
“Kemaren di tenggorokanku juga ada benang jahitnya, ku keluarkan.” kata kyai, setelah dapat lancar bicara.
“Ya kyai, sama santetnya yang dikirim padaku..”
“Hehehe kok bisa begitu ya…” kata kyai, kurasa membayangkan kekejaman Sengkuni.
“Yang kirim Sengkuni kan kyai..”
“Bukan dia, tapi setan yang berupa Sengkuni, yang menyuruh tukang santet sebelah rumah, yang jadi RT itu, juga adiknya dari Surabaya, dan nyuruh orang Subang.”
“Lalu bagaimana baiknya kyai?”
“Sudah biarkan saja… jadikan ini gemblengan menempa diri, thoreqoh itu menggembleng lahir batin kita, bukan saja menggembleng secara lahiriyah tapi juga secara batiniah, seperti yang ku ajarkan padamu dulu di Cilegon, sudah nanti gembleng muridmu dengan cara begini agar cepat kemajuannya.”
“Iya kyai…”
Saat aku keluar kamar, Sengkuni menemuiku, dan dengan agak kikuk tak seperti biasanya, dia bertanya:
“Bagaimana kang, heheheh… sudah ketemu dan bicara sama kyai?” tanyanya.
“Belum.” jawabku pura-pura,“kyai sedang sakit,
jadi aku tak bisa bicara dengannya.” jawabku bohong, sengaja, agar dia tak rikuh.
Dia hanya bertanya seperi itu dan pergi dengan wajah lega, setelah dzikir jamaah selesai, aku menghadap lagi pada kyai dan lagi-lagi Sengkuni menelpon dukunnya, dan aku diberondong santet di leher lagi, agar tak bisa bicara. Padahal aku mau menghadapkan nyai dewi dan nyai ratu, untuk minta ijin menjadi murid thoreqoh, dan kyai mengijinkan, dan tak banyak bicara lagi, kami segera meminta diri, untuk pulang.
Sampai di Pekalongan, tak ada lagi hari damai, tiap hari aku diberondong santet tiada henti, dia membayar dukun beratus-ratus juta, dan dikirim jin setiap hari tanpa henti selalu dikirim, ada sampai 500 ribu jin dan ngambilnya juga sembarangan, ada yang dari tepi laut, ada yang dari telaga, ada yang dari alas roban. juga pernah jin dari alas roban, yang dikirim dari sekian banyak jin.
“Ini to yang namanya kyai Nur?”
“Siapa kamu?” tanyaku pada jin yang merasuk pada mediatorku.
“Aku jin perintahannya Sengkuni, aku dari alas roban,”
“Apa kamu sudah tau denganku?”
“Sudah, walau aku sendiri diambil dari alas roban, tapi di alas roban namamu sudah jadi bahan pembicaraan antar jin, bahkan ada muridmu jin tua yang menyebarkan ajakan untuk masuk Islam pada jin di alas roban,”
“Siapa dia?”
“Aku tak tau namanya, dia itu anak buahnya Dewi Lanjar.”
“Lalu apa keperluanmu? Apa kamu mau melawanku?”
“Ah tidak, aku tak berani.”
__ADS_1
“Lalu….?”
“Aku mau kembali saja..”
“Ya sudah kalau begitu keluar sendiri, apa ku keluarkan?”
“Biar saja saya keluar sendiri.”
Maka ku biarkan dia keluar.
“Kyai, tolong kyai..” suara Aisyah ,”Saya lemas..”
“Kenapa Aisyah..”
“Jin yang baru keluar itu mencuri ilmu dan energiku.”
“Lhah kok bisa?”
“Gak tau kyai, ilmu pemberian kyai diambil dia semua.”
“Wah bahaya….”
“Bagaimana ini kyai… tubuhku lemas tak berdaya….Wah aku panik sekali, bagaimana ini…
Aisyah kelihatan lemah tak berdaya, wajahnya sayu dan tangannya terkulai, aku bingung juga harus berbuat apa, di saat kebingunganku dan tak tau apa yang harus ku lakukan, jadi ingat dipanggil kyai bareng mas Bangun, aku diberi ilmu menarik ilmu orang lain, cuma sayang aku pas dikasih kok ya ketiduran, gak tau ngantuk banget, malah aku dibangunkan mas Bangun, dan ditanya kyai, sudah hafal belum kuncinya, aku cuma jawab, “belum kyai.”
“Ya kyai.”
Terus terang aku tak mengerti kyai memberi ilmu itu, juga aku bukan orang yang kemaruk ilmu, jadi kurang memperhatikan kalau diberi ilmu. Ya itu, akhirnya diberi ilmu, malah gak tau apa dan bagaimana ilmunya. Wes lah pasrah saja sama Allah.
“Mas, tadi hafal ilmunya?” tanyaku pada mas Bangun ketika diantar ke terminal Kampung Rambutan.
“Walah saya malah gak ngeh sama sekali je…” jawab mas Bangun.
“Waduh bagaimana to, la saya malah tertidur.”
“La terus bagaimana?”
“Lain kali kalau dikasih ilmu, siap-siap saja kita rekam.”
“Heheheh… saya dah minta ijin soal itu, soal merekam apa yang disampaikan kyai, tapi kyai gak membolehkan.” jawab mas Bangun menjelaskan bergaya intelek.
“Ya ngerekamnya gak usah bilang, la wong ngasihnya saja sekali langsung diminta hafal, bagaimana otak yang low kayak saya ini bisa nangkep.
Harusnya sayang kalau ilmu itu terbuang percuma, sayang sekali, yang aneh kenapa saya kok ngantuk buanget, ngantuk pakai buanget, masak di depan kyai duduk sambil tiduran, sampai ngorok lagi, jan gak bermutu.”
__ADS_1
“Sudahlah kita terima dengan ikhlas saja.”
“Ya nerimanya sih ikhlas, yang ngasih kan sremet juga kalau dikasih ilmu tingkat tinggi jadi tidur kayak diriku, tapi aneh memang kok gak ketahan mau tidur itu, yo wes lah, semoga saja manfaat.”
“Manfaat dari mana, wong ilmu saja ndak didapat, kok manfaat?”
“Ya manfaat yang memberi kan Allah, Allah itu tak membutuhkan sebab untuk memberi suatu kemanfaatan, dan tak butuh alasan untuk wujudnya manfaat, wes gak usah dipikir, besok saja kalau diberi kita rekam diam-diam, heheheh…”
“Yo wes lah aku manut wae.”
“Wah lagu lama… mau enaknya gak mau susahnya, hehehe…”
Akhirnya kami pisahan dan aku naik bus ke Cirebon, karena bis yang ke Pekalongan sudah tak ada. Apa ilmu yang tak ku hafal do’a pembukanya itu akan bisa ku pakai, melihat keadaan Aisyah yang tak berdaya, sungguh aku kasihan sekali. Ku coba saja, tangan ku arahkan ke arah Alas Roban, tempat jin yang mencuri Aisyah pergi. Lalu ku tarik. Seperti menarik beras 1 kwintal, berat dan tanganku mengeras. Ku pegang, dan ku masukkan ke tubuhnya Aisyah lagi.
“Sudah pak kyai….” terdengar suara Aisyah yang ceria. “Tapi hanya separo.” dan kelihatan masih lemes lagi.
“Ya sudah tak papa, nanti kyai tambahi lagi…”
“Iya… iya… nanti ditambahi lagi ya kyai…” wajahnya sudah ceria lagi.
Kejadian demi kejadian, selalu ku buat pelajaran, dan semoga aku bisa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, dan atas kejadian ini, semoga makin mendewasakanku, mungkin ini cara Allah menggemblengku agar mampu menanggung tanggung jawab yang besar, entah juga tanggung jawab apa, aku hanya berusaha menjalaninya, sebagaimana jalannya air mengalir.
___________________________________
Aisyah sudah mulai ku latih menarik penyakit dari jarak jauh, dan Alhamdulillah mengalami perkembangan yang lancar, dia seperti tanah subur yang akan tumbuh bila ditanami apa saja. Yang ku suka dia tak pernah menolak jika dimintai tolong apa saja, tak pernah minta imbalan apapun.
“Aisyah…. Aisyah apa gak ingin apa-apa?” tanyaku setelah mengobati beberapa orang, karena ku lihat dia kelihatan lelah.
“Gak kyai….”
“Bilang saja nanti ku beri apa maunya Aisyah.”
“Gak pengen apa-apa kok kyai, Aisyah hanya ingin membantu kyai, apa saja yang kyai perintahkan Aisyah siap, Aisyah juga siap mati untuk kyai….” katanya sambil bercanda.
“Apa Aisyah gak ingin makan apa gitu.”
“Aisyah hanya makan pasir saja kyai..”
“La apa enaknya pasir to? Apa gak makan nasi saja?”
“Ya kalau makan nasi Aisyah malah muntah… ya pasir yang dimakan baunya saja kyai, bukan pasirnya.”
“Ooo tak kira makan pasirnya sungguhan, sampai kyai lihatin terus pasir di depan rumah, dah berapa kurangnya, kok ku lihat gak berkurang-kurang itu pasir, masih tetap saja utuh.”
“Ya yang dimakan baunya saja kyai, nanti pasir yang hitam itu akan agak berwarna keputihan.”
__ADS_1
“Apa semua prajuritnya makan pasir?”