
“Byuh aku ini kalau pisah sama istri seminggu
saja nekak nekuk gak karuan, kalau setahun apa ndak nanti pulang dari Saudi ndak dalam keadaan setres?”
“Ya kalau gitu jangan ikut, daripada kamu setres, aku juga nantinya yang repot ngurus…”
Di PJTKI aku berkenalan dengan seorang TKI
suami istri yang sudah lama bolak-balik kerja di Saudi, namanya Najib.
Dia dan istrinya ketemunya juga di Saudi, dan pulang ke Indonesia kemudian menikah. Najib dari Ciamis dan istrinya orang Makasar.
“Mas ini ya yang katanya adiknya pak
Abdullah..?” tanya Najib.
“Iya… ada apa mas?”
“Maaf, kenalkan dulu mas, namaku Najib,” kata
Najib memperkenalkan diri, mengulurkan
tangannya.
“Namaku Febrian,” ku jabat tangannya.
“Lagi main ke PJTKI ya mas?” tanya dia.
“Oo tidak, aku mau ikut wawancara kerja di
Saudi.”
“Wah kerja di sana berat mas.” jelasnya, “Saya
ini sudah 6 kali bolak-balik ke Saudi, jadi tiap
dua tahun pulang, jadi di sana sudah 12 tahun
mas.”
“Wah lama juga ya. Berarti sudah banyak dong
uangnya.”
“Uangnya habis di jalan mas.”
“Lho kok bisa gitu?”
“Ya uang dari sana itu kayak ndak berkah mas,
mudah habis, tak tau kenapa kok gitu, ya uang
kayak menguap begitu aja.”
“Trus kamu sama istri kerja di sana ini kerjanya apa?”
“Saya jadi sopir, dan istriku jadi pembantu
rumah tangga mas, ini menunggu dapat Visa yang butuh suami-istri dalam satu majikan, la mas sendiri kerja apa?”
“Aku juga belum tau kerjanya apa, dan di mana, katanya denger-denger kerja di pabrik semen,
kurang tau pasnya.” jelasku yang memang kurang tau.
Tiba-tiba Najib mengeluarkan kertas dari
tasnya,
“Maaf mas, ini kertas perjanjian kerja saya, saya juga belum tau ini majikannya baik
atau tidak, entah bagaimana orangnya, saya
minta mas mau meniup kertas ini, biar saya
mendapat majikan yang baik.” kata Najib sambil
menyerahkan kertas perjanjian kerja padaku.
“Maksudnya niup itu bagaimana?” tanyaku tak
__ADS_1
mengerti.
“Istriku tau dari banyak TKW, kalau mas sering
dimintai do’a kalau ada TKW mau berangkat ke
Saudi, supaya diberi keselamatan, mendapat
majikan yang baik, dan pulang dengan selamat.”
“Ooo itu, iya sih memang banyak yang minta ke rumah, dan memang kebetulan juga kabarnya
selalu mendapat majikan yang baik.”
“Makanya saya minta ini ditiup mas…, biar saya juga dapat majikan yang baik.” jelasnya.
Kertas ku ambil lalu ku tiup, dan sebentar
kemudian aku telah berpisah dengan Najib,
karena dia dipanggil, sebab pesawat
keberangkatan yang akan ditumpanginya sudah sampai.
Malam pertama, setelah sholat isya’ aku memilih nongkrong di pos penjagaan, tidak kumpul dengan para TKL, tempat TKL ada di
penampungan bagian depan, di samping ada
penampungan lain, di daerah Cipinang, sementara penampungan belakang diisi para TKW, jadi ingat waktu di pondok ramai wanita,
Kalau ini ingin merubah jalan hidupnya, merubah ekonominya, sementara di pesantren para santri ingin mendapat ilmu.
Tiba-tiba seorang pegawai kantor menemuiku dengan tergopoh-gopoh.
“Mas… mas Ian ada TKW yang yang kerasukan…!”
kata petugas itu.
“Di mana?” tanyaku.
“Ya di penampungan putri.” jawab dia sambil
tangannya menunjuk penampungan putri.
“Mas Macan keluar.., tolong mas kasihan.”
“Aku pun ke dalam penampungan putri, diiringi
satpam dan petugas kantor yang jaga.”
Masuk ke dalam, di dalam ramai sekali
perempuan dengan berbagai macam, ribut
mengerumuni yang sedang kerasukan.
Tapi baru sekitar jarakku dengan yang kerasukan masih lima meteran, yang kerasukan sudah tersadar.
“Permisi-permisi, tolong dikasih jalan, biar yang kerasukan ku lihat.” kataku meminta agar
perempuan yang mengerubuti segera menyingkir, bau khas perempuan amat pekat.
Ku lihat yang kerasukan, ku dekati, sudah tak ku rasakan getaran jin, ku pagar tubuhnya.
“Sudah-sudah ndak papa, ayo dibawa ke kamar.”
kataku, kepada yang mengerubuti, dan tubuh
perempuan itupun dibawa masuk ke kamar.
Sementara aku kembali ke depan, ke pos satpam, ngobrol sama yang lain yang ikut nongkrong di pos.
“Apa sering terjadi kerasukan kayak gitu? ”
tanyaku pada satpam.
“Sering juga mas…, ” jawab satpam.
“Harusnya Macan memagar tempat ini, jangan
__ADS_1
dibiarkan angker, soalnya ini kan tempat kumpul para orang yang punya latar belakang beda-beda, ada yang setres, ada yang punya kasus di rumah, jadi akan amat mudah kerasukan.” jelasku.
“Mas mau besok membersihkan tempat
penampungan yang satunya, soalnya di sana juga banyak yang menampakkan diri hantunya.”
“Ndak papa, nanti dibersihkan, tentunya kalau
aku ada waktu.”
Malam makin larut, sudah sekitar jam 12 malam, aku memilih sholat isya’ dan kemudian dzikir di dalam ruang tidur pos satpam, yang terletak di belakang pos penjagaan.
Hujan rintik-rintik, baru setengah jam duduk
dzikir, pintu gerbang penampungan ada yang
mengetuk, aku tetap dalam dzikirku, tak tau
tamu mana yang masuk, baru seperempat jam
tamu masuk, tiba-tiba petugas dari dalam
mendatangiku.
“Mas-mas tolong mas, ada TKW ngamuk…” kata petugas itu.
“Lhoh apa yang kerasukan tadi?” tanyaku.
“Bukan mas, ini yang baru datang tadi…” kata
satpam yang menyertai.
“Ngamuknya kenapa?” tanyaku. Wah kok malah aku yang ngurusi TKW “Dia di dalam mas, sedang dipegangi orang banyak, soalnya kepalanya dibentur-benturkan ke tembok, sampai berdarah-darah, katanya mau
bunuh diri.” jelas satpam.
Aku segera beranjak berdiri, tapi tiba-tiba dari
dalam ada perempuan yang berlari, dikejar sama TKW lain. Semua segera berusaha menangkap, seperti mau menangkap kambing kurban yang lepas, karena ogah disembelih, aku melihat saja, sampai TKW itu ditangkap.
“Coba bawa ke pos satpam.” kataku.
Lalu TKW itu pun dibawa ke pos satpam, dan
tetap berusaha berontak. Ku tempelkan
tanganku ke kepalanya, dan ku salurkan hawa
penenang ke pikirannya. Perlahan perempuan
muda itu mulai tenang.
Lalu nangis sesenggukan.
“Ya Alloh berdosanya aku, aku perempuan kotor, bagaimana suamiku, bagaimana dia mau menerima aku, ya Alloh…!” kata perempuan itu meracau, nampak di jidatnya berdarah.
Mungkin karena jidatnya itu yang dibentur-benturkan ke tembok.
“Aku mati saja…, mati saja.. huuu..huu..” kata
perempuan itu berulang-ulang, di antara
tangisnya sampai tubuhnya terguncang.
“Ada apa to mbak, ada masalah bisa diselesaikan, apa mati itu bisa menyelesaikan masalah?
Apalagi kalau mati bunuh diri, bisa jadi di sana
akan disiksa sampai hari kiamat, apapun masalah itu, maka ada jalan menyelesaikannya.” hiburku sambil
masih tetap menempelkan tanganku ke kepalanya, agar tenaga prana menenangkan pikirannya dan memang perlahan tapi pasti dia mulai berhenti menangis.
“Kau tak ikut merasakan yang aku alami di Saudi mas… jadi tak merasa sedih.” katanya yang mulai tenang, sementara beberapa lelaki di pos satpam tetap berjaga, takutnya perempuan itu kabur.
“Ya aku mungkin tak ikut mengalami, tapi kalau mbak mungkin punya pengalaman pahit dan tak tahan memendamnya sendiri, bisa diceritakan padaku, jika aku sanggup membantu mencarikan solusinya, maka akan ku bantu dengan sekuat tenagaku.” kataku,
Dengan nada datar takut mengejutkan kejiwaannya yang sedang terguncang, pasti
tak ringan yang dialaminya di sana..
__ADS_1
Bersambung...
Sory aga lama soalny lg bikin wadah di grup fb dgn judul yg sama😁🙏🏽