Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Man lamyaskurinnasa, fahua lam uaskurilloh


__ADS_3

“Kita itu jangan lantas mudah takjub dengan hal-hal yang aneh-aneh, sekarang apa hebatnya hal yang aneh-aneh, jika itu kita tukar dengan selamanya di neraka, maka tak hebat sama sekali, apalagi sekarang kan sudah jelas terlihat, sampean hidupnya susah, la yang jelas hidupnya enak, kayak orang-orang kaya yang nyupang, menjalani perjanjian dengan jin saja tak menguntungkan sama sekali karena apa? karena ditukar dengan aqidah keimanan kita, la dunia ini kan sementara, lalu kalau kita kemudian mati di neraka selamanya, bukankah itu amat merugikan?”


“Iya saya juga tau… tapi kadang kesusahan hidup lebih menyudutkan saya untuk menjalankan hal-hal yang di luar kendali akal.” jawab Furqon.


“Ya seseorang itu ada masa sulit, ada masa bahagia, itu kan dunia, wong makan enak aja harus menguras isi perutnya, tak asal diisi saja, dan kesusahan manusia itu alami, wajar, yang penting adalah ketika mengalami kesusahan kita itu kembali tidak kepada Alloh,


Rodadnahu asfala safilin, illalladzina amanu wa amanussholikhati, manusia itu akan dikembalikan dalam keadaan susah, payah, derajat rendah, kecuali orang-orang yang berbuat benar, benar menurut agama dan ajaran Rosulullah,


Sampean susah, karena Alloh telah menyerahkan nasib sampean kepada syaitan, tidak ditolong oleh Alloh, sementara syaitan sudah lepas tangan dengan sampean, sebab tujuan syaitan itu menyesatkan, kalau yang disesatkan sudah sesat, ya ngapain lagi diurus, syaitan akan berusaha mencari korban baru, sementara sampean sendiri sudah tidak diurusi Alloh, minta sudah tidak diijabah, ya ujung- ujungnya sumpek, dan satu kesalahan itu kalau tidak disadari, maka akan merambat ke kesalahan selanjutnya, dan selalu seperti itu.”


“Lalu solusinya bagaimana mas…?” tanya Furqon.


“Ya solusinya, taubat, lalu kembali hidup secara wajar, hidup secara jalan yang diridhoi Alloh,


kalau mau diijabah do’anya ya mendekatkan diri pada Alloh, jangan malah melanggar dan meninggalkan-Nya, percayalah segala amalan yang tidak Islam itu merugikan diri kita sendiri.” jelasku.


“Saya ingin tanya mas…” tanya Zamrozi, temannya Furqon.


“Tanya apa?”


“Tanya soal mengirim fatekhah, dan orang sering tawasul, apa itu ndak sama dengan apa yang dilakukan Furqon, meminta pada jin, cuma bedanya itu orang yang sudah mati?” tanya

__ADS_1


Zamrozi.


“Itu sama sekali beda. Ku contohkan saja, kita ini mau pergi ke masjid, menjalankan sholat jum’at, kita naik motor untuk sampai ke masjid, memakai sandal, memakai peci, memakai pakaian, juga memakai pengetahuan atau ilmu bagaimana cara sholat yang benar.


Tak bisa kan sandal lengkap, pakaian lengkap, peci ada, tapi pas mau sholat kita yang nghadap ke timur sendiri, sementara orang lain menghadap ke barat, karena kita tak tau kalau sholat itu menghadap ke barat, karena ilmu cara sholat itu tak sampai ke kita, karena tak adanya yang menyampaikan ke kita, ini bisa dibenarkan tidak, misal kita menghadap ke timur, jelas malah adu kepala dengan orang lain, ya nggak?”


“Iya, tak benar. Lalu apa hubungannya dengan


kirim fatekhah,”


“Ya sebentar ku jelaskan pelan-pelan.” kataku.


“Kita pergi ke masjid naik motor itu kira-kira motornya bayar tidak sama pabriknya, kita bayar gak sama dealernya? Tentu bayar kan, artinya kita tidak lantas minta motor lalubdikasih begitu saja….”


“Juga kita pakai pakaian, kita bayar kan sama pabrik pakaian atau penjual pakaian?” tanyaku.


“Iya kita bayar.”


“Juga kita pakai sarung kita membayar pada penjual sarung, juga pada pabriknya, juga kita memakai sendal, kita bayar pada penjual sandal dan pabriknya, membayar pabriknya itu langsung atau tidak langsung, itu kita bayar, apalagi ilmu yang kita peroleh.


Ilmu cara jum’atan yang benar, yang sebenarnya adalah pokok dari tujuan orang pergi ke masjid di hari jum’at, kenapa ku katakan pokok, ya coba aja di-tes, tanya orang

__ADS_1


yang pergi ke masjid di hari jum’at itu mau pergi kemana? Pasti semua akan menjawab mau pergi sholat jum’at, bukan mau memakai pakaian, atau sandal, atau sarung, berarti pergi ke sholat jum’at itu adalah pekerjaan pokok, sedang pakaian dan segala apa yang dipakai, cuma pendukung.


La yang jadi pendukung saja bayar, apalagi yang pokoknya, kita sholat jum’at juga tanpa ilmu yang kita tahu tentang sholat jum’at kan jadinya berabe, sholatnya bisa ada yang ngadep ke timur ada yang ngadep ke barat, utara, selatan. Nah, ilmu itu bisa sampai ke kita adalah melewati guru yang menyampaikan kebenaran dengan sebenar-benarnya, Islam sampai ke kita itu sampai dengan sebenar -benarnya sama dengan apa yang disampaikan Rosululloh, itu karena kejujuran dan kesadhiqan guru kita.


Coba kalau gurunya pada pembohong, lalu ngawur menyampaikan ilmu, apa di dalam masjid akan ramai terjadi tawuran, karena kiblatnya beda, dan shalatnya juga beda-beda, jadinya shalat pakai cara masing-masing sesuai ilmu yang diterima, apa ndak jadi ramai, karena yang gurunya suka dangdutan, sholatnya isinya jadi jogetan melulu, dan kenyataannya, sholatnya orang semasjid semua sama, menunjukkan kalau yang menyampaikan ilmu ke kita itu semua bertanggung jawab, dan ilmu sampai ke kitabitu masih sama dengan ilmu yang disampaikan Nabi, apa kita tidak berterimakasih?


Man lamyaskurinnasa, fahua lam uaskurilloh, siapa tidak bersyukur pada manusia, maka berarti tidak bersyukur pada Alloh, la kita itu kalau sama penjual pakaian, sepatu, sarung, peci, bayar pakai uang, maka sama penyampai ilmu pada kita yang sudah meninggal kita syukurnya pakai apa? Mau dikasih uang, mereka sudah meninggal, mau dikasih roti, mereka sudah tak doyan roti, maka dikirimi fatekhah, pahalanya kita kirim ke mereka, sebagai rasa terima kasih kepada mereka, jadi kita bukan meminta pada mereka, agar kita bagaimana atau bagaimana.


Kenyataannya kita terima atau tidak kita terima, ilmu kita itu lewat Nabi SAW, dan lewat para guru kita, kalau di Jawa ya lewat wali songo, kalau di tempat lain ya lewat ulama’ lain, itu kan kenyataan, maka dinamakan wasilah, wasilah itu kan bahasa arab, namanya lantaran, sebab lantaran Nabi, ilmu, ayat Qur’an itu sampai kepada kita, makanya dikatakan kalau seseorang itu seandainya tak mau mengakui Nabi dan semua guru kita kalau ilmu itu sampai ke kita karena mereka,


Jika seandainya orang itu berhak masuk surga sekalipun, maka dia tak akan tau jalannya, atau sekalipun dia itu fasih dalam melafadzkan do’a, maka do’anya tak akan sampai ke Alloh, artinya do’anya akan tertolak.”


“Ternyata seperti itu ya? Jadi bukan kita meminta pada mereka?” tanya Zamrozi.


“Tidak sama sekali, malah kita yang mendo’akan mereka, ya kayak baca sholawah, Allohumma sholli ala muhammad, semoga rahmat selalu tercurah pada Nabi Muhammad, kata semoga itu kan do’a, jadi jangan sampai dibolak balik makna dan maksudnya.”


“Ya…. Sekarang baru mengerti aku.”


“Lalu saya bagaimana kyai?” tanya Furqon.


“Ya nanti ikut saja dzikir aktif di toreqoh, sudah tak usah ikut aliran yang tak jelas, wong dalam

__ADS_1


thoreqoh itu lengkap, mau kaya, banyak harta, ya minta saja sama Alloh, la Alloh kan lebih kaya daripada jin manapun.


Bersambung....


__ADS_2