
Sampailah motorku di depan rumah paman
Mursid.
Setelah mengucap salam, kami segera masuk,
nampak di dalam juga banyak orang, dengan para lelaki aku segera bersalaman, ternyata juga
banyak tukang suwuk (mungkin di tempat lain
disebut dukun, tapi di daerahku disebut tukang
suwuk, red.)
ada kang Nur. Aku sebenarnya lebih
mengenal orang ini adalah pelatih pencak silat,
aku ingat waktu kecil orang ini suka menunjukkan ketrampilannya,
berjalan di atas pedang,
bergulingan di atas duri salak,
makan pecahan kaca dan melengkungkan besi menggunakan lehernya, di saat keramaian tujubelasan Agustus.
Lalu yang ku salami yang kedua adalah kang
Widji, orang ini sering dimintai oleh pemuda
desa ilmu-ilmu pukulan,
seperti lebur sekti,lembu sekilan dan lain-lain. Yang ku salami ketiga
adalah pamanku, adik sepupu dari ayahku,
namanya Muhsin, dia terkenal di daerahku
sebagai orang yang menyembuhkan penyakit
karena kerasukan jin, kesurupan, serta suka
memagar rumah, mengambil wesi aji,
yang lain adalah orang biasa.
Aku juga menyalami Muhamad anak terbesar dari pamanku Mursid.
Setelah menyalami aku pun mencari tempat
duduk yang nyaman.
Memang setelah melihat keadaan paman Mursid, sungguh orang siapa saja
melihat pasti akan kasihan karena memang
keadaannya sangat memprihatinkan.
Wajahnya kelihatan tua, padahal umurnya tak
lebih dari limapuluh tahun tapi wajah paman
Mursid seperti ketarik ke dalam, pipinya seperti
masuk ke dalam, rongga matanya juga menjorok
ke dalam, sampai seperti kubangan hitam,
lehernya mengecil, seakan-akan mengkeret.
Semua tulang iganya menonjok keluar, kulihat
wajah paman Mursid seperti menahan
penderitaan yang tak tertahan.
__ADS_1
Karena tubuh paman Mursid tak berbaju mungkin syarat dari dukun, karena banyak kembang aneka warna di
sekitar tubuhnya, jadi aku bisa melihat
perutnya.
Oh ada gumpalan dalam perut sebesar
kepalan tangan, aku tak berani bertanya, apa
itu?
Tiba-tiba tubuh paman Mursid mengejang-
ngejang, semua orang ribut, bibi Asiah menangiskarena melihat suaminya seperti merasa sakit yang amat dasyat,
para tukang suwuk pun
berupaya menolong dengan segala daya, ada yang mengeluarkan jurus, ada yang meniup-niup, ada yang menyiprat-nyipratkan air, suasana tegang sekali, dan aku tetap duduk di kursi, melihat dari jauh, oh nampak olehku gumpalan di perut paman Mursid hidup dan bergerak kesana kemari,
paman Mursid melenguh-lenguh kakinya
menjejak-jejak tapi tubuhnya tetap di tempat.
Ah ngeri aku. Namun usaha para tukang suwuk
ini sama sekali tak ada manfaatnya.
Bibi Asiah menangis menggerung-nggerung
melihat keadaan suaminya, juga Muhamad anak tertua paman Mursid juga menangis di sebelah kiri paman Mursid. Tiba -tiba bibi Asiah
menghampiriku, dan mencengkeram lenganku,
“Dek Ian, ayolah bantu dek Ian huhuu… jangan
melihat saja… siapa tau kesembuhannya
dititipkan kepada dek Ian…, huhu… dek Ian kan
dari Banten pasti bisa mengobati…” aku kaget.
dengan jari telunjukku sendiri.
“Aku tak bisa apa-apa, wong di Banten itu tak
diajari apa-apa…” kataku jujur, tapi mana mau
orang panik mendengar. Aku main tarik-tarikan
dengan bibi Asiah. Tiba-tiba kudengar suara
ibuku di dekatku, “Cobalah nang… Tak ada
salahnya dicoba…” aku tak pernah membantah
ibuku maka aku pun maju ke tempat paman
Mursid ditidurkan, tubuhnya masih mengejang-
ngejang.
Sungguh aku tak tau, harus berbuat apa?
Pura-pura mencak-mencak, ah kayaknya kurang bijak,di tempat orang sakit.
Ku ingat-ingat aku sering melihat Kyai mengobati orang, ah salah satu cara aja yang kupakai,setidaknya ada yang kulakukan.
Andai tak berhasilpun, aku tak akan disalahkan,
wong orang yang telah punya nama sebagai
tukang suwuk aja, tak berhasil apalagi aku yang
bekas bocah ndugal.
__ADS_1
Tanpa ragu aku melangkah maju, duduk di
samping kanan paman Mursid, sementara di
sebelah kirinya paman Mursid adalah anaknya
yang bernama Muhamad.
Aku segera duduk bersila, wirid yang selama ini
kubaca, satu per satu kubaca tiga kali dengan
menahan napas, segala cipta rasa kukerahkan,
akal kukonsentrasikan, rasa getaran halus
berpendaran mengalir dari pusarku ke arah
tapak tanganku, kupikirkan keluar dari tapak
tanganku masuk ke tubuh paman Mursid
membelitnya, mengikatnya kemudian menarik
keluar, kugenggam dalam tanganku, lalu kubuang.
Buk…!
Suara gedebukan dari tubuh Muhamad
yang tadi ada di samping kiri paman Mursid,
tempat aku membuang apa yang kuambil, aku tak menyangka akan berakibat seperti itu. sekarang pemuda itu terjengkang ke belakang, kemudian berdiri dan tertawa-tawa, suaranya berat menyeramkan,
“Hua haha..keluarga ini akan ku habiskan,
huahahaha.”
Aku tak memperdulikan Muhamad yang
kerasukan dan diurusi oleh para tukang suwuk,
termasuk pamanku Muhsin, ku salurkan energi
lagi, menyalurkan energi? Ah lebih tepatnya aku
menghayal seakan-akan menyalurkan energi,
hayalan tingkat tinggi. Tubuh paman Mursid
sudah tidak kejang-kejang, gumpalan di perutnya
juga sudah tak ada, jangan dikira walau cuma
ngayal menyalurkan energi, tapi huh keringatku
sebesar kacang polong, luber sampai bajuku
basah, tanganku yang kanan,
ku arahkan ke atas dada berjarak sepuluh senti, tanpa menyentuh kulit, yang kiri kuarahkan ke kepala juga tanpa menyentuh kepala, terasa energi bergulung-gulung kearah kedua tanganku, perlahan tapi pasti, kedua mata paman Mursid terbuka, lalu
melihatqu. “Oh dek Ian, terimakasih..” suaranya
pelan tapi, efeknya semua orang yang ada di situ menangis, bibi Asiah memelukku erat sekali,menangis nggugak guguk, dia tumpahkan syukurnya yang tiada terkira, betapa selama ini ia pontang-panting mencari obat untuk menyembuhkan paman Mursid yang tak pernah sadar selama tiga bulan, bahkan dokter juga telah tak sanggup, eh tanpa kusentuh bisa
begitu saja sembuh.
“Kenapa tak dari kemaren-kemaren dek Ian, dek
Ian, sudah habis air mataku…” kata bik Asiah,
masih menangis, dia melepaskan pelukannya,
kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu
__ADS_1
bersimpuh di tepi ranjang suaminya,,
Bersambung...