Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Disortir oleh alam


__ADS_3

“Ya udahlah kang, gak usah diperdulikan, biarkan saja apa yang dilakukan…”


“Iya, tapi ini soal air sampai diadakan sidang berkali-kali oleh pengurus masjid, ya voting gitu, apa saluran paralonmu dibongkar atau


bagaimana, ya gak ada dicapai kesepakatan.”


“Ya kalau nantinya bikin ribut, biarlah nanti ku bongkar.”


“Ya gak usah, semua pengurus masjid gak papa, juga sudah dijelaskan sama kyai Sofwan, kalau yang kamu lakukan boleh gak papa…”


“Ya nanti kalau misal jadi masalah, lebih baik ku bongkar saja,”


“Sudah jangan dipikirkan Mas, kami siap membela…” Jelas kang Ridwan, sambil berdiri dari kursi duduk, dan minta diri.

__ADS_1


Soal masalah orang diriku mengambil air di masjid makin ramai, walau sudah dimintakan batsul masail, dan keputusan menunggu kyai Sofwan menyiarkan di hari Senin, sampai akhirnya hari Seninpun tiba, para jamaah pengajian banyak yang datang, untuk men- dengarkan pengumuman yang akan disiarkan, sekaligus dalil apa yang akan dipakai di keputusan batsul masail, dan orang semua menunggu dengan dag dig dug, sementara dari pertama diriku diributkan, malah aku sendiri tak tau menahu kalau diributkan, ya karena di rumahku sendiri tiap hari banyak tamu, juga karena aku sudah disibukkan mengurusi pengajian di Pekalongan, Banten, kadang Jepara, malah mau ditambah juga Bogor.


Kesibukanku mengurus jamaah, memberi makan ketika jamaah sedang mengadakan dzikir bersama, sudah menyita pikiran dan tenagaku, otomatis aku harus wira wiri, dan tak ada waktu lagi mengurusi soal apa yang diributkan oleh Askan. Kyai Sofwan meng- umumkan dengan jelas dan gamblang, di saat pengajian masjid, juga kitabnya juga disebut dari mana diambil, bahkan kitab cetakan dari mana, dan kapan mencetaknya disebut juga, menurut cerita orang yang mendatangi pengajian, karena aku sendiri tak pernah datang ke pengajian, karena urusanku beda, urusan pengajian di masjid desaku kan hanya sebatas, sedesa saja, kayak Askan saja kalau mengajar di masjid juga paling yang ikut cuma sekitar 5 orang.


Sementara kalau aku memimpin dzikir di majlis Banten yang datang sampai dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor, Pandeglang, Serang, sampai juga ke Subang, sedang jamaah yang datang sampai 500-600 orang, kalau hanya urusan iri dengki seseorang lantas aku terseret kepikiran, dan menge- nyampingkan jamaah yang ku urusi, kok rasanya aku ini harus belajar lagi menjadi orang yang bisa dipercaya guruku.


Dan keputusan yang diumumkan, berdasarkan batsul masail, bahwa apa yang ku lakukan, sangat boleh dilakukan, dan tak ada dalil manapun yang melarang, sebab masjid adalah milik umum, siapa saja boleh mengambil manfaat untuk umum, dan tak ada yang melarang, ini bukan soal Kyai Sofwan me- ngenalku, bahkan kyai Sofwan bahkan sama sekali tak mengenalku, jadi dia tak memihak padaku sama sekali atas keputusan yang diambil, akhirnya permasalahan jelas,semua jamaah pun bernafas lega, yang asalnya pengurus karena terprofokasi oleh Askan, dan


menyalahkanku, kemudian lantas tak mem- permasalahkan.


pengeras suara, ya biarlah, yang penting aku bisa berusaha selalu istiqomah mengurusi murid, dan jamaahku, semua diurus masing- masing. Kadang menulis itu timbul kekambuh- an, dan tidak bisa ditahan rasa ingin menulis, tapi kadang jangka waktu lama tidak menulis lantas timbul kemalasan untuk menulis, apalagi menulis hanya dengan dua jari, sudah malas, ee setengah jadi juga malas lagi meneruskan.


Jadi heran kadang kalau melihat betapa banyak nya hasil karya Syaikh Nawawi, atau Imam Syafi’i atau Imam Ghozali, heran juga kok mereka bisa menulis begitu banyaknya karya, apalagi karya mereka haruslah jauh dari ke- salahan, tak seperti karya Kho Ping Ho, atau Wiro Sableng, atau Harry Potter, asal tulis juga gak akan ada yang komplain, beda dengan karya Imam Syafi’i atau Imam Ghozali yang penuh sarat dengan muatan ilmu, seperti tulisanku yang acak acakan ini, juga gak akan ada yang komplain aku mau nulis apa juga.

__ADS_1


Jaman dulu sebelum ada internet, atau internet belum begitu buming kayak jaman sekarang, jadi ingat waktu dimintai karya tulis di majalah Al-Kisah, aku diminta tulisan dikirim lewat email, saat itu mau bilang terus terang email saja itu apa, aku gak tau, aku gak berani, takut dibilang katrok, padahal itu tahun 2002 an, ya belum lama, ya aku iyakan saja, nanti karya akan ku kirim lewat email saja. Saat itu, aku pergi ke warnet, masih ingat saat itu warnet juga masih pakai komputer kotak besar model lawas, la megang komputer saja gak pernah, sampai di warnet tengak tengok, tolah toleh kayak orang nyari jarum, padahal gak ke- hilangan jarum. Nyalain komputer saja gak bisa.


“Ini nyalainnya bagaimana mbak…” kataku pada penjaga warnet, lalu penjaga warnet mendekat


dan power komputer dipencet, setelah nyala, aku makin bingung, lah mau ngapain, apa yang dipencet, walah makin bingung saja, akhirnya klak klik sana sini, gak karuan juntrungnya, dalam hati menggerutu, kenapa juga majalah al Kisah kok minta hasil karyaku dikirim pakai email segala, lha ini terus bagaimana nanti kelanjutannya, email itu juga apa??akhirnya hanya bingung saja, dan pulang dengan tangan hampa.


Sekarang, jaman sudah serba internet dan sudah lazim malah sudah basi kalau main internet gak dipakai bisnis, bahkan di facebook,


komunitas bermacam-macam, dan internet juga dipakai berbuat baik, juga akan menghasilkan kebaikan, dipakai berbuat jahat juga pintu gerbangnya terbuka lebar, lahannya juga subur, BERDAKWAH lewat internet, dulu aku mulai di tahun 2007, setidaknya sampai tulisan ini ku tulis sudah 6 tahun berjalan, awalnya para teman seperguruanku sangat menyalahkanku, ya yang menyalahkan tentu saja mereka yang sudah beranggapan duluan kalau internet itu porno, internet itu tak bener dll, sehingga awalnya juga guruku melarang.


Sehingga aku sendiri berjalan dengan inisiatif- ku sendiri, dan ternyata sambutannya sangat bagus, setelah guruku tau juga akhirnya cara dakwahku juga didukung, apalagi setelah kemajuannya kedepan, murid-murid internetku lebih unggul dari murid biasa, malah dukungan dari guruku makin kuat, sampai beliau sendiri menekankan dengan tertulis, murid internetku adalah sudah diakui sebagai murid guruku.


Sekian lama waktu, tentu saja banyak kejadian-

__ADS_1


kejadian, apalagi orang di internet adalah bersifat umum dan bisa dari kalangan mana saja, sehingga hampir tiap hari, ada saja orang internet yang datang ke gubukku, dari mana saja, tapi aku sendiri yakin, sekalipun murid dari internet, itu tak lepas dari kehendak Allah memilihkan mereka menjadi muridku, karena aku sendiri berdo’a pada Allah untuk memilihkan murid-murid pilihan yang bisa ku andalkan berjuang di jalan Allah, walau di satu


kesempatan berbondong-bondong murid datang, dan nanti akan disortir oleh alam, mereka yang tak seharusnya menjadi muridku akan perlahan mundur, dan patah di tengah jalan, dan ada yang bertahan yang ku yakin akan memetik buah manisnya ilmu, dan akan mempunyai kelebihan sebagaimana kelebihan yang dianugerahkan Allah padaku, mereka hanya perlu menjalankan amaliyah yang memang sudah ku paket dalam bentuk lelaku bertahap.


__ADS_2