
“Ya moga-moga tak panas lagi.” kataku lalu terdengar Pintu kamar diketuk,
“Masuk tidak dikunci.” kataku.
Masuk Yono sama Muhsin. Dan seperti biasa
Muhsin membawa makanan, kali ini soto babat.
“Wah aku masih kenyang, tadi habis makan di
rumah Musadad orang Mesir.” kataku.
“Wah kok ke tempat Musadad segala?” tanya
Yono.
“Iya tadi disuruh melukis.”
“Biasanya Musadad itu orangnya kikir, kok
sampai mau ngasih makan?” tanya Muhsin.
“Gak juga, orangnya baik kok.” kataku.
“Syukur kalau sama mas orangnya baik, ” kata
Muhsin.
Hape ku bunyi, dan ku angkat, suara Musadad.
“Ini guru ada makanan dari istriku, guru keluar
sebentar, saya tak bisa masuk,”
Aku keluar dari barak, dan Musadad menunggu di mobil, lalu memberiku senampan makanan.
“Wah repot-repot banget.” kataku.
“Ini permintaan istriku guru, doakan anakku lahir dengan selamat, dan bisa menjadi manusia seperti guru…, soalnya ini mau ke rumah sakit membawa istriku, doakan ya guru, supaya kelahirannya lancar.”
“InsaAlloh lahirnya lancar.” kataku.
Aku pun masuk ke dalam.
“Makanan dari siapa mas?” tanya Muhsin.
“Dari Musadad, dia minta dido’akan supaya
kelahiran anaknya lancar, dan selamat.” jawabku.
“Hehehe… orang pinter di mana-mana banyak
yang bawain makanan.” gurau Yono.
“Udah ayo dimakan bareng-bareng.” kataku.
“Wah ini yang mana dulu?” tanya Yono.
“Yang mana ajalah, aku cicipi soto babatnya
dulu.” kataku mengawali, dan kami ramai-ramai makan bersama.
Kebersamaan yang kadang sekejap itu kadang
yang paling berkesan, dan menjadi kenangan
sederhana yang sulit dilupakan. Dan menjadi
pengikat persaudaraan tanpa ada syak prasangka.
Keikhlasan itu tak harus dipikirkan tapi dijalani
dengan apa adanya.
“Saya mau curhat mas…” kata Yono selesai
makan.
“Wah di mana-mana aku kok tempat curhatan
orang to… heheheh…, curhat apa itu?” tanyaku.
“Soal rumah mas.”
“Kenapa dengan rumahnya?”
“Ya beberapa hari yang lalu, istri pernah
mengalami hal yang aneh,”
__ADS_1
“Hal aneh apa itu?”
“Ya seperti melihat orang masuk rumah, tapi
setelah dicari tak ada.”
“Jam berapa?”
“Ya sekitar habis magrib gitu, la ini kok istri,
anak saya yang kecil kalau malam nangis terus, lalu badannya sekarang panas, sudah dibawa ke rumah sakit, tapi panasnya tak juga turun-
turun.”
“Hm… maaf, ada tetangga yang suka pakai peci ada hiasannya, dan pernah punya masalah dengan orang itu ya?” tanyaku.
“Iya mas, kok mas tau?” tanya Yono.
“Ya pas kebetulan saja pas.” jawabku.
“Lalu apa hubungannya dengan orang itu?” tanya Yono.
“Orang itu pernah menanam tulang anjing di
depan rumah, di kali kecil kering di bawah pohon bambu.” kataku.
“Oo di situ, di depan rumahku memang ada pohon bambu.” jawab Yono.
“Lalu bagaimana solusinya mas?” tanya Yono.
“Sediakan saja air, istri suruh sedia air di
rumah, biar saya transfer obat ke air itu, nanti
diminumkan untuk anaknya setutup botol aqua saja, dan untuk minum istrimu suruh minum satu gelas.” kataku.
“Ya biar saya telpon istri saya mas.” kata Yono.
“Saya sebentar lagi mau cuti mas, apa mas ndak nitip apa-apa dari Indo?” tanya Muhsin.
“Ya nitip rokok aja,” kataku.
“Rokoknya apa mas?
“Sampoerna mild aja, biar ndak berat.”
“Baik nanti saya bawakan.” kata Muhsin.
mengalami hal aneh.” kata Muhsin.
“Hal aneh apa?” tanyaku.
“Kalau di masjid, banyak orang yang tak ku kenal menyalamiku.” kata Muhsin.
“Ya udah jangan dipikirkan, anggap saja biasa,
mengalami hal apapun yang paling aneh sekalipun anggap saja biasa, sebab tujuan diri bukan menemukan hal aneh atau ganjil, tapi tujuan diri adalah penghambaan pada Alloh dalam setiap tarikan nafas.” jelasku.
“Iya mas, mohon selalu dibimbing.”
skip...
Setiap kesempatan, setiap waktu berbuat baik
jika bisa, itu yang selalu ku pegang, entah apa
hasil akhirnya, yang penting kita berusaha
berbuat baik, seikhlas kita mampu ikhlas, orang lain entah berpendapat apa, itu urusan orang
lain, yang penting kita berusaha selalu di jalur
yang diridhoi Alloh, jika keluar jalur segeralah cepat-
cepat kembali, selalu membiasakan diri
bertaubat, membiasakan diri selalu merasa
bersalah di hadapan Alloh,
Karena kenyataannya kita itu manusia yang selalu salah, tempat salah dan dosa, jadi selama kita manusia pastilah masih ketempatan salah, seperti kita kalau mandi selama kita manusia jika mandi wajarlah
ada dakinya, asal kita tak bosan menggosok diri, selamanya menggosok diri, seperti besi pasti berkarat, asal kita tak malas mengasah, karat juga pasti akan hilang, dan timbul lagi, kecuali kita sudah jadi Tuhan, dan kenyataanya kita bukan Tuhan, kita itu manusia yang selalu berusaha menjadi manusia yang menghamba sampai akhir hayat kita.
“Sudah mas, sudah disediakan airnya.” kata
Yono.
“Lalu soal tulang anjing itu bagaimana mas,
__ADS_1
soalnya ini kata istri yang sakit malah sampai ke saudara-saudaraku.” cerita Yono.
“Ya kalau itu harus dihilangkan kekuatan
hitamnya, ya nanti ku buatkan pagar batu untuk ditanam sebagai pelawan dari kekuatan hitam
tulang anjing itu.” kataku.
“Iya makasih mas sebelumnya.”
——————————————-
Pulang dari Jum’atan, aku ketemu Yono.
“Gimana mas Yon…, anaknya sudah sehat?”
tanyaku.
“Belum mas, la airnya sama mertua lelakiku ndak boleh diminumkan ke anakku, katanya terlalu kuat.” jawab Yono.
“Terlalu kuat bagaimana?”
“Ya mertua lelakiku kan juga biasa dimintai
tolong orang, dia biasa mengamalkan nyepi-nyepi gitu mas, la kata dia air transferan mas itu katanya terlalu kuat, takutnya bahaya ke si anakku.”
“Hm… aneh, itu kan sudah ku perkirakan untuk
anak kecil, udah diminumkan saja, setutupnya, ya kalau mertuamu memang bisa, kenapa ndak dia yang nolong, aneh-aneh aja.”
“Maaf mas, jadi ndak enak.”
Habis magrib, Yono main ke kamar,
“Ini ada rokok Indonesia mas.” katanya menaruh rokok di meja.
“Kok dapat rokok Indo dari mana?” tanyaku.
“Tadi ada sopir truk dari Indonesaia,
pengangkut semen, dia bawa rokok.” jelas Yono.
“Bagaimana kabar istri dan anaknya? Sudah
sehat?” tanyaku.
“Alhamdulillah, setelah minum air yang dari mas, kata istri langsung enakan, juga si kecil langsung dibawa pulang dari rumah sakit.” jelas Yono lagi.
“Ya syukur kalau gitu.”
Kamar diketuk lagi,
“Masuk..!” kataku.
“Wah ada mas Yono.” kata Romadhon, pekerja
dari NTT.
“Ada apa Dhon, tak biasanya main ke kamarku?” tanyaku.
“Biasa mas, kayak yang lain, mau minta tolong.” jawab Romadhon.
“Soal apa?”
“Soal ibu saya mas.”
“Kenapa ibunya?”
“Sakit mas.”
“Apa sakitnya, wah aku jadi malah kayak dokter, hahahaa..”
“Wah kalau dokter manapun ndak ada yang bisa ngobati dari jarak jauh..” sela Yono.
“Sakitnya di kepala mas.”
“Pusing gitu?”
“Iya.”
“Ya minum aja panadol.” kataku.
“Sakitnya terus menerus mas, sudah dibawa ke dokter juga tetap tak sembuh.” jelas Romadhon.
“Wah bahaya itu.”
“Bahaya bagaimana mas?”
“Ya bahaya, apa kamu punya masalah soal tanah di rumah, maksudku tanah rebutan keluarga gitu?”
__ADS_1
“Iya mas, tanah warisan jadi rebutan.”
Bersambung..