Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Gendam


__ADS_3

“Mungkin kamu kebanyakan ngerokok, mbok ya dikurangi ngerokoknya.”


“Aneh kang aku selalu ingat dengan pacarku yang Semarang, rasanya kayak di pikiranku tak mau hilang.”


“La kamu selama ini bagaimana? Apa kamu masih aktif kirim uang? Lalu istrimu yang di Jawa Timur bagaimana?” tanyaku.


“Aku masih kirim uang ke pacarku kang, dan aku sudah cerai dengan istriku, waktu cuti kemaren sudah ku urus, jadi aku sekarang bersetatus duda…”


“Rupanya kamu tak mau mendengar nasehatku dulu ya…”


“Maaf kang…”


“Jika ku katakan kalau pacarmu itu sudah punya kekasih di Semarang sana, dan uang yang kamu kirimkan itu dipakai modal yang-yangan tiap hari, dan pacarmu itu dalam waktu dekat ini akan menikah, apa kamu tak apa-apa?” kataku.


“Tak apa-apa kang, aku cinta dia kok.”


“Cinta dia? Wah ndak beres kamu, harus


dibersihkan,”


“Dibersihkan bagaimana kang?”


“Ya masak ada lelaki cinta perempuan,


perempuannya nyeleweng, eee kok masih cinta dan tetap saja tetep mengirim kan uang,” kataku


sambil geleng-geleng kepala.


“Aku tak mengerti kang.” kata Yatno.


“Ya kamu itu sudah didukunin.” kataku, dan ku


ambil air mineral, lalu ku tiup, “Ini kalau tak


percaya, minum air ini.”


Lalu Yatno meminum air yang ku berikan, lima


menit kemudian,


“Kaaang, dadaku panas, panas sekali kaaaang…! Aduh tolooong kaaang..!” kata Yatno smbil memelintir-


melintir memegangi dadanya yang katanya panas.


Segera ku tempelkan tanganku di dada Yatno, lalu rasa panas di dadanya ku ambil, dia mulai tenang,


“Kamu itu digendam sehingga kamu nurut saja, mau saja mengirimkan uang kepada pacarmu, itu sama sekali tak wajar, coba bayangkan kamu ngirim uang tiap bulan, sebesar tujuh juta rupiah kepada orang yang tak punya ikatan resmi, apa namanya wajar?”


“Iya kang, malah aku sendiri sudah tau kalau


pacarku itu sudah punya lelaki dan dia akan


menikah dengan lelaki yang disukainya, malah dia juga selalu cerita kepadaku, malah setiap selesai hubungan dengan lelaki itu dia cerita padaku, anehnya aku makin cinta, dan tak bisa


membencinya.”


“Nah dari situ kan sudah kelihatan anehnya,


kalau apa yang kamu alami ini tidak wajar.”


“Kalau begitu tolong aku kang, aku tak mau kalau diputuskan oleh pacarku itu, kalau diputuskan lebih baik aku mati.” kata Yatno.


“Masih ga beres ini, Kata-kata yang kau ucapkan itu masih dalam pengaruh gendam, coba ambil air biar ku isi.”


Kataku yang masih duduk di depan laptop.


“Ini airnya kang..” kata Yatno menyerahkan air


padaku. Lalu air ku isi, dan ku serahkan lagi pada Yatno.


“Ini minum sebagian, dan sebagian lagi kamu


pakai mandi.” kataku, yang segera dipraktekkan Yatno.


Selesai mandi dia datang lagi padaku.


“Aneh kang kok pikiranku sekarang plong, dan


aku rasanya benci sekali dengan pacarku itu.”


katanya.


“Ya begitulah kalau sadar, tapi nanti dukunnya


akan merasakan benturan kekuatan, sehingga dia akan berusaha menyerang balik, tak apa-apa asal kamu di dekatku insaAlloh tak aman.” kataku.


Baru saja lampu ku matikan, dan aku mau

__ADS_1


berangkat tidur tiba-tiba “DAARRR..! ” ledakan


dasyad bola api pas di depanku jarak satu meter, sontak api berhamburan seperti kembang api, jelas ini santet yang diarahkan padaku, aku tau ini ulah dukun yang mengerjai Yatno.


Yatno datang mengetuk pintu, karena aku mau


tidur jadi pintu ku kunci, Yatno masih memakai pakaian kerja, rupanya dia kerja malam.


“Aduuuh kanng, badanku panas sekali…” katanya.


Memang waktu Yatno masuk ku rasakan hawa


panas dari tubuhnya.


“Aneh kang…!” kata Yatno.


“Aneh kenapa?” tanyaku heran.


“Kok dekat sampean badanku tak panas lagi…”


katanya.


“Kamu yang tak kepanasan, aku yang megap-


megap pening membaui keringatmu yang bau


bawang bombai diremes.”


“Ah masak sih kang…” kata Yatno membaui


ketiaknya.


“Ya iyalah, masak aku bohong.”


“Coba kamu keluar kamarku.” kataku pada Yatno.


“Untuk apa?” tanya Yatno heran.


“Ya coba aja.” kataku.


Yatno pun keluar kamar, dan kemudian dia


menjerit.


“Aduuh kang panass..!” jeritnya.


masuk,


“Kenapa kok aku di luar kepanasan?” tanya


Yatno.


“Rupanya kekuatan yang dikirimkan padamu


hilang kekuatannya jika kamu dekat denganku,


jadi ketika mendekatiku kekuatan itu luntur, aku juga tak tau kenapa, aku hanya mengira-ngira


saja, tadi kamu di luar kok kepanasan lalu masuk kamarku kok tak kepanasan lagi, jadi aku ngira pasti ada yang tak beres, ternyata kekuatan yang dikirimkan seseorang kepadamu hilang dayanya ketika dekat denganku.” jelasku


“Wah lalu bagaimana kang? Aku tidur di


kamarmu ya..!” kata Yatno.


“Ya ndak papa kalau mau tidur di bawah,


ranjangku juga cuma satu, dan kecil tak muat


untuk dua orang.”


“Tak apa-apa kang yang penting aku ndak


kepanasan.”


“Ya udah kalau begitu.”


“Lalu bagaimana kelanjutannya kang?”


“Udah tidur dulu, ini sudah malam banget, besok aku harus kerja.”


Dan kami pun tidur, entah berapa kali, ledakan di kamar terjadi, dari santet yang dikirim padaku.


Tak ku perdulikan ledakan kadang di tembok,


kadang di kamar di atasku berjarak satu meter,


aku tidur saja, pikirku kalau nanti menyannya

__ADS_1


habis paling juga berhenti sendiri, aku belum ada maksud mengembalikannya.


Pagi-pagi subuh Yatno ku bangunkan.


“Ayo bangun sholat subuh..” kataku sambil ku


tendang kakinya.


“Ah masih ngantuk kang…!” jawab Yatno malas.


“Masih ngantuk juga tetep harus sholat, kalau


tidur di kamarku, kalau tak mau bangun ya besok jangan tidur di sini lagi.” kataku.


Akhirnya Yatno mau juga bangun menjalankan


sholat subuh berjama’ah.


Masuk kerjaku jam 7 pagi, biasa kalau pagi buka-


buka laptop, dan makan sarapan seadanya, aku suka masak teri, kalau di Indonesia mungkin teri tak ada enak-enaknya, tapi di Arab makanan yang remeh kelihatannya di Indonesia, di Arab jadi nikmat sekali, teri digoreng agak kering, lalu diirisi cabe, bawang merah, bawang putih dan tomat, sudah nikmat sekali.


“Kang… sebenarnya aku juga pernah belajar


toreqoh.” kata Yatno yang juga ikut sarapan


denganku.


“Toreqoh apa?” tanyaku.


“Ndak tau kang toreqohnya apa, aku sendiri


lupa.” jawab Yatno.


“Nama toreqoh kok lupa, jaman sekarang ini


toreqoh itu banyak, dan banyak juga yang sesat.” kataku.


“Lho jadi ada juga yang sesat kang? La kan juga yang diajarkan membaca qur’an dan juga latihan tenaga dalam.”


“Ya banyak yang sesat, di mana letak


kesesatannya? Letaknya karena toreqoh itu


tidak menyambung sanad kepada Nabi, namanya kan membuat acara sendiri, yang tukang bakso membuat toreqoh BAKSOniyah, yang tukang becak membuat toreqoh BECAKiyah, yang orang Tuban membuat toreqoh TUBANiyah, yang orang Mesir membuat toreqoh MISRIyah, jadi membuat toreqoh kayak membuat nama jajanan,


dengan logo dan maksud tujuan orang yang


membuat, agar mendapat pengikut, dengan


membuat aturan di dalamnya yang


menguntungkan bagi pembuatnya.”


“Iya tuh kang, guru toreqohku pernah bilang


kalau ingin tau asal toreqoh yang ku ikuti itu tak akan ditunjukkan,”


“Nah kan makin aneh saja.” kataku. “Sebaiknya


di jaman akhir itu seseorang hati-hati, jangan


asal ikut ini, ikut itu, kalau bisa diteliti dulu,


jangan sampai sudah terlanjur dibai’at ee


ternyata malah toreqoh sesat, ya jadinya akan


kesusahan sendiri, namanya juga sesat jadi tak akan ada manfaat yang diambil, contoh saja


kamu, la disantet saja sudah pontang panting


gitu.”


“Tapi dulu saya diajari jurus, dan ilmu


membangkitkan tenaga dalam kang…”


“Ya walau diajari membangkitkan ilmu tenaga


dalam sekalipun, apa gunanya kalau tidak bisa


menyelesaikan masalah sepelemu itu.” tekanku.


“Apa ilmu tenaga dalamku masih ada ya kang?”


tanya Yatno.

__ADS_1


__ADS_2