
Ibnu Masud menyatakan bahwa ia turut
menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini.
Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu kami pergi bersamanya dan aku bacakan al-Quran kepada
mereka.”
Peristiwa ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di Kampung Ma’ala, tidak jauh dari pekuburan kaum Muslim di kota Makkah. Kini masjid itu bernama Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai’ah atau juga Masjid al-Haras. Itu di- perbaiki kembali pada 1421 hijrah. Di sini jin berbai’ah atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan al-Quran. Ada yang engatakan, di masjid itu Nabi SAW mengislamkan jin kafir. Ada juga menceritakan, dekat Masjidil Haram ada tiang dinamakan tiang jin. Ketika Masjidil Haram sedang dibangun, tidak cukup tiang, kemudian jin mendatangkan tiang dari alam mereka. Mereka yang bisa berjumpa dengan tiang ini, mungkin bisa nampak alam jin. Ada juga yang khurafat memeluk tiang jin ini ketika orang lain wukuf di Arafah seharusnya untuk menjadi tuan jin.
Masjid Jin menjadi monumen terpenting antara Rasulullah dan jin. Dijelaskan, jin ketika itu berencana menuju Tihamah. Namun, mereka mendengar bacaan al-Quran. Mereka sangat takjub mendengarnya dan kemudian berdialog dengan Rasulullah, lalu menyatakan keimanan mereka. Kemudian mereka menyampaikan hal itu kepada jin lain. Ketika Rasulullah sedang membaca ayat All-Quran, ada beberapa jin. Sebahagian riwayat menyatakan jumlahnya ada sembilan jin dan sebagian lain menyebutkan tujuh jin yang turut mendengarkan bacaan al-Quran dari Rasulullah. Kemudian salah satu dari jin itu mengingatkan temannya dan berkata: “Diamlah, perhatikan bacaannya.” Setelah itu mereka kembali kepada kaum mereka untuk mengingatkan pada jalan yang benar. Salah satu dari jin itu bernama Zauba’ah.
Demikian menurut Ibnu Masud. Dalam kitab Fathul Bari, disebutkan, jin itu berasal dari Nasibain, yaitu sebuah daerah yang terletak di perbatasan antara Irak dan Suriah, yaitu dekat Mosul. Jin terbagi dua yaitu jin kafir dan jin Islam (mukmin). Jin yang beriman ditempatkan di surga, sedangkan jin kafir ditempatkan di neraka. Rasulullah menggambarkan jin itu terbagi tiga golongan yaitu:
1) Yang bisa terbang di udara.
2) Golongan ular dan anjing.
3) Serta golongan yang bermukim dan hidup berpindah-pindah. (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Dunya, dalam Maqasid as-setan).
Seperti manusia dan hewan, jin juga makan dan minum, menikah, beranak dan mati. Menurut Syeikh Abdul Mun’im, jin penghuni dunia yang hidup di tempat sepi dari manusia dan di padang pasir. Ada jin yang hidup di pulau di tengah laut, di tempat sampah dan bersama manusia. Jin memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia, seperti terbang, naik ke langit, mendengar apa yang tidak bisa didengar manusia dan mereka juga melihat apa yang tidak dapat dilihat manusia.
Aku kemudian melatih jin itu untuk mengobati dengan sistem pengobatan ala thoreqoh, yang perpaduan antara doa dan penyatuan konsentrasi serta dzikir, dan alhamdulillah mereka cepat bisa, semua sudah menjalankan dzikir pondasi, ratu, raja,dan panglimanya mulai menjalankan amaliyah puasa tingkatan thoreqoh, dan setiap hari terjadi dialog denganku, tentunya dengan cara mediumisasi, dengan memakai perantara orang agar jin bisa bicara ala manusia.
__ADS_1
“Pak kyai…” kata ratu jin.
“Ada apa?” tanyaku.
“Kok pak kyai baik, banyak yang memusuhi ya..?”
“Ya itu wajar, nabi SAW saja manusia paling sempurna yang paling baik budi pekertinya saja, banyak yang memusuhi kok, apalagi saya yang orang biasa, tentunya banyak khilaf dan gudangnya dosa.”
“Tapi pak kyai kan gak salah, kok dimusuhi..?”
“Iya gak papa ratu, kadang kita itu oleh Allah mau didekatkan padaNYA, tapi dilihat secara amaliyah ibadah, saya mungkin terlalu sedikit, jadi lantas Allah menurunkan cobaan dan ujian berupa dimusuhi orang, lantas Allah meng- anugerahkan kesabaran padaku, maksudnya agar aku bisa bersabar, dan dari kesabaran itulah terpetik pahala yang menjadikanku makin dekat dengan Allah, karena "Innalloha ma’asshobiriin, Allah itu beserta orang-orang yang sabar.”
“Tapi pak kyai, saya tak rela, kyai yang tak bersalah kok dimusuhi.”
“Ya gak rela itu hanya akan mengeruhkan hati, kita harus rela, dan ridho dengan ketentuan Allah.”
“Lalu siapa lagi yang dibuat sakit?”
“Ya anak pak kyai, ya istri pak kyai, istri pak kyai itu ada pocongnya, ada genderuwonya, makanya dia suka marah-marah dan tak nurut sama pak kyai, juga kandungan istri pak kyai ditutup dengan sesuatu, agar tak bisa punya anak lagi, anak pak kyai itu sering muntah dan sering tak doyan makan, karena dalam perutnya diisi beberapa paku, apalagi kalau pak kyai tak ada di rumah, mereka akan mengirimkan santet ke anak dan istri pak kyai, saya sangat heran dengan tingkah laku mereka, kan pak kyai ndak salah sama mereka.”
“Wah siapa yang berbuat sadis begitu ratu?”
“Itu Askan…”
__ADS_1
“Kok Askan lagi…?”
“Iya dia yang selalu memusuhi pak kyai, malah sangat rajin pergi ke dukun, jalan ke rumah pak kyai ditaburi kembang, sehingga tak ada jamaah yang datang, karena jalannya tertutup, dan tak kelihatan, juga orang yang mau ke tempat pak kyai ada saja masalahnya, lalu lagi itu sumur masjid tempat pak kyai ngambil air itu dimasuki jin, untuk diperintah mengaduk aduk, supaya airnya jadi keruh.”
“Yang benar ratu?” tanyaku heran.
“Iya benar.” jawabnya mantap.
“Wah pantesan setelah kejadian soal ribut aku mengambil air di masjid itu, kok air masjid jadi keruh sekali, sampai berwarna kuning kecoklatan, ooo ternyata begitu. Padahal selama ini kan aku sudah 2 sampai 3 tahun ngambil air di sumur masjid itu, dan sumurnya tak pernah keruh, ini kok jadi keruh sekali heran juga.”
“Iya itu sumurnya dimasuki jin, untuk disuruh
membuat sumurnya jadi keruh.”
“Begitu ya?”
“Malah istrinya juga yang mengambil laptop milik kyai yang hilang.”
“Hah….!” aku kaget sekali, “Yang benar ratu kalau tak benar itu namanya memfitnah lo..” jelasku.
“Iya benar…”
Aku heran, karena sekitar tahun 2011 silam, laptopku hilang dalam rumah, aku bingung, la itu alatku satu-satunya kalau mau nulis banyak, nulis cerita ini juga kalau pakai hp juga kan repot, kok hilang, waktu itu laptopku merek BENQ ku beli di Saudi dari hasil keringatku ngumpulkan uang, dan juga dari ngutang, hehehe…, pas kebetulan Kyai guruku, mau minjam, mau dipakai ngetik kitab thoreqoh, karena laptopku ada kayboard bahasa arabnya, jadi lebih mempermudah untuk menulis arab, pas mau dipinjam, istriku ditelpon, lalu laptop yang ku taruh di meja, ku datangi, dan kok gak ada, yang ada cuma cas casannya, ku tanya istriku mungkin menyimpannya, ee malah istriku gak tau, wah apa mungkin dibawa orang? Rasanya gak mungkin, soalnya tak satupun ada orang yang masuk rumah, daripada aku disalahkan kyaiku, maka aku milih sowan saja, dan bilang kalau laptopku kayaknya hilang, “kayaknya” soale aku masih gak percaya kalau hilang, isi lemari semua ku keluarkan, juga tas laptop ku bongkar, kali saja nyelip, tetap saja laptop gak ada, yang membuat sedih kan banyak file di dalamnya, juga video waktu di Saudi, kenangan -kenangan di sana, tapi mau bagaimana lagi wong ternyata benar-benar hilang.
__ADS_1
Dan saat itu guruku mengatakan, kalau yang mengambil adalah istrinya Askan, bener-bener gak percaya, apa juga perlunya dia ngambil laptopku, dia juga gak bisa laptopan, juga apa motifnya? Bener-bener bingung, tapi tetap saja kyaiku menjelaskan yang mengambil adalah istrinya Askan, malah kyai menyebut detail ciri-ciri istrinya askan bagaimana, sampai jalannya bagaimana, sampai bagaimana mengambil laptopku dijelaskan sampai detail, tapi tetap saja aku tak percaya kalau yang mengambil laptop ku dia. Karena sama sekali tak....
Bersambung....