Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Berkumpulnya orang2 Sakti


__ADS_3

Sampailah motorku di depan rumah paman


Mursid.


Setelah mengucap salam, kami segera masuk,


nampak di dalam juga banyak orang, dengan para lelaki aku segera bersalaman, ternyata juga


banyak tukang suwuk (mungkin di tempat lain


disebut dukun, tapi di daerahku disebut tukang


suwuk, red.)


ada kang Nur. Aku sebenarnya lebih


mengenal orang ini adalah pelatih pencak silat,


aku ingat waktu kecil orang ini suka menunjukkan ketrampilannya,


berjalan di atas pedang,


bergulingan di atas duri salak,


makan pecahan kaca dan melengkungkan besi menggunakan lehernya, di saat keramaian tujubelasan Agustus.


Lalu yang ku salami yang kedua adalah kang


Widji, orang ini sering dimintai oleh pemuda


desa ilmu-ilmu pukulan,


seperti lebur sekti,lembu sekilan dan lain-lain. Yang ku salami ketiga


adalah pamanku, adik sepupu dari ayahku,


namanya Muhsin, dia terkenal di daerahku


sebagai orang yang menyembuhkan penyakit


karena kerasukan jin, kesurupan, serta suka


memagar rumah, mengambil wesi aji,


yang lain adalah orang biasa.


Aku juga menyalami Muhamad anak terbesar dari pamanku Mursid.


Setelah menyalami aku pun mencari tempat


duduk yang nyaman.


Memang setelah melihat keadaan paman Mursid, sungguh orang siapa saja


melihat pasti akan kasihan karena memang


keadaannya sangat memprihatinkan.


Wajahnya kelihatan tua, padahal umurnya tak


lebih dari limapuluh tahun tapi wajah paman


Mursid seperti ketarik ke dalam, pipinya seperti


masuk ke dalam, rongga matanya juga menjorok


ke dalam, sampai seperti kubangan hitam,


lehernya mengecil, seakan-akan mengkeret.


Semua tulang iganya menonjok keluar, kulihat


wajah paman Mursid seperti menahan


penderitaan yang tak tertahan.

__ADS_1


Karena tubuh paman Mursid tak berbaju mungkin syarat dari dukun, karena banyak kembang aneka warna di


sekitar tubuhnya, jadi aku bisa melihat


perutnya.


Oh ada gumpalan dalam perut sebesar


kepalan tangan, aku tak berani bertanya, apa


itu?


Tiba-tiba tubuh paman Mursid mengejang-


ngejang, semua orang ribut, bibi Asiah menangiskarena melihat suaminya seperti merasa sakit yang amat dasyat,


para tukang suwuk pun


berupaya menolong dengan segala daya, ada yang mengeluarkan jurus, ada yang meniup-niup, ada yang menyiprat-nyipratkan air, suasana tegang sekali, dan aku tetap duduk di kursi, melihat dari jauh, oh nampak olehku gumpalan di perut paman Mursid hidup dan bergerak kesana kemari,


paman Mursid melenguh-lenguh kakinya


menjejak-jejak tapi tubuhnya tetap di tempat.


Ah ngeri aku. Namun usaha para tukang suwuk


ini sama sekali tak ada manfaatnya.


Bibi Asiah menangis menggerung-nggerung


melihat keadaan suaminya, juga Muhamad anak tertua paman Mursid juga menangis di sebelah kiri paman Mursid. Tiba -tiba bibi Asiah


menghampiriku, dan mencengkeram lenganku,


“Dek Ian, ayolah bantu dek Ian huhuu… jangan


melihat saja… siapa tau kesembuhannya


dititipkan kepada dek Ian…, huhu… dek Ian kan


dari Banten pasti bisa mengobati…” aku kaget.


dengan jari telunjukku sendiri.


“Aku tak bisa apa-apa, wong di Banten itu tak


diajari apa-apa…” kataku jujur, tapi mana mau


orang panik mendengar. Aku main tarik-tarikan


dengan bibi Asiah. Tiba-tiba kudengar suara


ibuku di dekatku, “Cobalah nang… Tak ada


salahnya dicoba…” aku tak pernah membantah


ibuku maka aku pun maju ke tempat paman


Mursid ditidurkan, tubuhnya masih mengejang-


ngejang.


Sungguh aku tak tau, harus berbuat apa?


Pura-pura mencak-mencak, ah kayaknya kurang bijak,di tempat orang sakit.


Ku ingat-ingat aku sering melihat Kyai mengobati orang, ah salah satu cara aja yang kupakai,setidaknya ada yang kulakukan.


Andai tak berhasilpun, aku tak akan disalahkan,


wong orang yang telah punya nama sebagai


tukang suwuk aja, tak berhasil apalagi aku yang


bekas bocah ndugal.

__ADS_1


Tanpa ragu aku melangkah maju, duduk di


samping kanan paman Mursid, sementara di


sebelah kirinya paman Mursid adalah anaknya


yang bernama Muhamad.


Aku segera duduk bersila, wirid yang selama ini


kubaca, satu per satu kubaca tiga kali dengan


menahan napas, segala cipta rasa kukerahkan,


akal kukonsentrasikan, rasa getaran halus


berpendaran mengalir dari pusarku ke arah


tapak tanganku, kupikirkan keluar dari tapak


tanganku masuk ke tubuh paman Mursid


membelitnya, mengikatnya kemudian menarik


keluar, kugenggam dalam tanganku, lalu kubuang.


Buk…!


Suara gedebukan dari tubuh Muhamad


yang tadi ada di samping kiri paman Mursid,


tempat aku membuang apa yang kuambil, aku tak menyangka akan berakibat seperti itu. sekarang pemuda itu terjengkang ke belakang, kemudian berdiri dan tertawa-tawa, suaranya berat menyeramkan,


“Hua haha..keluarga ini akan ku habiskan,


huahahaha.”


Aku tak memperdulikan Muhamad yang


kerasukan dan diurusi oleh para tukang suwuk,


termasuk pamanku Muhsin, ku salurkan energi


lagi, menyalurkan energi? Ah lebih tepatnya aku


menghayal seakan-akan menyalurkan energi,


hayalan tingkat tinggi. Tubuh paman Mursid


sudah tidak kejang-kejang, gumpalan di perutnya


juga sudah tak ada, jangan dikira walau cuma


ngayal menyalurkan energi, tapi huh keringatku


sebesar kacang polong, luber sampai bajuku


basah, tanganku yang kanan,


ku arahkan ke atas dada berjarak sepuluh senti, tanpa menyentuh kulit, yang kiri kuarahkan ke kepala juga tanpa menyentuh kepala, terasa energi bergulung-gulung kearah kedua tanganku, perlahan tapi pasti, kedua mata paman Mursid terbuka, lalu


melihatqu. “Oh dek Ian, terimakasih..” suaranya


pelan tapi, efeknya semua orang yang ada di situ menangis, bibi Asiah memelukku erat sekali,menangis nggugak guguk, dia tumpahkan syukurnya yang tiada terkira, betapa selama ini ia pontang-panting mencari obat untuk menyembuhkan paman Mursid yang tak pernah sadar selama tiga bulan, bahkan dokter juga telah tak sanggup, eh tanpa kusentuh bisa


begitu saja sembuh.


“Kenapa tak dari kemaren-kemaren dek Ian, dek


Ian, sudah habis air mataku…” kata bik Asiah,


masih menangis, dia melepaskan pelukannya,


kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu

__ADS_1


bersimpuh di tepi ranjang suaminya,,


Bersambung...


__ADS_2