
“Ayo naik ke motor, aku bonceng…, atau kamu
yang di depan, aku dibonceng…
“Ah tak usah mbak, biar aku jalan kaki aja,”
kataku risih.
“Bener gak mau, kalau gitu, ya udah ku tinggal
dulu.” kata Maftukhah. Yang segera berlalu
dengan motornya, sementara aku melanjutkan
berjalan, dengan terus dzikir tanpa henti, aku
telah tak perduli apa di sekitarku, sampai jam 2 siang aku sampai di daerah Cepu.
Segera ku cari warung makan, sekedar nyari pengganjal perut. Uang dari Maftukhah ku belikan nasi, dan
setelah itu aku mencari masjid untuk sholat dzuhur.
Selesai sholat dzuhur aku melanjutkan perjalanan lagi. Sekitar jam limaan aku sampai di Padangan, kakiku telah pegal, dan butuh istirahat, aku mencari tempat duduk yang enak untuk
menyelonjorkan kaki, agar darah di kaki tak menumpuk,,
Kulihat regol depan rumah, tapi ada gadisnya seumuran 16 tahunan, aku gak jadi membelok, ku cari tempat yang lain saja, aku pun meneruskan perjalanan, tapi baru tiga empat
langkah, gadis itu memanggilku,
“Mas Iyan…! Mas Iyan….” apa telingaku yang
salah dengar, aku tetap melangkah, tapi suara
gadis itu memanggil lagi, sekarang malah
kenceng.
“Mas Iyan..!” Aku berhenti, ternyata memang
gadis itu memanggilku, dia menghampiriku,
“Bener kan mas Febrian?” tanyanya dengan
tersenyum, ah paling-paling penggemarku lagi.
“Benar namaku Febrian,” kataku tak ragu.
“Jadi…, jadi, bener? Ih tak disangka…” katanya
dengan raut muka berbinar, ku taksir gadis ini
baru kelas 1 SMA.
“Kok kamu tau namaku? Dan tau diriku?” tanyaku, untuk meyakinkan dia pasti penggemar tulisan-
tulisanku.
“Wah jadi orang terkenal, kok merendah gitu, ini juga pasti sedang mencari bahan tulisan, aku ini penggemarmu mas.”
Benar memang dia salah satu penggemarku, yah memang manusia tak bisa lepas dari masa lalu.
Masa lalu tetap saja akan selalu mengikuti, kemanapun kita pergi,
“Ayo ke rumah, wah jadi grogi didatangi penulis terkenal.” katanya menggandeng tanganku.
“Wah kalau mencari bahan tulisan, memang
harus gini ya mas, sampai-sampai nggembel gitu.”
“Heeh” kataku sekenanya.
“Ck.. ck… Huebat..! Jadi penulis jadi berat ya
mas..?”
“Ya jadi penulis kan setidaknya harus tau
__ADS_1
keadaan, situasi, kondisi yang akan kita tulis,
jadi bisa menjiwai, bisa menyeret pembaca pada alur cerita.” kataku asal aja.
Gadis itu bernama Yulianti. Dia membawaku ke ruang tamunya, dan dikenalkan pada kedua orang tuanya, yang ramah menyambutku, lama kami ngobrol tentang karya-karyaku.
Setelah sholat magrib aku pun pamitan, walau
kedua orang tua Yulia, memintaku untuk
menginap tapi aku tetap melanjutkan perjalanan, ku putuskan kembali ke Cepu. Aku akan menuju ke Ngawi saja, dan berharap untuk tak bertemu penggemar, ah kenapa rasanya dunia ini sempit, kemana-mana masih saja ada yang mengenalku.
Jam 10 malam aku sampai di stasiun kereta api Cepu. Aku memutuskan tidur di stasiun saja. Setelah sholat isyak, ku selonjoran di kursi
ruang tunggu setasiun. Mengenang satu demi
satu perjalanan di antara dengung nyamuk yang mulai terasa mengerubutiku.
Suasana sangat sepi, hanya satu dua orang lalu lalang, aku tak sadar telah tertidur pulas, aku
terbangun dan kaget, ketika tangan hangat
membelai pipiku, aku segera bangun dan melihat perempuan setengah baya, duduk di dekat kepalaku.
“Ada apa mbak?” tanyaku masih mencoba
memperjelas mata yang perih,
“Tak butuh kehangatan mas?” kata perempuan
itu yang berbau autan.
“Wah kalau butuh, aku lebih butuh autan mbak,
autannya masih ada?” tanyaku tanpa buruk
sangka.
Dia segera mengeluarkan autan dari balik
bajunya, dan menyodorkan padaku.
wajahnya tak cantik walau tak jelek, ku taksir
umurnya empat puluh tahunan.
“Mas tak butuh kehangatan?” tanyanya lagi
sambil memegang pahaku, sementara aku masih mengoles autan.
“Kehangatan apa? Apa aku mau dikasih kopi?
Wah aku mending tidur daripada minum kopi,
nanti tak bisa tidur,” kataku nyantai,
“Maksudku tidur denganku…” katanya tanpa
malu,
Aku baru berpikir kalau dia pelacur.
“Ah enggak mbak…” kataku mencoba tenang.
Walau ucapanku tetap saja rasanya terhenti di
tenggorokan.
“Ayolah mas, tak usah bayar…!” katanya merajuk sambil mencoba meraih pahaku.
“Embak ini punya anak?” tanyaku mengalihkan
pembicaraan dari pikirannya yang kotor,
“Punya.” jawabnya,
“Punya suami?”
__ADS_1
“Punya.” jawabnya lagi.
“Lalu kenapa bekerja seperti ini?” tanyaku lagi.
“Yah suami tak bekerja, aku dan anakku butuh
makan,”
“Lalu kalau aku tak bayar, mbak tak dapat uang?”
“Gak papalah, kalau untuk mas yang ganteng, aku relakan, tak usah bayar, aku kan juga butuh kesenangan.” katanya enteng.
“Apa embak ini tau akibatnya kalau embak ini
bekerja kayak gini?” tanyaku.
“Yah paling kalau ada razia, kita ketangkap, itu
juga kalau Polisinya kita kasih, kita dilepas lagi.”
katanya enteng.
“Wah bukan hanya itu mbak, mbak bisa terkena penyakit kelamin, nanti kalau embak tua juga tak ada yang mau, nanti mau kerja apa? Kalau tak dimulai dari sekarang merintis pekerjaan yang halal, dan mbak kalau meninggal akan disiksa di dalam kubur sampai hari kiamat,
Kiamat itu masih lama, dan semua orang sudah pasti mati, andai mbak menjual diri di zaman nabi Adam, sampai sekarang masih disiksa, bayangkan ribuan juta tahun, apa siksanya, ******** ditusuk besi yang membara tembus sampai ke mulut, mbak tentu bertanya, apa bener siksa itu ada? ya nyatanya semua orang akhirnya meninggal juga, itu berarti siksa di sana ada,” kataku panjang lebar, untuk menggugah hatinya yang membatu.
“Lebih baik mulai sekarang, menyadari diri,
memutar arah ke jalan yang benar, sebelum
terlambat, kalau orang mau ke jalan yang benar, pintu rizqi akan dibukakan oleh Alloh.
Alloh memberi makan pada semua orang aja mampu, kalau ditambah embak dan keluarga, tentu tak berat bagi Alloh, asal embak bener-bener berniat menjadi orang baik-baik.”
“Apakah Alloh mau menerima taubatku,” katanya sambil berlinangan air mata.
“Aku ini teramat kotor.”
“Mbak pintu taubat Alloh, itu lebih luas dari
langit bumi seisinya, semua orang di dunia yang seperti embak mau bertobat semua, pintu taubat masih lebih luas lagi,” kataku,
Lalu
perempuan itu menangis mengguguk, lalu berdiri dan lari keluar dari peron.
Aku cuma menatap kepergiannya dan berdoa,
agar Alloh membuka dan melapangkan hatinya, menuju ke taubatan nasukha.
Malam itu aku tidur di kursi, dengan mensyukuri kesendirianku, kesepian, kemiskinan, dan melepas segala beban
kepunyaan, kemilikan, betapa damai dunia,
Jika kita tak terbebani apa-apa, tak perlu
memikirkan dan mengkawatirkan. Lepas seperti bayi yang tak tau apa-apa.
Pagi setelah sholat subuh aku melanjutkan
perjalanan, ke arah Ngawi, melangkah satu-satu, tenggelam dalam wiridku. Tenggelam teramat dalam, sampai waktu maghrib aku tak tau telah nyampai di mana?batinku,,
Ku hampiri masjid, untuk mengikuti sholat berjamaah, lalu wirid menunggu shola isyak, aku telah lupa, seharian perutku tak terisi apa-apa.
Setelah sholat isyak, aku masih tenggelam dalam dzikir, tiba-tiba seseorang menghampiriku, seorang lelaki yang tadi jadi
imam di masjid.
“Assalamualikum..” salamnya sembari
mengulurkan tangan.
“Waalaikum salam warokhmatulloh.” jawabku
menerima uluran tangannya untuk berjabat
tangan.
__ADS_1
Bersambung....