Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Nyai Kun


__ADS_3

Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh


terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di atas pun yang tinggal seujung kuku seperti diselimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh Nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.


Soal digoda hantu, perempuan tua ini


pengalamannya sudah tak terhitung lagi, dari


ditiup obornya terus, dilempar ke kali, bahkan


pernah ditemukan warga di tengah-tengah pohon bambu, sehingga warga harus mengeluarkannya dengan menebangi pohon bambu.


Keadaan teramat sunyi, hanya sandal jepit tipis, yang sebagian sudah berlubang karena gesekan, terdengar srek-srek, seakan paling berisik sendiri, ah entah telah berapa tahun sandal ini menemani tugasnya.


Melintasi malam, mengukur keihlasannya menolong perempuan yang akan melahirkan, yang kadang hanya diupah setandan pisang, atau cuma ucapan terimakasih saja.


Nyinyam mengetatkan selendangnya, ketika dia rasakan bulu kuduknya makin meremang, ah


makam juga sudah terlewati, dan di depan


adalah pos kampling, apa yang ditakutkan,


mungkin masih ada yang jaga…, tapi kenapa


seluruh bulu di tubuhnya berdiri semua, Nyiyam mempercepat langkahnya, apalagi di pos kamling jarak sepuluh meter dia melihat bayangan orang dari mata rabunnya.


orang itu mengenakan pakaian berupa Baju dan sarung putih.


Nyiyam telah memutuskan, dia tak akan menyapa pada petugas ronda, kalau dia disapa terlebih dahulu baru akan menjawab, dan kalau tak disapa maka akan berlalu saja, tapi kenapa dia merasakan makin merinding saja.


Tepat di depan bayangan yang ada di pos,


“Mau kemana Nyi…?” suara perempuan,


Serrr…! Semua bulu kuduknya berdiri tegak semua, kepalanya sampai terasa keribo, bukan suara perempuan yang membuatnya merinding, walau itu juga iya, tapi yang lebih membuatnya merinding adalah suara itu seperti suara dari alam lain, bukan alam ini, tapi dari alam kegelapan.


“ss….ssa…s..siapa., k..kamu..?” Nyiyam merasakan lidahnya seperti selembar triplex yang diemutnya, kaku tak bisa digerakkan untuk mengeluarkan ucapan.


Perempuan di depannya ini menunduk, rambutnya gimbal, dan masih ada tanah menempel. Sebagian rambut menutupi wajahnya hingga tak terlihat.


“hii…hik…hihihh….” terdengar suara tertawa


yang teramat aneh, yang membuat kaki Nyiyam gemetar terpaku. Bahkan kencing pun merembes dari jaritnya(kain batik,rok jaman dulu) ketika bau bangkai menyengat terbawa


angin, bau bangkai orang mati.


Walau bagaimanapun nenek tua ini masih berusaha tabah, untung ia ingat Alloh, setidaknya mengurangi, ketakutannya.


“Kau ini siapa nduk? Kembalilah ke tempatmu


nduk…?” kata Nyiyam yang mulai kuat menahan batinnya.


“Aku Sunti nyai…, aku tak diterima nyai…


tolooong aku nyai… huhuu…” suara perempuan itu mengguguk.


“Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ini orang


bodo…” kata Nyiyam kemudian dalam hati


membaca ayat kursi berulang-ulang.


“Aduh nyai panas… panas… Aduuuuuh kau apakan aku nyai..?” perempuan itu menjerit dan tubuhnya seketika melayang ke atas, dan

__ADS_1


melayang pergi sambil ketawa hahahihi.


Sejak malam itu, rumah ki Gerot pun diganggu


dan diteror Sunti yang krambyangan, sampai


karena sudah tak kuat, dukun yang anti ngaji


itupun mengundang orang-orang untuk mengaji di rumahnya, sampai gangguan dari Sunti tiada lagi.


“Maukah kau ku sempurnakan?” tanyaku pada


Sunti.


“Hihi…. bocah bau kencur… mau melawanku,


hiiihii….!”


Aku tanpa kata lagi jariku kuputar, seakan


melingkarinya lalu kutulis bak di tengah,


seketika.


“Hai apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya,


karena tubuhnya terkurung.


Lalu kubaca basmalah tiga kali, tahan nafas,


kullu saiin halikun illa wajhah. AllahuAllahu.


Allahu akbar!!, tangan yang telah tersaluri


dengan tapak tangan terbuka ke arah Sunti,


dan “hlukgh!!”, terdengar ledakan kecil, dan sebuah asap mengepul, bersatu tersedot kepada satu titik lalu lenyap.


Mungkin sudah jam tiga pagi, aku segera


melesat, di atas desaku, melesat kucepatkan lajuku, aku ingin mencoba paling cepat, dan tak lama kemudian,, les.. Kurasakan aku telah ada dalam tubuhku sendiri.


Dan kulihat jam tanganku, jam tiga seperempat.


Aku lalu menata bantal dan segera tidur, ah pengalaman rogo sukmo pertamaku. Lumayan mengesankan.


Setelah sholat subuh, aku membuat sketsa


lukisan dinding, sambil menyelesaikan wirid.


Dingin masih menusuk tulang, teman-temanku


habis wirid subuh semua kembali ke dalam


selimut sarungnya, kamarku terasa dingin apalagi ketika angin masuk dari sela-sela papan kayu dinding kamar, yang pemasangannya asal-asalan.


“Mas…! Gak nyarap?” suara Khanafi santri dari


Cilacap, berdiri di pintu kamar.


“La kamu gak puasa to Fi?” tanyaku balik.


“Wah mutung kang,”

__ADS_1


“Halah Fi… Fi… La gimana to, apa kamu mau terus di pondok nyampai tua? Masuk aja Fi, gak dikunci kok…” kataku sambil terus membuat sketsa gambar.


“Lagi bikin apa mas?” tanya Khanafi setelah


masuk ke dalam kamar geladakku, yaitu kamar yang beralaskan papan kayu.


“Ah, ini Fi lagi bikin sket, buat lukisan di aula


belakang, duduk, tunggu bentar, entar nyari


sarapan bareng.” kataku.


Hari makin beranjak siang, dingin pun kian


hilang, meninggalkan titik embun di rerumputan, suara burung ramai bercicit, menyambut matahari yang telah mulai menyembul dari puncak gunung Putri.


Seakan dunia ini betapa damainya, tak ada problem, tak ada dendam iri dengki, tak ada pembunuhan, kematian hanya terjadi karena kewajaran, seperti daun yang berguguran, seperti matahari yang terbit kemudian tenggelam.


Angin pun mengalir dengan


kasih sayang, alam dan manusia seperti


keselarasan yang saling melengkapi, tak ada


kejahatan manusia, atau jin, tapi dunia di luar


tak sesempit harapan setiap orang.


Aku pun selesai membuat sketsa, ketika jam tangan butut telah menunjukkan jam 7 pagi.


“Ayolah Fi, kalau mau nyari sarapan…” kataku


setelah selesai memberesi buku. Dan kami pun


beranjak untuk pergi ke tempat nyari makan di


warung bu Enur, biasa makan nasi uduk, tak


mahal cuma 1500 sudah bisa mengganjal perut, plus teh pahit gratis.


Sebenarnya di warung bu Enur, sudah jadi


rahasia umum, bahwa setiap pemuda yang datang bukan hanya yang dituju makannya tapi anak gadis bu Enur yang cantik, manis dan centil, itu juga tak ketinggalan si Khanafi, dan aku ujung-ujungnya juga ikut ngelirik.


Ah memang syaitan paling gampang menularkan penyakit menular, yang paling mudah yaitu nafsu.


Melewati got-got aliran darah, dan menghangatkan hati yang kasmaran dengan bisikan-bisikan menghanyutkan.


Dan membumbui sesuatu yang sepele jadi besar, bahkan jadi gunung yang siap meletus.


Karena jaraknya cuma seratus meteran


dari pondok, maka kami berdua pun cepat


sampai, tapi rupanya teman-temanku yang ku


kira mendengkur di bawah selimut ternyata


sudah pada nongkrong di warung, sembari


menggoda Afifah, anak gadis bu Enur yang tak


bosan-bosannya melempar senyum termanis.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2