
“Ya tak apa-apa, kebersihan hati manusia itu
tercermin pada sikapnya, tapi jika nanda ingin
aku membantu, entah tentara atau harta benda, maka aku siap selalu membantu, kirim saja
fatekhah padaku satu kali tahan nafas, dan minta yang anak maui, maka aku akan
memerintahkan anak buahku segera
melaksanakan.”
“Sekali lagi terima kasih ibu.. atas kebaikan hati ibu, anak hanya berharap jika suatu kali anak
ingin main ke sini, ketempat ibu, ibu menyambut saya dengan tangan terbuka.” kataku.
“Oh tentu-tentu… kapanpun anak mau,
kerajaanku ini terbuka seluasnya.”
“Terima kasih bu.. sebaiknya aku mohon diri.”
kataku sambil beranjak dari kursi.
“Mari ku antar sampai pintu gerbang.” kata Dewi Lanjar.
Dan akupun diantar, sampai pintu gerbang, dan ternyata kerajaan itu telah tak nampak, aku
telah ada di jembatan besi, di bagian arah utara kota Pekalongan, aku segera melesat pulang.
Aku merasa pengalamanku itu suatu proses,
dalam pikiran dan penilaianku, jika kita mau
menguasai atau menjadi suatu penguasa suatu daerah, dalam artian menaklukkan dzahirnya,
maka taklukkan dulu batinnya, dan aku sangat
berterima kasih dengan Kyaiku, yang telah
membekaliku dengan ilmu raga sukma, yang ku rasakan amat banyak manfaat yang dapat ku
ambil.
Malam mendekati pagi, baru saja aku masuk lagi ke tubuhku, setelah ngeraga sukma, ada mobil travel berhenti di depan rumah, sedang
menurunkan penumpang.
Ternyata adalah kakak perempuan Husna, istriku. Dia baru sampai pulang dari Saudi Arabia, bekerja sebagai TKW, namanya Asrifah. Aku tak begitu perduli, rumah Asrifah tepat di samping rumah yang ku tinggali,
Sebelumnya jelas aku tak kenal ada kakak
perempuan Husna, yang bekerja di Saudi.
Setelah ku tau ternyata Mbak Asrifah telah
berkali-kali menikah dan cerai, entah sudah
berapa kali, selalu tak cocok dengan suaminya, yang jelas saat itu sedang menjanda.
Aku bukan orang yang perduli dengan urusan orang lain, sekalipun itu adalah saudara istriku. Dan juga urusan mbak Asrifah, aku juga tak perduli.
Sampai suatu hari ku lihat kok sering ada lelaki yang keluar masuk rumahnya, padahal dia hidup sendiri, maka aku pun mulai risih, lalu aku datang ke rumahnya ketika ada lelaki di rumahnya.
Ku peringatkan agar jangan membuat aib
keluarga, dan jika saling suka supaya cepat
menikah, jangan sampai digrebek orang kampung.
Aku tak perduli lelakinya marah, atau mbak
Asrifah tersinggung, jangan sampai sesuatu
sudah terlambat, sementara aku diam saja.
“Mbak, mbok sampean jangan sampai membuat hal yang memalukan keluarga, jika memang niat nikah, menikahlah dengan baik-baik, niatkan mengikuti sunnah Nabi, dan mencari ridho Alloh..” kataku setelah yang lelaki pulang.
“Ah itu urusanku…, kau ini kan adikku, tak sopan menasehati aku sebagai kakakmu.” katanya sinis.
“Yo ndak papa sampean tak mau ku peringatkan, aku kan cuma menyampaikan, ingat segala sesuatu yang menyalahi aturan itu pasti akan membuat diri susah.” kataku mencoba sabar dan sehalus mungkin.
__ADS_1
“Sudah kamu urusi keluargamu, jangan
mengurusi diriku, jangan sok pinter, aku ini lebih tua, lebih mengerti hidup, daripada kamu yang anak kemaren sore.” katanya masih sinis.
Ternyata walau sudah ku peringatkan tapi Mbak Asrifah tetap dengan lelaki itu tapi tidak
bersama di rumah, seringnya janjian di luar
rumah, dengan meminjam motorku, tapi dengan alasan lain.
Hari itu seperti biasa, meminjam motor, lalu
pergi, tapi baru setengah jam pergi, dia sudah
kembali, dalam keadaan motor dan orangnya
diangkut becak, karena kecelakaan, kakinya
kesleo dan luka-luka, tapi ada baiknya juga
akhirnya dia tak pergi-pergi lagi.
Sampai pada suatu malam, tiba-tiba Mbak
Asrifah menjerit-jerit kesakitan, jeritannya
sampai keras sekali, kira-kira jam 3 dini hari,
semua tetangga kaget, termasuk aku yang dekat dengan rumahnya.
“Haduuuh..! haduuh..! aku ini kenapa!? aku ini
kenapa? aduuh..!” begitu berulang-ulang.
Aku yang sedang dzikir, tenang-tenang saja,
Husna dan saudara yang lain menengok, sebentar kemudian Husna memanggilku.
“Mas.., itu mbak Asrifah dilihat kenapa..!”
katanya kelihatan panik.
“La kenapa?”
“Ya sudah, disuruh diam saja, jangan teriak-
teriak, besok dibawa ke rumah sakit, wong besok rumah sakitnya juga belum pindah.”
Kataku, yang memang agak dongkol karena tingkah lakunya.
Aku tak menengok, sampai besoknya dibawa ke rumah sakit, aku juga males menjenguk, apalagi aku ini lelaki dan mbak Asrifah itu perempuan, cukup Husna yang menengok, dan menunggui di rumah sakit.
“Mas.. kok dirontgen tidak ada penyakitnya?”
kata Husna waktu pulang dari rumah sakit.
“Ya mungkin rumah sakitnya kurang canggih..”
jawabku sekenanya.
“Iya memang ini juga disuruh ke Semarang…”
jelas Husna.
“Ya sudah dibawa saja…” kataku.
Akhirnya mbak Asrifah dirujuk ke Semarang, di
Semarang katanya penyakitnya tumor kelenjar,
dan harus disinar x agar tumornya hilang. Dan
saran dokter pun dijalankan, tapi ternyata
setelah melewati tahapan itu tetap saja Mbak
Asrifah tidak sembuh, dua minggu di rumah
sakit, lalu pulang tetap saja kesakitan
mengaduh-aduh, membuat tetangga pada
__ADS_1
mengeluh karena kerasnya suara mengaduhnya.
Karena tidak bisa diobati di rumah sakit dan
keadaannya makin mengaduh-aduh, maka
keluarga pun mengusahakan lewat penyembuhan alternatif, sementara aku hanya melihat saja.
Didatangkan berbagai paranormal, dengan
berbagai cara menyembuhkan, ada seorang
wanita tua, yang menyembuhkannya dengan
menggigit punggung dan bagian yang sakit,
disaksikan banyak orang, perempuan tua itu
membuka mulutnya, sebelum mengobati.
“Kalian lihat semua, lihat mulutku ini, tak ada
apa-apanya,” kata perempuan tua itu, sambil
membuka lebar-lebar mulutnya.
Setelah dia rasa semua orang melihat, dia lalu
menggigit tubuh mbak Asrifah, dan dia membuka. mulutnya, maka dari mulutnya perempuan tua itu keluar kerikil sebesar kelereng.
Begitu berulang-ulang, gigit sana-gigit sini, dan ada sekitar 6 batu kerikil dikeluarkan. Aku ndak mengerti pengobatan seaneh itu, ya aku diam
saja, tapi Mbak Asrifah setelah diobati tetap
saja masih menjerit-jerit kesakitan.
Semua orang jadi bingung. Tiap hari selalu datang orang yang mengobati Asrifah, tapi semua tak ada yang membuahkan hasil, tetap saja Asrifah menjerit-jerit kesakitan, memang ku lihat juga kenyataannya amat kesakitan, sampai rambutnya pada rontok, jika sakit sampai seperti itu tentu amat sakit
sekali.
Didatangkan lagi seorang paranormal tua, dari
Jogja, mengakunya dia masih anak angkat Nyai Roro Kidul. Orangnya tinggi, umurnya mungkin
80an tahun, ketika mengobati aku disuruh
menemani.
“Bagaimana penyakitnya mbah?” tanyaku.
“Ini memang disantet orang,” kata lelaki tua itu.
Aku yang saat itu sama sekali awam dengan ilmu santet, hanya berharap Asrifah bisa sembuh.
Lalu lelaki itu mengeluarkan cambuk dari emas, sepanjang setengah meter, tubuh mbak Asrifah dicambuki, setelah itu tangannya disuruh
mengulurkan, dan dari setiap jari mbak Asrifah dikeluarkan paku, juga jari kaki dikeluarkan
paku.
Aku tak kaget, juga tidak heran, cuma ku
lihat saja paku dikeluarkan, lalu paku diberikan
padaku.
“Ini nanti ditanam di pekuburan.” katanya
memerintahku.
“Baik nanti ku tanam.” jawabku.
Lalu pengobatan pun selesai, dia mengatakan
besok akan mengambil jin-jin yang dikirim
seseorang. Aku hanya mangiyakan, dan
mengucapkan terima kasih.
Besoknya, kakek yang kemarin mengobati datang lagi, kali ini datangnya malam hari, dia membawa kendil, aku merasa aneh juga, anehnya waktu sebelum kakek itu datang, aura di rumah Asrifah pekat sekali, bahkan lampu rumah kelihatan dilapisi kabut hitam, sehingga cahayanya gelap...
__ADS_1
Bersambung.....