Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Mendidik istri


__ADS_3

Dan setelahnya dilakukan walimatul ursyi, aku


mau didandani sebagai penganten pria.


Aku diminta buka sarung untuk diganti dengan kain perlengkapan yang dibawa perias penganten, aku bilang tak memakai celana panjang, si perias penganten terkejut.


“La bagaimana ini..?” kata dia sambil mondar


mandir kayak orang bingung.


Lalu dia keluar sebentar, dan menemui


seseorang, sebab aku dirias jauh dari rumah


tempat acara, karena rencananya akan diiring


hadroh,


Perias penganten masuk membawa celana


panjang selutut.


“Untung di sini ada yang jual celana, ini dikasih sama yang jual celana.”


katanya perias penganten menyerahkan celana kepadaku, dan ku pakai.


Acara walimah semua lancar tanpa halangan


apapun.


—————————————————————–


Seminggu selesai pernikahan, ku ajak istriku ke Tuban ke rumah orang tuaku, semua merasa


heran dengan perempuan asing yang ku bawa.


“Ini siapa nang, kok bawa anak perempuan


orang? Nanti kalau hamil kan jadi urusan,


mempermalukan keluarga.” tekan ayahku.


“Ini istriku” jawabku santai.


“Jangan sembarangan, perempuan diakui istri,


itu ndak boleh dalam agama, namanya kumpul


kebo.” kata ayahku yang memang orangnya keras dalam memegang syare’at.


Ku keluarkan surat nikah,


“Kalau memakai ini dibilang kumpul kebo tidak pak?” kataku sambil meletakkan surat nikah di


meja.


Ayahku memeriksa dengan teliti.


“Kapan nikahnya, kenapa tidak memberitahu


orang tua?”


“Ya aku ndak mau membuat orang tua repot.”


kataku,


——————————————-


Beberapa hari di Tuban, aku kembali ke


Pekalongan, baru beberapa hari, para kyai sepuh desaku semua datang ke rumahku,


“Maaf… ini ada keperluan apa, kok pada ramai-


ramai datang ke rumah?”


Tanyaku pada orang-orang tua “Begini pak ustadz, kami sudah bermufakat, kalau pak ustadz menjadi imam masjid, dan kami


minta memberi pengajian setiap selesai sholat subuh.” jelas Pak Sodiqin, yang biasa menjadi


ta’mir masjid.


“Wah apa tidak salah, saya ini bukan orang


ngerti soal agama.” jelasku.


“Hehehehe…” semua tertawa.


“Lhoh kok pada tertawa to..?” tanyaku.

__ADS_1


“Orang pinter itu kan terlihat di pancaran


wajahnya, kelembutan sikapnya, dan segala


sesuatunya mengalir tidak dibuat-buat.” jelas


pak Sodiqin lagi.


“Bagaimana ya…? Ini berat bagiku, soalnya aku


sendiri belum punya pekerjaan tetap, jadi masih mencari maisyah kehidupan untuk anak istri.”


kilahku.


“Tapi mbok kami diberi ilmunya to pak kyai.”


kata salah seorang lagi. Waduh malah dipanggil kyai segala.


“Ya nanti saya coba, semoga Alloh mengijinkan dan meridhoi, tapi saya ndak janji, soalnya saya


belum istiqomah, juga masih mencari rizqi.”


kataku.


“Iya kami maklum.” kata mereka dan setelah


semua beres, mereka meminta diri.


Dari acara penganten, dan sisa uang dari tamu, istriku cuma memegang uang 300 ribu, sungguh uang yang minim.


“Gimana mas, kita usaha apa?” tanya Husna.


“Bagaimana kalau membuka toko?” tanyaku balik.


“Zaman sekarang uang segitu dibelikan juga akan dapat apa?” kata Husna mengutarakan logisnya.


“Ya kita jangan membuat ukuran yang logika


dulu, sebab itu tak mungkin, melihat


keterbatasan kita, aku yang tanpa modal, kita


menjalankan saja dulu dengan kesungguhan.”


jelasku.


“Ya kalau tidak diakal lalu kita memakai apa?


akal.” bantah Husna.


Memang tak mudah menjelaskan sesuatu yang tak bisa dilogika manusia, yaitu gerak gerik Alloh dalam mengatur hambaNya, satu penggalan ayat sedikit saja sulit mengimaninya, kalau manusia masih membuat sandaran akalnya.


WAMA MIN DABBATIN ILLA ‘ALALLOHI


RIZQOHA.


Semua apa yang melata dan hidup di bumi itu


rizqinya di tangan Alloh, kalau menurut hemat


pemikiran dangkalku, maka karena yang membagi rizqi itu Alloh di samping usaha, maka kita juga berupaya untuk meminta pada Alloh, dan kalau meminta itu agar cepat terijabah maka mendekatkan diri pada Alloh.


Dan pemikiran itu ku tanamkan pada istriku,


teramat sulit. Sesulit menancapkan tonggak


tumpul pada sepotong batu, sehingga malah yang sering terjadi percekcokan.


“Begini saja daripada kita berdebat tak ada


ujung pangkalnya, bagaimana kalau kita buktikan, kita jualan, apa juga boleh, asal barang halal, lalu aku berdo’a bagaimana, kalau nanti tak laku, ya berarti tentang teoriku itu salah kaprah, bagaimana?” tanyaku yang lelah meyakinkan.


“Ya kita buktikan.” jawabnya, karena ingin


membuktikan apa yang ku utarakan itu salah.


Maka kami membuka toko kecil bekas toko


keluarganya, dan diisi dari uang yang cuma 300 ribu, ya isinya bisa dibayangkan, cuma apa.


Dengan kesungguhan hati, aku pun mulai


menjalankan permintaanku pada Alloh, dan


sungguh di luar dugaan, toko berkembang amat pesat, setiap hari penuh orang membeli, dan tak sampai sebulan isi toko penuh isinya.


Istriku mulai senang, tapi tetap dia merasa itu


kebetulan.

__ADS_1


“Bagaimana dik, apa yang ku katakan benar kan?” tanyaku.


“Ah itu hanya kebetulan saja.” katanya.


“Begini saja, biar ketahuan ini kebetulan atau


tidak, besok aku tidak minta rizqi pada Alloh,


bagaimana keadaan toko kita, lalu besok


besoknya lagi aku minta, bagaimana


perbedaannya. bagaimana?”


“Ya ndak papa dibuktikan.” otot istriku.


Dan aku malamnya tidak minta lagi supaya Alloh memberi rizqi, dan esoknya toko sepi sekali, mungkin sehari cuma ada 2 orang yang beli.


Dan malam setelahnya aku meminta rizqi, dan toko ramai lagi.


“Bagaimana dik? Kan sudah lihat sendiri?”


“Wah itu masih belum membuktikan, sebab pas sehari itu mungkin sedang ada apa sehingga toko sepi.” bantahnya.


Hmm.. aku memang harus pelan-pelan


menanamkan keyakinan yang sebelumnya tak


diketahui dan tidak dipahami Husna.


Gak papa. Seseorang itu pertama yang harus


dibimbing adalah keluarganya, kalau membimbing keluarganya saja gagal, maka bagaimana mau membimbing orang lain???


“Biar aku meminta modal pada Kak Abdullah,


sepuluh juta juga gak besar bagi mereka yang


kaya raya.” kata Husna.


“Ingat…! Jangan sampai kita punya sandaran


pada manusia, apalagi kakakmu, dia itu manusia, manusia itu lupa, sakit, mati, dan penuh keterbatasan, kalau Alloh itu tidak mati, tidak lupa, tidak sakit, tak terhalang oleh apapun, jadi jangan menyandarkan diri pada manusia, bahkan setengah rupiahpun,


Karena kalau diri menyandarkan pada manusia maka Alloh akan menyerahkan nasib kita pada manusia tersebut.”


jelasku panjang lebar.


“Ya apa kita tak bisa seperti orang pada


umumnya? Ya kalau ndak minta, minjam kan juga gak papa.” kilah Husna tak mau kalah.


“Cobalah menghilangkan pikiran dan harapan


kepada manusia, dan berusaha sekali saja


menggantungkan diri pada Alloh, fatawakkalu


Alallohi, waman yatawakal ‘alallohi fahua


khasbuhu. Bertawakallah pada Alloh, siapa yang bertawakal pada Alloh maka Dia yang akan mencukupi.” kataku menjelaskan.


“Tak taulah.”


“Ya jangan tak tau gitu, sekarang kita buktikan


lagi bagaimana, biar selama seminggu toko tak ku do’akan, lalu seminggu ku do’akan, masak


kebetulan kok seminggu.” kataku menekankan.


“Ya kita buktikan.” katanya lagi. Karena apa yang ku bicarakan itu dia ingin hanya omongan kosongku saja.


Maka selama seminggu, aku sama sekali tidak


minta supaya diberi rizqi, dan selama seminggu benar-benar toko sepi, sampai apa yang jadi isinya toko menyusut kembali, karena tak ada uang untuk membeli barang.


“Sudah-sudah dido’akan, semua barang sudah


mau habis untuk makan.” katanya.


“Ya ndak bisa, perjanjiannya kan seminggu,”


“Iya aku sudah percaya, sana dido’akan.”


“Ya tak bisa harus selesai seminggu, mau habis juga gak papa, makanya jadi orang mbok jangan ngeyel, coba mana logika yang kau banggakan itu?” kataku menuntut.


Setidaknya aku telah menyelesaikan mengarahkan Husna dalam satu langkah.


Sementara hariannya aku mulai menjadi imam

__ADS_1


masjid, dan mengisi pengajian waktu subuh.


Bersambung......


__ADS_2