Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Wirid tandingan


__ADS_3

Ketika makanan yang kita peroleh dari rizqi yang haram, itu kita makan, dimakan keluarga kita, dimakan anak-anak kita, maka rizqi itu tertelan, lalu diproses oleh pencernaan, dasarnya rizqi yang tak halal, maka sarinya kemudian mengaliri darah, lalu saripatinya menjadi ****** dan menetesi hati, menjadi racun yang menggersangkan hati, maka jangan heran jika kemudian rizqi yang tak halal itu kemudian menjadikan anak kita menjadi anak yang sangat buruk prilakunya,


Sebab persifatannya kita bagun hatinya dari makanan yang tak halal, juga kita teramat mudah suntuk, marah, sesak, keras kepala, pemarah, mudah tersinggung, irian, dengkian, tak pernah kerasan jika diajak berbuat baik, dan bersemangat jika diajak berbuat jahat, itu semua karena hati kita terbangun dari makanan yang haram, seperti tanah yang di dalamnya mengalir minyak dan menumpahkan lumpur beracun.


Jika hanya menjadikan kita berbuat jahat untuk diri sendiri itu tak apa. Tapi jika kemudian yang kita sudah mempunyai sikap melahirkan keburukan kepada orang lain, maka siapapun kita itu adalah telah menggolongkan diri dalam syaitan bergolongan manusia, yang disebut dalam surat Annas, yaitu setan dari golongan jin dan setan dari golongan manusia.


Apakah kita itu seperti itu? Yang selalu berusaha mencegah orang lain berbuat kebaikan, yang selalu merasa iri dengki ketika orang lain melakukan kebaikan, dan orang lain mendapat anugerah dari Alloh, apakah kita selalu sekuat daya menghalangi orang lain melakukan kebaikan, jika diri melakukan kajahatan maka dibenarkan, jika orang lain melakukan kebaikan maka disalahkan, jika kita sudah seperti itu maka sifat syaitoniyah kita telah mendarah daging.


Karena makanan yang kita konsumsi, dan telah meracuni segala darah, pikiran, hati, perasaan, sehingga apapun yang dilakukan orang lain sekalipun itu kebenaran, maka itu di anggap sebagai suatu kesalahan, karena mata juga telah teraliri racun saripati dari makanan haram yang kita makan.


Skip...


Alhamdulillah Dzikir pertama semua berjalan lancar, dan jama’ah pertama langsung mengikuti talkin, untuk menjadi pengurus, tapi besoknya ada laporan yang masuk kepadaku, katanya Kyai Askan menemui salah satu pengikut majlis dzikirku yang bernama ibu Anisah.


“Bu Anisah…, kamu semalam ikut dzikir di rumahnya Ian?” tanya kyai Askan.


“Iya… hampir semua orang dekat pada ikut.” jawab Bu Anisah.


“Halah Ian itu anak kemaren sore, dia itu bisa apa, tau apa, kok kamu ikuti, yang diajarkan ya kitab apa…? Paling-paling aliran sesat, nanti kamu ditangkap polisi, kalau mengikuti alirannya, paling juga yang dibakar menyan, nanti kamu dipenjara Bu…, awas hati-hati Ian itu sekolah saja paling tingkat berapa, orang tak tau apa-apa kok diikuti, dia juga miskin, tak punya apa-apa, ngikuti kok orang miskin, nanti kamu ketularan miskin.” kata Kyai Askan.


“La banyak orang yang ikut ngaji di sana, la yang tak pernah mengaji saja juga ikut, bagaimana dikatakan sesat, la kami bersama-sama menghatamkan Al-qur’an, ya kalau Ian sesat, berarti Al-qur’an juga sesat, la dia tak punya apa-apa, ndak sekolah tinggi, Nabi juga kan miskin, tak punya apa-apa, juga tak kuliah, apa Nabi juga tak boleh diikuti ?” bantah Bu Anisah.


“Wah baru ikut ngaji, kamu sudah keminter, sok pinter.”


“Ya bukan masalah pinter, memang sampean sendiri yang pinter, tapi itu kan kenyataan, Lha Ian itu juga ndak pernah utang sama sampean, ndak pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah sampean, juga ndak pernah nyolek sampean sedikitpun, la kok sampean urus, sampean benci, apa salah dia?”


“Aah… kamu akan melarat kalau begitu…”

__ADS_1


“Melarat bagaimana, la ini lihat sendiri, biasanya jualanku sehari baru habis, sekarang karena semalam ikut pengajian di tempat Ian, sekarang lihat satu jam semua terjual habis, orang datang seperti semut, ini tak aku saja, juga yang lain, la melarat bagaimana, malah aku ingin diadakan pengajian tiap hari, kalau daganganku laris, kan aku juga bisa naik haji.”


“Itu namanya pamrih, ngaji tapi pamrih.”


“Pamrih bagaimana? Malah sebelum kami ngaji, Ian menjelaskan kalau ngaji itu yang ikhlas, jangan punya keinginan apa-apa, upayakan hati hanya melulu memenuhi perintah Alloh, itu kata Ian sebelum pengajian dimulai, dia juga bilang kalau mau meminta, ada tempatnya sendiri, yaitu saat berdo’a, tapi juga perlu diingat do’a itu kita melakukan do’a, bukan agar diijabah, karena ijabah itu haknya Alloh, dan kita hamba, jadi berdo’a karena melulu memenuhi perintah Alloh, tiada yang lain, soal nanti isinya do’a itu apa dan


bagaimana, maka itu sekedar do’a.”


“Wah kamu akan sesat bener Bu…, sudah mengajari aku sebagai Kyai, sok pinter…, pasti kamu itu sudah diminumi air, agar menjadi budaknya Ian.”


“Wong aku ini ikut ngaji, kemauanku sendiri.”


“Alah nanti juga kamu dimintai uang.”


“Malah tidak, aku sering meminta do’a supaya disembuhkan dari sakit, tapi aku tak pernah dimintai uang sama sekali, malah tak pernah bayar, sudah dapat air mineral gratis.”


“Ya daripada minum obat dari dokter, yang banyak efek sampingnya, ya aku lebih memilih minum air putih, kalau sama-sama sembuhnya.”


“Itu namanya syirik.” “Syirik yang bagaimana…La air itu dido’akan, dimintakan kepada Alloh, la kalau minta kepada Alloh dibilang syirik, lalu yang tak syirik itu yang bagaimana…?” tanya Ibu Anisah.


“Ah ngomong sama orang bodoh susah…” kata


Kyai Askan, sambil menggebrak meja jualannya Ibu Anisah.


“Lhoh kok gebrak-gebrak meja orang, kalau rusak, kamu mau mengganti?” kata Bu Anisah jengkel melihat tingkah Askan.


“Nanti akan ku buat tandingan wirid untuk menandingi wiridnya Ian, akan ku buat wirid panjang umur.” kata Askan dengan bentakan.

__ADS_1


“La kenapa musti membuat tandingan, la sampean mengadakan wirid jama’ah sendiri saja tak ada yang melarang.”


“Pokoknya akan ku buat tandingan.”


“Wirid kok tandingan, aku yang bodoh saja tau itu tak benar, masak ada wirid tandingan, la dzikir itu kan harus kalau tanding-tandingan apa bisa ikhlas.”


“Iya kamu sudah ikut wirid di tempatnya Ian, jadi kamu belain dia.”


“Aku bukan belain Ian, Ian itu juga tidak mengajak orang wirid, tapi semua yang ikut itu tak ada yang keberatan, malah pada seneng, soalnya ada efeknya.” jelas Bu Anisah.


___________________________


Dan memang yang ikut wirid di majlisku semua punya cerita aneh-aneh sendiri.


Kayak Bu Anisah sendiri, yang katanya biasanya dia yang uangnya banyak dipinjam orang, kalau sebelumnya walau didatangi dan ditagih hutangnya saja orang yang ngutang-ngutang pada marah, tapi sekarang malah orang yang pada punya hutang itu datang sendiri untuk membayar hutang, bahkan yang sudah 10 tahun juga membayar, dan yang lebih membuat senang jualannya laris.


Ada juga cerita Maskur, yang jualan jajanan di pinggir jalan, awalnya Maskur ragu mau ikut, tapi dia ikut, dan menyediakan air yang biasanya ditaruh di tengah orang pada wirid, besoknya airnya diciprat-cipratkan ke tempat


dagangannya, Istri Maskur yang memang tak suka suaminya ikut dzikir bersama melihat apa yang dilakukan suaminya, berkata,


“Ah tak ada efeknya sama sekali mas..” kata istri Maskur.


“Ya ada tidaknya efek kan juga tak bisa langsung seketika.” jawab Maskur yang juga makin ragu.


Tapi kemudian sebentar tapi pasti, orang-orang datang, dan terus berdatangan, terus berdatangan, bahkan membeli dalam partai


besar, dan anehnya hampir semua bukan pelanggan lama, tapi orang yang tidak dikenal, sampai Maskur dan istrinya tak terlihat, karena banyaknya pembeli yang mengerubung padanya.

__ADS_1


Sekarang bukan Maskur yang harus ngomong ke istrinya dulu kalau mau ikut dzikir, tapi malah istrinya yang selalu ingin Maskur ikut dzikir, memang kadang kecendrungan nafsu pada sesuatu itu sah saja dipakai penarik agar diri menjadi senang dan cenderung pada jalan Alloh.


__ADS_2