Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Preman


__ADS_3

Sore itu aku pamitan, Eka dan ayah ibunya


memintaku tinggal lebih lama, tapi aku memaksa pergi,,


Eka mengantarku sampai jalan raya, dan sampai aku mau naik bus, dia memasukkan amplop ke sakuku.


“Ini untuk bayar bus..” katanya melepasku.


Aku segera naik bus, ketika kondektur minta


ongkos bus, aku ingat uang yang dimasukkan Eka ke dalam sakuku, ku ambil satu dan tanpa


melihat ku serahkan pada kondektur.


“Wah mas, apa tak ada yang kecil?” katanya.


Aku kaget ternyata yang ku serahkan uang


seratusan ribu.


Aku terima uang dari kondektur itu, lalu kembali merogoh ke dalam amplop, tapi tiap ku keluarkan ternyata semua seratusan ribu, wah jadi Eka memberikan uang padaku 1 juta,


“Tak ada yang kecil mas, cuma ini.,” kataku


menyerahkan uang seratusan.


Di Bojonegoro kembali aku turun di stasiun


kereta api.


Malam itu kembali aku menginap di setasiun,


besoknya aku ikut kereta api KRD ke Surabaya,


setelah dapat tempat duduk, aku pun tenggelam dalam wiridku, kereta belum juga berangkat, walau jam telah melewati waktu jadwal keberangkatan, di sebelahku kursi kosong, datang seorang pemuda kurus ceking dan duduk di sebelahku,


“Assalamualaikum mas…” sapa pemuda kurus di sebelahku.


“Waalaikum salam….” jawabku acuh, karena


masih tenggelam menulis lafad Alloh di kalbuku.


“Maaf mas, mengganggu….” katanya.


“Tak apa-apa, wong tempat duduk ini disediakan untuk penumpang.” kataku tak acuh.


“Bukan itu mas, maksudku mas kan yang gila di setasiun Bojonegoro? Sebab tadi saya tanya


para pedagang asong, kalau yang selama ini jadi orang gila di setasiun itu mas.” kata lelaki ceking itu, dan membuatku terperanjat.


“Ada apa sampean mencari saya?” tanyaku heran.


“Anu mas, biar saya ceritakan saja diri saya,


saya dari keluarga berbagai macam agama, di


keluarga saya ada yang Hindu, Budha, Kristen,


dan saya bingung mau milih agama apa? Saya


pernah mencoba berbagai agama, selain Islam, tapi saya tak pernah merasa sreg dan cocok,


nurani saya mengatakan semua tak benar, nah


seminggu yang lalu saya ke salah satu kyai di

__ADS_1


Kediri minta petunjuk,,


Lhoh kok dia malah menyuruhku minta petunjuk pada orang gila yang masih muda, berambut gondrong yang ada di setasiun Bojonegoro, kemaren saya sudah datang di setasiun tapi orang gila yang dicirikan


oleh kyai Kediri itu tidak ada di setasiun


Bojonegoro, lalu saya malamnya menginap di


seorang kenalan, lalu tadi pagi saya datang lagi ke setasiun, saya cari-cari, juga tak ada,,


Lalu saya tanya pada penjual asongan ciri-ciri orang gila yang ada di setasiun, pasti mereka pernah melihat, lalu mereka pada menunjukkan mas, yang saat itu tengah duduk di bangku, saya ragu, sebab mas tak seperti orang gila, maaf, pakaian, tubuh, juga tampang bersih, jadi saya ragu, lalu mas naik kereta jurusan Surabaya, ya daripada pencarian saya tak mendapatkan hasil, maka saya samperin aja mas, dan inilah yang terjadi.”


“Siapa namamu?” tanyaku.


“Saya, Arifin mas, dari Jombang. ” jawabnya.


“Lalu apa yang kau inginkan dariku?”


“Aku minta petunjuk dari mas, apa yang


harusnya ku lakukan?” katanya, sementara


kereta mulai jalan.


“Kau sudah mendapat hidayah dari Alloh,


memeluk agama Islam, adalah hidayah yang lebih mahal dari nyawa, karena apa gunanya amaliyah segunung, kalau tidak muslim, maka tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kebaikan di dunia,


Di akhirat hanya menerima rentetan siksa demi siksa tanpa ujung dan perhentian, maka jika


kamu bisa menjadi Islam, sungguh suatu karunia yang tiada terkira,,


Di suatu daerah aku pernah melihat anak kecil seorang anak keluarga Kristen, tapi aneh walau anak itu baru berumur 10 tahun, dia telah masuk Islam, tanpa ada yang mengajak, waktu ulang tahun yang diminta ke orang tuanya apa? Peci, baju taqwa, dan sajadah, lalu dia ikut jamaah di masjid, orang tuanya tau itu kemudian marah, dia dipukul sampai babak


belur, disiksa, tapi tetap saja dia ke masjid, nah itulah hidayah dari Alloh,”


“Pergilah ke kyai Ma****** ********, Sarang


Rembang, ceritakan keadaanmu, dan mintalah


diIslamkan.”


“Prak… bug… prak..!” tiba-tiba terjadi ribut


dalam kereta, tepat di depanku dua preman


berantem, dan terjadi pergumulan yang seru,


karena entah merebutkan apa, nampak pemuda yang satu sudah benjol wajahnya karena dipukul,


Para penumpang menjerit, tiba-tiba pemuda yang benjol mencabut pisau dan dihujamkan ke pemuda musuhnya, sepersekian detik aku tak


sadar begitu saja melompat, tanganku menangkis pisau, hingga pisau mental, dan otomatis aku di tengah jadi sasaran pukulan kedua preman yang telah gelap mata, kedua tanganku ku bentang menangkis kedua pergelangan dua pemuda itu,


“krak..!” Kedua pemuda itu mengaduh dan mundur memegangi pergelangan tangan masing-masing, keduanya menatapku, heran dan ada pandangan takut, padahal bodi keduanya besar jauh di atasku,


“Kalau bikin ribut dalam kereta, ku lempar kalian keluar…!” bentakku.


“Enggak mas…! Enggak.,” jawab mereka berdua mundur-mundur, dan sebentar datang kondektur menenangkan suasana, dan aku pun duduk di tempat dudukku semula.


“Wah mas berani, aku sudah takut kalau sampai ada yang terluka,” kata Arifin.


“Ah tak apa-apa, cuma anak berandalan.” kataku tenang.


“Lalu bagaimana mas, tentang saya?”

__ADS_1


“Iya kamu pergi aja ke pesantren Sarang


Rembang.” kataku menerangkan agak keras,


karena suara rem kereta yang berderit keras,


dan kereta perlahan berhenti di setasiun Babat.


“Aku turun sini aja.” kataku pada Arifin.


“Lho ndak ke Surabaya to mas?” tanya arifin.


“Enggak.” jawabku sambil lalu berdesakan


dengan para penumpang yang mau naik kereta.


Setelah turun kereta, aku pun segera mencari warung untuk sarapan pagi, ku masuk sebuah warung dan memesan pecel khas Lamongan, makan dan sambil memandang orang yang lalu lalang.


Seharian tak ada aktifitas yang ku lakukan,


kecuali diam di mushola setasiun menjalankan wirid sampai tertidur, lalu sholat dzuhur dan


wirid lagi, tenggelam di dasar suara hati.


Malam itu, sekitar pukul 3 dini hari, aku tidur


sendiri di musholla setasiun, tiba-tiba serasa


ada yang membangunkanku. Aku terperanjat dan bangun, tengak tengok tak ada siapa-siapa, aku heran, lalu siapa yang membangunkanku? Aku bangkit dan keluar dari mushola, di luar segera angin dingin berhembus, menebar bau minyak pelumas roda kereta yang tercecer, suasana teramat hening, tak ada seorangpun berkeliaran,


Ku berjalan ke salah satu kursi tunggu, duduk


dan mengeluarkan rokok Djarum dan menyalakan dengan korek.


Belum sampai lima menit aku duduk di kursi


tunggu, kereta barang tiba dari Surabaya, suara rodanya beradu dengan rel menjerit


memekakkan telinga, kereta berhenti perlahan,


Beberapa penumpang gelap melompat dari


sambungan gerbong, turun, aku tetap santai


menikmati hisapan demi hisapan rokok.


Tiga penumpang, yang turun dari sambungan


gerbong ternyata pemuda-pemuda, dan


ketiganya menghampiriku, dan aku kaget,


ternyata salah satunya adalah pemuda yang


kemarin siang ku tangkis pisaunya,


“Benar ini orangnya.” kata pemuda yang kemarin ku tangkis pisaunya.


“Wiiit… wiiiet..!” pemuda yang lain bersiul


nyaring.


Dan dari setiap gerbong melompat pemuda, dan banyak sekali, dan membuatku tergetar juga, mungkin sebanyak 20 orang atau bahkan lebih, dan terlihat kilauan pedang di setiap genggaman mereka.


“Apa mau kalian?” kataku berdiri dari kursi, dan menikmati sedotan terakhir dari puntung rokok yang ku pegang. Ah mati aku, tentu mereka akan mengeroyokku, aku membayangkan tubuhku dicacah pedang dan dibiarkan tergeletak dirubung lalat, dan kemudian dibungkus tikar, lalu tercatat di surat kabar, seorang.......

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2