Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Gimo


__ADS_3

Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu,


melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang dipegang kerah bajunya oleh Gimo segera menyerang dengan bogem mentah bertubi-tubi.


Yang kesemua serangan itu dapat ditangkis


dan dielakkan oleh Gimo dengan mudahnya, kini Gimo yang mengamuk, keenam pemuda itu dihajar semua sampai nyungsep, tak ada yang bangun lagi,


Padahal biasanya untuk mengalahkan satu dua orang Gimo takkan bisa mengalahkan dengan


semudah itu. Tapi ini ada enam orang, dengan


mudahnya dapat ia robohkan tak sampai sepuluh menit.


Dia juga heran kekuatannya juga dia rasakan


berlipat-lipat. Pasti ini karena keris dan batu


akik yang dibawanya. Gimo pun melanjutkan


perjalanan pulang, meninggalkan keenam pemuda yang terkapar.


Lalu dia sampai di rumah, menggedor-gedor


pintu, Gimo cuma hidup di rumah bertiga, ibunya, adiknya lelaki yang bernama Munsorif dan dia sendiri.


Gimo masih menggedor pintu, tapi pintu tak


kunjung dibukakan, darahnya mulai naik ke ubun-ubun, maka dia menggedor sampai keras.


“Ia sebentar…!” terdengar suara ibunya. Dia


makin tak sabar


Setelah pintu dibuka, ia membentak ibunya.


“Buka pintu lama banget, apa perlu pintu ini aku jebol?”


“Wah jangan begitu to, ibu kan harus jalan


dulu…” kata ibunya lembut.


“Buka kan gak perlu ibu, Munsorif mana? Pasti


sudah ngorok!!” kata Gimo membentak.


“Dia lagi sholat ngger…, jadi ibu yang harus


buka.”


“Ah sholat aja diurusi, hidup tak berbakti,


masak ibu disuruh membuka pintu!!”


“Sudahlah ngger, ibu senang kok membukakan pintu untukmu, ndak usah marah-marah, tapi


kamu harus sabar, ibu ini sudah tua, jadi


jalannya pelan.”


“Ada apa to kang? Mbok ya sudah, jangan


marah-marah, tak enak didengar tetangga,”

__ADS_1


suara seorang pemuda yang tak lain adalah


Munsorif, pemuda ini sungguh jauh sekali dengan Gimo yang srampangan ugal-ugalan,,


Pemuda ini lembut, wajahnya bersih, dan bercahaya karena seringnya terkena air wudhu, maklum Munshorif orangnya selalu daimul wudhu, yaitu melanggengkan wudhu, jadi


kalau batal wudhunya dia wudhu lagi, sehingga wajahnya mengeluarkan pancaran cahaya alami, penuh kelembutan,


Ditambah baju koko yang dikenakannya, berwarna putih kebiruan, beserta peci putih yang bertengger di kepalanya,,


Melihat adiknya keluar, Gimo makin meluap-luap marahnya,


“Bangsat sok alim, mau menceramaiku…!?”


katanya dengan mata berapi-api.


“Ya enggak kan, cuma kang Gimo jangan ribut,


kan didengar tetangga, malu…”ujar Munsorif sambil memelankan suaranya.


“Berani kau melarangku… rasakan ini!!”


Tiba-tiba Gimo menyerang mengayun bogem mentah ke wajah adiknya.


Seketika sebuah pukulan menderu ke arah kepala


Munsorif,, karena pemuda ini pernah juga hidup di pesantren, dan belajar sedikit ilmu pencak silat, melihat


kakaknya menyerang ke arah wajahnya dia melemaskan tubuh ke belakang dan mundur satu langkah, sehingga pukulan Gimo hanya menerpa tempat kosong,


Gerakan itu membuat Gimo yang merajai


Stasiun semakin marah, merasa ditantang dan dilecehkan,,


adiknya, sementara ibu Duriah, ibunda kedua


pemuda itu, menjerit-jerit melihat kedua


anaknya berantem,,


“Aduh lub… jangan berantem to lub, kalian ini


saudara luuub… aduh piyo to iki yo kok


kebangeten…”


kata perempuan tua itu menangis.


Tapi Gimo memang sudah gelap mata, dia terus memburu Munsorif dengan serangan-serangan mematikan, sementara adiknya itu hanya mengelak dan menangkis serangan.


Satu kali Gimo melakukan tendangan sapuan ke arah perut, dan Munshorif menekuk perutnya ke belakang, sehingga serangan lewat tiga centi dari perutnya, tapi Gimo langsung menyusul dengan pukulan tangan kiri menyamping ke arah wajah Munsorif, pemuda itu mengengoskan kepalanya,


sehingga pipinya selamat dari kemplangan.


Tapi ternyata itu hanya serangan tipuan, ketika


terdengar tangan kanan Gimo menghantam pipi kiri Munsorif, “prok!!”


Pemuda itupun


jatuh terjengkang. Seketika darah keluar dari hidung, telinga dan mulut Munsorif, sebentar dia berkejedan dalam diam, ibu Duriah pun menghambur.


“Munsorif…! Nak jangan mati nak… nak Munsorif

__ADS_1


anakku… hu… huu… Gimo, kenapa kau bunuh adikmu..!? Tak puas-puasnya kau menyusahkan aku…huu,,hu,,huu..”


Ibu Duriah yang tak kuat menahan goncangan


batinnya itupun pingsan.


Sementara Gimo, tiba-tiba tersadar… ah apa


yang kulakukan, suara hatinya…benarkah aku


membunuh adikku.. oh..! Dia menghampiri


Munsorif, dan meraba urat leher dan denyut


nadinya… dan dia lega ternyata adiknya itu cuma pingsan saja.


Lalu Gimo yang merasa telah sadar dari


pengaruh gaib keris dan batu akik dalam sakunya segera mengangkat ibunya ke amben. Juga mengangkat tubuh Munsorif ke amben yang lain.


Semua Tetangga Gimo tak ada yang datang, karena sudah jadi adat, Pemuda bengal ini bikin ribut, para tetangganya tak berani ikut campur, bisa-bisa malah kena sasaran.


Jadi kalau ada ribut-ribut di rumah Gimo, mereka lebih memilih menutup


pintu rumahnya rapat-rapat.


Ah mungkin saja nanti Gimo kalau mati, berangkat ke kuburannya sendiri.


Setelah membaringkan kedua orang itu Gimo


keluar rumah, lalu mengayuh sepedanya ke arah pertigaan Ponolawen, jam telah menunjukkan jam setengah dua, biasanya masih ada tukang becak yang narik malam hari, dan prasangkanya tak meleset, ada beberapa tukang becak yang masih berjejer.


Gimo langsung membawa salah seorang tukang becak ke rumahnya, sampai di rumah dia menaikkan adiknya ke atas becak, dan


mengantarnya sampai ke rumah sakit.


Langsung menyerahkan perawatan kepada dokter jaga, lalu pulang lagi, sampai di rumah, ibu Duriah, ibunya Gimo telah sadar dan sedang menangis sesenggukan, melihat Gimo datang, ibunya langsung menghambur.


“Ayo lub, mayat adikmu kamu buang kemana lub… kok kebangeten kuwe to lub. huhuuu…”


“Sudahlah bu… Munsorif tak mati, sekarang dia di rumah sakit…, kalau ibu mau kesana ayo saya antar…” kata Gimo.


“Itu becaknya masih ku suruh menunggu di luar.”


Gimo pun membawa ibunya naik becak, dan


mengantarkan kerumah sakit, untuk menunggui Munsorif.


Gimo lelah dia tiduran di atas bangku panjang di depan kamar tempat merawat adiknya, dia merenung berpikir, dalam satu malam, berapa orang yang jadi korban di tangannya,,


Ah ini pasti karena keris dan batu akik yang semalem di terimanya, ah dia harus mengembalikan kedua benda itu, maka


ketika setelah subuh itulah dia bertemu


denganku.


Memang aku sendiri merasakan hawa yang jahad, pada kedua benda ini, ketika memegang keris dan batu akik itu, seakan-akan dada terasa tersumbat, suntuk, sumpeg, dan berbagai perasaan yang seakan ingin marah.


Setelah pulang, aku segera masuk kamar, dan


kedua benda itu ku taruh di depanku lalu kututup bantal, aku mulai wirid, membaca fatehah kepada Nabi, dan membaca fatihah kepada ketiga hadam surat ikhlas, membaca wirid tiga......


Bersambung....

__ADS_1


Ga da yg coment inih apalagi apresiasi??😑


__ADS_2