
“Wah untuk apa Ka, jilbab sebanyak ini?”
tanyaku heran.
“Untuk persediaan aja Yan, siapa tau, aku jadi
jodohmu, hehe…” katanya sambil tersenyum
manis, karena salah satu jilbab langsung dia
kenakan.
“Hm… Kamu makin cantik aja Ka, kalau makai
jilbab.” pujiku tulus.
“Ah yang bener…” katanya dengan pipi bersemu merah.
Dan sekarang, hatiku teriris, Eka menangis di
depanku, karena menangisi keadaanku.
“Ya Alloh, ampunkan aku, kenapa kau jadikan
hatiku selalu runtuh oleh tangis wanita… Kenapa tak kau uji aku dengan yang lain saja.” keluh hatiku, dan aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mengikuti saja, kemana Eka menarik tanganku.
Aku diseretnya masuk depot makan, lalu dia
memesan nasi dan sepotong ayam panggang, juga dua gelas es jeruk. “Nih makan… Pasti kamu beberapa hari tak makan….” katanya
menyodorkan ke depanku, seperti seorang ibu
menyodorkan nasi pada anaknya,
Ku pandangi nasi di depanku, betapa nikmatnya ayam bakar, sambel kecap, air liur begitu saja
terkuras dari sela-sela gigi membasahi
tenggorokan yang tak sabar ingin menikmati
kelezatan.
Tapi aku terpaku, hatiku seperti terbang entah
ke mana, ke dunia yang penuh asma Alloh.
“Heh makan..!” kata Eka suaranya seakan jauh,
walau tepukannya di pundakku.
“Apa kamu sudah lupa cara makan, nih biar ku
suapi…” kata Eka yang segera mengambil piring di depanku, dan mulai menyuapiku, pandangan mataku kosong,
Aku telah berjalan jauh, jauh, dan teramat jauh, sampai di kedalaman dunia, dunia yang hanya kedamaian, danau menghijau, suara airnya melantunkan ayat-ayat suci, pohon-pohon menghijau, tertiup angin singkronisasi, mengalunkan dzikir dengan suara berirama, embun yang setiap waktu turun dan seakan
enggan sampai ke tanah, karena terlena oleh
puja puji pada sang khaliq.
Matahari yang bersinar lembut, dengan
kehangatan yang seakan diukur oleh dokter
paling ahli, sehingga seperti selimut yang
membuatku teramat mengantuk dan terlena, dan aku tak sadar lagi.
“Yan…!” suara itu mengagetkanku, suara Eka
yang menangis dan memelukku, air matanya
membasahi pipi dan bajuku.
Aku kaget, segera melepas pelukannya. Ku lihat piring di depanku telah ludes, juga wedang jeruk telah tinggal gelasnya saja.
“Yan., sadar Yan…!” Eka menepuk-nepuk pipiku.
“Aku sadar…” kataku.
“Udahlah Ka… mending kamu tinggalin aku…”
kataku.
“Tak bisa, kalau perlu aku akan ikut denganmu…” katanya tegang.
__ADS_1
“Kamu ini aneh-aneh aja, ya tak bisalah, kamu
lihat sendiri keadaanku, bagaimana kamu mau
ikut denganku?”
“Kamu mau lari dari kenyataan Yan? Kamu tak
menerima keadaanmu, hingga mau pura-pura
gila?” tanya Eka mencari kesepakatan.
“Siapa yang lari dari kenyataan? Bahkan aku
sangat menerima kenyataan, sudahlah Ka, jangan ngajak berdebat, untuk saat ini biarlah aku sendiri.” kataku memelas,
“Tapi Yan, aku tak rela kamu begini….” Eka
menangis lagi, tanganku diraihnya dan ditempel
ke pipinya, ada air mata mengaliri punggung
tanganku.
“Kadang sesuatu, harus direlakan, aku juga
bukan mau mati, kenapa musti kau tangisi.”
Eka melepas tanganku, dan mencopot gelang,
cincin, kalung yang dipakainya dan menggenggamkannya ke tanganku.
“Ini buatlah bekal, jangan lupakan aku.” katanya dan beranjak pergi.
Sekejap aku bengong, tapi segera mengejar ke
arah mana Eka pergi, ku lihat dia berdiri di tepi
jalan, mencegat bus jurusan Tuban.
“Ka ini apa-apaan,” kataku mengangsurkan
segenggam emas ke tangannya.
“Gak bisa Ka, kamu mau aku ditangkap Polisi,
dengan tuduhan merampokmu?”
“Siapa? Polisi mana yang mau menangkap, kan itu ku berikan ikhlas padamu.”
“Ka… tak bisa Ka…,” ku angsurkan lagi emas ke
tangannya tapi dia tolak.
“Maumu apa sih Yan? Aku ikut denganmu tak
boleh, aku tak tega kau begini, aku tak bawa
uang, biar perhiasanku untuk kau jadikan bekal…,
tolong Yan… Jangan kau biarkan aku menangis tiap malam karena mengkawatirkanmu…” Eka menangis lagi.
“Mengapa tak juga kau mengerti, betapa aku
menyayangimu, dan teramat menyayangimu…”
katanya sambil berjongkok dan menangis sampai tubuhnya terguncang.
“Baik Ka, sekarang apa yang kau mau? Tapi
jangan kau suruh aku membawa perhiasanmu…”
kataku ikut berjongkok.
Dia membuka tapak tangannya yang ditutupkan ke wajahnya.
“Sekarang ikut pulang ke rumahku.” katanya
sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.
“Baik, ini terima perhiasanmu dan simpan.”
kataku mengangsurkan perhiasan ke tangannya,
Pas ada bus jurusan Tuban berhenti, dan kami
__ADS_1
pun segera naik.
Sampai di rumah Eka, aku pun turun dari bus,
masih digandeng Eka, dengan tatapan aneh para
penumpang bus, sampai di dalam rumah, aku langsung digeret ke sumur, ah biarlah, Eka juga
tak akan membunuhku, tatapan bu Asih, dan pak Junaidi, yang ada di kamar tamu, tak digubris, kedua orang itu cuma sempat ngomong,
“Lho Ka, kok sama mas Ian….” tapi kata mereka tak
dijawab, juga tak sempat aku jawab, aku telah digeret ke sumur, dan air satu timba diguyurkan padaku,
“Udah Ka, aku bisa mandi sendiri,” kataku repot, gelagapan.
“Udah biar aku yang mandiin….” katanya sambil mengambil sampo dan mencuci rambut panjangku yang gimbal.
“Udah Ka… Biar aku mandi sendiri…! Udah
ambilin handuk aja.” kataku, ketika Eka mau
mencopot kaos lengan panjangku.
Eka tanpa berkata, pergi meninggalkanku, aku
telah selesai mandi ketika Eka datang membawa handuk dan pakaian ganti, dan tanpa babibu, dia langsung mengelap rambut dan tubuhku.
“Udah aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju.”
kataku mengambil baju ganti dari tangan.
“Ku tunggu di kamar tamu ya, tuh ayah nanyain…”
kata Eka dari luar kamar mandi.
“Heeh, udah nanti aku ke sana.” jawabku.
Setelah ganti baju, aku segera ke ruang tamu,
pak Junaidi, pegawai pemda, orangnya ramah dan suka bercanda, bu Asih ibunya Eka, seorang guru SMP, mereka berdua pun menyambutku dengan ramah, aku bersalaman dan duduk di kursi.
“Ketemu di mana, dengan Eka dik Iyan?” tanya
bu Asih.
“Wah tadi ku temukan di setasiun, lagi jadi
gelandangan,” kata Eka, yang baru keluar dari
dalam dan membawa sisir, lalu begitu saja
menyisir rambutku, ku tolak tapi tetep aja Eka
menyisir sambil berdiri di kursi yang ku duduki.
“Udah makan nak Ian? Mbok sana Ka disiapkan makan…” kata pak Junaidi.
Sebentar terdiam, “Sekedar teman, atau….
pacaran… Maksudku kekasih.”
“Ya selama ini kami cuma berteman akrab kok
pak, tak lebih, juga bukan sepasang kekasih.”
jawabku tenang.
“Tapi Eka itu sayang banget sama nak Ian, yang diceritakan tiap hari ke ibunya, hanya nak Ian
aja….” tambah pak Junaidi.
“Saya juga sayang sama Eka kok pak, tapi sayang antara sahabat, tak terkotori nafsu birahi, saya menghargai dan menghormati Eka, jika ada yang mengganggu Eka, saya akan membelanya dengan sekuat saya.” kataku masih tanpa emosi.
“Ya kalau begitu bapak mengerti… Silahkan
diminum tehnya nak, bapak tinggal dulu…” kata
pak Junaidi meninggalkanku.
Sebentar kemudian Eka telah datang membawa ikan lele segar, dan langsung memasaknya jadi pecel lele, kami makan bareng.
Sore itu aku pamitan, Eka dan ayah ibunya
memintaku tinggal lebih lama, tapi aku memaksa pergi,,
__ADS_1