Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Mbak Asrifah


__ADS_3

“Ya tak apa-apa, kebersihan hati manusia itu


tercermin pada sikapnya, tapi jika nanda ingin


aku membantu, entah tentara atau harta benda, maka aku siap selalu membantu, kirim saja


fatekhah padaku satu kali tahan nafas, dan minta yang anak maui, maka aku akan


memerintahkan anak buahku segera


melaksanakan.”


“Sekali lagi terima kasih ibu.. atas kebaikan hati ibu, anak hanya berharap jika suatu kali anak


ingin main ke sini, ketempat ibu, ibu menyambut saya dengan tangan terbuka.” kataku.


“Oh tentu-tentu… kapanpun anak mau,


kerajaanku ini terbuka seluasnya.”


“Terima kasih bu.. sebaiknya aku mohon diri.”


kataku sambil beranjak dari kursi.


“Mari ku antar sampai pintu gerbang.” kata Dewi Lanjar.


Dan akupun diantar, sampai pintu gerbang, dan ternyata kerajaan itu telah tak nampak, aku


telah ada di jembatan besi, di bagian arah utara kota Pekalongan, aku segera melesat pulang.


Aku merasa pengalamanku itu suatu proses,


dalam pikiran dan penilaianku, jika kita mau


menguasai atau menjadi suatu penguasa suatu daerah, dalam artian menaklukkan dzahirnya,


maka taklukkan dulu batinnya, dan aku sangat


berterima kasih dengan Kyaiku, yang telah


membekaliku dengan ilmu raga sukma, yang ku rasakan amat banyak manfaat yang dapat ku


ambil.


Malam mendekati pagi, baru saja aku masuk lagi ke tubuhku, setelah ngeraga sukma, ada mobil travel berhenti di depan rumah, sedang


menurunkan penumpang.


Ternyata adalah kakak perempuan Husna, istriku. Dia baru sampai pulang dari Saudi Arabia, bekerja sebagai TKW, namanya Asrifah. Aku tak begitu perduli, rumah Asrifah tepat di samping rumah yang ku tinggali,


Sebelumnya jelas aku tak kenal ada kakak


perempuan Husna, yang bekerja di Saudi.


Setelah ku tau ternyata Mbak Asrifah telah


berkali-kali menikah dan cerai, entah sudah


berapa kali, selalu tak cocok dengan suaminya, yang jelas saat itu sedang menjanda.


Aku bukan orang yang perduli dengan urusan orang lain, sekalipun itu adalah saudara istriku. Dan juga urusan mbak Asrifah, aku juga tak perduli.


Sampai suatu hari ku lihat kok sering ada lelaki yang keluar masuk rumahnya, padahal dia hidup sendiri, maka aku pun mulai risih, lalu aku datang ke rumahnya ketika ada lelaki di rumahnya.


Ku peringatkan agar jangan membuat aib


keluarga, dan jika saling suka supaya cepat


menikah, jangan sampai digrebek orang kampung.


Aku tak perduli lelakinya marah, atau mbak


Asrifah tersinggung, jangan sampai sesuatu


sudah terlambat, sementara aku diam saja.


“Mbak, mbok sampean jangan sampai membuat hal yang memalukan keluarga, jika memang niat nikah, menikahlah dengan baik-baik, niatkan mengikuti sunnah Nabi, dan mencari ridho Alloh..” kataku setelah yang lelaki pulang.


“Ah itu urusanku…, kau ini kan adikku, tak sopan menasehati aku sebagai kakakmu.” katanya sinis.


“Yo ndak papa sampean tak mau ku peringatkan, aku kan cuma menyampaikan, ingat segala sesuatu yang menyalahi aturan itu pasti akan membuat diri susah.” kataku mencoba sabar dan sehalus mungkin.

__ADS_1


“Sudah kamu urusi keluargamu, jangan


mengurusi diriku, jangan sok pinter, aku ini lebih tua, lebih mengerti hidup, daripada kamu yang anak kemaren sore.” katanya masih sinis.


Ternyata walau sudah ku peringatkan tapi Mbak Asrifah tetap dengan lelaki itu tapi tidak


bersama di rumah, seringnya janjian di luar


rumah, dengan meminjam motorku, tapi dengan alasan lain.


Hari itu seperti biasa, meminjam motor, lalu


pergi, tapi baru setengah jam pergi, dia sudah


kembali, dalam keadaan motor dan orangnya


diangkut becak, karena kecelakaan, kakinya


kesleo dan luka-luka, tapi ada baiknya juga


akhirnya dia tak pergi-pergi lagi.


Sampai pada suatu malam, tiba-tiba Mbak


Asrifah menjerit-jerit kesakitan, jeritannya


sampai keras sekali, kira-kira jam 3 dini hari,


semua tetangga kaget, termasuk aku yang dekat dengan rumahnya.


“Haduuuh..! haduuh..! aku ini kenapa!? aku ini


kenapa? aduuh..!” begitu berulang-ulang.


Aku yang sedang dzikir, tenang-tenang saja,


Husna dan saudara yang lain menengok, sebentar kemudian Husna memanggilku.


“Mas.., itu mbak Asrifah dilihat kenapa..!”


katanya kelihatan panik.


“La kenapa?”


“Ya sudah, disuruh diam saja, jangan teriak-


teriak, besok dibawa ke rumah sakit, wong besok rumah sakitnya juga belum pindah.”


Kataku, yang memang agak dongkol karena tingkah lakunya.


Aku tak menengok, sampai besoknya dibawa ke rumah sakit, aku juga males menjenguk, apalagi aku ini lelaki dan mbak Asrifah itu perempuan, cukup Husna yang menengok, dan menunggui di rumah sakit.


“Mas.. kok dirontgen tidak ada penyakitnya?”


kata Husna waktu pulang dari rumah sakit.


“Ya mungkin rumah sakitnya kurang canggih..”


jawabku sekenanya.


“Iya memang ini juga disuruh ke Semarang…”


jelas Husna.


“Ya sudah dibawa saja…” kataku.


Akhirnya mbak Asrifah dirujuk ke Semarang, di


Semarang katanya penyakitnya tumor kelenjar,


dan harus disinar x agar tumornya hilang. Dan


saran dokter pun dijalankan, tapi ternyata


setelah melewati tahapan itu tetap saja Mbak


Asrifah tidak sembuh, dua minggu di rumah


sakit, lalu pulang tetap saja kesakitan


mengaduh-aduh, membuat tetangga pada

__ADS_1


mengeluh karena kerasnya suara mengaduhnya.


Karena tidak bisa diobati di rumah sakit dan


keadaannya makin mengaduh-aduh, maka


keluarga pun mengusahakan lewat penyembuhan alternatif, sementara aku hanya melihat saja.


Didatangkan berbagai paranormal, dengan


berbagai cara menyembuhkan, ada seorang


wanita tua, yang menyembuhkannya dengan


menggigit punggung dan bagian yang sakit,


disaksikan banyak orang, perempuan tua itu


membuka mulutnya, sebelum mengobati.


“Kalian lihat semua, lihat mulutku ini, tak ada


apa-apanya,” kata perempuan tua itu, sambil


membuka lebar-lebar mulutnya.


Setelah dia rasa semua orang melihat, dia lalu


menggigit tubuh mbak Asrifah, dan dia membuka. mulutnya, maka dari mulutnya perempuan tua itu keluar kerikil sebesar kelereng.


Begitu berulang-ulang, gigit sana-gigit sini, dan ada sekitar 6 batu kerikil dikeluarkan. Aku ndak mengerti pengobatan seaneh itu, ya aku diam


saja, tapi Mbak Asrifah setelah diobati tetap


saja masih menjerit-jerit kesakitan.


Semua orang jadi bingung. Tiap hari selalu datang orang yang mengobati Asrifah, tapi semua tak ada yang membuahkan hasil, tetap saja Asrifah menjerit-jerit kesakitan, memang ku lihat juga kenyataannya amat kesakitan, sampai rambutnya pada rontok, jika sakit sampai seperti itu tentu amat sakit


sekali.


Didatangkan lagi seorang paranormal tua, dari


Jogja, mengakunya dia masih anak angkat Nyai Roro Kidul. Orangnya tinggi, umurnya mungkin


80an tahun, ketika mengobati aku disuruh


menemani.


“Bagaimana penyakitnya mbah?” tanyaku.


“Ini memang disantet orang,” kata lelaki tua itu.


Aku yang saat itu sama sekali awam dengan ilmu santet, hanya berharap Asrifah bisa sembuh.


Lalu lelaki itu mengeluarkan cambuk dari emas, sepanjang setengah meter, tubuh mbak Asrifah dicambuki, setelah itu tangannya disuruh


mengulurkan, dan dari setiap jari mbak Asrifah dikeluarkan paku, juga jari kaki dikeluarkan


paku.


Aku tak kaget, juga tidak heran, cuma ku


lihat saja paku dikeluarkan, lalu paku diberikan


padaku.


“Ini nanti ditanam di pekuburan.” katanya


memerintahku.


“Baik nanti ku tanam.” jawabku.


Lalu pengobatan pun selesai, dia mengatakan


besok akan mengambil jin-jin yang dikirim


seseorang. Aku hanya mangiyakan, dan


mengucapkan terima kasih.


Besoknya, kakek yang kemarin mengobati datang lagi, kali ini datangnya malam hari, dia membawa kendil, aku merasa aneh juga, anehnya waktu sebelum kakek itu datang, aura di rumah Asrifah pekat sekali, bahkan lampu rumah kelihatan dilapisi kabut hitam, sehingga cahayanya gelap...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2