Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kena Batunya


__ADS_3

Ee malah Mahmud marah-marah, dan malah


menuduhku memakan uangnya, mencuri uangnya. Aku berusaha slalu sabar, tapi anehnya, setelah mahmud menjelek-jelekkanku, ada seorang gila yang meminta rokok.


Sebenarnya di dekat Mahmud ada banyak orang, tapi yang dimintai kok kebetulan cuma Mahmud, dan tentunya Mahmud tak mau memberi, kontan saja orang gila itu marah dan langsung memukul Mahmud, dipukul sampai giginya lepas tiga.


Aku tak perduli pada cerita orang yang ku suruh, soal orang gila yang memukul Mahmud itu, aku meminta pada orang yang ku suruh


memperingatkan Mahmud lagi, agar menarik


kekuatan jahat yang dikirimkan ke rumahku itu, sampai peringatan yang ku berikan telah tiga


kali.


Lalu aku berinisiatif untuk mengembalikan kekuatan jahat kepada pengirimnya.


Malam itu telah ku rencanakan untuk


mengembalikan semua kekuatan jahat pada


Mahmud.


Maka aku duduk bersila menghimpun


semua dzikir, meminta pada sang pemberi


kekuatan yaitu Alloh, lalu setelah semuanya


kekuatan terkumpul, bumi ku gedor, serasa


pusaran kekuatan dasyat membuyarkan kekuatan yang melingkupi rumahku, tak berselan lama terdengar jeritan, “Ampuuun..! ampuuuun..” dari puluhan jin yang


dikirim ke rumahku.


Segera ku lepas sukma, karena memburu, bicara dan menangkap jin dengan badan wadak tanpa mediator amatlah sulit, sementara aku sendirian, aku melompat, dan menghadang berbagai jin yang mencoba lari dari gebahanku, yang paling tinggi berbentuk raksasa dan berbadan hitam ku hentikan, dia langsung menekuk tubuh sujud minta ampun, padahal tanganku sudah ku isi cahaya dari ya latif, sehinga berwarna putih keperakan, jika ada yang melawan, aku sudah siap meleburnya lumer menjadi cairan.


Tapi ternyata tak ada yang melawan, semua


langsung bersimpuh takluk, aku melayang


menunggu, semua terdiam.


Ada tiga belas jin, beberapa berbentuk cebol kecil, dengan telinga lancip dan dagu kecil serta tubuh katai, yang paling aku perhatikan adalah yang bertubuh tinggi, mungkin tingginya ada lima meteran, tubuhnya hitam legam, dan tak memakai pakaian sama sekali, tapi tubuhnya dipenuhi bulu.


“Kalian tau kesalahan kalian?” tanyaku ku buat


kereng.


“Ampuuun… ampun, kami hanya diperintah…!”


kata jin yang bertubuh besar, dan berbibir


tebal.


“Aku tau kau dan teman-temanmu hanya


diperintah, maka dari itu, aku ingin kalian


kembali pada yang memerintah,” kataku.


“Kami tak berani…” kata jin yang bertubuh


besar.


“Hm… kalau begitu, kalian tau apa yang ada di

__ADS_1


tanganku ini? Jika ku hantamkan kalian, apa yang terjadi,” kataku mengancam.


“Ampuuun…!” kata semua serentak, dan


bersujud-sujud.


“Bagaimana, apa kalian mau kembali ke pengirim kalian, atau kalian memilih lebur musnah …”


Kataku sambil menambah konsentrasi lafadz ya latif ke tangan kananku, sehingga warna terang keperakan makin menyala.


“Baik, kami akan kembali kepada pengirim kami, lalu apa yang harus kami lakukan?” kata jin yang bertubuh besar.


“Kalian lakukan saja apa yang pernah


diperintahkan oleh pengirim kalian kepada kalian, untuk melakukan sesuatu hal buruk padaku, nah kalian sanggup kan?”


“Ya kami sanggup.” jawab mereka serempak.


“Nah sekarang kalian boleh pergi.” kataku sambil menyingkir.


Dan semua jin kemudian beranjak pergi, akupun segera kembali pada raga yang ku tinggalkan


——————————————-


Yang terjadi kemudian sungguh membuatku amat tercengang.


Pertama yang terjadi rumah Mahmud jadi


angker, istri dan anaknya takut tinggal di rumah, sehingga minta pulang ke rumah istrinya.


Bahkan orang yang hanya sekedar lewat di sekitar rumah Mahmud pun jadi takut lewat melalui samping rumah itu.


Jika malam kadang terdengar suara seram, kadang terdengar tembok digedor-gedor, berbagai paranormal sudah berulang kali dan berganti-ganti didatangkan untuk membersihkan rumah itu, tapi ujung-ujungnya, kalau tidak pingsan ya lari kabur dari rumah itu.


Entah bagaimana prosesnya, Toko Elektronik nya Mahmud kesandung masalah, dan semua


bekerja sama dengan Mahmud.


Juga Dealer motor, juga kesandung masalah,


sampai kemudian ketahuan kalau Mahmud banyak menanggung hutang pada Bank.


Dan rumah yang pernah ditinggalinya ditawarkan mau dijual seratus lima puluh juta, tapi orang hanya mau menawar seratus juta, beberapa hari kemudian akhirnya Mahmud mau menjual rumahnya seharga seratus juta, tapi yang menawar hanya berani limapuluh juta, Mahmud tak mau, tapi beberapa hari kemudian dia mau menjual rumahnya limapuluh juta, tapi yang menawar hanya mau duapuluh lima juta, begitu terus terjadi, sampai akhirnya rumah terjual tiga juta, dan itupun setelah ada perjanjian Mahmud akan merobohkan rumahnya sendiri.


Dan bukan cuma sampai di situ, istri mahmud


minta cerai, dan anak-anaknya tak ada yang mau tinggal dengannya, Mahmud tinggal di bekas kandang sapi tetangganya.


Semua itu terjadi dalam masa cuma tiga bulan, aku membayangkan bagaimana jika seandainya hal itu menimpa diriku dan keluargaku.


Kadang aku sendiri merasa kasihan dengan


keadaan Mahmud, tapi seandainya tidak begitu pasti yang dia lakukan pada orang lain tak akan berhenti, dan sampai pada diriku pasti orang


sebelum diriku yang dikerjai Mahmud sudah


banyak korbannya, dan pas kebetulan dia ketemu batunya.


Segala perjalanan apapun yang terjadi, maka itu tak ada artinya jika kita tidak bisa mengambil


sebagai pelajaran, menyerap kandungan hikmah apa yang tersimpan di dalamnya.


Sehingga segala keputusan dan apa yang seharusnya dilakukan ketika menghadapi hal yang sama.


Begitu juga bagi diriku sendiri, apapun yang

__ADS_1


dihadapi, kepanikan sekali-kali bukan jalan


keluar, ketenangan mengambil sikap, akan


menghasilkan keputusan yang terbaik.


Jika kita menyandarkan diri pada Dzat yang


paling kuat yaitu Alloh, maka kita akan menjadi kuat.


Dan jika kita menyandarkan pada selain Alloh,


siapapun selain Alloh itu pasti mati, terhalang,


tak ada manusia atau apapun ciptaan Alloh itu


sakti, dan punya kelebihan kecuali Alloh yang


memberi kelebihan, seperti burung yang


terbang, atau ikan yang tahan di dalam air.


Kakak iparku Abdullah menelpon.


“Ada kesibukan apa di rumah?” tanya Abdullah.


“Ya nganggur, ndak ada kesibukan apa-apa.”


jawabku.


“Bagaimana kalau bekerja di Saudi Arabia? ya


itung-itung bisa hajian,” kata dia.


“Ya ndak papa, karena kalau di rumah terus kok kayaknya gak banyak pengalaman, lalu bagaimana sistimnya?” tanyaku yang memang awam soal kerja di Saudi.


“Besok datang saja ke PT, karena besok ada


manager dari sana yang langsung melakukan


survei.” jelas Abdullah.


“Baik nanti malam aku berangkat dengan travel.”


Malamnya aku berangkat ke PJTKI untuk ikut


wawancara. Sampai di PJTKI aku ketemu Macan, yang menjadi bapak asuh penjaga semua TKI.


“Ngapain ke sini?” tanya Macan.


“Bekerja di Saudi.” jawabku.


“Hahaha, kamu mau kerja di Saudi?”


“Apanya yang salah, kodok itu harus keluar dari tempurung Can, biar tak mengira kalau dunia itu hanya dalam tempurung.” kataku berdalih


membela kepentinganku.


“Ya kau memang paling bisa membuat alasan.”


“Tapi kenyataannya kan kayak gitu…, kalau mau ikut jangan malu-malu..”


“Byuh aku ini kalau pisah sama istri seminggu


saja nekak nekuk gak karuan, kalau setahun apa ndak nanti pulang dari Saudi ndak dalam keadaan setres?”

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2