
Aku masuk ke dalam rumah-rumahan bambu,
yang dibuat serampangan dan seadanya, hanya
untuk melindungi para pemesan bakso agar bisa menikmati bakso pesanannya dengan nyaman.
Tak Ayal Saos, kecap, sambal, berjejer di depanku..
“Nak mas…, anak ini kan yang namanya
Febrian…?”
Kudengar suara lembut di
belakangku, aku penasaran dan segera menoleh, nampak seorang tua yang kurus sedang duduk di belakangku, aneh kenapa
aku tak merasakan kedatangannya gumamku?
Kakek ini ku taksir umurnya tujuh puluh tahunan, badannya kurus namun tegap. Wajahnya penuh kerutan ketuaan tapi bersih, alis matanya sebagian memutih, ikat kepalanya bercorak lurik batik.
Kumis dan jenggotnya sedikit, matanya
teduh dan bersahabat.
“Kakek ini siapa, kok tau nama saya?” tanyaku
heran.
“Itu tak penting nak mas, aku hanya mau
menyerahkan warisan nak mas yang selama ini dititipkan pada saya…” kata kakek itu.
“Warisan apa kek…?”
Sekilas aku teringat dengan mimpiku tadi malam, kakek di depanku ini mengarahkan kedua tangannya ke balik baju di punggung, lalu mengeluarkan dua buah keris dari balik bajunya, dan keris itu langsung ditunjukkan di depanku.
Dua keris lengkap dengan warangkanya panjang kurang lebih empat puluh cm, dan yang satuny pendek kurang lebih tigapuluh cm.
Lalu kakek misterius di depanku ini melolos keris yang panjang dari warangkanya, aku tak tau keris, tapi melihat bentuknya keris ini indah, ada ukiran di pangkal keris, berwarna seperti emas, keris ini berluk banyak.
“Ini namanya Kyai sapto paningal,” katanya
sambil mengulurkan keris kepadaku.
Kurasakan ada getaran aneh menjalari tanganku ketika menerima keris itu.
Kemudian kakek itu mencabut keris yang
kedua,
“Ini namanya kyai condong pamelang.”
Katanya sambil mengulurkan keris kepadaku.
Aku mengamat-amati kedua keris di depanku,
sekedar menyenangkan pada kakek ini, tapi aku benar-benar buta dan tak tertarik dengan aneka macam wesi aji.
Aku menyerahkan kembali kedua keris
itu kepadanya.
“Karena nak mas sudah ada di sini, maka keris ini kuserahkan padamu…” kata kakek ini,
mengulurkan kedua tangannya yang terbuka ke hadapanku, dan kedua keris ada di atas tangan itu.
“Nanti dulu kek…” kataku dengan isyarat tangan
menahan.
“Kenapa nak mas?”
__ADS_1
“Aku ini sama sekali tak tau, seluk beluk tentang keris, dan aku tak tau bagaimana merawatnya, alangkah baiknya kalau keris ini tetap di tangan kakek, mungkin akan lebih berguna untuk kakek apabila keris ini
tetap di tangan kakek, aku takut kalau di
tanganku akan rusak…”
Kataku berdalih dengan alasan setepat mungkin.
“Tapi nak mas, keris ini cuma nak maslah pewarisnya…”
“Begini lo kek, aku ini punya keyakinan, bagiku Hanya Allohlah sebaik-baiknya dzat tempatku
bergantung dan tempatku meminta,
menyelesaikan segala urusanku, aku tak mau
menomer duakan Alloh karena mempunyai kedua keris ini..”
Kakek tua itu manggut-manggut,
”Baiklah aku mengerti, tapi aku tak mau disalahkan oleh orang yang telah mempercayakan amanahnya kepadaku,
maka sudilah nakmas menerima keris ini dan
nanti menyerahkan padaku lagi…?”
“Oh aku mengerti kek, baiklah aku terima keris
ini, dengan kelapangan hati…”
kataku, sambil menerima kedua keris. Lalu ku lanjutkan berkata setelah keris ada di tanganku.
“Dan keris ini ku serahkan padamu untuk
menjaga dan merawatnya…”
Kataku sambil mengulurkan keris kepada kakek ini, sebagai tanda penyerahan.
Kemudian kakek itu pun menerima lagi keris.
jidatnya,
“Akan ku jaga dengan sebaik-baiknya.”
Setelah itupun tak lama kakek segera mohon diri.
Aku menarik napas lega, tukang bakso
mengulurkan bakso ke depan mejaku, matanya menatapku heran.
“Ada apa bang, kenapa menatapku begitu?”
tanyaku pada tukang bakso.
“Tak apa-apa gus.., saya hanya heran saja..”
“Heran kenapa?”
“Yah saya lihat dari tadi, Gus ini ngomong
sendiri, jadi saya mau memberikan bakso, saya urungkan, karena melihat agus ngomong sendiri.”
“Maksud abang tadi saya ngomong sendiri, jadi abang tak lihat saya tadi ngomong sama kakek-kakek??.”
“Kakek-kakek yang mana to gus, wong dari tadi agus di sini sendirian…”
Aku segera turun dari kursi, dan melihat ke arah mana tadi kakek itu pergi, maunya menunjukkan pada tukang bakso tentang kakek yang ku ajak ngomong barusan,,
Tapi walau jalan raya itu lurus, aku tak
melihat bayangan kakek yang ngomong
__ADS_1
denganku. Ah pupus harapanku, aku dianggap gila dah.
Cepat-cepat aku kembali ke tempat duduk,
menghabiskan bakso, dan dua lontong, lalu
sesegera mungkin beranjak pergi,di iringi dengan tatapan aneh dari penjual bakso.
“Aku sering Can, mau dikasih segala macam wesi aji, batu akik, tapi selalu aku tolak, apa pula perlunya…?” kataku pada Macan.
“Ah kamu ini gimana sih Ian, kalau ada yang
ngasih mbok ya diterima, kalau kamu tak mau
biar aku yang mengkoleksinya, aku aja udah
mengkoleksi banyak sekali,”
“Wah hebat Can…”
“Ayo aku tunjukkan..” katanya kemudian
mendahuluiku berdiri dan masuk rumah, akupun mengikuti dari belakang.
Kulihat ia menurunkan tiga dus bekas Mi instan dari atas lemari bifetnya. Dan uh banyak sekali, satu dus berisi aneka macam keris panjang penuh, satu dus berisi berbagai batu akik, setengah, dan satu dus berisi aneka macam keris kecil, berbagai bentuk dan macam.
“Dari mana semua barang begini Can?”
“Ya ada yang ngasih, kadang juga ketemukan
sendiri, macam-macamlah kejadiannya."
“Wah kamu ini mungkin cocoknya ngumpulin
barang seperti ini,”
“Yah semoga saja ini bermanfaat Can.” kataku.
“Ian…, aku ini sebenarnya punya masalah..!”
Kata
Macan menatapku serius.
“Masalah apa?”
“Gini Ian, aku punya anak buah, dari anak-anak
nakal yang aku insyafkan, dan aku membuatkan mereka warung tenda masakan Lamongan, tapi aku menemui kendala, warung yang ku buka itu sepi pengunjung,,
Nah kalau begitu terus, aku takut anak-anak muda itu patah arang, melihat warung
sepi begini, mereka akan kembali menjadi
pemabuk lagi, bagaimana menurutmu Ian?”.
Aku merenung sejenak.
“Coba Can, kamu bel mereka, sekarang ini warung sepi apa enggak?”
“Maksudmu..?”
“Iya kamu bel aja, tanyakan warungnya sepi apa enggak? Dan bilang nanti kalau warungnya rame, mereka suruh ngebel kemari, biar aku wirid sebentar.”
Aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa
pada Alloh supaya warungnya Macan ramai
pengunjung dan mulai melakukan wirid, baru saja aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan terdengar olehku Macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan
wiridku..
__ADS_1
Bersambung....
masih ga da comen,kritik n saran inih?😑