Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Istidrod


__ADS_3

“Itu siapa ya mas Kyai?”


“Itu para wali Alloh yang menyamar, sudah tak usah dihiraukan, lanjutkan saja amaliahmu dengan ikhlas.” kataku.


Beberapa hari kemudian Nanang datang lagi,


“Maaf mas, saya kan punya saudara, saudaraku itu orang yang mengobati orang dengan bantuan jin, biasanya dia mengobati orang harus makan menyan atau kembang, kemaren kan saya main ke rumahnya, kok dia kepanasan kalau aku mendekat, malah sekarang saya tidak boleh ke rumahnya karena dia kepanasan, itu kenapa ya mas Kyai?”


“Ya jelas kepanasan, antara ilmu dari syaitan


sama ilmu dari Alloh kan bersebrangan.”


“Jadi itu tak apa-apa?”


“Tak apa-apa, lanjutkan saja menjalankan amaliyah, oh ya, besok aku dimintai bantuan mengecat masjid, kamu ikut, aku mengecatnya setelah sholat isya, sampai jam sebelum sholat subuh.”


“Iya mas saya siap.”


Malamnya aku dan Nanang selepas isya’ mengecat masjid dengan kompresor, sampai waktu mendekati subuh, berhari-hari ku jalani, sambil melatih keikhlasannya Nanang.


Sementara orang-orang melihat kami seakan kami orang gajian.


“Nang, kamu harus ikhlas, lepas, los, walau ndak ada yang bayar, walau tak ada yang bantu, malah lebih baik, sebab kita borong kita sendiri pahalanya, selama masjid ini berdiri, dan dipakai sholat, kita akan selalu mendapat bagian tersendiri.” jelasku.


“Iya mas… saya ikut saja apa kata mas.” jawab Nanang.


“Tapi saya kalau jam 12 malam tidur sebentar ya mas, soalnya besok kerja di sekolah jadi ngantuk.”


“Ooo kamu itu kerjanya di sekolah to?” tanyaku sambil naik turun seteger.


“Iya mas.”


“Kerja jadi guru?”


“Bukan mas, saya cuma TU.”


“TU, wah muridku hanya seorang TU, sudah nanti kamu jadi PENASEHAT SEKOLAH saja.”


kataku.


“Hahaha… ya ndak level to mas, wong saya sekolah saja cuma sampai tsanawiyah, tak mungkin itu,”


“Lhoh kamu ndak percaya?”


“Heheheh…” Nanang cuma ketawa.


“Begini saja, kamu pegang ucapanku, setengah tahun lagi kamu jadi penasehat sekolah, kalau


tak jadi penasehat sekolah, sudah kamu anggap saja aku ini orang yang cuma asbun alias asal bunyi, tak bisa dipegang ucapannya.”


“Tapi rasanya tak mungkin,”


“La kalau Alloh menghendaki terjadi memangnya siapa yang bisa menolak?” kataku meyakinkan.


“Oh ya mungkin di sekolahmu, sekolah mana itu?”


“Sekolah SMP Islam,”


“Ya di sekolah SMP Islam itu akan banyak kerasukan.”


“Apa benar?”

__ADS_1


“Iya benar, nah ini ku kasih tau cara membereskan kerasukan itu.”


“Bagaimana mas caranya?”


“Ini ikuti kata-kataku…..(rahasian)…., sudah paham?” Aku mengulang beberapa kali kata, agar Nanang hafal apa yang ku ajarkan.


“Lalu ngambilnya bagaimana?”


“Ya kayak ngambil barang saja, diambil lalu


dibuang, nanti langsung sadar.” jelasku.


“Cuma begitu? Kok kalau di tv pakai jurus


segala?” tanya Nanang.


“Ah itu akting.”


Besoknya Nanang ke rumahku lagi.


“Benar kata mas, di sekolah ada kerasukan


masal, dan semua orang berusaha mengobati dan menyembuhkan, tapi tak ada yang bisa, kok aku lakukan yang mas ajarkan langsung mudah saja bisa, ternyata gampang sekali, dan hanya aku yang bisa mengeluarkan jinnya, wah jadi deg-degan rasanya tak percaya.” cerita Nanang.


“Ya sekalipun kamu tak percaya kan telah terjadi.” kataku.


“Aku sampai berpikiran, wah saya di-tes ilmuku


sama mas.” kata Nanang.


“Sebenarnya secara teori, ngapa juga aku ngetes kamu lewat jin segala.”


“Tapi mas, guru yang lain, malah ada yang berpendapat, kalau aku memakai ilmu jin, soalnya tak ada yang sanggup mengeluarkan kecuali aku sendiri, jadi aku dikira memakai jin, bagaimana ini mas?”


“Iya mas, saya siap.”


“Saya juga heran, padahal di tempat saya kan banyak guru yang mempunyai kelebihan, kayak guru silat juga ada, muridnya habib L**** juga ada tapi kok ndak bisa mengeluarkan jin yang


merasuk ya?”


“Jangan sombong, baru bisa seperti itu sudah sombong, manusia itu tak ada kekuatan sama sekali, kecuali Alloh mengijinkan dan menganugerahi punya kekuatan.”


“Maaf mas, saya hanya merasa aneh saja.”


“Sudah lakukan saja petunjuk yang ku berikan, dan kerasukan itu akan masih berlanjut.”


“Siap mas…”


Begitulah Nanang kemudian perlahan tapi pasti kemudian menjadi kepercayaan sekolah, dia mulai tidak diperintah apa-apa, hanya menjaga sekolah kalau ada apa-apa. Setengah tahun sudah berlalu, dan Nanang menghadap kepadaku.


“Saya sudah diangkat menjadi penasehat sekolah mas, terimakasih atas do’anya.”


“Hehehe… bagaimana sekarang percaya?”


“Ya saya percaya mas.”


“Semua guru ingin mengikuti pengajian di majlis, boleh tidak.”


“Nanti saja, kalau aku bilang boleh, baru boleh


kesini.”

__ADS_1


“Semua kalau ingin sowan kesini boleh?”


“Jangan, nanti saja, aku masih menjalankan amalan, tak mau repot disibukkan tamu.”


“Baik mas..”


Jika seseorang itu telah dianugerahi oleh Alloh, suatu anugerah maka orang lain tak akan bisa memiliki anugerah itu, dan Alloh amat tau siapa-siapa yang pantas menerima anugerah, ingat apapun yang di luar kebiasaan, atau khorikul adat, yang berupa kelebihan dan kebisaan tertentu, bisa saja itu bukan dari Alloh.


Yang dari Alloh itu bisa saja Mu’jizat yang diberikan kepada Nabi, dan Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW, dan ada yang diberikan kepada wali, namanya karomah, lalu diberikan kepada orang yang bertaqwa, dinamakan ma’unah, atau pertolongan Alloh, ada juga istidroj atau pengelulu, kelebihan yang diberikan kepada orang yang suka maksiat, masih ada lagi, ada wali Alloh, ada wali syaitan,


Wali Alloh adalah orang yang punya karomah, dan orangnya juga tekun menjalankan laku ibadah, dan wali syaiton adalah orang yang mengajak pada kesesatan, tapi mempunyai kelebihan yang di luar nalar.


Ada juga ilmu dan kelebihan seseorang karena menjalankan ilmu hikmah, kesaktian, atau ilmu karuhun, atau kejawen.


Setiap amalan dan ilmu itu pasti ada efek baik,


tapi juga ada efek buruk, termasuk kejawen, dan ilmu yang ada unsur khodamnya.


Skip...


Pagi baru jam delapan, mata masih ngantuk,


sebenarnya sudah ku batasi tak menerima tamu, kecuali setelah habis isya’ tapi jika sudah


datang, aku juga tak tega menolak, kadang mata masih perih tapi tetap saja tamu ku temui, pagi itu ada beberapa tamu menunggu, aku cuci muka, agar kelihatan lebih fress.


Ada enam orang yang datangnya tak bersama’an, ku temui dulu yang dua orang, seorang perempuan tua dengan cucu perempuannya.


“Ada keperluan apa bu..?” tanyaku.


“Anu kyai saya ingin minta air obat untuk orang tua lelaki saya, yang sakit tapi terus-terusan menjerit-jerit, sepertinya sakitnya sudah parah, tapi kok menjerit-jerit terus, sehingga membuat para tetangga kami merasa terganggu.” jawab ibu tua itu.


“Itu dulu kayaknya mengamalkan amalan


kejawen.” kataku.


“Iya kyai, memang bapak saya itu dulu juga bisa berbagai pengobatan, tapi kok sekarang malah


sakitnya kesakitan.”


“Itu sebenarnya sudah saatnya meninggal, tapi masih ditahan oleh jin yang jadi khodamnya.”


kataku.


“Mungkin punya perjanjian dengan jinnya, nanti ku kasih air, diminumkan saja.”


Lalu aku ambil aqua, dan ku tiup ku serahkan. Kedua nenek dan cucunya itu pun segera pulang.


Lalu maju lagi seorang perempuan setengah baya, yang mengeluhkan penyakit di kandung kemihnya, sudah diperiksakan dokter dan sudah dioperasi tapi malah yang dioperasi


kandungannya, sehingga tumor yang ada di


kantung kemihnya tidak terangkat, sementara


operasi telah menghabiskan berjuta-juta,


perempuan itu bernama Amrina.


“Apanya yang sakit bu?”


“Saya itu kata dokter kan ada tumor di kandung

__ADS_1


kemih, tapi pernah disuruh operasi, kok yang..


Bersambung...


__ADS_2