Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Nyai Dewi


__ADS_3

“Ah jangan sembarangan menuduh, dia kan juga seorang kyai, masak melakukan perbuatan seperti itu.”


“Iya kyai, memang benar.”


Aku jadi ingat salah satu mimpiku, pernah aku melihat dalam mimpi, istri Askan sedang menunggui lilin dan Askan sendiri jadi babi, lalu ku tembak pakai senapan, tapi cuma mimpi. La kok ini ada cerita yang dibuat Aisyah…


“Nduk kalau di alam manusia itu, segala hal harus ada buktinya, kalau tak ada buktinya itu namanya memfitnah, jadi fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, coba panggil ratu untuk segera menghadap padaku,suruh masuk pada mbak Sun, biar ku tanya dia.”


Aisyah pun memanggil ratu, dan ratu segera masuk ke tubuhnya mbak Sun.


“Assalamualaikum….” ratu mengucap salam dengan lembut.


“Waalaikum salam.” jawabku.


“Ada apa kyai?”


“Ini mau menanyakan apa yang disampaikan Aisyah, apa memang benar begitu?”


“Iya kyai memang kenyataannya begitu, dia sering mengambil uang di bank BRI cabang Pekajangan, dan kemarin pas ada orang yang mau walimahan juga yang mengambil dia, dengan memakai ilmu hitam, menjadi babi.”


“Tapi itu malah akan jadi fitnah saja kalau tidak terbukti.”


“Iya kyai, saya akan sekuat tenaga membantu menangkapkan, kalau memang kyai yang memerintahkan, tapi setiap saya coba untuk mensiagakan semua prajurit, sepertinya dia juga langsung tau, dan tak jadi melakukan kegiatan ngepetnya, jadi saya masih mencari akal, sebenarnya sudah sering dia mau ketangkap oleh orang-orang kampung yang siaga, dan sudah mencurigainya, tapi seperti ada yang memberitahunya, kalau ada yang mau menangkapnya, jadi ngepetnya dibatalkan.”


“Begini saja ratu, tolong ditempatkan prajurit di sekitar rumahnya, ya kalau dia keluar, nanti langsung ditangkap saja, kalau dia tau tak keluar untuk ngepet, ya setidaknya kan dia gak ngepet, jadi gak ada orang yang uangnya hilang.”


“Siap melaksanakan kyai, akan saya perintah- kan beberapa pasukan untuk mengawasi rumahnya, mohon ijin dan doa kyai.”


“Ya nyai, semoga bermanfaat untuk banyak orang, beramal saja berbuat kebaikan yang kita bisa dan seikhlasnya nanti Allah akan mem- berikan balasan yang berlipat ganda.”


“Insa Allah kyai, saya dan anak buah saya mohon agar selalu dibimbing.”


“Ya insaAllah.”


“Oh ya, ratu kenal dengan Dewi Lanjar.”


“Kenal sekali kyai, dia itu masih saudara beda ayah denganku.”


“Lhoh dia itu bukannya manusia yang masuk alambgaib?”


“Bukan kyai, dia masih saudara saya, dari bangsa jin,”


“Oooo, jadi cerita yang beredar selama ini tak benar?”


“Ya kyai….”


“Lalu apa dia itu bukannya perempuan cantik yang suka memakai kerudung biru, karena saya pernah ke tempatnya dia, dia berwujud seperti itu.”


“Itu cuma penyamaran saja kyai.”


“Lalu wujud aslinya apa?” tanyaku penasaran.


“Dia berwujud ular kyai… sama juga dengan nyai blorong, dan nyai roro kidul, semuanya berwujud asli ular.”


“Lhoh dalam cerita nyai roro kidul itu dari penjelmaan putri Pa*****, itu bagaimana?”


“Ah itu hanya mitos dan cerita yang dibuat- buat orang.”


“Apa nyai ini kenal sama nyai roro kidul?”


“Kenal akrab kyai.”


“Kamu kenal sebagai bawahan, apa sebagai sahabat?”

__ADS_1


“Saya bersahabat dengannya kyai,”


“Ooo….” aku terheran-heran, “Apa kamu juga sering kesana?”


“Sering kyai..”


“Dia agamanya apa?”


“Dia masih Hindu.”


“Apa dia galak?”


“Tidak kyai, dia baik, cuma kalau ada orang yang minta yang tidak-tidak, dia biasanya galak.”


“Agamanya apa?”


“Hindu kyai..”


“Kalau nyai blorong?”


“Nyai blorong dulu Islam, lalu murtad.”


“Kalau nyai dewi lanjar,”


“Dia Hindu kyai.”


“Hm…. begitu…” aku tenger tenger… dalam pikiranku, apa gak ada yang mengislamkan ya, bukannya ulama’ dari dulu sampai sekarang kan banyak.


“Apa kyai berkehendak mengislamkannya?” tanya ratu.


“Hm apa mungkin.”


“Kapan kembalinya?”


“Kembalinya nanti malam minggu kalau ada dzikir bersama.”


Di majlis masih ramai… sementara waktu sudah sore Aisyah masih di kerubungi banyak orang,


dan aku segera mendekat.


“Kyai… nyai ratu sudah kembali..”


“Lhoh kok cepat, katanya hari sabtu malam


minggu.”


“Iya sudah kembali..”


“Kalau begitu suruh menghadap padaku.”


“Baik kyai..” sebentar nyai ratu sudah masuk ke tubuhnya mbak Sun, dan mulai mengucap salam.


“Ya kyai saya menghadap..” kata nyai dengan suara lembut.


“Katanya ratu dari tempat Dewi Lanjar, bagaimana hasilnya?”


“Iya kyai, saya sudah bicara banyak tentang kyai pada dia, dan dia memang sudah lama kenal sama kyai, dia juga bercerita kyai juga sudah pernah ke kerajaan dia.”


“Iya lalu apa dia mau masuk Islam.”


“Alhandulillah kyai, dia mau masuk Islam, dan meminta ijin untuk menjadi murid kyai.”


“Ya boleh saja, kalau dia mau menerima syarat yang ku berikan.”

__ADS_1


“Sekarang dia ada di rumah saya kyai, apa kyai berkehendak dia menghadap?”


“Boleh, suruh dia menghadap.”


Mbak sun mengejap sebentar pertanda sudah ganti jin yang masuk… tapi tetap diam, lalu terdengar Aisyah mengoceh.


“Kyai, nyai Dewi tak mau bicara kalau ada orang banyak, beliau malu kyai…”


“Ooo ya sudah, ke sana saja..” kataku sambil ku ajak ke ruangan lain.


—————————————————————————


Kami duduk berhadapan….


“Bagaimana kabarnya nyai?” tanyaku membuka pembicaraan.


“Maaf kyai, saya baru bisa sowan kesini.” jawab Dewi Lanjar halus.


“Ndak papa…. bagaimana nyai Dewi sudah masuk Islam?”


“Alhamdulillah sudah kyai, sudah diIslamkan sama ratu.”


“Syukur alhamdulillah.”


“Apa masih ingat dengan saya..?”


“Masih kyai, kyai yang pernah ke tempat saya, waktu itu saya sambut dengan rakyat saya berjejer-jejer menyambut kyai.”


“Syukur kalau masih ingat.”


“Iya dulu kyai saya gandeng, saya ajak ke kerajaan saya… tapi kenapa kok sekarang saya malah takut sekali menghadap kyai, saya sungguh, sungguh takut, saya silau sekali menatap wajah kyai, maaf saya kalau saya selalu menunduk, karena saya merasa panas dan perih kalau menatap kyai, padahal dulu kyai tidak seperti sekarang.” kata Dewi Lanjar sambil menunduk.


“Ah mungkin karenal belum terbiasa saja, nanti juga kalau sudah terbiasa akan biasa, gak silau lagi.”


“Kalau kyai mengijinkan, saya ingin menjadi pengikut dan murid kyai..”


“Hm…. tapi saya ada syaratnya, apa nyai Dewi mau memenuhi syaratnya?”


“Saya akan berusaha taat dan tunduk pada yang kyai perintahkan.”


“Syarat saya, nyai Dewi kan yang mengadakan


pesugihan itu, orang pada minta pesugihan pada nyai Dewi, apa benar itu?”


“Iya kyai… itu memang saya.”


“Nah syarat saya, itu harus dihentikan.”


“Tapi kyai, saya sudah membayar orang-orang itu, sudah banyak keluar uang.”


“Nyai kalau hal yang haram ditinggalkan, maka Allah akan mengganti yang halal, seperti sedekah itu, sedekah itu seperti menanam pohon di surga, akarnya di surga, tapi pohon dan buahnya di dunia, siapa yang banyak menanam sedekah maka akan memanen yang banyak di dunia, di surga itu sudah tak butuh lagi panen, yang butuh panen itu di dunia, di surga nanti panennya yang jariyah, jatuhannya


buah sedekah, yang tumbuh menumbuhkan pohon sedekah lagi, terus begitu tak akan berhenti, dan akan menjadi hutan sedekah.”


“Ya kyai saya paham..”


“Tapi kyai, saya… saya sudah pernah punya


perjanjian dengan nyai Roro Kidul, saya diperintahkan untuk mengembangkan pesugihan ini agar yang jadi tumbal bisa dijadikan bala tentara..”


“Segala bentuk perjanjian sesat, di kala sebelum Islam, itu tak berlaku lagi ketika seseorang telah menjadi muslim, misal orang sebelumnya mempunyai perjanjian dengan berhala, maka berhala harus ditinggalkan kala orang itu masuk Islam.”


“Tapi kyai, saya tak berani menyalahi nyai Roro

__ADS_1


Kidul.”


“Apa nyai Roro Kidul itu tinggi ilmunya?”


__ADS_2