Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Hendra


__ADS_3

Aku pun mendudukkan pantat di kursi, yang


busanya udah pada bolong, mungkin dimakan


tikus yang nyari makan sudah tidak ada yang


lain, jadi busa juga dimakan, mungkin


dibayangkan sebagai roti, ah apakah tikus juga berhayal seperti manusia?


Hendra keluar dari kamar, dan mengajakku


masuk,


“Ayo mas masuk, maaf, kamarnya berantakan banget.”


ah ndak usah dia bilang berantakan, aku juga sudah tau.


Ah kamarnya juga gelap sekali, lampu bohlamp, cuma 5 watt, dan sudah banyak dihinggapi


sarang laba-laba, benar-benar tak ada


nyamannya sama sekali, mestinya kalau tau


begini aku tadi tidak mau untuk diajak ke


rumahnya, kulihat tape recorder dan amplier


terletak begitu saja di tanah, dekil, dan


kelihatan jarang disentuh, atau yang bersih


cuma pencetan playnya, entahlah aku seperti


merasakan suntuk yang teramat sangat, kok


kerasan Hendra tinggal di rumah, dan kamar


yang seperti ini….,


“Ayo tidur, atau mau ngobrol aja?” katanya mengagetkanku.


Aku tak menjawab, tapi langsung merebahkan


diri, ke atas kasur, yang tak berkapuk lagi,


mungkin telah teramat tipis, setipis triplek…,


rasanya makin penat aja, tapi ke relakan urat-


uratku, yang sebetulnya tak pegal…, Hendra pun ikut naik ke atas ranjang, sehingga aku yang


mepet ke tembok.


Tiba-tiba tangan Hendra memelukku, aku


menepiskan,


“Apa-apaan sih Ndra…!” kataku agak jengkel dan risih.


“Ah masak nggak ngerti..” kata Hendra sambil


tangannya berusaha didekapkan ke arahku. Ah


dah gila ini orang, kembali kutepiskan tangannya,


“Ayolah mas, kita kan sama-sama dewasa, masak mas ndak ngerti….” katanya dengan nada merajuk.


“Sialan kamu jangan macem-macem..” kataku


jijik.


“Apakah aku harus main paksa…?” kata Hendra dengan tangannya cepat memelukku, tapi tangan itu segera ku tangkap pergelangan tangannya, dan untung dulu pernah tau ilmu gunting, yang melatihnya dengan menjepit besi sampai gepeng,


Begitu tangan Hendra dalam genggamanku, rapal pun ku ucap, Hendra menjerit,


“Aduuuh sakit masss…!”


“Jika aku ingin mematahkan tanganmu, sama


mudahnya mematahkan roti kering…” kataku


bukan sekedar mengancam, dan mempererat


cengkeraman, sehingga Hendra menjerit


kencang.


“Apa mau ku patahkan?” tanyaku, sementara


Hendra telah memelintir, melintirkan tubuh

__ADS_1


menahan sakit yang teramat sangat.


“Ampuuun-ampuun mas…, tobat…!” katanya,


matanya mulai basah, entah karena rasa sakit


yang di rasakan atau karena memang dia


menyesali dengan apa yang telah diperbuat, dan Hendra pun benar-benar menangis….,


Akupun melepaskan cengkeraman tanganku, di pergelangan tangannya, ku lihat pergelangan


tangan Hendra membiru,


“Maafkan aku… masss…. aku ndak tau kalau mas orang isi…”


“Memang kalau aku tidak berisi, kamu akan


berbuat sekehendak hatimu?”


“Aku ndak berani mas,.. maafkan..” suaranya


disela isak tangisnya.


“Aku jadi begini juga karena ada sebabnya mas…,


bukan karena kelainan, tapi lebih karena


kekecewaan….”


“Apa maksudmu?” tanyaku yang mulai mengendap kemarahanku.


“Udah nangisnya…!” bentakku karena melihatnya sesenggukan menangis.


“Kamu itu lelaki, masak menangis.” Hendra


terdiam, dan menghapus air matanya…


“Aku orang yang malang mas…” katanya.


“Malang bagaimana… apa kamu kejatuhan bom yang mau dijatuhkan di Irak sana…, kulihat


tubuhmu juga masih utuh, ya kalau kamu


kejatuhan bom, berarti kamu masih termasuk


orang yang selamat, karena seluruh tubuhmu


“Mas jangan bercanda..” kata Hendra.


“Bercanda gimana? Kan katamu kamu ini orang


yang malang, la malang aja, tubuh kamu masih utuh, sehat wal afiat tak kurang suatu apapun, gimana aku tak heran, yang malang sebelah mana?”


“Yang malang hatiku mas…”


“Wah kalau yang malang hatimu, itu pasti karena polah tingkahmu sendiri, dan tak siapnya kamu menghadapi kenyataan.”


“Ndra…! setiap orang itu mempunyai kadar rasa yang sama, rasa sakit, rasa senang, duka,


kecewa, enak nikmat, pahit getir, semua


mempunyai kadar yang sama, semua diberi


keadilan untuk mengecap rasa itu, tergantung


kita sendiri menyikapi, dan membuat ukuran


kadar dalam peluapannya,


Ada orang mau disuntik dokter, semua pasti merasakan yang sama, jarum nusuk kulit, tapi ada yang cuma njengkit kaget, ada juga yang teriak, bahkan ada juga belum kena jarum udah teriak-teriak,


Jadi tergantung bagaimana, menyikapinya, semua kembali pada diri masing-masing.”


Hendra cuma mantuk-mantuk, tak tau paham apa enggak dengan keteranganku, wong aku yang menerangkan sendiri aja bingung apa lagi yang mendengar, ya dari pada tidak memberi solusi, lebih baik ngasih solusi, setidaknya untuk pengalih perhatian.


“Sebenarnya masalah apa yang kamu hadapi?” tanyaku menyelidik.


Hendra menarik napas panjang lalu berkata,


“Gini mas, aku pernah mencintai wanita, selama ini dia yang selalu aku idam-idamkan, selama ini dia yang selalu dalam angan dan pikiranku, selalu aku pikirkan, siang malam…”


“Trus bagaimana?” kataku tak sabar, mendengar kata muluk berbumbu tumpahan perasaan.


“Ya itu mas … aku mencintai dia, menyayangi dia, bahkan sering memberinya hadiah-hadiah,


karena sayangku padanya.” kata Hendra makin


muluk-muluk.


“Iya apa kamu udah nyampaikan atau ngutarakan cintamu padanya?” kataku tak sabaran.

__ADS_1


“Itulah mas…”


“Itulah gimana maksudmu?”


“Dah beberapa tahun itu pengutaraan cinta ku


tunggu-tunggu, sampai ada waktu yang cocok…”


“Ah njlimet amat, masak ngutarakan cinta pakai waktu yang cocok? Jangan-jangan pakai hitungan Jawa, pakai hitungan weton, kenapa gak langsung diutarakan…?”


“Ya itu mas susah nyari waktu yang pas…”


“La kenapa gak pakai surat? Jadi waktu


pengutaraannya gak usah banyak waktu plintat-plintut, tulis to the point I LOVE YOU, kan udah, kenapa repot?”


“Ya tak taulah mas, yang jelas saya nunggu


setahun sampai bisa mengutarakannya.”


“Lalu bagaimana?”


“Ya saya utarakan… mas..”


“Iya kelanjutannya bagaimana, maksudmu, kamu ditrima atau ditolak?”


“Aku ditolak mas…” jawab Hendra lemes, aku


cuma ketawa.


“Kenapa ketawa mas?” tanya Hendra.


“La gimana tak ketawa, la cuma ditolak sekali aja udah lemes, mutung, prustasi, hidup itu


perjuangan Ndra, la orang bikin anak sampai jadi cewek yang kamu demeni itu aja tak sehari-dua hari, la ditolak sekali, agak jual mahal, agak jinak-jinak merpati, la itu kan sudah sifatnya cewek, la kalau cewek nyeruduk aja,


Kayaknya kok tak ada seninya, kurang ada nilai lebih, gak ada gregetnya, ya gak?”


“Tapi penolakannya itu langsung telak mas, aku dilarang datang, aku dilarang dekat-dekat


dengannya.”


“Woh itu mah wajar,”


“Tapi dia bilang malu mas, kalau aku ada di


dekatnya.”


“Ah alasan kan boleh aja dibuat, mau alasan


malu-mau alasan kamu bau… ckikikik…, la wong alasan kok diributkan, dia mau bikin alasan apa aja, kalau kamu gigih, ku kira juga dia akan


takluk.” kataku memberi semangat,


Sebenarnya maksudku, hanya menarik kembali Hendra dari jalan yang salah, jalan kepada penyimpangan ***.


“Lalu apa yang harus ku lakukan mas?”


“Wah itu urusanmu sendiri, tapi kalau kamu mau, aku akan memberimu amalan, supaya cewek itu kau dapatkan, kamu mau?”


“Wah mau-mau mas…, “


“Tapi syaratnya berat Ndra…!” kataku,


memancing kesungguhannya.


“Syaratnya apa mas? Apa ngambil tanah dalam kuburan?”


“Wah ndak seberat itu Ndra, malah juga dibilang ini juga berat bagi orang tertentu…”


“Trus apa syaratnya mas?”


“Syaratnya kamu jangan meninggalkan sholat,


jangan minum-minuman keras, dan jangan kau pakai perempuan itu barang permainan…, gimana kamu sanggup?”


“Cuma itu aja mas syaratnya?” kata Hendra,


“La kamu sanggup tidak? Kan selama ini sholatmu jarang-jarang…,”


“La kok mas tau?”


“Wah itu mudah ditebak Ndra..!”


“Aku sanggup mas…”


“Bener sanggup?” tanyaku meyakinknnya,


“Sanggup sekali mas…”


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2