Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Keluarga Sakinah


__ADS_3

Pagi jam 8, sebenarnya aku juga baru sebentar tidur, tapi sudah ada tamu, maka aku tetap harus menemui, menjadi pelayan Alloh, maka siapapun yang datang, dan kapanpun waktunya kita harus siap, ketika kyaiku memintaku melatih diri menjadi lima, aku masih takut-takut, dan aku belum berani, tapi saat jiwa dan raga lelah, rasanya ilmu menjadikan diri menjadi lima perlu juga, jadi aku bisa satu sedang dzikir, satu sedang melayani tamu, satu sedang mencari maisyah, satu memijit satunya, dan satu membantu yang lain, sering sekali terlintas, tapi rasa takut menjadi lima lebih mendomisili pikiran dan hatiku.


Ku temui seorang perempuan muda dengan


ibunya.


“Ada apa bu…?” tanyaku masih dengan mata sepet


dihinggapi kantuk yang sangat.


“Anu ini anak saya…” kata Ibunya, jawil ibu


kepada anak gadisnya.


“Ada apa to..?” tanyaku. Mata si gadis itu terlihat berlinang,


“Saya minta do’anya guru, agar saya bisa tenang menjalani pernikahan yang rumit.”


“Rumit bagaimana?” tanyaku.


“Tolong kyai ini air ditiup dulu, biar saya minum biar saya tenang.” kata gadis itu sambil


mengeluarkan botol aqua.


“Wah saya belum sikat gigi.. hehehe, baru


bangun tidur, nafas saya kan bau.” kataku


bercanda.


“Tak apa-apa kyai, biar saya dapat berkahnya…”


“Wah bukan berkah nanti yang didapat, malah


penyakit.” kataku.


“Tidak kyai…, monggo kyai tiup, biar saya


minum.” kata gadis itu lagi, sambil mendekatkan air mineral ke depanku.


“Monggo to kyai, biar anak saya dapat barokah


dari kyai.” kata ibunya.


“Ini bener saya tiup?” tanyaku.


“Ya iya, saya sudah dari tadi menunggu.” kata

__ADS_1


gadis di depanku.


“Baiklah.” kataku ngalah.


Sebenarnya nafasku asli bau, walau semaleman zikir sampai pagi, dan pagi habis subuh dzikir sebentar, dan baru mau tidur sudah ada tamu.


Air selesai ku tiup dan ku serahkan, lalu diminum oleh gadis yang bernama Laila Lataifa, dan air diletakkan di dekatnya, ee ibunya langsung mengambil air dalam botol mineral itu dan ikut meminum airnya.


“Ibuu…! Jangan dihabiskan.”


Dunia makin aneh-aneh saja, dan ku lihat Laila Lataifa pun tenang.


“Terima kasih mas kyai, hatiku jadi tenang.” kata Laila Lataifa.


“Ini masalahnya sebenarnya apa?” kataku.


“Ya saya mau menikah dengan orang di luar Jawa kyai, dan calon suamiku itu ingin aku ikut dengannya, sementara ayahku ingin aku di sini


dan suamiku di sini, ayah kalau aku tidak di sini, maunya pernikahanku dibatalkan saja.” jelas


Laila.


“Hanya soal seperti itu?”


“Iya kyai.” kataku.


“Saya sudah sangat mencintainya, dan saya tak tau jika harus tak menikah dengannya, hubungan kami juga sudah berjalan enam tahunan, kami sama-sama kuliah di jurusan yang sama, yaitu kedokteran.”


“Jadi sampean ini dokter to?”


“Iya kyai.”


“Aneh…”


“Apa yang aneh kyai?”


“La dokter kok minta air untuk ditiup apa ndak


aneh?” kataku.


“Tapi nyatanya saya langsung merasa tenang.”


jelas Laila.


“Biasanya dokter kan tak percaya hal yang


seperti ini.”

__ADS_1


“Ah tidak juga kok kyai, kami juga percaya.”


jelas perempuan itu.


“Pernikahan itu tidak hanya sekedar cinta, upayakan menyandarkan cinta pada suami, karena mencintai Alloh, karena cinta disandarkan pada Dzat yang kekal, maka cinta akan kekal, jauh dari kepentingan ego nafsu, Alloh memerintahkan seorang istri tunduk pada suami, jadi tunduklah dan layani suami karena Alloh memerintah, bukan karena siapa suaminya, siapa yang melayani suami, dengan ikhlas dan cinta karena Alloh maka bila diajak tidur, pahalanya akan seperti pahala haji dan umroh, yang diterima, wanita itu.


Jadi istri itu menjadikan suami sebagai ladang pahala, tempat istri mencari keridhoan Alloh. Jika perkawinan didasarkan bukan karena cinta tapi karena nafsu, wajah tampan, maka cinta itu akan tidak kekal, istri akan berusaha sekuat daya membahagiakan suami dengan pelayanannya yang maksimal, karena harapan untuk memperoleh ridho Alloh.


Jika istri takut tak bisa membuat suami bahagia, dan dalam hatinya tetanam rasa takut akan murka Alloh, karena tidak bisa menjaga keutuhan bahtera rumah tangga, istri yang suaminya selalu ridho dan senang, maka istri seperti itu akan diperintah memilih dari pintu mana dia mau masuk surga.” jelasku.


“Begitu juga seorang suami, yang mencintai istri karena Alloh, bukan karena sekedar kecantikan, yang selalu melindungi dan memberi bimbingan. Ingat memberi bimbingan bukan mengalahkan atau menguasai, tapi memberi contoh dengan ahlak mulia.


Memerintah dengan dialog cinta dan kasih sayang. Bukan memaksakan kehendak segala kemauan dan perintah wajib diikuti, sebab seorang yang ikhlas memerintah itu sama sekali tak ingin perintahnya diikuti. Kalau ingin perintahnya diikuti, ditaati, maka dia telah gagal menjadi suami, dan upayanya menjadi Tuhan atas istrinya tak akan terlaksana, sebab sejak dulu manusia yang berusaha menjadi Tuhan itu tak pernah sukses kecuali pasti ditentang, sebab kodrat manusia itu sebagai hamba, bukan sebagai Tuhan.”


Masuk dua perempuan setengah baya lagi,


“Mari silahkan duduk.” kataku mempersilahkan duduk di karpet. Laila Latoifa dan ibunya terdiam.


“Ketaatan seorang istri itu pada suaminya, dan ketaatan seorang anak lelaki itu pada Ibunya, kenapa seperti itu? Agar keterikatan seseorang itu menyambung seperti rantai yang saling melengkapi, kedurhakaan selain pada Alloh itu ada tiga, durhakanya anak lelaki pada ibunya, durhakanya seorang pejuang lari dari barisan perangnya, dan kedurhakaan istri pada suaminya,


Ketika Siti Fatimah putrinya Nabi, menangis karena kesusahan hidupnya, maka Nabi datang, dan melihat keadaan Fatimah, lalu menasehati, kata Nabi SAW,


'‘jika aku perintahkan penggilingan gandum berputar, niscaya gilingan gandum akan berputar terus untuk meringankan bebanmu menggiling gandum, tapi aku tak melakukan untukmu, agar kau menggiling gandum dengan tanganmu dan memasakkan untuk suamimu, sebab dalam kelelahan ada nilai pengabdian, dalam nilai pengabdian menunjukkan nilai keta’atan, dalam keta’atan ada pahala kesabaran, dan kenaikan pangkat kedudukan di sisi Alloh,'”


“Makanan yang dibuat oleh seorang ibu,dengan ketulusan cinta, dan ada do’a malaikat di dalamnya, akan mempengaruhi jiwa, dan kepribadian seorang anak, jika makanan dibeli dengan jadi, jajan sana sini, bisa dipastikan telah mendidik anak untuk menjadi materialis, menilai apapun dengan nilai uang, dan menghargai apapun dengan uang, jika tidak ada unsur uangnya maka tidak dianggap berharga atau pantas dinilai.


Jadi anak itu bagaimana orang tua menulisi, itu contoh kecil yang mungkin lepas dari perhatian kita.” kataku.


“Ada apa ibu berdua?” tanyaku kepada dua orang yang baru datang, yang satu masih muda yang satunya lagi sudah setengah tua.


“Masalah apa?” tanyaku.


“Masalah keluarga kyai.” kata perempuan muda


yang mengenalkan diri bernama Maslihah.


“Diceritakan saja, mungkin saya bisa membantu.” kataku.


“Itu kyai, suamiku menyeleweng.” jawab


Muslihah.


“Biasanya lelaki itu menyeleweng karena


kurangnya saling mengerti dan tak ada komunikasi di rumah, seringnya antara istri dan suami tidak saling terbuka, dan istri tak ada kemauan untuk membahagiakan suami, istri tak menjaga penampilan untuk suami, tapi kebanyakan malah bersolek waktu keluar rumah,,


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2