Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Eka eka


__ADS_3

“Wah untuk apa Ka, jilbab sebanyak ini?”


tanyaku heran.


“Untuk persediaan aja Yan, siapa tau, aku jadi


jodohmu, hehe…” katanya sambil tersenyum


manis, karena salah satu jilbab langsung dia


kenakan.


“Hm… Kamu makin cantik aja Ka, kalau makai


jilbab.” pujiku tulus.


“Ah yang bener…” katanya dengan pipi bersemu merah.


Dan sekarang, hatiku teriris, Eka menangis di


depanku, karena menangisi keadaanku.


“Ya Alloh, ampunkan aku, kenapa kau jadikan


hatiku selalu runtuh oleh tangis wanita… Kenapa tak kau uji aku dengan yang lain saja.” keluh hatiku, dan aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya, mengikuti saja, kemana Eka menarik tanganku.


Aku diseretnya masuk depot makan, lalu dia


memesan nasi dan sepotong ayam panggang, juga dua gelas es jeruk. “Nih makan… Pasti kamu beberapa hari tak makan….” katanya


menyodorkan ke depanku, seperti seorang ibu


menyodorkan nasi pada anaknya,


Ku pandangi nasi di depanku, betapa nikmatnya ayam bakar, sambel kecap, air liur begitu saja


terkuras dari sela-sela gigi membasahi


tenggorokan yang tak sabar ingin menikmati


kelezatan.


Tapi aku terpaku, hatiku seperti terbang entah


ke mana, ke dunia yang penuh asma Alloh.


“Heh makan..!” kata Eka suaranya seakan jauh,


walau tepukannya di pundakku.


“Apa kamu sudah lupa cara makan, nih biar ku


suapi…” kata Eka yang segera mengambil piring di depanku, dan mulai menyuapiku, pandangan mataku kosong,


Aku telah berjalan jauh, jauh, dan teramat jauh, sampai di kedalaman dunia, dunia yang hanya kedamaian, danau menghijau, suara airnya melantunkan ayat-ayat suci, pohon-pohon menghijau, tertiup angin singkronisasi, mengalunkan dzikir dengan suara berirama, embun yang setiap waktu turun dan seakan


enggan sampai ke tanah, karena terlena oleh


puja puji pada sang khaliq.


Matahari yang bersinar lembut, dengan


kehangatan yang seakan diukur oleh dokter


paling ahli, sehingga seperti selimut yang


membuatku teramat mengantuk dan terlena, dan aku tak sadar lagi.


“Yan…!” suara itu mengagetkanku, suara Eka


yang menangis dan memelukku, air matanya


membasahi pipi dan bajuku.


Aku kaget, segera melepas pelukannya. Ku lihat piring di depanku telah ludes, juga wedang jeruk telah tinggal gelasnya saja.


“Yan., sadar Yan…!” Eka menepuk-nepuk pipiku.


“Aku sadar…” kataku.


“Udahlah Ka… mending kamu tinggalin aku…”


kataku.


“Tak bisa, kalau perlu aku akan ikut denganmu…” katanya tegang.

__ADS_1


“Kamu ini aneh-aneh aja, ya tak bisalah, kamu


lihat sendiri keadaanku, bagaimana kamu mau


ikut denganku?”


“Kamu mau lari dari kenyataan Yan? Kamu tak


menerima keadaanmu, hingga mau pura-pura


gila?” tanya Eka mencari kesepakatan.


“Siapa yang lari dari kenyataan? Bahkan aku


sangat menerima kenyataan, sudahlah Ka, jangan ngajak berdebat, untuk saat ini biarlah aku sendiri.” kataku memelas,


“Tapi Yan, aku tak rela kamu begini….” Eka


menangis lagi, tanganku diraihnya dan ditempel


ke pipinya, ada air mata mengaliri punggung


tanganku.


“Kadang sesuatu, harus direlakan, aku juga


bukan mau mati, kenapa musti kau tangisi.”


Eka melepas tanganku, dan mencopot gelang,


cincin, kalung yang dipakainya dan menggenggamkannya ke tanganku.


“Ini buatlah bekal, jangan lupakan aku.” katanya dan beranjak pergi.


Sekejap aku bengong, tapi segera mengejar ke


arah mana Eka pergi, ku lihat dia berdiri di tepi


jalan, mencegat bus jurusan Tuban.


“Ka ini apa-apaan,” kataku mengangsurkan


segenggam emas ke tangannya.


“Gak bisa Ka, kamu mau aku ditangkap Polisi,


dengan tuduhan merampokmu?”


“Siapa? Polisi mana yang mau menangkap, kan itu ku berikan ikhlas padamu.”


“Ka… tak bisa Ka…,” ku angsurkan lagi emas ke


tangannya tapi dia tolak.


“Maumu apa sih Yan? Aku ikut denganmu tak


boleh, aku tak tega kau begini, aku tak bawa


uang, biar perhiasanku untuk kau jadikan bekal…,


tolong Yan… Jangan kau biarkan aku menangis tiap malam karena mengkawatirkanmu…” Eka menangis lagi.


“Mengapa tak juga kau mengerti, betapa aku


menyayangimu, dan teramat menyayangimu…”


katanya sambil berjongkok dan menangis sampai tubuhnya terguncang.


“Baik Ka, sekarang apa yang kau mau? Tapi


jangan kau suruh aku membawa perhiasanmu…”


kataku ikut berjongkok.


Dia membuka tapak tangannya yang ditutupkan ke wajahnya.


“Sekarang ikut pulang ke rumahku.” katanya


sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.


“Baik, ini terima perhiasanmu dan simpan.”


kataku mengangsurkan perhiasan ke tangannya,


Pas ada bus jurusan Tuban berhenti, dan kami

__ADS_1


pun segera naik.


Sampai di rumah Eka, aku pun turun dari bus,


masih digandeng Eka, dengan tatapan aneh para


penumpang bus, sampai di dalam rumah, aku langsung digeret ke sumur, ah biarlah, Eka juga


tak akan membunuhku, tatapan bu Asih, dan pak Junaidi, yang ada di kamar tamu, tak digubris, kedua orang itu cuma sempat ngomong,


“Lho Ka, kok sama mas Ian….” tapi kata mereka tak


dijawab, juga tak sempat aku jawab, aku telah digeret ke sumur, dan air satu timba diguyurkan padaku,


“Udah Ka, aku bisa mandi sendiri,” kataku repot, gelagapan.


“Udah biar aku yang mandiin….” katanya sambil mengambil sampo dan mencuci rambut panjangku yang gimbal.


“Udah Ka… Biar aku mandi sendiri…! Udah


ambilin handuk aja.” kataku, ketika Eka mau


mencopot kaos lengan panjangku.


Eka tanpa berkata, pergi meninggalkanku, aku


telah selesai mandi ketika Eka datang membawa handuk dan pakaian ganti, dan tanpa babibu, dia langsung mengelap rambut dan tubuhku.


“Udah aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju.”


kataku mengambil baju ganti dari tangan.


“Ku tunggu di kamar tamu ya, tuh ayah nanyain…”


kata Eka dari luar kamar mandi.


“Heeh, udah nanti aku ke sana.” jawabku.


Setelah ganti baju, aku segera ke ruang tamu,


pak Junaidi, pegawai pemda, orangnya ramah dan suka bercanda, bu Asih ibunya Eka, seorang guru SMP, mereka berdua pun menyambutku dengan ramah, aku bersalaman dan duduk di kursi.


“Ketemu di mana, dengan Eka dik Iyan?” tanya


bu Asih.


“Wah tadi ku temukan di setasiun, lagi jadi


gelandangan,” kata Eka, yang baru keluar dari


dalam dan membawa sisir, lalu begitu saja


menyisir rambutku, ku tolak tapi tetep aja Eka


menyisir sambil berdiri di kursi yang ku duduki.


“Udah makan nak Ian? Mbok sana Ka disiapkan makan…” kata pak Junaidi.


Sebentar terdiam, “Sekedar teman, atau….


pacaran… Maksudku kekasih.”


“Ya selama ini kami cuma berteman akrab kok


pak, tak lebih, juga bukan sepasang kekasih.”


jawabku tenang.


“Tapi Eka itu sayang banget sama nak Ian, yang diceritakan tiap hari ke ibunya, hanya nak Ian


aja….” tambah pak Junaidi.


“Saya juga sayang sama Eka kok pak, tapi sayang antara sahabat, tak terkotori nafsu birahi, saya menghargai dan menghormati Eka, jika ada yang mengganggu Eka, saya akan membelanya dengan sekuat saya.” kataku masih tanpa emosi.


“Ya kalau begitu bapak mengerti… Silahkan


diminum tehnya nak, bapak tinggal dulu…” kata


pak Junaidi meninggalkanku.


Sebentar kemudian Eka telah datang membawa ikan lele segar, dan langsung memasaknya jadi pecel lele, kami makan bareng.


Sore itu aku pamitan, Eka dan ayah ibunya


memintaku tinggal lebih lama, tapi aku memaksa pergi,,

__ADS_1


__ADS_2