Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kesurupan


__ADS_3

“Byuh aku ini kalau pisah sama istri seminggu


saja nekak nekuk gak karuan, kalau setahun apa ndak nanti pulang dari Saudi ndak dalam keadaan setres?”


“Ya kalau gitu jangan ikut, daripada kamu setres, aku juga nantinya yang repot ngurus…”


Di PJTKI aku berkenalan dengan seorang TKI


suami istri yang sudah lama bolak-balik kerja di Saudi, namanya Najib.


Dia dan istrinya ketemunya juga di Saudi, dan pulang ke Indonesia kemudian menikah. Najib dari Ciamis dan istrinya orang Makasar.


“Mas ini ya yang katanya adiknya pak


Abdullah..?” tanya Najib.


“Iya… ada apa mas?”


“Maaf, kenalkan dulu mas, namaku Najib,” kata


Najib memperkenalkan diri, mengulurkan


tangannya.


“Namaku Febrian,” ku jabat tangannya.


“Lagi main ke PJTKI ya mas?” tanya dia.


“Oo tidak, aku mau ikut wawancara kerja di


Saudi.”


“Wah kerja di sana berat mas.” jelasnya, “Saya


ini sudah 6 kali bolak-balik ke Saudi, jadi tiap


dua tahun pulang, jadi di sana sudah 12 tahun


mas.”


“Wah lama juga ya. Berarti sudah banyak dong


uangnya.”


“Uangnya habis di jalan mas.”


“Lho kok bisa gitu?”


“Ya uang dari sana itu kayak ndak berkah mas,


mudah habis, tak tau kenapa kok gitu, ya uang


kayak menguap begitu aja.”


“Trus kamu sama istri kerja di sana ini kerjanya apa?”


“Saya jadi sopir, dan istriku jadi pembantu


rumah tangga mas, ini menunggu dapat Visa yang butuh suami-istri dalam satu majikan, la mas sendiri kerja apa?”


“Aku juga belum tau kerjanya apa, dan di mana, katanya denger-denger kerja di pabrik semen,


kurang tau pasnya.” jelasku yang memang kurang tau.


Tiba-tiba Najib mengeluarkan kertas dari


tasnya,


“Maaf mas, ini kertas perjanjian kerja saya, saya juga belum tau ini majikannya baik


atau tidak, entah bagaimana orangnya, saya


minta mas mau meniup kertas ini, biar saya


mendapat majikan yang baik.” kata Najib sambil


menyerahkan kertas perjanjian kerja padaku.


“Maksudnya niup itu bagaimana?” tanyaku tak

__ADS_1


mengerti.


“Istriku tau dari banyak TKW, kalau mas sering


dimintai do’a kalau ada TKW mau berangkat ke


Saudi, supaya diberi keselamatan, mendapat


majikan yang baik, dan pulang dengan selamat.”


“Ooo itu, iya sih memang banyak yang minta ke rumah, dan memang kebetulan juga kabarnya


selalu mendapat majikan yang baik.”


“Makanya saya minta ini ditiup mas…, biar saya juga dapat majikan yang baik.” jelasnya.


Kertas ku ambil lalu ku tiup, dan sebentar


kemudian aku telah berpisah dengan Najib,


karena dia dipanggil, sebab pesawat


keberangkatan yang akan ditumpanginya sudah sampai.


Malam pertama, setelah sholat isya’ aku memilih nongkrong di pos penjagaan, tidak kumpul dengan para TKL, tempat TKL ada di


penampungan bagian depan, di samping ada


penampungan lain, di daerah Cipinang, sementara penampungan belakang diisi para TKW, jadi ingat waktu di pondok ramai wanita,


Kalau ini ingin merubah jalan hidupnya, merubah ekonominya, sementara di pesantren para santri ingin mendapat ilmu.


Tiba-tiba seorang pegawai kantor menemuiku dengan tergopoh-gopoh.


“Mas… mas Ian ada TKW yang yang kerasukan…!”


kata petugas itu.


“Di mana?” tanyaku.


“Ya di penampungan putri.” jawab dia sambil


tangannya menunjuk penampungan putri.


“Mas Macan keluar.., tolong mas kasihan.”


“Aku pun ke dalam penampungan putri, diiringi


satpam dan petugas kantor yang jaga.”


Masuk ke dalam, di dalam ramai sekali


perempuan dengan berbagai macam, ribut


mengerumuni yang sedang kerasukan.


Tapi baru sekitar jarakku dengan yang kerasukan masih lima meteran, yang kerasukan sudah tersadar.


“Permisi-permisi, tolong dikasih jalan, biar yang kerasukan ku lihat.” kataku meminta agar


perempuan yang mengerubuti segera menyingkir, bau khas perempuan amat pekat.


Ku lihat yang kerasukan, ku dekati, sudah tak ku rasakan getaran jin, ku pagar tubuhnya.


“Sudah-sudah ndak papa, ayo dibawa ke kamar.”


kataku, kepada yang mengerubuti, dan tubuh


perempuan itupun dibawa masuk ke kamar.


Sementara aku kembali ke depan, ke pos satpam, ngobrol sama yang lain yang ikut nongkrong di pos.


“Apa sering terjadi kerasukan kayak gitu? ”


tanyaku pada satpam.


“Sering juga mas…, ” jawab satpam.


“Harusnya Macan memagar tempat ini, jangan

__ADS_1


dibiarkan angker, soalnya ini kan tempat kumpul para orang yang punya latar belakang beda-beda, ada yang setres, ada yang punya kasus di rumah, jadi akan amat mudah kerasukan.” jelasku.


“Mas mau besok membersihkan tempat


penampungan yang satunya, soalnya di sana juga banyak yang menampakkan diri hantunya.”


“Ndak papa, nanti dibersihkan, tentunya kalau


aku ada waktu.”


Malam makin larut, sudah sekitar jam 12 malam, aku memilih sholat isya’ dan kemudian dzikir di dalam ruang tidur pos satpam, yang terletak di belakang pos penjagaan.


Hujan rintik-rintik, baru setengah jam duduk


dzikir, pintu gerbang penampungan ada yang


mengetuk, aku tetap dalam dzikirku, tak tau


tamu mana yang masuk, baru seperempat jam


tamu masuk, tiba-tiba petugas dari dalam


mendatangiku.


“Mas-mas tolong mas, ada TKW ngamuk…” kata petugas itu.


“Lhoh apa yang kerasukan tadi?” tanyaku.


“Bukan mas, ini yang baru datang tadi…” kata


satpam yang menyertai.


“Ngamuknya kenapa?” tanyaku. Wah kok malah aku yang ngurusi TKW “Dia di dalam mas, sedang dipegangi orang banyak, soalnya kepalanya dibentur-benturkan ke tembok, sampai berdarah-darah, katanya mau


bunuh diri.” jelas satpam.


Aku segera beranjak berdiri, tapi tiba-tiba dari


dalam ada perempuan yang berlari, dikejar sama TKW lain. Semua segera berusaha menangkap, seperti mau menangkap kambing kurban yang lepas, karena ogah disembelih, aku melihat saja, sampai TKW itu ditangkap.


“Coba bawa ke pos satpam.” kataku.


Lalu TKW itu pun dibawa ke pos satpam, dan


tetap berusaha berontak. Ku tempelkan


tanganku ke kepalanya, dan ku salurkan hawa


penenang ke pikirannya. Perlahan perempuan


muda itu mulai tenang.


Lalu nangis sesenggukan.


“Ya Alloh berdosanya aku, aku perempuan kotor, bagaimana suamiku, bagaimana dia mau menerima aku, ya Alloh…!” kata perempuan itu meracau, nampak di jidatnya berdarah.


Mungkin karena jidatnya itu yang dibentur-benturkan ke tembok.


“Aku mati saja…, mati saja.. huuu..huu..” kata


perempuan itu berulang-ulang, di antara


tangisnya sampai tubuhnya terguncang.


“Ada apa to mbak, ada masalah bisa diselesaikan, apa mati itu bisa menyelesaikan masalah?


Apalagi kalau mati bunuh diri, bisa jadi di sana


akan disiksa sampai hari kiamat, apapun masalah itu, maka ada jalan menyelesaikannya.” hiburku sambil


masih tetap menempelkan tanganku ke kepalanya, agar tenaga prana menenangkan pikirannya dan memang perlahan tapi pasti dia mulai berhenti menangis.


“Kau tak ikut merasakan yang aku alami di Saudi mas… jadi tak merasa sedih.” katanya yang mulai tenang, sementara beberapa lelaki di pos satpam tetap berjaga, takutnya perempuan itu kabur.


“Ya aku mungkin tak ikut mengalami, tapi kalau mbak mungkin punya pengalaman pahit dan tak tahan memendamnya sendiri, bisa diceritakan padaku, jika aku sanggup membantu mencarikan solusinya, maka akan ku bantu dengan sekuat tenagaku.” kataku,


Dengan nada datar takut mengejutkan kejiwaannya yang sedang terguncang, pasti


tak ringan yang dialaminya di sana..

__ADS_1


Bersambung...


Sory aga lama soalny lg bikin wadah di grup fb dgn judul yg sama😁🙏🏽


__ADS_2