
Saat saya pulang, memang istri saya benar- benar sudah sadar dari kerasukannya, dan menurut yang saya serahi nunggu di rumah, memang pak Giman datang lalu menebas- nebas istri saya dengan daun sampai istri saya sadar, aneh memang pak, tapi itulah yang terjadi.”
“Setelah istri saya sadar dan seminggu kemudian ternyata anak saya kerasukan lagi, dan saya bingung karena seperti semula anak saya tidak bisa diobati, sampai akhirnya saya mencari kyai yang dulu pernah membantu menyadarkan anak saya, dia dan teman- temannya tak sanggup.
Dan hanya memberikan sebuah cincin, setelah anak saya memakai cincin, memang lantas tak kerasukan, dan saya disarankan untuk mencari orang yang bisa mengobati di daerah Pekalongan, katanya yang bisa mengobati orangnya adanya di Pekalongan, maka saya bawa anak saya ke Pekalongan, saya mencari kontrakan, sambil mecari siapa yang bisa mengobati, katanya di Pekalongan tinggalnya, soalnya petunjuknya gak jelas pak, orangnya muda saja, begitulah kata kyai itu..”
“Selanjutnya bagaimana?” tanyaku.
“Ya begitu, setelah seminggu ngontrak, ndak juga saya temukan mencari orang yang bisa mengobati yang katanya muda, sudah beberapa orang saya datangi semua kalah sama jin yang ada di tubuh anak saya, saya kan makin bingung.
Sampai malam ini, anak saya kambuh, sudah
banyak jin yang datang kata anak saya, akan
mengeroyok dan menguasai, maka saya bawa
anak saya ke musholla, di mushola malah semua orang ditantang, mau diajak tarung, jadi ramai, nah ternyata salah satu yang di mushola adalah murid bapak, lantas saya dianjurkan dibawa saja ke tempat bapak ini”
Setelah selesai bercerita, akhirnya ku tangani anak yang bernama Ningsih itu, ku beri mimun air, dan tanganku ku tempel ke punggungnya, sebentar lantas tak sadar, dan setelah ku usahakan ku tanya ternyata tak mau jawab sama sekali jinnya, diam membisu, kadang hanya menatapku, kadang tak berani menatap tapi tetap diam seribu bahasa, akhirnya, jin yang tak bisa memberikan informasi apa-apa ku keluarkan, karena kurasa tak ada manfaat di dalam lama-lama.
Semalaman gonta ganti jin, ku keluarkan tapi sama sekali tak ada satupun yang memberikan informasi, sebenarnya kalau bicara paling tidak akan ada informasi yang bisa digali. Akhirnya di malam pertama walau sudah beberapa jin ku keluarkan hasilnya nihil tak ada informasi yang bisa ku dapat.
Siangnya Bapak dan anak itu pulang dan saat
malamnya datang lagi karena biasanya memang malam jum’at kliwon atau malam sabtu kliwon, korban itu akan diambil sebagai persembahan, dan malamnya setelah datang ke tempatku, ku langsung beri minum air isian doa, dan ku tempel tanganku di punggungnya, sebentar kemudian sudah tak sadar karena di kendalikan jin dalam tubuhnya dan satu dua jin seperti kemarin tak mau bicara dan hanya diam seribu bahasa, akhirnya ku keluarkan, setelah 5-6 jin ku keluarkan, Alhamdulillah jin yang ke tujuh, ternyata menangis, wah ini bisa diajak
komunikasi.
“Siapa ini?” tanyaku.
“Saya Bunga.” jawab jin dalam tubuh gadis itu sambil masih terus menangis.
“Kamu dikirim?”
“Ya.”
“Sama siapa?” “Bowo..”
“Untuk apa?”
“Untuk menjemput anak ini.”
“Kamu muslimah?” tanyaku karena terdengar suaranya perempuan.
“Bukan.”
“Lalu apa agamamu?”
“Seperti Bowo.”
“Apa Hindu ?”
“Bukan.”
“Budha..?”
“Kristen?”
“Bukan.”
“Kafir?”
“Ya…”
“Kamu tak kasihan dengan anak ini? Kok mau kamu ambil jadi korban?”
“Kasihan, tapi saya tak bisa menolak perintah Ratu?”
“Ratu siapa?”
“Ratu dewi.”
“Siapa itu?”
“Yang punya perjanjian dengan Bowo..”
“Perjanjian apa?”
“Perjanjian pesugihan.”
“Sudah berapa korbannya?”
“Banyak.”
“Banyak berapa?”
“Ya ada 37 orang, termasuk ayahnya Bowo sendiri.”
“Ayahnya dikorbankan?”
“Ya.”
__ADS_1
“Yang lain dari mana yang dikorbankan?”
“Dari sekolah yang didanai.”
“Jadi anak sekolah itu dikorbankan?”
“Iya..”
“Apa yang merasuki teman sekolah anak ini kemaren itu juga ulahnya Bowo?”
“Iya…”
“Yang merasuk itu semua teman-temamu?”
“Iya semua temanku, atas perintah Bowo.”
“Berarti di sekolah itu banyak sekali jinnya?”
“Banyak…”
“Ada berapa?”
“Ratusan.”
“Kamu sendiri tinggal di mana?”
“Saya tinggal di pohon asem, tapi sekarang sudah ditebang, jadi saya pindah ke sekitar mushola sekolah.”
“Kamu keluar ya…!”
“Gak mau..”
“Kenapa?”
“Ya gak mau!”
“Sekarang kamu di sebelah mana tinggal di tubuh anak ini?”
“Saya di kaki.”
Lalu aku menuju ke kaki gadis itu dan ku tarik keluar, lantas gadis itu sadar. Dan ku lihat sangat kelelahan, jadi ku biarkan saja agar
istrirahat. Sampai besoknya malam akan ku selesaikan.
Besoknya setelah magrib gadis itu datang diantar lagi oleh ayahnya, sebenarnya aku sudah lelah sekali, karena disamping gadis itu aku seharian harus mengeluarkan jin yang ada di tubuh dua orang lagi tamuku, bahkan yang satu di dalamnya ada sampai hampir seratus jin dalam tubuhnya, energiku terkuras, maka ku putuskan memanggil murid-muridku membantu, agar bebanku agak berkurang, ku suruh murid-muridku mengeluarkan jin yang kapasitasnya ringan, sekalian mengajari mereka memakai ilmu yang ku berikan, sehingga kalau ada masalah yang sama nantinya mereka sudah bisa karena terbiasa a.
Sampai saat jin yang bernama Bunga itu yang kemaren ku keluarkan yang ternyata ada di dalam, tandanya dia menangis, segera ku tanyakan, karena rupanya jin ini lumayan ramah menurut pendapatku.
“Iya.”
“Kenapa ada di dalam lagi, bukannya kemaren sudah saya keluarkan?”
“Iya saya disuruh masuk lagi..”
“Sama siapa?”
“Sama Bowo..”
“Apa waktu di tempat lain, yang mencakar wajah orang yang mengobati, juga waktu ngamuk di mushola itu juga kamu Bunga?”
“Iya…”
“Kenapa di tempat lain ngamuk, sedang di sini
tidak?”
“Saya dilarang melawan?”
“Sama siapa?”
“Sama gurunya Bowo.”
“Dia bilang apa?”
“Ya saya dilarang jangan melawan.”
“Kenapa?”
“Karena gurunya Bowo takut.”
“Takut dengan siapa?”
“Takut denganmu.”
“Kenapa takut denganku?”
“Tak tau..”
“Apa bentukmu Bunga.”
“Saya perempuan cantik.”
__ADS_1
“Sudah punya pacar?”
“Ya belum…”
“Kenapa belum?”
“Karena umur saya baru 100 tahun.”
“Loh umur 100 tahun kok belum punya pacar?”
“Ya kan jin umur 100 tahun masih kecil.”
“Sebesar apa?”
“Sebesar anak kelas 1 SMP.”
“Oooo begitu?”
“Ya…”
“Lalu kenapa kamu menangis kalau muncul.”
“Karena saya sakit.”
“Sakit karena saya ini tidak bisa apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Ibu saya ditawan Ratu, dan saya dipaksa mengambil anak ini jadi tumbal, kalau saya tak melaksanakan ibu saya disiksa,”
“Kenapa ibumu tak kamu bebaskan?”
“Saya sudah tak punya kekuatan, kekuatan saya diambil Ratu.”
“Kamu kasihan gak sama anak ini?”
“Kasihan..”
“Kalau kasihan kenapa gak kamu lepaskan?”
“Tidak bisa, karena saya kalau tidak mengambil anak ini ibu saya disiksa terus.”
“Disiksa bagaimana itu?”
“Ya dirantai sama dicambuki,”
“Kasihan..”
“Kamu lepaskan anak ini ya..”
“Ya tapi saya ditolong melepaskan ibu saya ya..”
“Iya… saya insaAllah akan bantu.”
“Iya saya tak ganggu anak ini, anak ini akan saya bantu lepas dari menjadi tumbal.”
“Nah begitu..”
“Kamu saya Islamkan?”
“Ndak mau.”
“Kenapa ndak mau.”
“Saya sudah pernah masuk Islam, diIslamkan oleh kyai yang mengislamkan saya, tapi saya kembali kafir.”
“Kenapa kembali kafir?”
“Karena saya disiksa Ratu, diperintah jadi kafir.” “Bagaimana kalau masuk Islam, tapi tinggal di
sini, kan dalam perlindungan saya, jadi ibu Ratu itu gak berani ngapa-ngapain.”
“Tak bisa, ibu saya kan disiksa.”
“Ya kalau begitu, kamu keluar dulu ya…. kasihan anak ini, kita ngobrolnya di luar saja, kamu sekarang di tubuh anak ini di sebelah mana?”
“Saya di punggung..”
Ku arahkan tanganku ke punggung, dan ku tarik Bunga keluar, gadis itu pun sadar. Anak itu pun duduk, dan sebentar kemudian dia nangis lagi..
“Ini Bunga?” tanyaku.
“Iya…” jawabnya pendek.
“Kok kamu masuk lagi?”
“Saya tak masuk..”
“Lalu di mana?”
“Saya di belakangnya anak ini,”
__ADS_1
“Duduk apa berdiri?”