
“Lalu saya bagaimana kyai?” tanya Furqon.
“Ya nanti ikut saja dzikir aktif di toreqoh, sudah tak usah ikut aliran yang tak jelas, wong dalam
thoreqoh itu lengkap, mau kaya, banyak harta, ya minta saja sama Alloh, la Alloh kan lebih kaya daripada jin manapun.
Kedua orang itupun pulang, dengan semangat
baru.
Esoknya istriku cerita, “Bah, kemaren orang yang minta air, untuk kakek yang sakit dan menjerit-jerit itu, kakeknya sekarang meninggal dunia.”
“Innalillahi wainna ilaihi rojiuun, semoga Alloh mengampuni dosanya, dan menerima amal ibadahnya.”
“Kemarin katanya habis dikasih minum, langsung diam, diam saja, tak mengaduh-aduh lagi, baru kemudian malamnya meninggal.” jelas Husna.
————————–
Sore-sore Nanang sudah datang ke rumah, dengan wajah yang kelihatannya ada masalah.
“Ada apa?” tanyaku.
“Saudaraku kena santet, perutnya mengeras.” jawabnya.
“Ya sudah bawa kesini aja, sekarang di mana?”
“Di rumah, ku bawa kesini ya…”
“Ya bawa kesini.” jawabku.
Lalu Nanang pulang, aku duduk di teras rumah menunggu Nanang mengambil saudaranya, dua orang berboncengan sepeda motor datang dan berhenti tepat di depan rumahku.
“Maaf mas, mau nyari rumah kyai Nur,…?” tanya yang bonceng padaku.
“Ya kalau Nur ya aku ini, tapi bukan kyai…”
jawabku.
“Tapi orang yang nyuruh kesini, bilangnya kyai Nur…”
“Mungkin orang lain…” kataku. “Soalnya aku bukan kyai.”
Pas ada orang belakang rumah lewat, seorang tukang kayu.
“Pak… numpang tanya, tau rumahnya kyai Nur tidak?” tanya yang boncengkan kepada orang yang lewat itu.
“La yang sampean ajak bicara itu kyai Nur…” jawab tukang kayu.
__ADS_1
“Ooo makasih pak…” kata yang boncengin motor.
“Maaf mas, kami agak ragu, soalnya mas ini masih muda, la masak punya kebisaan yang macam-macam, menurut yang menyarankan kami kesini.” kata yang dibonceng motor yang lebih tua umurnya.
“Mari silahkan duduk di sini, ada keperluan apa sebenarnya?” tanyaku mempersilahkan mereka berdua duduk di teras rumah.
“Anu mas saudara kami kerasukan, dan tadi kami ada yang bilangi, kami diminta ke sini untuk meminta air.” jelas yang lebih muda.
“Ooo gitu, ya kalau gitu tunggu sebentar.” kataku lalu masuk ke dalam, dan mengambil air aqua.
“Namanya siapa?” tanyaku.
“Romdona mas…,”
“Bin siapa?”
“Bin Mujaid.”
Air lalu ku tiup, lalu ku memberikan air aqua yang selesai ku tiup kepada mereka berdua. “Nanti air ini diminumkan saja yang kerasukan, dan diusapkan ke wajahnya.” jelasku.
“Ya kalau begitu terimakasih mas, sekalian kami pamit dulu.”
“Monggo-mongo silahkan.” kataku.
Pas Nanang datang membawa saudara perempuannya yang kena santet, kelihatannya sih sehat-sehat saja, tak kelihatan sama sekali kalau ada penyakit di badannya.
“Ayo ke dalam saja.” kataku karena tak enak dengan perempuan di depan teras rumah.
“Awalnya sakit biasa saja mas, aku juga ndak ngira kalau aku akan disantet, ini di perutku, kayak ada lempengan besi, keras dan kayak papan, dan rasanya sakit sekali, sebenarnya sudah diobatkan kemana-mana, malah pernah dikeluarkan ada beling, silet dan jarum, tapi kok ya ndak sembuh juga.” jelas Hadijah, nama kakak perempuan Nanang.
“Walah kalau aku ya ndak bisa mengeluarkan yang kayak gitu mbak… yang bisa mengeluarkan kayak gitu yang punya ilmu, la saya ini orang bodo, ndak punya kelebihan yang aneh-aneh, bisanya berdo’a.” kataku.
“Maaf coba ku do’akan ya… ini masih sakit perutnya?”
“Masih mas, sakit sekali…”
“Maaf…” ku arahkan tanganku ke perut Hadijah
jarak 10 cm, lalu aku mulai berdo’a, setelah 3
menit berlalu,
“Sekarang coba dipakai nafas pakai perut, masih sakit apa tidak..?”
Hadijah pun bernafas pakai perutnya.
“Masih sakit?” tanyaku.
__ADS_1
Dia menggeleng, “Sudah tak ada rasa sakit mas.”
“Coba diraba perutnya, masih kerasa ada lempengannya apa tidak?”
Dia pun meraba perutnya, dan menekuk nekuk
badannya.
“Alhamdulillah sudah hilang mas,” jawab Hadijah dengan wajah senang.
Aku lalu ke dalam, mengambil air putih dan ku bawa ke depan Hadijah, “Ini nanti air putih ini dipakai mandi di guyuran terakhir, orang disantet itu kalau diobati sembuh, ya kalau ndak dipager pasti disantet lagi ya kena, makanya ini nanti dipakai mandi, insaAlloh akan menjadi pagar.” jelasku.
“Iya mas terima kasih…” jawab Hadijah.
Nanang mendekat,
“Ada apa Nang…?” tanyaku.
“Kemarin di tempat sekolahku, ada kerasukan lagi, yang merasuk jin Islam, malah dibacakan yasin, dan ayar kursi jinnya ndak mau keluar, aku pas keluar sekolah, sedang menjalankan tugas di luar sekolah, lalu dipanggil kembali ke kelas, dan akhirnya aku yang bisa mengeluarkan jinnya..” jelas Nanang.
“Ya sudah, itu sudah baik.” kataku.
“Masalahnya bukan itu, masalahnya ada guru yang tak suka, dia sebelumnya sudah cerita ke orang-orang, kalau dia itu punya ilmu kesaktian macam-macam, nah pada saat aku ndak ada kan dia ikut mencoba mengeluarkan jinnya, sudah disembur pakai air, sudah dipencet jarinya yang kerasukan, dibanting, diapa-apakan tapi jinnya tak keluar juga, makanya dia malu,
ya karena malu itu, saat aku bisa mengeluarkan jinnya, ee malah dia menuduhku bahwa yang merasuk itu jin milikku, makanya hanya aku yang bisa mengeluarkan, sebab sudah diseting seperti itu, akhirnya aku kan ndak terima dituduh seperti itu apalagi di depan orang banyak, kami jadi rame, dia nantang-nantang, malah bilang siapa nanti yang lebih dulu masuk surga, la kok ya aneh, yang mati duluan juga belum tentu masuk surga duluan… kok dia nantang-nantang kayak gitu kami sampai debat lama.”
“Kamu juga salah, ndak usah debat-debat segala, ndak usah banyak bicara yang ndak ada manfaatnya, segala sesuatu itu kan yang penting buktinya, kenyataannya, ya kalau bicara, anak SD juga bisa, harusnya kamu tinggal saja ndak usah dilayani.”
“La wong saya kan panas, dituduh tanpa bukti, difitnah,”
“Ya kalau begitu kamu musti lebih giat lagi menata hatimu, kalau masih keseret pada hal-hal yang sia-sia, pada hal yang tak ada manfaatnya sama sekali, tong itu kalau kosong kan ya keras bunyinya.”
“Ya saya juga kan punya gengsi, martabat.”
“Gengsi dan martabat yang bagaimana?”
“Gini lo Nang, manusia itu meyakinkan dirinya melalui dua cara, pertama dengan akal dan keduanya dengan hati. Bidang akal ialah ilmu dan liputan ilmu sangat luas, bermula dari pokok kepada dahan-dahan dan seterusnya kepada ranting-ranting. Setiap ranting ada ujungnya, yaitu penilaian, pemahaman, dan pengertian.
Ilmu itu secara mendasar selalu sama pada perkara pokok, bertolakan unsur pada cabangnya dan berselisih pada rantingnya atau penyelesaiannya.
Jawaban kepada sesuatu masalah selalunya berubah-ubah menurut pendapat baru yang ditemui. Apa yang dianggap benar pada mulanya bisa jadi salah pada akhirnya.
Oleh sebab sifat ilmu yang demikian orang awam yang berlarut-larut memperdebatkan pada sesuatu perkara bisa jadi mengalami kekeliruan karena mengalami kekacauan fikiran dan keterbatasan pemahaman pada dirinya, di dunia ini kan banyak juga orang yang idiot, atau lemah akalnya.
Salah satu perkara yang mudah mengganggu fikiran misal saja masalah takdir atau Qadak dan Qadar. Jika persoalan ini diperbahaskan hingga kepada yang halus-halus seseorang akan menemui kebuntuan karena ilmu tidak mampu mengadakan jawaban yang konkrit.
Qadak dan Qadar diimani dengan hati. Tugas ilmu ialah membuktikan kebenaran apa yang diimani. Jika ilmu bertindak menggoyangkan keimanan maka ilmu itu harus disekat dan hati dibawa kepada tunduk dengan iman akal pikiran ditutup dari membuat penilaian
__ADS_1
sendiri.
Sehingga tercipta membimbing ke arah itu agar iman tidak dicampur dengan keraguan sebab tiada tercampuri oleh pendapat akal yang pada kenyataannya selalu terbatas, makanya banyak orang yang mengatakan, ah tak masuk akal, sekalipun tak masuk akal kan kenyataannya terjadi, seperti saudara perempuanmu ini yang kena santet sekalipun akal tak mau menerima, kan kenyataannya sudah terjadi di depan mata, lalu aku mendo’akannya, juga kan tak masuk akal, jadi segala sesuatu itu tak harus masuk akal dulu.