
Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai apa yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam-khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal.
Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah s.w.t. Kita berlindung kepada Allah s.w.t dari godaan setan yang terkutuk.
Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawamkan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah s.w.t dengan proses yang diatur oleh-Nya.
Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam Apabila khodam- khodam itu diburu, kemudian orang mendapat- kan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah s.w.t, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda- tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang dari arah yang tidak di sangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian
itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia.
Demikianlah yang dinyatakan Allah s.w.t:
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk
menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga.” (QS. ath-Tholaq; 65/2-3).
Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah
s.w.t sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya.
Hanya saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji- janji-Nya. Di luar itu, orang-orang yang dengan sengaja menjalani laku untuk memperoleh keilmuan itu sudah dipastikan akan mendapat khodam jin, orang yang menjalankan laku dengan keikhlasan menjalani saja masih akan didatangi jin, untuk sekedar ingin menjadi khodam, apalagi yang menjalankan lelaku yang ada kehendak maksud tujuan pada selain Allah, yaitu kesaktian, kelebihan dalam hal tertentu, pasti jin sudah akan mendatangi, cuma orang yang menjalankan lelaku secara ikhlas, ketika dirinya didatangi jin untuk menolong membantunya, lantas dia tidak perduli, maka dirinya akan naik ke tingkatan level yang lebih tinggi, lantas para malaikat akan didatangkan Allah untuk menjadi khodamnya, dengan menjalankan apa yang menjadi kehendak dan keperluan orang itu, ketika orang itu tidak perduli, maka dia akan naik ke level yang lebih tinggi lagi sampai dirinya itu diijabah langsung oleh Allah tanpa harus dengan perantara atau sebab yang menjadikan hal itu terjadi.
“Jadi walau misal saya menjalankan wirid atau menjalankan laku dzikir itu tetap saja khodamnya adalah dari jin?”
__ADS_1
“Ya itulah proses yang sudah ku sebutkan.”
“Lalu bagaimana mengetahui khodam itu jin atau bukan?”
“Kalau jin itu jelas, mudah diketahui, sebab jin itu juga punya nafsu, kehendak da kepentingan, sekalipun dia itu adalah jin muslim.”
“Bagaimana cara mengetahuinya?”
“Ya kan kalau amalan itu memakai ada kemenyan, kembang, sesajen, penyediaan minyak wangi atau ugo rampe persyaratan, jelas itu tak bisa dipungkiri itu adalah unsur khodam jin.” jelasku.
“Lalu apa menulis rajah rajah, itu juga sama?”
“Ya sama itu juga jin, cuma bukan jin penghuni bumi ini, tapi dari jin penghuni tuju bintang.”
“Bukan, malaikat itu hanya tunduk kepada Allah, tidak tunduk kepada manusia manapun, jadi khodam malaikat misal punya itu dari yang Allah anugerahkan, bukan dari belajar ilmu tertentu dan yang jelas malaikat itu tak doyan makan, juga tak doyan sesembahan, atau sesajen apapun, la kalau malaikat itu doyan makan, akan terjadi cerita aneh, karena ada malaikat maut yang nongkrong di warung bakso, ketika mau mencabut nyawa seseorang yang rumahnya dekat warung bakso, karena mencium bau bakso jadi ngiler, dan ingin mencicipi, ndak pernah kan mendengar cerita seperti itu?”
“Wah kyai bisa saja…”
“Lalu bagaimana dengan orang yang mengamalkan hizib? dan dzikir yang macem -macem, apa juga khodamnya khodam jin?”
“Ya itu tadi, awalnya seseorang itu akan tetap didatangi khodam jin, sekalipun orang tarekat juga sama, yang menjalankan amaliyah thoreqoh, juga akan didatangi khodam jin, ya pertama untuk menjadi khodam kita, nah kita di saat itu kepincut tidak?”
“Wah kalau begitu ya harus hati-hati, dan sulit juga membedakan mana yang khodam malaikat atau khodam jin.”
__ADS_1
“Makanya sebaiknya menjalankan lelaku mendekatkan diri kepada Allah itu butuh guru pembimbing, sebagaimana orang mau ke Jakarta naik bus butuh sopir bus yang sudah tau jalannya, sehingga orang tak salah jalan, dan kesasar kemana-mana.
Seorang sopir itu tak harus orang hebat, asal dia sudah hafal jalannya karena sudah biasa melewatinya, sekalipun seorang penumpang lebih pintar menyetir malah sebagai pilot pesawat, kalau dia tak tau jalan yang dituju, ya harus tetap jadi penumpang, ndak usah ngeyel jadi sopir, karena merasa pinter nyetir, jika naik bus juga harus mau dibawa belok kanan atau ke kiri oleh sopir, jangan komplain, karena bus dibelokkan ke kanan, atau bus dibelokkan ke kiri. Seorang guru pembimbing spiritual itu tak perlu orang hebat atau sakti mandraguna, asal orang itu benar-benar sudah hafal jalan dan biasa melewatinya, maka sudah pantas dijadikan sopir.”
Ku lihat pak Sutono sudah ngantuk, ku suruh
saja dia tidur.
Esoknya, karena anaknya sudah sembuh pak Sutono pamit dan berjanji, akan bersama serombongan temannya penjual bubur kacang hijau minta ijin untuk ikut pengajian rutin, ku iyakan saja, padahal aku juga yakin itu hanya basa-basi dan sampai cerita ini ku tulis juga tak nongol ikut pengajian sama sekali, aku tak memperdulikan, bagiku ajakanku sudah dicatat di sisi Allah menjadi amal ibadah, dan tak akan hilang atau terganggu dengan kedatangan atau tak datang, atau dusta atau tidaknya orang yang ku ajak.
Ketika kejadian soal anaknya pak Sutono itu ada banyak juga pasien di rumahku yang kebanyakan adalah soal serangan gaib dan soal jin, ada yang bertanya, kenapa kok orang tasawuf, atau orang thoreqoh itu selalu bersinggungan dengan klenik dan soal gaib dan jin? Sebenarnya secara pribadi, saya sama sekali tidak tau soal jin, dan aneka macam klenik, jadi memberi pertolongan semata mata bersandar pada Allah, jadi jangan dikira lantas saya sendiri tau soal jin, apalagi soal isi dari senjata, kalau dideteksi dengan ilmu trawang atau ilmu teropong, ya jelas akan gak ada apa- apanya, karena memang orang thoreqoh itu hanya belajar bagaimana membersihkan ruhani, sehingga ruhani itu pantas diisi oleh Allah sifat ikhlas, ridho, sabar, qonaah, dalam menerima taqdir Allah, jadi kok kemudian ada kelebihan apapun dalam diri maka itu sama sekali saya sendiri tak tau, taunya setelah dipraktekkan, ooo ternyata saya diberi atau dianugerahi Allah kelebihan seperti ini.
Orang-orang yang sudah menjalankan amaliyah dariku juga akan tau kalau yang dijalankan oleh orang thoreqoh itu sama sekali ndak ada unsur mempelajari ilmu gaib, dan mempelajari ilmu hikmah, semua hanya membersihkan diri dari budi pekerti tercela dan mengganti dengan budi pekerti terpuji, jadi kok kemudian ada orang yang minta pertolongan ini itu, sebenar nya secara hakikatnya juga tak tau, apa ini nanti bisa menolong apa enggak, ya pasrah saja pada pertolongan Allah.
Datang seorang ibu-ibu, setengah baya, aku seperti pernah melihatnya tapi di mana lupa.
“Apa ada yang bisa saya bantu bu?” tanyaku, setelah duduk di depan ibu yang kurus kering tubuhnya.
“Saya ini sakit kyai…” jawabnya lirih.
“Sakit apa?”
“Sakit disantet orang..”
__ADS_1
“Disantet…?” tanyaku heran.