menegang, aku tak tau
kenapa, tanganku mengepal, dan semua urat-
uratku sulit ku kendalikan.
“Mas…! Kenapa…?” tanya Edi terkejut, ketika aku berguling ketika melintasi rel kereta api, Edi
memburuku dan berusaha membangunkanku, tapi aku tepiskan, sehingga dia terlempar, lalu aku setengah sadar setengah tidak, mencoba
melawan kekuatan yang berusaha menguasai
alam bawah sadarku, aku melihat seperti ada
bayangan hitam yang berusaha menguasaiku,
Aku pukul, aku tendang, tubuhku seperti orang yang kerasukan, Edi hanya memandang, aku kadang memukul kerikil yang ada di sekitar rel kereta, kadang seperti membanting sesuatu, Edi tak berani mendekat, sampai setengah jam berlalu, baru aku berhenti, duduk terengah-engah di tanah, lima menit kemudian baru Edi mendekatiku.
“Ian… kenapa kamu..?” tanya Edi masih setengah takut-takut.
Aku terdiam beberapa saat,,
__ADS_1
Bersambung....