
Ya sehari kadang sampai ada 300-400 pesan masuk, dan setiap pesan yang masuk, aku tak bisa mengetahui setiap orang perorang, apalagi kalau jawab pakai opera mini, tak ketahuan fotonya, apalagi kalau orangnya memakai foto bukan foto asli, maka makin sulit lagi, hampir tiap hari ada saja teman facebook datang ke rumahku, bahkan ada yang jauh-jauh sengaja datang naik pesawat, malah pernah ada yang sudah bela-belain datang naik pesawat, dan sudah sampai di rumahku, aku sendiri sedang dalam menjalani kholwat tidak menemui siapapun, makin susah kan, ya kenapa juga gak kasih kabar kalau mau ketemu.
“Ada keperluan apa?” tanyaku.
“Saya ingin minta dilihat apa saya ada jinnya..” kata satu orang, sebut saja namanya Rohman.
“Kenapa tak lewat facebook saja? kan bisa lewat dari facebook.” kataku.
“Ya biar makin mantep ketemuan sama mas…”
“Ooo ya udah ndak papa, coba minum air ini” Kataku setelah mengambil air, dan ku tiup.
“Dia lantas meminum air…”
Lantas ku sodorkan fotoku di depannya.
“Ini jarinya ditempelkan.” Lalu ku lihat dia menempelkan jari telunjuknya di tengah dada falam foto, sebentar-sebentar dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Wajah mas berubah-rubah..” katanya sambil
menggelengkan kepala.
Biasanya, ini biasanya, saya sendiri juga tak tau bagaimana kok bisa begitu, jadi ini ku ambil dari kebiasaan saja, sebenarnya aku sendiri juga tak tau kenapa kok jadi seperti itu, biasanya kalau di dalam tubuh seseorang tersebut ada beberapa jin, misal 10 jin maka fotoku akan berubah menjadi 10 wajah, menampilkan gambar wajah jin yang ada di dalam tubuh orang tersebut.
Benar saja suara pemuda yang di depanku sudah berubah, menjadi suara orang lain.
“Siapa?” tanyaku.
“Hmmm… aku jin…”
“Muslim?”
“Ya aku muslim..”
“Assalamualaikum..” ucapku.
“Waalaikum salam..”
“Kenapa kamu di dalam?”
“Saya dikirim.”
“Atas perintah siapa?”
“Atas perintah perempun yang pernah disakiti oleh pemuda ini”
“Lalu maksudnya?”
“Maksudnya ya saya diminta menghancurkan kehidupan pemuda ini.”
“Lhah kamu kan jin muslim, antara muslim dengan muslim yang lain kan saudara, bagaimana kamu kok bisa dan mau dikirim untuk menghancurkan pemuda ini?”
“Saya ditaklukkan orang yang mengirimku.”
“Wah hebat berarti yang mengirimmu itu?”
“Ya…”
“Lalu kenapa kamu ndak keluar dan lari?”
“Saya tak bisa keluar”
“Kenapa?”
“Karena saya diancam dan saya tak tau bagaimana caranya saya harus keluar.”
“Hm begitu….?”
“Aduh tubuhku ini kamu apakan ustad…?”
__ADS_1
“Kenapa? Aku tak mengapa-apakan.”
“Tapi tubuhku sama sekali tak berdaya, seperti
ditindih gunung”
“Ya kan kamu lihat sendiri aku juga tak tau, aku kan tak mengapa-apakanmu.”
“Berapa jin di dalam tubuh pemuda ini?”
“Banyak…”
“Berapa?”
“Ada 20 an jin..”
“20? wah banyak juga.”
“Iya, tapi mereka semua jin fasik dan semua sudah kabur, ketika masuk kesini tadi, semua takut pada ustad?”
“Takut padaku?”
“Ya..”
“Apa mereka semua bentuknya?”
“Ada yang berbentuk macan, ada yang berbentuk ular, kera dan lain-lain, pokoknya macam-macam, tapi mereka cemen semua, masak sama ustadz takut, hahahaha…”
“Wah wah.. mungkin mereka merasa kalah ganteng sama aku, sehingga keder,minder hehehe…”
“Ustad bisa saja, hehehe… ustad tau apa
bentukku?”
“Aku tak tau, wong aku ndak bisa melihat jin..”
“Wah naga besar kalau begitu?”
“Ya sebesar pohon kelapa…”
“Wah ngeri juga bentukmu, hhehehe..”
“Aduuuh… aku ustad apakan, kok semua badanku sakit begini?”
“Aku tak mengapa-apakan kamu.”
“Ustad tau tidak, aku ini umurku berapa??”
“Ya mana aku tau, memangnya umurmu berapa?”
“Umurku sudah ribuan tahun, aku dulu murid Sunan Gunung Jati, yang mengislamkanku kanjeng Sunan Gunung Jati, aku juga sebenarnya bertugas menjaga makam Sunan Gunung Jati.”
“Wah senang berkenalan denganmu, siapa namamu?” lalu dia membisikkan namanya di
telingaku dan karena yang melihat banyak maka dia membisikkan lagi sesuatu padaku.
“Kamu keluar ya dari tubuh orang ini?”
“Ya saya mau ustad, mau sekali, apalagi ustad yang memerintahkan, ustad adalah murid syaikh Abdul Qodir ******, semua bangsaku takut dan tunduk pada kewalian beliau, jadi saya ustad perintahkan, dengan senang hati saya akan keluar”
“Lalu kenapa ndak keluar?”
“Saya tak bisa keluar ustad.”
“Kenapa?”
“Ya saya tak tau..”
“Ustad…! Boleh saya meminta ijazah ilmunya..?”
__ADS_1
“Untuk apa, bukankah ilmumu sudah banyak?” “Masih banyakan ustad..”
“Ilmu apa yang kamu minta?”
“Angkat saja saya jadi murid, nanti saya akan bisa keluar.”
“Ya gak papa, ku terima kamu jadi murid.”
“Kobiltu, saya terima jadi murid ustad.”
“Ya.. keluar ya..”
“Ya ustad, saya dibantu..”
“Ya saya bantu…”
Jin itupun keluar, dan pemuda itupun sadar.
Skip..
Jarum jam dinding menunjukkan angka 10 malam, baru saja buka internet, ada telpon masuk, katanya ada orang kesurupan yang mau datang dari Cirebon, tapi sekarang lagi ditangani di sebuah mushola, dan akan dibawa ke rumahku, sekarang lagi ngamuk-ngamuk di mushola dipegangi 8 orang,bertanya apa aku mau menerimanya jika dibawa kerumahku? Ku jawab tak apa-apa, dibawa saja datang, pasti ku
terima.
Ku tunggu sampai jam 11 lebih, kenapa tak juga datang, padahal jarak mushola yang dimaksud dengan rumahku juga paling sejarak 1 KM, kenapa tak juga datang? Heran, padahal yang mengantar katanya ada 1 orang muridku. Tetap saja ku tunggu, akhirnya mobil yang membawa perempuan kecil yang kerasukan itupun datang, dan awalnya ku lihat pas datang sebelum masuk rumahku, dipegangi orang, segera ku tatakan tempat untuk tiduran yang nyaman, dan anehnya yang kerasukan kenapa anteng saja, dan diam saja seperti tiduran tak bergerak.
“Katanya tadi ngamuk-ngamuk?” tanyaku pada semua orang yang membawanya ada 9 orang.
“Iya pak, tadi ngamuk, malah di mobil juga ngamuk-ngamuk. kami kuwalahan.” jawab salah satu orang yang memakai peci hitam.
“Kok sekarang anteng?”
“Ya ngamuknya kalau ada yang memegang pak..” jelasnya.
“Tadi juga sudah dipanggilkan kyai dan orang yang bisa mengobati, ee malah orangnya ditendang, dan dipanggilkan orang yang
membacakan al-qur’an, malah dibilangin, sudah berapa kali kamu khatam qur’an kok berani- beraninya membacakan padaku? Juga pas di
mushola tadi nantang-nantang, siapa yang punya ilmu ditantang semua mau diajak duel.”
“Wah kok sampai begitu?”
“Iya pak, saya ayahnya, nama saya Sutono, iya pak memang kejadiannya begitu…” jawab lelaki
setengah baya yang mengaku sebagai ayah si
anak yang kerasukan.
“Sebentar….” ku ambil air dan ku suruh minumkan ke gadis kecil yang kerasukan.
Susah juga memasukkan air, karena bibirnya menutup rapat dan tak terbuka sama sekali, ku
tempelkan saja tanganku di punggung gadis itu, sehingga konsentrasi jin biar ke tanganku, dan seketika mulutnya bisa terbuka dan air bisa masuk ke mulutnya, Alhamdulillah mulutnya terbuka dan air pun bisa masuk. Kontan saja terjadi reaksi, tubuh gadis itu seketika menggeliat-geliat dan mencoba berontak dia berusaha mencekikku, tapi tak sampai-sampai cekikannya ke leherku, berusaha menyerangku tapi seperti serangannya ada yang menahan.
Ku tanya siapa di dalam? Tapi tak juga ada jawaban, berulang kali ku tanya tetap saja mulutnya terkatup rapat. Karena merasa tak ada manfaat yang bisa ku ambil, maka jin segera ku keluarkan. Dan gadis kecil itu pun sadar.
“Ini ceritanya bagaimana pak, awal mulanya seperti ini?” tanyaku kepada pak Sutono.
“Ini begini kyai awalnya… anak saya mau dikorbankan jadi tumbal pesugihan.” jawab pak
Sutono.
“Tumbal pesugihan?” tanyaku heran, walau dalam kenyataannya saya belum pernah mengalami sendiri bagaimana sebenarnya tumbal pesugihan itu, tapi kalau cerita apalagi cerita di Pekalongan ah cerita itu sepertinya sudah makanan sehari- hari dari mulut ke mulut, cuma secara prakteknya saya sendiri belum pernah mengalami secara pengobatan maupun kejadian.
Aneh juga dan hmm masuk akal atau bukan ya sudah ikuti saja cerita yang terjadi.
“Bisa diceritakan kronologi lengkapnya pak?” tanyaku.
“Bagaimana awalnya dan bagaimana bisa sampai dibawa kesini ini?”
__ADS_1