Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Dilema


__ADS_3

Kata Beliau dengan penuh berwibawa yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Aku masih


menyucup tangannya ketika Syaih telah pergi


dari hadapanku.


Perlahan aku bangkit, dalam benakku timbul


semangat untuk lebih banyak melakukan


amaliyah, agar aku tak tertaklukkan oleh syaitan dan jin yang durjana.


Aku pun segera melesat pulang. Sampai di pesantren telah subuh, aku segera mengambil air wudhu dan sholat subuh, habis sholat aku wirid wajib.


Dan kemudian berangkat tidur. Jam 11 siang pergi ke sungai mandi, setelah mandi aku kembali ke pesantren, ada Macan dan pak Abdulloh tamu Kyai.


Aku segera menyalami, pak Abdulloh bertanya,


“Orang mana ni?” tanyanya singkat sambil


tertawa.


“Orang Tuban pak.” jawabku juga singkat. Kami


pun ngobrol panjang lebar, karena ternyata kami adalah tetangga desa, satu kecamatan.


Sehingga seperti ketemu saudara. Setelah lama kami ngobrol tiba-tiba pak Abdulloh berkata


ditujukan pada Macan.


“Can, Ian ini dikawinkan sama adikku, cocok gak Can?” kata pak Abdulloh yang membuatku kaget.


Aku kaget, bukan apa-apa, terus terang walau


aku tak pernah merasa rendah diri karena


kemelaratanku, tapi melihat pak Abdullah yang


kaya raya, punya banyak perusahaan, mobil


mewah berderet-deret, masak menghendaki aku jadi adiknya, ah aku bukan tipe orang yang


matrialistis, aku tipe orang yang bahagia dalam kemiskinan,,


Susah dan suntuk kalau kaya, mimpi pun jadi kaya tak pernah terbayang dalam benakku, karena bukan cita-citaku, cita-citaku sepele, bahagia di jalan Alloh, ini malh ditawari kawin oleh


milyarder, ah enggak lah…!


“Wah cocok sekali pak,” kata Macan mengerling penuh arti.


“Alah jangan bercanda ah, nanti jadi beneran.”


kataku rikuh.


“Bercanda gimana? Ini serius.” kata pak


Abdulloh.


“Wah saya belum berani kawin pak,”


“Jangan-jangan kamu mandul, tak bermutu, gak berfungsi, ckakaka…” Macan ngakak.


“Eh jangan kira…. paling kamu yang lembek,


harus dibantu pake lidi….” kataku jengkel emang Macan kalau bercanda suka kelewatan, walau ku akui tak ada temanku sebaik Macan.


“Gimana, mau enggak?” tanya pak Abdul


mendesak.


“Wah nanti dulu lah pak, aku pikir-pikir dulu,

__ADS_1


lagian pak Abdullah kan belum tau siapa aku?”


“Halah jangan banyakan mikir, keburu karatan.”


Macan ngakak lagi.


Setelah Macan dan pak Abdulloh pergi aku pun berpikir, ah mungkin Alloh lagi mencobaku, sejauh mana aku tahan oleh godaan.


Aku makin serius dalam wiridku, tak ada


waktu tanpa wirid sampai-sampai semua wirid


yang dibebankan oleh Kyai selesai semua.


Malam itu aku dipanggil Kyai untuk menghadap,,


“Ada apa Kyai?” kataku, setelah ada di depan


Kyai.


“Ini ada yang nawari,” kata Kyai sambil ketawa.


“Nawari apa Kyai?”


“Nawari nikah, mas Ian ikut saja, nanti dilihat


cocok apa enggak, kalau cocok, ya bagus, biar


mas Ian jadi orang sini aja, biar dekat sama


Kyai.”


Lagi-lagi orang nawari nikah, aku jadi berpikir


apa aku ini sudah saatnya nikah? Ataukah ini


cuma ujian dari Alloh? Entahlah.


Malam itu pun aku ngikuti Kyai naik mobil kijang hidrolik meluncur ke tempat yang dituju, ke sebuah pesantren Salafiyah, tak jauh amat dari pesantrenku, sekitar 10 kiloan,,


Pesantren yang ku datangi, lumayan banyak santrinya, tempat pemondokannya dari


bambu beratap daun alang-alang, dan yang lebih mengesankan lagi pesantren sama sekali tak berlistrik, karena di pesantren ini memang tidak boleh memakai listrik, jadi penerangan memakai lampu minyak, aku, kyai dan sopir segera dipersilahkan.


Setelah duduk, Laila Aulya gadis yang


dijodohkan denganku keluar, membawa makanan dan minuman,,


Kyai lalu mencolek lenganku,


“Gimana cantik gak?” kata Kyai dengan nada berbisik.


Aku pun tanpa sadar menatap gadis yang


meletakkan minuman di depan. Mak deg! Aku


terpana melihat kilauan bintang gemintang di


tengah telaga mata Laila.


Wah kecantikan yang sempurna, hidung ala artis India. Membuatku tak sengaja mengelus pipi, karena membayangkan andai pipiku dicium olehnya aku lebih takut hidungku akan terluka oleh lancip mancung hidungnya.


Bibir yang seperti dibentuk dengan kehati-hatian ranum dan seakan menyimpan berbagai rasa buah, ah aku jadi ngelantur,


“Udah jangan lama-lama memandangnya.” bisik Kyai.


Mak deg! Ketika mata Laila mengerling


padaku, untung aku duduk di atas kursi, kalau


berdiri mungkin aku langsung terjengkang

__ADS_1


pingsan,,


Aku lelaki biasa, yang masih punya


perasaan sebagaimana lelaki pada umumnya, tapi aku juga Febrian lelaki kerdil dengan segudang kekurangan, salah satu kekerdilanku adalah tak berani beristri terlampau cantik, takut nanti rusak bila ku sentuh dengan tangan kasarku.


Laila bagiku terlampau cantik dan mahal, ah aku ingin yang biasa, aku tak mau nanti terlalu jatuh cinta dan mengenyampingkan Alloh, aku tak mau menduakan Alloh, lebih baik tak aku terima, sebelum cinta ini terhunjam dalam menawan seumur hidupku.


Melupakan siapa aku,


“Cantik sekali, Kyai.” bisikku.


“Ya kalau begitu tak usah,” bisik Kyai seakan


telah membaca galau hatiku. Dan terasa aku


dibebaskan dari himpitan gunung. Mak plong.


Kami pun ngobrol dengan kyai Ghofur sampai


larut malam, dan kembali pulang ke pesantren


Pacung dengan perasaan lega.


Pagi baru saja beranjak, aku memasukkan baju dan keperluan ke dalam tas punggung butut andalanku, untuk pergi ke Jakarta mencari uang untuk keperluanku hidup di pesantren.


Yah beginilah hidupku, hidup di pesantren kalau uang ada, kalau uang habis, ya aku harus nyari lagi, walau makan sudah dijatah kyai, tapi aku orang yang tak suka terus-terusan jadi benalu, hidupku adalah aku yang harus menjalani dan membiayai.


Untung masih ada uang untuk ke Jakarta, ke


tempat temanku, Macan atau tempat temanku


Karim di Cipinang Muara.


Setelah pamitan kepada Kyai aku pun beranjak, baru seratus meteran berjalan ada mobil di belakangku. Pak Jahru. Bos barang bekas, tamunya Kyai mengklaksonku.


Aku berhenti, dan mobil kijang warna biru


berhenti di sampingku, kaca pintu Segera terbuka,


“Ayo naik…!” kata pak Jahru, dengan tawa


khasnya.


“Mau kemana mas?” tanyanya setelah aku duduk di kursi jok.


“Ke Jakarta pak.” jawabku enteng.


“Wah kalau begitu mas Ian tak anter aja,


Jakartanya mana?”


“Ke Cipinang Muara pak.” Mobil pun jalan,


lumayan ada nunutan, jadi gak usah keluar uang.


Pak Jahru, adalah pengusaha sukses barang


bekas, orangnya pendiam tak banyak bicara,


menurut ceritanya dulu dia orang miskin, sekolah aja mungkin sampai kelas 4 SD.


Lalu merantau ke Jakarta dan menjadi pemulung, suatu hari tengah ia memulung didatangi pemilik pabrik besi untuk membersihkan besi bekas, nah disaat


yang hampir bersamaan datang juga orang minta dipulungkan besi, maka pak Jahru pun tinggal mengoper.


Itulah awal karir pemulungnya menanjak, sekarang yang dipulungnya sudah alat


berat kyak buldoser. Dalam perjalanan sampai


Jakarta aku tak banyak omong dengan pak

__ADS_1


Jahru, aku diantar sampai ke Cipinang Muara,,


Bersambung....


__ADS_2