
Ee malah Mahmud marah-marah, dan malah
menuduhku memakan uangnya, mencuri uangnya. Aku berusaha slalu sabar, tapi anehnya, setelah mahmud menjelek-jelekkanku, ada seorang gila yang meminta rokok.
Sebenarnya di dekat Mahmud ada banyak orang, tapi yang dimintai kok kebetulan cuma Mahmud, dan tentunya Mahmud tak mau memberi, kontan saja orang gila itu marah dan langsung memukul Mahmud, dipukul sampai giginya lepas tiga.
Aku tak perduli pada cerita orang yang ku suruh, soal orang gila yang memukul Mahmud itu, aku meminta pada orang yang ku suruh
memperingatkan Mahmud lagi, agar menarik
kekuatan jahat yang dikirimkan ke rumahku itu, sampai peringatan yang ku berikan telah tiga
kali.
Lalu aku berinisiatif untuk mengembalikan kekuatan jahat kepada pengirimnya.
Malam itu telah ku rencanakan untuk
mengembalikan semua kekuatan jahat pada
Mahmud.
Maka aku duduk bersila menghimpun
semua dzikir, meminta pada sang pemberi
kekuatan yaitu Alloh, lalu setelah semuanya
kekuatan terkumpul, bumi ku gedor, serasa
pusaran kekuatan dasyat membuyarkan kekuatan yang melingkupi rumahku, tak berselan lama terdengar jeritan, “Ampuuun..! ampuuuun..” dari puluhan jin yang
dikirim ke rumahku.
Segera ku lepas sukma, karena memburu, bicara dan menangkap jin dengan badan wadak tanpa mediator amatlah sulit, sementara aku sendirian, aku melompat, dan menghadang berbagai jin yang mencoba lari dari gebahanku, yang paling tinggi berbentuk raksasa dan berbadan hitam ku hentikan, dia langsung menekuk tubuh sujud minta ampun, padahal tanganku sudah ku isi cahaya dari ya latif, sehinga berwarna putih keperakan, jika ada yang melawan, aku sudah siap meleburnya lumer menjadi cairan.
Tapi ternyata tak ada yang melawan, semua
langsung bersimpuh takluk, aku melayang
menunggu, semua terdiam.
Ada tiga belas jin, beberapa berbentuk cebol kecil, dengan telinga lancip dan dagu kecil serta tubuh katai, yang paling aku perhatikan adalah yang bertubuh tinggi, mungkin tingginya ada lima meteran, tubuhnya hitam legam, dan tak memakai pakaian sama sekali, tapi tubuhnya dipenuhi bulu.
“Kalian tau kesalahan kalian?” tanyaku ku buat
kereng.
“Ampuuun… ampun, kami hanya diperintah…!”
kata jin yang bertubuh besar, dan berbibir
tebal.
“Aku tau kau dan teman-temanmu hanya
diperintah, maka dari itu, aku ingin kalian
kembali pada yang memerintah,” kataku.
“Kami tak berani…” kata jin yang bertubuh
besar.
“Hm… kalau begitu, kalian tau apa yang ada di
__ADS_1
tanganku ini? Jika ku hantamkan kalian, apa yang terjadi,” kataku mengancam.
“Ampuuun…!” kata semua serentak, dan
bersujud-sujud.
“Bagaimana, apa kalian mau kembali ke pengirim kalian, atau kalian memilih lebur musnah …”
Kataku sambil menambah konsentrasi lafadz ya latif ke tangan kananku, sehingga warna terang keperakan makin menyala.
“Baik, kami akan kembali kepada pengirim kami, lalu apa yang harus kami lakukan?” kata jin yang bertubuh besar.
“Kalian lakukan saja apa yang pernah
diperintahkan oleh pengirim kalian kepada kalian, untuk melakukan sesuatu hal buruk padaku, nah kalian sanggup kan?”
“Ya kami sanggup.” jawab mereka serempak.
“Nah sekarang kalian boleh pergi.” kataku sambil menyingkir.
Dan semua jin kemudian beranjak pergi, akupun segera kembali pada raga yang ku tinggalkan
——————————————-
Yang terjadi kemudian sungguh membuatku amat tercengang.
Pertama yang terjadi rumah Mahmud jadi
angker, istri dan anaknya takut tinggal di rumah, sehingga minta pulang ke rumah istrinya.
Bahkan orang yang hanya sekedar lewat di sekitar rumah Mahmud pun jadi takut lewat melalui samping rumah itu.
Jika malam kadang terdengar suara seram, kadang terdengar tembok digedor-gedor, berbagai paranormal sudah berulang kali dan berganti-ganti didatangkan untuk membersihkan rumah itu, tapi ujung-ujungnya, kalau tidak pingsan ya lari kabur dari rumah itu.
Entah bagaimana prosesnya, Toko Elektronik nya Mahmud kesandung masalah, dan semua
bekerja sama dengan Mahmud.
Juga Dealer motor, juga kesandung masalah,
sampai kemudian ketahuan kalau Mahmud banyak menanggung hutang pada Bank.
Dan rumah yang pernah ditinggalinya ditawarkan mau dijual seratus lima puluh juta, tapi orang hanya mau menawar seratus juta, beberapa hari kemudian akhirnya Mahmud mau menjual rumahnya seharga seratus juta, tapi yang menawar hanya berani limapuluh juta, Mahmud tak mau, tapi beberapa hari kemudian dia mau menjual rumahnya limapuluh juta, tapi yang menawar hanya mau duapuluh lima juta, begitu terus terjadi, sampai akhirnya rumah terjual tiga juta, dan itupun setelah ada perjanjian Mahmud akan merobohkan rumahnya sendiri.
Dan bukan cuma sampai di situ, istri mahmud
minta cerai, dan anak-anaknya tak ada yang mau tinggal dengannya, Mahmud tinggal di bekas kandang sapi tetangganya.
Semua itu terjadi dalam masa cuma tiga bulan, aku membayangkan bagaimana jika seandainya hal itu menimpa diriku dan keluargaku.
Kadang aku sendiri merasa kasihan dengan
keadaan Mahmud, tapi seandainya tidak begitu pasti yang dia lakukan pada orang lain tak akan berhenti, dan sampai pada diriku pasti orang
sebelum diriku yang dikerjai Mahmud sudah
banyak korbannya, dan pas kebetulan dia ketemu batunya.
Segala perjalanan apapun yang terjadi, maka itu tak ada artinya jika kita tidak bisa mengambil
sebagai pelajaran, menyerap kandungan hikmah apa yang tersimpan di dalamnya.
Sehingga segala keputusan dan apa yang seharusnya dilakukan ketika menghadapi hal yang sama.
Begitu juga bagi diriku sendiri, apapun yang
__ADS_1
dihadapi, kepanikan sekali-kali bukan jalan
keluar, ketenangan mengambil sikap, akan
menghasilkan keputusan yang terbaik.
Jika kita menyandarkan diri pada Dzat yang
paling kuat yaitu Alloh, maka kita akan menjadi kuat.
Dan jika kita menyandarkan pada selain Alloh,
siapapun selain Alloh itu pasti mati, terhalang,
tak ada manusia atau apapun ciptaan Alloh itu
sakti, dan punya kelebihan kecuali Alloh yang
memberi kelebihan, seperti burung yang
terbang, atau ikan yang tahan di dalam air.
Kakak iparku Abdullah menelpon.
“Ada kesibukan apa di rumah?” tanya Abdullah.
“Ya nganggur, ndak ada kesibukan apa-apa.”
jawabku.
“Bagaimana kalau bekerja di Saudi Arabia? ya
itung-itung bisa hajian,” kata dia.
“Ya ndak papa, karena kalau di rumah terus kok kayaknya gak banyak pengalaman, lalu bagaimana sistimnya?” tanyaku yang memang awam soal kerja di Saudi.
“Besok datang saja ke PT, karena besok ada
manager dari sana yang langsung melakukan
survei.” jelas Abdullah.
“Baik nanti malam aku berangkat dengan travel.”
Malamnya aku berangkat ke PJTKI untuk ikut
wawancara. Sampai di PJTKI aku ketemu Macan, yang menjadi bapak asuh penjaga semua TKI.
“Ngapain ke sini?” tanya Macan.
“Bekerja di Saudi.” jawabku.
“Hahaha, kamu mau kerja di Saudi?”
“Apanya yang salah, kodok itu harus keluar dari tempurung Can, biar tak mengira kalau dunia itu hanya dalam tempurung.” kataku berdalih
membela kepentinganku.
“Ya kau memang paling bisa membuat alasan.”
“Tapi kenyataannya kan kayak gitu…, kalau mau ikut jangan malu-malu..”
“Byuh aku ini kalau pisah sama istri seminggu
saja nekak nekuk gak karuan, kalau setahun apa ndak nanti pulang dari Saudi ndak dalam keadaan setres?”
__ADS_1
Bersambung.......