
Dan mobil pun jalan, ku lihat wajah Ikhrom di
sampingku nampak tegang tapi tersungging
senyum, tapi aku biasa saja, apa ketegangan
yang disemburatkan di wajah Ikhrom ini karena naik mobil mewah ini atau karena naik mobil yang disetiri si cewek cantik dan kaya Lina? Atau karena alasan lain, aku tak bertanya, dan tak ingin bertanya karena itu pasti kan membuatnya tersinggung dan tak nyaman di sampingku,
Biarlah kami menyimpan alasan masing-masing, sejahat atau sesadis alasan apapun asal masih disimpan di dalam hati kurasa tak membahayakan orang lain, dan masih tak terjangkau hukum dunia manapun, jadi andai Ikhrom punya alasan yang teramat sadis aku tak mau mempertanyakannya, dari pada alasan itu kalau ku tanya jadi keluar dan teramat berbahaya, ah kok aku malah nglantur.
Mobil sudah jalan, mungkin aku tak punya
bayangan punya mobil mewah, atau mungkin tak punya keinginan seujung rambut pun untuk naik mobil mewah, malah punya 1 baut aja tak
terbayangkan, dan tak termimpikan, jadi aku
biasa-biasa naik mobil mewah, ndak geli, ndak
kerasa apa-apa, juga tidak enak, malah
menurutku enakan tidur molor di kasur yang
udah kempir karena kapuknya udah nipis, tidur, dan tidur nunggu pagi.
“Mau kemana nih?” tanya mbak Lina membuka pembicaraan, kayak orang pikun ja, la wong dia
yang ngajak kok bertanya, tapi pertanyaan ini
jelas bukan pertanyaan orang yang lupa jalan.
“La kemana to mbak, mbak Lina kan yang ngajak kita, ya kita ngikut aja.” ku dengar jawaban Edi,
bukan jawaban guru agama atau wakil DPR tapi jawabannya menurutku cukup diplomatis,
Setidaknya dalam mobil yang lagi jalan ini,
karena ndak ada suara lainnya,
“Gimana mas Ian? Kemana kita?” tanya mbak
Lina lagi ditujukan ke arahku, tanpa matanya
beralih ke jalan.
“Ya kemana aja…, la kok malah tanya, dibawa
kemana juga kita ndak bakalan ngelawan.”
jawabanku lebih aneh di telinga siapa pun,
bahkan di telingaku sendiri, bahkan aku tidak
berpikir kalau jawaban itu kayaknya lebih pantas diucapkan oleh orang yang dalam keadaan di sandera,
“Ya udah ke restoran aja ya…?” tanya mbak Lina lagi, aku cuma mendengus, tapi dalam pikirku, la daripada ke restoran mending ke warung bakso, atau ke warung mi ayam, mungkin apa yang ku pikirkan tidak jauh beda amat dengan apa yang dipikirkan oleh Edi atau Ikhrom,
__ADS_1
Ya mengingat pengalamanku sendiri, mungkin juga pengalaman mereka, kalau di restoran itu kebanyakan menjual gengsi aja, kalau enaknya makan ku rasa ndak ngalahin enaknya makan bakso, panas asli, atau mi ayam, habis makan lalu ngrokok, tapi ini kan dalam mobilnya mbak Lina,
Kayaknya bayangan pentol bakso harus dibuang jauh-jauh, dasar wong aku ini orangnya ndableg, tetep aja aku bertanya.
“La ada baksonya ndak mbak di sana?” tanyaku kayak anak kecil yang ngerasa kawatir dengan
sesuatu yang tak didapat.
“Ada kok mas Ian, pingin bakso ya?” tanya mbak Lina sekaligus memberi jawaban atas
pertanyaanku, Ikhrom mencolek tanganku, lalu
bisiknya,
“Jangan kampungan, bikin malu.” aku cuma
mengsem, la orang takut dibilang kampungan, lalu kelaparan karena mempertahankan gengsi yang tak ada isinya, dan tak ada nilainya, setidaknya menurut pandanganku, mending jujur aja, dari pada habis makan nggrundel,
Karena makanan ndak enak, la kok tidak besyukur itu kok salah satunya muncul dari sikap yang kayak gitu, ndak jujur, jadi yang diperoleh tidak sesuai takaran yang diinginkan, akibatnya nggrundel, kalau dalam hal makanan, ya kok kayaknya saru, nggrundeli makanan yang sudah terlanjur ditelan,
Tapi aku rasa juga banyak orang yang
melakukan hal yang seperti itu, nggrundeli
makanan yang sudah di telan, la kayak makanan yang sudah di telan itu mau untuk tabungan aja,
Atau mau untuk membuat apa gitu, la kok
menurut aku keterlaluan banget nggrundeli,
makanya kanjeng Nabi nglarang banget
Yang harga seporsi mencapai jutaan. Tak terasa mobil berhenti, dan kami turun semua, ku lihat restoran lumayan mewah, dan kami masuk berendeng di belakang mbak Lina,
nampak pelayan restoran juga sudah akrab
sekali dengan mbak Lina, menunjukkan mbak Lina sering masuk ke restoran ini,
Kami bertiga pun duduk mojok kayak orang asing, yah malah kayak tawanan yang telah benar-benar ditaklukkan, mbak Lina yang wira-wiri, milih makanan,
“Kamu mau milih makanan apa mas Yan?”
tanyanya padaku, aku diam, ah repot amat, kali
aja di sini nama makanan jadi aneh-aneh, la mau makan apa juga jadi repot pesennya,
Pesennya harus dengan gaya gengsi yang tinggi, mungkin nama bakso juga jadi berubah di sini,
“Mbakso bener ada mbak di sini?” tanyaku, cuma dijawab mantuk oleh mbak Lina, lalu dia
pesankan, dan penilaianku ternyata tidak jauh
meleset, baksonya ndak enak.
Air kuahnya aja dingin, la ini bakso apa sirup? Tapi aku ndak ngedumel ku seropot aja, Ikhrom sama Edi pesen nasi goreng, lah dasar orang kampung di restoran juga tetap pesennya balik-balik nasi goreng.
__ADS_1
Acara makan-makan pun cepat berlalu, apa yang dipesan tidak sampai seperempat jam telah pindah ke perut kami bertiga, dan terakhir ku sruput es kelapa muda, ah memang restoran
Memang kebanyakan cuma gengsinya doang,
kelapa mudanya juga enakan yang bikinan pinggir jalan, bukannya aku ndak terima dengan apa yang telah aku telan, ini cuma bahan tulisan saja, atau kali aja lidahku yang lidah jalanan,
Tapi ndak kok emang ndak enak setidaknya menurut ukuran harga es kelapa muda di restoran kalau dibelikan kelapa muda di jalan, kayaknya dapat sejerigen,
Berlebihan ya, yang ku buat perumpamaan? Ya
kalau ndak gitu nanti tidak ada yang diomongkan, nyatanya orang lebih suka menjual gengsi dari pada nilai suatu kejujuran, juga lebih suka bangga membeli gengsi dari pada makan yang sesuai di lidah, yah itulah perputaran kehidupan,
Kami segera naik mobil lagi, dan kami minta
turun di lorong arah menuju ke tempat kami
menginap yaitu di rumah pak Sugeng.
“Yan.., mbak Lina itu naksir kamu habis..” kata
Edi saat kami berjalan bertiga di gang arah
rumah menginap,
“Kok tau mas Edi..” kataku, sambil menyalakan
rokok, yang selama di mobil ini aku tahan ingin ngrokok, minta ampun lebih kebelet dari pada
orang yang mau ke toilet
“Kita ini sudah enam tahun, baru sekarang mbak Lina ngajak kita makan-makan, la kalau ndak naksir kamu, apa alasan lain yang lebih masuk akal?” tanya Edi juga ikutan nyalain rokok.
Ikhrom yang tidak ngrokok memang dia tidak
merokok, itu aja bibirnya sudah hitam banget,
mungkin alasan dia tidak ngrokok juga agar
bibirnya tidak malah hitam, tapi aku tak pernah
bertanya ke situ,
“Bisa saja karena alasan lain..” kataku sekenanya, karena juga aku bukan orang yang ingin ditaksir oleh mbak Lina, walau menurutku dia cantik lebih cantik dari setandar ukuran cantik yang ku pakai ukuran,
“Kita lihat aja nanti.” kataku menambahkan,
sambil nyedot rokok kuat-kuat, biar agak
mantepan dikit.
“Mbak Lina itu habis putus pacar lo Yan.” kata
Ikhrom nambahi,
“Masak?” kataku agak neleng, kayak serius
__ADS_1
menanggapi,
Bersambung...