
“Tapi saratnya kamu musti potong rambut, kamu potong rambutmu yang panjang itu, mau kan?”
tanya pak Sugeng lagi sambil melihat rambutku yang panjang sepunggung dan ku ikat ke
belakang dengan karet.
“Ah, kalau syaratnya itu ya ndak usah aja la
pak.” kataku berat,,,
“Lho kok gitu, la apa susahnya motong rambut, tinggal bawa ke salon, potong selesai, ndak
sakit.” kata pak Sugeng bercanda.
“Ya bukan masalah itu pak, tapi ini ada
maksudnya sendiri.” kataku berkilah.
“Maksud sendiri gimana? La kalau kamu potong dan kelihatan rapi, juga pasti tambah ganteng.”
kata pak Sugeng ngojok-ojoki,
“Udah lah pak mending gak usah kerja aja aku,
dari pada disuruh potong rambut.” jawabku agak ndumel. La kok sarat kok aneh-aneh, walau dalam pikiran wajarku, ya sebenarnya sah saja kalau kerja jadi pelayan toko itu harus rapi.
“Lagian aku juga ndak punya baju yang rapi pak, celana juga se blongsong ini aja, yang udah koyak sana-sini jadi ndak usah lah kalau syaratnya aneh-aneh, nanti dituruti malah saratnya nambah aneh lagi.” kataku membuat alasan.
“Ya udah kalau gitu nanti tak bilangi sama pak
Joko, pemilik toko sepatu bata itu..” pak Sugeng berlalu sambil menepuk bahuku, menyuruh
kembali ke tempat kerjaku.
“Ian dicari mbak Lina…” kata Edi setelah aku
sampai di tempat toko tempat biasa aku
nongkrong.
“Lina siapa? Aku ndak kenal.” kataku acuh.
“Itu Lina yang punya butik sebelah sana.., “kata Edi nambahin.
“Ah aku ndak kenal kok, malu ah..” jawabku
sambil duduk di kursi dan buat TTS biasa tiap
yang jaga toko untuk ngisi waktu luang biasa
dipakai ngisi TTS, dan aku juga ikutan
keranjingan, kayaknya waktu tak kerasa cepat
berlalu kalau dipakai ngisi TTS.
“Kamu yang namanya Febrian?” tanya suara
merdu di belakangku.
“Aku pun nengok, dan ku lihat gadis cantik
kuning langsat, dengan rambut sebahu, dan
aroma wangi bunga menabur, jadi napas sesek aja, dan wajahnya memang cantik banget, nurut ukuran aku yang orang desa, juga kulitnya halus
mengkilat, kayak biasa mandi susu, bibirnya tipis dipoles lipstik warna natural, alisnya tertata rapi serasi dengan hidung yang kecil bangir dan mata yang indah lucu.
Sebentar aku terpana, ya maklum kayak ngelihat boneka aja, maklum orang
__ADS_1
desa.
“He-eh, ” jawabku tanpa eksperi. Dia ngulurin
tangannya.
“Kenalin aku Lina…” katanya masih dengan suara merdu. Setidaknya merdu menurut telingaku, yang kali aja udah diubek-ubek setan, ku jabat
tangannya, hm… halus banget kayak megang boneka aja.
Kayak ndak kerasa, terus terang bayanganku
malah kemana-mana, ya ndak usah munafik,
terus terang belum pernah ku jabat tangan
sehalus itu, kali ini tangan ndak pernah dipakai kerja, dan di rendam sama henbody semalaman,
Jadi halus banget, ya itu menurut prasangkaku.
“Yuuk main ke butikku..” katanya tanpa basa-
basi, wah kalau diserang langsung tanpa tedeng aling-aling kayak gini aku malah keki.
“Anu.. mbak.. uh.. ak.. aku lagi kerja.. nanti
dimarahi pak Sugeng.” kataku mencari alasan
sekenanya.
Lagian kalau dekat cewek terlalu cantik aku jadi agak kringetan dingin, entah kenapa kok gitu, padahal kalau dekat ama nenek-nenek gak sampai kringetan, ini kalau dekat cewek agak di atas takaran bayanganku tentang cewek cantik jadi kringetan ndak karuan, gupuh, entahlah.
“Udah ndak papa, om Sugeng baik kok sama aku, ndak bakalan apa-apa,” tambahnya
memojokkanku.
“Ya udah Yan sana aja…” kata Edi dari jauh dan
“Ehm.. gimana ya… nanti aja deh aku main ke
sana mbak…” kataku, sengaja manggil mbak,
supaya ada tercipta jarak.
“Bener lo ya.. nanti main, awas kalau enggak..”
katanya sambil berlalu.
Aku mantuk aja, sambil pura-pura sibuk menata sepatu.., ampun jadi keki kayak gini serba salah,
Terus terang, kalau dalam itung-itungan kurang tambah, kali bagi, grogiku kepada cewek cantik bukan karena kurang pedenya aku, tapi lebih
dititik beratkan pada mimpi yang sama, yang
sering mendatangi dalam bawah sadarku,
seorang tua berkepala gundul dan berbadan
gemuk, dengan wajah wibawanya yang
menciutkan nyaliku, orang tua itu selalu mengingatkanku, jangan terlalu banyak bergaul dengan wanita cantik,
Karena itu godamu yang utama, jangan terjerumus dalam nikmat semu yang tak ada nilainya, yang akan meruntuhkan tingkat yang kau buat. Itu kata orang tua itu,
Aku paham apa maksudnya tapi aku juga lelaki biasa. Yang ditakdirkan tertarik dengan lawan
jenis, dan ketertarikan itu wajar, setidaknya
menurut pikiran pembelaan terhadap nafsuku,
__ADS_1
aku mencari pembenaran atas jawaban
pertanyaan di sudut hati setiap lelaki sejati, heh lelaki sejati? Sejati dinilai dari mana? Jiwaku
berdebat.
Ah ada apa dengan wanita? Kenapa
wanita cobaan? Aku bukan orang suci? Ramai
tanya jawab dalam hati. Itu dialog syaitan dan
malaikat.
Malam itu toko seperti biasa tutup jam sepuluh malam, aku dan dua temanku Edi sama Ikhrom pun berjalan keluar dari plaza, tapi sampai di
halaman, sebuah mobil avanza berhenti di depan kami,
“Mbak Lina..” kata Edi pelan di sampingku,
memang kaca mobil terbuka, dan muncul seraut wajah ayu, yang sudah bikin aku was-was aja.
“Ayo masuk..!” katanya enteng dan merdu, kami bertiga diam, ndak ada yang nyaut, ya mungkin kami ini orang yang terlalu miskin, jangankan
naik mobil mewah, menyentuhnya aja ndak
berani, karena mungkin sering melihat mobil
mewah yang kalau disentuh terus jadi bunyi tit-
tit-tit, ribut banget, jangan-jangan kami sentuh
nanti bunyi, itu mungkin pikiran terlalu ndeso ya?
Ya setidaknya itu mungkin salah satu pikiran dari
700 pikiran yang melintas di otak kami bertiga, aku dua temanku ini berpikir lain aku juga ndak tau, tapi aku lebih memilih pikiran yang simpel aja,
Aku tak mau nyari masalah, atau nyari pintu
menuju kesuntukan jalan pikiran, nambah beban, mungkin dari orang yang paling berpikir simpel, aku mungkin adalah orang yang paling mencari pikiran yang paling gampang dan paling ndak ada unsur njlimet, bukan takut terbeban dengan pikiran,
Tapi takut membuang waktu percuma,
dan di akhirat nanti setiap tarikan napasku
dipertanyakan, lalu aku harus menjelaskan setiap waktu yang aku lewati, ah betapa rumit, dan lamanya. Simpel kan jalan pikiranku, kalau
menurut orang lain njlimet ya aku mau bilang
apa?
“Ayo…!” kata Lina lagi.
“Kok malah pada bengong.” si Edi garuk-garuk
kepala, si Ikhrom ku lirik dlengeh senyum dikit
aja, membuka bibirnya yang memang hitam sejak dari sononya,
Aku mau bergaya apa, juga ndak ingin, juga ku pikir tak ada gunanya, maka aku manyun aja, tersenyum enggak, apalagi garuk-garuk, karena ndak punya alasan untuk menggaruk, la ndak ada yang gatal, terpaksa diam manyun aja, atau tidak terpaksa,
Tapi memang itu pembawaan orokku, cuwek, ndak perduli, tapi akhirnya kami pun masuk ke dalam mobil juga, ndak tau siapa yang mulai masuk dan tidak tau siapa yang ngasih komando, ya yang jelas kami bertiga sudah ada di dalam mobil, aku sama Ikhrom di jok belakang sementara Edi duduk di depan sama mbak Lina.
Dan mobil pun jalan, ku lihat wajah Ikhrom di
sampingku nampak tegang tapi tersungging
senyum, tapi aku biasa saja, apa ketegangan
__ADS_1
yang disemburatkan di wajah Ikhrom ini karena naik mobil mewah ini atau karena naik mobil yang disetiri si cewek cantik dan kaya Lina? Atau karena alasan lain, aku tak bertanya, dan tak......
Bersambung....