
Wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit aja..
“Mas, em… aku boleh ya minta ciumnya…”
wah semakin ngawur aja ini, kalau aku tinggalkan gadis ini, ah betapa tak bertanggung jawabnya aku atas cerita fiktif yang ku buat dulu.
Aku berusaha menenangkan diri.
“Eh, gini ya dek Rosa, soal cium itu nanti mudah dech. Waktu kita kan masih panjang, jadi
baiknya kita ngobrol dulu, jadi pasangan kan
harus mengenal lebih jauh calon pasangannya?”
kataku mencoba setenang mungkin,untuk menghindar mengulur waktu..
“Dek Ros, asli orang Jakarta ya?” tanyaku
mengalihkan pembicaraan, sambil mencari akal untuk keluar dari krisis multidimensi, ah
dibesar-besarkan aja.
“Iya mas, aku dari Cipinang Muara.” katanya
kemudian menggelayut, merebahkan kepalanya di pundakku, ah bisa gawat nih, suara dadaku makin bergeladukan saja.
“Trus tadinya dek Ros ini dari mana?” tanyaku
mencoba mengusir keinginan mengambil
kesempatan dalam kesempitan.
“Ih, mas Ian ini, kayak tak tau saja, kan dalam
novel itu wanita pujaan mas, mondok di pesantren, jadi saya ya jelas dari pondok
pesantren, dari nama pondok, desanya, kotanya dah aku cocokin semua, aku akan menjadi gadis yang mas Ian inginkan.”
wah sudah sejauh itu?
Waduh makin kacau aja ini. Ruwet…., ruwet….,
Walau bus ini ber-AC keringat tak urung membasahi punggungku. AC dalam bus hanya mengeringkan keringat yang ada di wajahku. Tapi tak mengeringkan keringat di dalam bajuku.
Sementara gadis di sampingku yang masih
memeluk tangan kananku dan kepalanya rebah di pundakku,sambil tertidur.
Ah aku mungkin tak bisa
menyelesaikan masalah ini, biarlah aku berserah, pada penyelesaian Tuhan. Maka akupun membaca wirid dan mencoba tidur.
Aku berharap setelah tidur nanti, gadis ini tak ada, atau masalah ini hanya mimpi saja, bagiku terlampau sulit untuk mencari jalan keluarnya.
Aku benar-benar tak menyangka hanya karena
cerita fiktif, bisa menimbulkan masalah sebegini peliknya.
Setelah wirid dan hatiku tenang maka akupun
tertidur.
__ADS_1
Malam mulai merambat, dan gadis di sampingku masih lelap dalam tidurnya, lagu Setasiun Balapan mengalun dari speaker mendayu-mendayu, disusul lagu Sri Minggat,, lagu Jawa itu kadang membuatku sedikit tertawa, tapi aku segera memejamkan mata kembali.
Ingin sedapat mungkin berlari dari kenyataan ini,ingin segera sampai besok saja sampai aku terlepas dari gadis di sampingku ini.
Ah kenapa begitu susahnya, dadaku terasa sesak akan himpitan, aku segera memenuhi illalloh…, ku ulang-ulang untuk mencari pegangan atas kegelapan yang mulai membutakan mata hati,
Ya Alloh lindungi aku dari kenistaan nafsu, dan segala macam tipu dayanya.
Aku telah tertidur lagi dengan lelap.
Sampai kurasakan ada tangan menepuk pundak kiriku. Tepukan itu kurasakan keras, jadi tak mungkin aku bermimpi.
Aku tengak tengok, ke semua penumpang yang sedang tertidur, lalu siapa yang menepuk pundakku,?ujarku dlm hati, Ku menengok
ke kanan kiri ingin tau bus ini sampai di mana,,
Dan betapa terkejutnya aku ketika kulihat ke
sebelah kiri bus.
Bus ini sedang membelok ke kiri, dan kebetulan di sebelah kiri ada warung tepi jalan yang kayu gentengnya menjorok ke jalan, sehingga kalau bus terus membelok tak diragukan lagi kaca kirinya akan menghantam kayu warung itu.
“Stooop..!” aku menjerit sekencangnya. Sampai gadis di sampingku melonjak kaget bukan alang kepalang. Tapi rupanya supir bus tak
memperdulikanku, mungkin mengira aku sedang mengigau. Dan tak bisa dielakkan lagi.
“Duar…, kratakkkreek… tar.. tar..tar.!” suara kaca
bus sebelah kiri pecah berhamburan.
Jerit pekik penumpang ramai, juga jerit mengaduh dari penumpang yang terkena pecahan kaca.
belakang,,
“Dar.., tarrk… kkrrk…!!” kembali terdengar, kaca bus yang tadi menghantam kayu pojok warung dan kayu yang masuk ke dalam bus begitu saja menyapu kaca yang tersisa dan masih menempel karena scotlet bening melapisi kaca.
Terdengar lagi jerit penumpang. Sekarang
semua orang meminta bus berhenti.
tak selang lama Para penumpang berhamburan berebut untuk turun, kulihat tiga kotak kaca jendela bobol pecah tak karuan, banyak orang terluka wajahnya, karena terkena pecahan kaca, termasuk suami istri yang sekarang menempati kursi yang tadinya kududuki, dan mereka berdua lukanya paling parah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Seandainya aku yang masih duduk disitu, apa
jadinya aku? Tuhan mempunyai rencana tuk
menyelamatkanku, aku tak membayangkan
bagaimana seandainya aku ngotot tak mau pindah tempat duduk, walau aku mendapatkan cobaan gadis yang duduk di sampingku.
Ah, mana gadis tadi? Aku tak melihatnya,, ah kenapa aku harus mencarinya? Bukankah dari rumah awalnya juga berangkat sendiri-sendiri,?ujarku dalam hati..
Aku langsug menyambar dan segera membetulkan letak tas punggungku,, ketika dua bus cadangan datang tuk menampung penumpang, aku segera masuk ke dalam salah satu bus, dan mencari kursi yang
masih kosong, karena bus ini telah terisi
penumpang.
Bus yang ku tumpangi pun melaju lagi, kudengar ramai para
penumpang membicarakan kecelakaan yang baru saja terjadi. Jam tangan bututku ku lirik,
__ADS_1
menunjukkan jam sepuluh seperempat.
Aku menyandarkan tubuh di kursi dan menempatkan badan senyaman mungkin, lalu seperti biasa memulai wiridku.
Apakah rupanya kecelakaan tadi jawaban
atas doaku agar aku selamat dari gadis yang
mati-matian mengidolakanku. Entahlah??
Aku pun tertidur, sampai bus berhenti di sebuah rumah makan besar. Aku segera turun menyusul penumpang yang lain.
Ku baca tulisan di rumah makan itu NIKKI
Subang, kiranya telah sampai di Subang.
Aku segera mencari arah tulisan yang
menunjukkan Musholla. Dan melakukan sholat
jamak dan koshor. Selesai sholat, setidaknya hati tentram.
Aku mengagumi mushola dan
rumah makan ini begitu besar sekali. Tiba-tiba seseorang lelaki setengah baya menghampiriku, dan mengucap salam kepadaku, dan ku jawab salamnya.
“Mas Ian kan?” tanyanya kepadaku, aku jelas
kaget karena tak pernah merasa kenal dengan
orang ini.
Apa ini penggemarku lagi?Betapa
susahnya kalau jadi orang terkenal macam artis,gumamku..
Kemana-mana tentu tak bebas. Aku mengiyakan.
“Ah sudah saya kira…” wajah lelaki itu
sumringah, kemudian menyalamiku.
“Bapak siapa?” tanyaku masih tak mengenali.
“Aku pak Dadang, yang sering ketempat kyai,
mungkin mas Ian tak mengenaliku, tamunya kyai kan banyak.” kata pak Dadang memperkenalkan diri.
Lalu pak Dadang memanggil pelayan dan
membisikinya. Setelahnya pelayan itu segera cepat berlalu, sebelumnya membungkuk, rupanya pak Dadang dikenal dan dihormati.
“Mari kerumah mas.” kata pak Dadang yang
membuatku heran.
“Tapi saya ikut bus malem pak, apa rumah bapak
ini dekat sini?” tanyaku, takut ditinggal bus..
Bersambung...
__ADS_1