
Besoknya, kakek yang kemarin mengobati datang lagi, kali ini datangnya malam hari, dia membawa kendil, aku merasa aneh juga, anehnya waktu sebelum kakek itu datang, aura di rumah Asrifah pekat sekali, bahkan lampu rumah kelihatan dilapisi kabut hitam, sehingga cahayanya gelap seperti kalau waktu siang, mendung di langit amat pekat.
Tapi aku tak memperdulikan itu,
sepertinya ada serombongan jin yang
mendatangi rumah Asrifah, yang aku tak tau ini jin dari mana?
Kakek itu telah memulai pengobatan, dia
membakar kemenyan, bau kemenyan
membumbung memenuhi udara, lalu dia membaca mantra minta jin supaya masuk ke kendil dan seketika warna gelap seperti menyatu membentuk asap, lalu meluncur masuk ke dalam kendil, dan kendil pun ditutup,
Lalu pengobatan selesai, kemudian kendil dibawa untuk dibuang ke laut.
Berbagai macam keanehan dalam mengobati.
Tapi Asrifah tak ada perubahan sama sekali,
atau sebentar kelihatan tenang tak mengaduh-
aduh, tapi sebentar kemudian sudah mengaduh-aduh lagi.
Aku memutuskan menghadap Kyaiku, di Banten, tapi aku bukan mau meminta obat, sebab aku sendiri tak ingin membebani Kyai, karena apapun yang terjadi dan ku alami, aku berusaha mencari solusi pada apapun yang ku hadapi.
Aku menghadap Kyai.
“Kyai… bagaimana cara mengobati orang yang
terkena santet?” tanyaku.
“Nanti kalau sudah saatnya bisa, kamu akan bisa sendiri.” jawab Kyai, dan aku mengiyakan.
Aku pulang lagi, dan beberapa hari kemudian aku berangkat ke Jawa Timur, di desaku ada orang yang biasa mengobati sakit kena santet, dengan metode dipindah penyakitnya ke kambing.
Kebetulan yang mengobati itu ayahnya temanku waktu di pesantren Sarang Rembang.
Aku pun kesana, walau dulu mbak Asrifah tak
baik denganku, menolong orang kalau bisa
melepaskan diri dari ego pribadi yang pernah
kecewa, aku yakin setiap amal perbuatan walau sebesar biji sawi, akan diberi balasan sebesar
keikhlasan orang yang melakukan amaliyah,
Semakin seorang itu ikhlas, akan makin tak
terbatas balasan pahala yang diterima.
Sampai di tempat yang ku tuju, yang menemui
temanku yang di pesantren itu.
“Bagaimana kabarmu Yan..? Ku dengar-dengar
kamu sekarang di Pekalongan.” tanya temanku
itu, setelah dia mempersilahkanku duduk.
“Alhamdulillah baik Lil…, iya aku mukim di
__ADS_1
Pekalongan.” kataku kepada temanku yang
bernama Kholilulloh.
“Ada apa Yan.. kok tak biasanya kamu main ke
rumahku.” tanya Kholil.
“Maaf aku merepotkan.” kataku
“Ah kamu ini tak biasa-biasanya basa-basi, ada apa?”
“Anu Lil, aku mau minta obat kepada ayahmu
untuk mbak istriku yang sakit.” jelasku.
“Sakitnya apa Yan?”
“Ndak tau juga Lil, kata dokter sih sakit tumor
kelenjar, kata dukun sakit kena santet, jadi
ndak tau mana yang benar.” jelasku.
“Tunggu aku panggilkan ayah..” kata Kholilulloh masuk ke dalam.
Ayahnya kemudian keluar, bernama pak Mahrus, perawakannya pendek kecil, pak Mahrus termasuk idolaku, waktu kecil jika aku
menelusuri kisah pak Mahrus sangat
memotifasiku dalam menjalankan suatu amaliyah.
Dulu pak Mahrus ini orang teramat miskin, bisa dikatakan untuk makan sehari-hari pun sangat
“Itu beras ambil di lantai, itu ku berikan cuma-
cuma, jika ku hutangkan maka kau pasti tak akan sanggup membayar, jadi ku berikan cuma-cuma,
maka usaha dikumpulkan, orang ingin enak makan itu harus usaha, jangan asal minta-minta.” kata saudaranya.
Ibu Zulaikhah pun pulang dengan beras
segenggam yang dia terima, dan menangis di
depan pak Mahrus, dan menceritakan yang
dialami. “Sabar… Sabar, dalam sabar itu ada pahalanya..”
kata pak Mahrus menghibur istrinya.
Salah satu amalan pak Mahrus adalah membaca sholawat pada Nabi sebanyak sepuluh ribu,
Entah bagaimana awalnya, Alloh selalu memberi anugerah pada hamba yang disayanginya. Dan pak Mahrus mempunyai kelebihan bisa mengobati orang dengan memindah penyakit ke kambing.
Perlahan tapi pasti Pak Mahrus makin terkenal, dan pasiennya dari segala penjuru, sampai jalan jarak satu kilo meter macet jika hari minggu,
karena banyaknya orang yang datang berobat,
dan cepat sekali pak Mahrus menjadi kaya raya, rumahnya yang kecil pun dibangun seperti hotel, tamu-tamu yang menginap pun bisa mendapatkan kamar yang nyaman.
Dan dia tak pernah memakai tarif dalam mengobati pasiennya, berapa pun dia
diberi maka akan diterima, jika seseorang
__ADS_1
berpenyakit parah, dan orangnya kaya, lalu
sembuh, tak jarang yang diberikan adalah mobil mewah sebagai rasa terima kasih.
Aku segera menceritakan tentang keadaan
Asrifah, pak Mahrus pun memberikan air dan
kalung dari bundelan rajah.
“Dik… nanti kamu beli kambing di rumah, kalung ini kalungkan ke kambing, dan nanti setelah 3
hari dikalungi, kambingnya kamu potong, dan
kamu kuliti dan kamu lihat apa saja di dalamnya itu ada luka atau hal aneh apa, nanti kamu datang kesini lagi, guna melaporkan.” jelas Pak
Mahrus.
“Lalu air ini untuk apa pak?” tanyaku
menunjukkan air yang di jerigen lima liter.
“Itu untuk minum mandi si sakit.” jelas pak
Mahrus.
“Oh ya pak, terima kasih.” kataku sambil
memberikan amplop berisi uang.
Dan aku pamit pulang, sampai di Pekalongan
akupun segera membeli kambing, dan
mengalungkan rajah ke kambing itu. Sehari tak apa-apa, wajar wajar saja kambing itu
keadaannya.
Tapi saat malamnya, kambing menjerit-jerit, sampai suaranya serak, ku lihat
tak ada apa-apa, tapi kambing terus mbak-mbek tak henti-henti dan tak jemu-jemu, hehehe jadi kayak lagu.
Esoknya ku lihat bulu-bulu kambing pada rontok, di saat tertentu juga begitu kambing menjerit-jerit, jika dia dapat bicara mungkin masalahnya akan lebih mudah, dan kambing bisa ditanya, apa masalahnya, sampai ia menjerit-jerit, tapi kambing ya tetap kambing, tetap tak bisa bicara.
Aku sebenarnya kasihan juga sama kambingnya, sampai bulunya semua rontok, itu menunjukkan kalau sakitnya tidak main-main, masak kambing pura-pura sakit juga ndak mungkin, tapi pesen pak Mahrus kambing harus dipotong setelah tiga hari memakai kalung, jadi aku tetap menunggu
sampai hari ketiga.
Sampai aku sering mendekati kambing dan ku
elus kepalanya, ku bilang agar sabar, sebentar
lagi kalau nyampai tiga hari akan ku potong dan dia bisa bernafas lega, karena pasti tak akan
merasakan sakit lagi.
Anehnya Asrifah sudah tidak menjerit-jerit
lagi, hanya kambing yang menjerit dengan suara itu-itu saja sampai suaranya serak.
Sampai hari ke tiga, pagi-pagi sekali cepat-cepat kambing ku potong, dan ku kuliti. Dan sungguh.....
Bersambung.....
__ADS_1