Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Menyepelekan amalan


__ADS_3

“Apa masalahnya pak?”


“Nanti dulu Ian…”


“Kenapa pak?”


“Aku hanya ingin menatapmu lama-lama.”


“Memangnya kenapa pak?”


“Aku hanya ingat di waktu kecilmu, dulu aku


sudah mengira kamu ini akan menjadi orang


linuwih, malah aku bilang ke ibumu, tapi ibumu mana mau percaya.”


“Ah biasa saja to pak.”


“Ah tidak kau waktu kecil itu aneh.”


“Aneh bagaimana pak?” tanyaku heran.


“Lo apa ibumu tak cerita soal masa kecilmu.”


“Ndak itu pak, la masa kecilku bagaimana?”


“Kamu tau? Dulu masa kecilmu, kamu kan diasuh Sarminten yang gila itu.”


“Walah masak bisa begitu pak, kalau itu bukan


suatu prestasi lah, namanya aib.”


“Ee nanti dulu, Sarminten itu pasti jadi orang


waras kalau sudah momong kamu, diajak jalan kesana kemari, kalau sudah gendong kamu, pasti jadi waras edannya, apa ndak aneh, makanya ibumu tak keberatan kamu diurus Sarminten.”


“Memang ada cerita seperti itu?”


“Ya kamu kan bisa tanya ke orang tua-tua.” “Trus semua orang gila desa kita ini, setiap hari bergantian ngisi kolah kamar mandimu, anehnya mereka semua gantian mengisi kamar mandimu, jadi harinya kayak terjadwal, padahal kan rumah mereka berjauhan, apa itu tak aneh?”


“Ya itu kan masa lalu to pak Darwis, masalahe


panjenengan nopo?” tanyaku, karena masih ada beberapa orang yang menunggu ku selesaikan masalahnya, walau tubuh penat, dan sudah ngantuk, tetap saja hati harus legowo menerima siapa saja, menjadi orang yang dijadikan pengaduan masyarakat, dan kita diminta mengadukan kepada Alloh itu kudu lebih beberapa kali sabar, tapi aku juga sama sekali tak mempermasalahkan pak Darwis yang maunya mengenang masa lalu.


“Ian kamu tau tidak kalau aku sekarang ini sudah miskin, dan sudah tak punya apa-apa, semua harta kekayaanku ludes, tak tau ini karmaku atau bagaimana.”


“Masak kekayaan panjenengan yang sebegitu

__ADS_1


banyaknya bisa ludes, belum lagi burung walet


yang menghasilkan jutaan tiap bulan itu semua ludes?”


“Iya, semua ludes.”


“La masalahnya apa? Apa panjenengan punya


hutang sama bank?” tanyaku.


“Bukan, bukan masalah itu,”


“Lalu masalah apa?”


“Awalnya, kamu ingat dengan Laila anak


perempuanku?” tanya pak Darwis.


“Ya ingat.”


“Laila itu pernah diminta oleh pak Rudin.”


“Maksudnya pak Rudin yang jadi dukun itu?”


tanyaku.


Rudin yang sudah umur 50 an itu, ternyata mau dinikahi, ya aku sendiri saja lebih tua pak Rudin, ya ngiranya Laila, dia diberi apa-apa, pak Rudin


tak punya maksud apa-apa, jadi diterima,


ternyata malah mau menikahi Lalila, ya Laila gilo, jeleh (bahasa Pekalongan), ya aku sendiri jelas menolak, la karena ku tolak itu kok malah dia mengancam akan menghancurkanku.


Ya perkirakanku maksudnya menghancurkan, menghancurkan apa, la kok ternyata semua bisnisku hancur, semua ayam mati, semua usahaku macet, dan aku bangkrut, bahkan waletku pada kabur. Hanya dalam dua bulan setelah aku diancam, setelah itu semuanya ludes.


Memang tetangga sering melihat pak Rudin mengitari rumahku di malam hari, menyebarkan beras kuning dan kembang, dan aku dilapori tetangga, tapi tak ku perduli, tapi sekarang pun aku sudah berusaha bangkit, tapi sampai setelah semua habis, sampai saat ini semua order kontraktor semua belum ada yang berhasil, sampai-sampai temanku mengajak memakai dukun untuk melancarkan bisnis kami, bahkan aku pernah di ajak temanku mencari dukun terkenal di daerah Batang, dekat Pekalongan itu, aku dan temanku diberi syarat untuk bertapa semalam di tepi air tempuran, kata dukunnya jangan sampai gagal, kalau ada gangguan apapun kok gagal, maka usahanya tak akan berhasil, la kebetulan temanku itu pemberani, dia bertapa di tepi sungai tempuran (pertemuan empat jalur sungai), mungkin disengaja, sengaja tempat yang dipakai temanku diolesi trasi, agar datang para biawak, tapi temanku itu pemberani walau dikepung biawak, sampai pagi temanku itu kuat.”


“Lalu apa berhasil cara itu?” tanyaku.


“Sama sekali tidak.” jawab Darwis.


“Pak… sebenarnya bisnis apa saja, jika disertai masuk toreqoh, insaAlloh akan lancar, karena antara lahir dan batin saling melengkapi.” jelasku.


“Ya nanti itu mudah masuk toreqoh, tapi mbok sekarang aku kamu do’akan agar bisnisku gol. Aku sekarang lagi tawar menawar harga soal menguruk sepanjang rel kereta api dari Babat sampai Bojonegoro, diuruk pakai batu koral, nah itu kamu do’akan berhasil, nanti kamu tak kasih komisi.”


“Heheh… komisinya untuk panjenengan, panjenengan kan yang lebih membutuhkan.” kataku. “insaAlloh saya do’akan.”


“Oh ya kalau kamu ngasih amalan biar temanku saja yang mengamalkan, temanku ini sudah pakarnya menjalankan puasa, mau puasa mutih, ngebleng, bahkan pernah seminggu tidur miring di makamnya sunan Bonang.”

__ADS_1


“Walah tidur miring, apa maksudnya?” tanyaku heran.


“Ya tidur miring, menjalankan lelaku.” jawab Darwis.


“Walah kok sampai gitu, la aku saja belum pernah, ya tentu dia lebih sakti, aku jadi malu kalau ngasih amalan dia.”


“Ya bukan begitu, walau dia sudah menjalankan amalan macam-macam, juga pernah dalail selama tiga tahun setengah, tapi tak ada yang nempel ilmunya, jadi semua amalannya tak mangsah apa-


apa.” jelas Darwis.


“Ya kalau ngasih amalan sih aku senang saja.”


jelasku.


“Man…, Wagiman sini…!” panggil pak Darwis, kepada salah seorang pemuda kurus, di antara tamu yang sedang ngobrol di kursi tamu. Yang dipanggil Wagiman pun mendekat.


“Ini Man mau diberi amalan.” kata pak Darwis. Aku masuk sebentar untuk mengambil lembaran amalan, dan ku serahkan pada Wagiman.


“Itu amalannya cara mengamalkannya sudah tertulis. Tapi akan ku jelaskan.” kataku pada Wagiman yang sedang memegangi catatan amalan puasa dariku.


“Nggak usah diterangkan, saya sudah paham, puasanya juga hanya puasa biasa, pasti saya amalkan.” kata Wagiman seperti meremehkan amalan yang ku beri. Mungkin tak seberat amalan dia yang ngebleng (puasa sehari


semalam).


“Ini juga puasanya ringan, saya akan jalankan.” kata Wagiman.


Tak lama kemudian pak Darwis dan Wagiman minta diri.


Setelah hari itu aku tak bertemu lagi dengan pak Darwis, cuma dia pernah nelpon setelah beberapa bulan, mengatakan kalau ordernya menguruk rel sedang dijalani, dan aku bertanya soal Wagiman, apa amalanku sudah dijalankan.


“Wagiman waktu itu besoknya langsung puasa, tapi langsung pingsan, dan lumpuh sampai sekarang, ku suruh meminta obat pada mas Ian, tapi dia malu, jadi sampai sekarang masih lumpuh.” cerita pak Darwis,


Aku hanya menarik nafas gegetun, amalan yang ikhlas karena Alloh, dengan amalan yang karena jin, tentu beda, dan yang ikhlas biarpun kelihatannya sepele, sebenarnya lebih berat, karena berkaitan dengan kebersihan hati.


Setelah sholat subuh aku, istri dan anakku telah meninggalkan desaku, dan titipan orang semua ku titipkan pada ibuku.


Ibuku maklum dengan posisiku, jika aku lebih lama tinggal, itu akan menjadikanku malah tak bisa istirahat, padahal masalah manusia pun di mana saja ada.


Aku langsung naik mobil ke Tuban kota, dan menaiki bus jurusan semarang.


——————————————-


Majlis sudah berdiri, tapi jam’iyah dzikir


toreqoh Q********************* belum ku


mulai.

__ADS_1


__ADS_2