Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Wamro’atuhu khamalatal khatob


__ADS_3

Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (H.R. Abu Dawud).


Makna memakan kebaikan dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya.


Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. lanjut bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian.


Sebagaimana yang Allah firmankan, ‘Ia merugi


dunia dan akhirat’.” (‘Aunul-Ma’bud juz 13:168)


Ketiga, tidak produktif dengan kebajikan, Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat(terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut melainkan mencukur agama.” (H.R. At-Tirmidzi).


Islam yang rahmatan lil-‘alamin yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan nikmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar memberi senyum atau, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apa lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak membawa kebaikan alias gundul.


Keempat, menghancurkan harga diri. Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas/kenyataan, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu watak” dengan si pendengki.

__ADS_1


Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, mencari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki.


Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan. Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya.


Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek -ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?


Kelima, menyerupai orang munafik.


Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan orang lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata -nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan prilaku itu sebagai prilaku orang munafik. Abi Mas’ud al-Anshari r.a. mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang Muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang Muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu.


Keenam, gelap mata dan tidak termotivasi untuk memperbaiki diri. Pendengki biasanya sulit melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya pula, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mendung kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan di dengkinya adalah salah dan tidak baik.


Akhirnya dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar 39: 18).


Di sisi lain, pendengki manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri.Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.

__ADS_1


Ketujuh, membebani diri sendiri. Iri dengki adalah beban berat. Bayangkan, setiap melihat orang yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Nikmatkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya.


Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Q.S. Al Baqarah 2: 10).


Kiranya cukup ku lanjutkan cerita, sebab ada sebagian pembaca yang mengatakan aku ini hanya membela diriku sendiri, dan menyudutkan kyai lain, padahal sampai-sampai kyai Askan menuduhku nantinya jama’ahku akan ku suruh memegang kemaluanku, sungguh kata-kata seorang yang jika aku tak sabar, niscaya aku marah, tapi aku tau jika Alloh di belakangku, membelaku, maka kata seperih apapun ku diamkan saja, jika aku layani maka aku sama saja gilanya, seperti orang waras yang dituduh gila sama orang gila, lalu balik menuduh gila kepada orang gila itu, sehingga saling tuduh tak berhenti, dan saling otot -ototan dan sulit dibedakan sebenarnya siapa yang gila.


Askan semakin gencar menyebar undangan, agar semua orang diajak unjuk rasa, dia sangat sunguh-sungguh berusaha agar tower itu tak sampai berdiri, karena dalam anggapannya aku ini mendapat uang dari tower itu, padahal sama sekali tidak, dan apa yang dianggap itu dinyalakannyq sendiri, wamro’atuhu khamalatal khatob, dan perempuannya membawa kayu bakar membakar kesana-kesini, dan berusaha membakar hati siapa saja yang ditemui, bahkan dalam pemikirannya, aku membangun majlis adalah uang dari tower itu, la apa urusanku dengan tower.


Maka Askan mengumpulkan orang di masjid, diberi undangan untuk diajak bersama-sama unjuk rasa, padahal tower tinggal berdiri, dan semua besi sudah ada di tempatnya, pengecoran tanah pembuatan pondasi sudah selesai tinggal nunggu keringnya, tapi ketika orang-orang pada berkumpul memenuhi undangan Askan dan Polisi, camat juga datang, malah Askan bersembunyi tak datang, malah dia sama sekali tak kelihatan batang hidungnya, aku cuma bisa ketawa.


Jadi ingat seorang calo bis di Pulo Gadung, kalau bis belum berangkat, dia paling ribut, tapi pas bus berangkat, si calo malah tak ikut menumpang. Aku sendiri sudah mengira akan hal itu, karena aku tau betul siapa itu Askan, walau Askan sendiri tiap hari menjelek- jelekkanku, selama ini juga tak berani bicara apa-apa jika di depanku, itu kan namanya jago katai, beraninya lempar batu sembunyi tangan, karena sudah membuat resah dan dia sendiri tak muncul, lalu Polisi datang kerumahnya, dan memberikan peringatan, kalau dia tetap memprofokasi warga, maka akan ditangkap, dan jika tower tak jadi maka uang yang telah dibagikan ke warga sekitar tower sebagai konpensasi, dan biaya pembangunan akan


dimintakan ganti rugi Askan, di depan Polisi, dia jawab iya, iya… tapi selanjutnya apa dia diam, sama sekali, tidak, Askan kembali melakukan gerilya, dari rumah ke rumah, agar orang-orang berunjuk rasa, dan agar tower tak jadi dibangun, padahal kalau dia tau, dan mau bertanya dengan sebenarnya, kalau aku sama sekali tak mendapat uang apa-apa, mungkin dia akan berhenti untuk menyuruh dan meminta orang untuk unjuk rasa, tapi Askan itu selalu mengukur sesuatu dengan pandangan dan pendapatnya sendiri, dan tak...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2