Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Santet


__ADS_3

Besoknya Inayah dan suaminya menyatakan cinta dan mencintaiku karena Alloh, ditulis di pesanku Setelah membaca tulisan di pesan, aku segera mendo’akan Inayah, agar segera dikaruniai anak.


Besoknya ada pesan lagi dari Inayah.


“Mas semalam perutku kayak bergerak-gerak,


semalaman selalu bergerak-gerak, kayak ada


tangan di dalam perutku yang merubah-rubah,


mas apakan?” pesen Inayah.


“Ya tak aku apa-apakan, kan aku jauh di Saudi,


memangnya bisa ngapakan orang yang di


Indonesia?” tanyaku.


“Ya tapi jadi aneh, oh ya mas kata suamiku,


sekalian dido’akan biar punya anak kembar,


hehehe…, biar langsung punya momongan dua.”


“Ya insaAlloh.” kataku.


——————————————-


“Mas… aku tidak men lagi.” kata Inayah, setelah lima belas hari terakhir kirim pesan,


“Ya moga-moga saja hamil.” kataku.


“Ku tunggu perkembangan selanjutnya.”


“Mas aku mual-mual, tadi ku periksakan ke


dokter, aku positif.” pesan Inayah di facebook.


Mungkin jarak empat puluh harian setelah ku


do’akan.


“Mas anakku kembar, sudah ku USG kan,”


“Ya syukur.”


Begitulah Inayah selalu memberitahu perkembangan kandungannya, aku senang, dia bisa senang, walau bertemu sekalipun aku belum pernah, dan tak pernah sekalipun melihat wajahnya.


“Mas kok yang berkembang cuma satu, kembarannya tidak berkembang,” pesan Inayah ku trima lagi.


“Ya makanya kalau meminta pada Alloh itu jangan dibuat candaan.” balasku di pesan.


Begitu salah satu cerita di antara banyak kisah di facebook, sebagian orang menjadikan facebook itu untuk iseng, berkeluh kesah, dan main-main saja, tapi bagiku di mana saja orang bisa berbuat baik, semakin seseorang itu bisa berbuat baik, dan beramal seperti tangan kanan memberi dan tangan kiri tak melihat, ya seperti menolong orang yang tidak kita kenal, dan mereka tak mengenal kita dalam artian tidak pernah bertemu berjabatan tangan, maka keikhlasan akan lebih terpelihara.

__ADS_1


Dan keikhlasan seseorang itu ternilai dari pamrih apa yang didapat, dan Alloh sungguh Maha Melihat setiap perbuatan sekecil apapun perbuatan itu akan tetap dinilai di sisi Alloh,


Alloh tak pernah mendzolimi hambaNya.


Siapa yang mampu melepas kebaikan seperti melepas anak panah, maka akan mendapat derajat di sisi Nabi.


Do’a yang tak ikhlas itu tak akan menembus langit tujuh, apalagi sampai di sisi Alloh, akan tertahan di langit, dan mungkin malah hanya sampai langit pertama, maka kenapa tidak mengukur keikhlasanmu dengan coba berdo’a, diijabah tidak do’amu, jangan banyak berteori dan memperdebatkan kata-kata kosong, buktikan jika kau mampu, jika cuma bicara, anak kecil juga bisa, itu yang selalu terngiang di dalam pikiranku, punya iman? buktikan, ikhlas? buktikan.


skip...


Setiap hari ada saja orang yang datang ke rumah, anehnya biasanya musiman, aku hanya yakin semua diatur oleh Alloh, jika lagi musim urusan rumah tangga, perceraian, masalah perkawinan, anehnya selalu yang datang soal rumah tangga, jika lagi musim soal penyakit dalam, anehnya juga orang yang datang soal penyakit dalam, dan jika yang datang soal santet, atau penyakit kiriman orang, maka anehnya yang datang selalu soal santet, mungkin jika ku ceritakan semua maka tak akan habis waktu bercerita, mengingat sangat beragamnya orang yang datang kepadaku, entah tak tau mereka bisa tau dari mana, aku tak pernah menanyakan satu persatu.


Seperti pagi itu datang seorang wanita muda, aku biasanya kalau pagi tidur, bangun jam 10 pagi, sebab biasanya kalau malam tak tidur sampai pagi, kebiasaan di pesantren kalau malam tak tidur, sampai setelah sholat subuh baru tidur.


“Ada apa mbak?” tanyaku dengan mata masih


perih.


“Ngganggu tidurnya ya mas?” tanya perempuan yang ku kira umurnya 25 tahun. “Anu saya mau minta tolong.” kata perempuan itu yang ku tanya bernama Harni.


“Minta tolong apa mbak?” tanyaku.


“Ini mas, saya didiagnosis dokter katanya saya


mengidap kista, dan saya diharuskan operasi,”


“La kenapa tak operasi saja mbak? Kalau memang dokter menyarankan begitu?.”


“Ya kalau bisa jangan operasi lah mas…, kalau andai bisa saya bisa sembuh dengan tanpa operasi.”


“Ndak beres bagaimana mas?”


“Mbak berapa kali nikah?” tanyaku.


“Dua kali mas.”


“Ada masalah dengan suami pertama ya


Maksudku perceraiannya ada masalah?”


“Iya mas…”


“Soalnya ada penyakit lain selain penyakit kista tersebut, dan penyakit itu ada hubungannya dengan perbuatan orang.”


“Iya mas, penyakitku ini sebenarnya sudah 6 tahunan, dan sudah ku obatkan kemana-mana, tapi tak ada hasilnya, tetap saja, aku sakit, malah pernah aku sama sekali tak bisa bergerak,”


“Coba mbak Harni ceritakan dengan agak mendetail, soal urusan dengan suami pertama.” kataku.


“Kami bercerai karena suamiku itu suka main judi dan menghasilkan uang dari usahaku membuka warung makan, sehingga aku bangkrut, maka aku minta cerai, tapi walau sudah cerai suamiku itu masih suka berusaha merayuku, dan sampai aku akan menikah dengan suamiku yang sekarang, bekas suamiku itu mengancamku, akan menjadikanku tak bisa bahagia, karena menikah lagi,


Pernah suatu kali ada bola api yang menghantam teko sampai hancur berkeping- keping, aku yang kaget, mengira apa gitu, dan segera ku anggap lalu, tapi sejak saat itu aku sakit-sakitan.”


“Hm… begitu, nanti ku kasih pagar diri dan rumah, semoga santetnya tak bisa membahayakan lagi, dan soal penyakitnya nanti ku kasih air, diminum setelah bangun tidur, dan sebelum tidur, nanti jangan lupa mengabari perkembangan selanjutnya.”

__ADS_1


“Iya makasih mas…” kata Harni.


——————————————-


Esoknya Harni nelpon,


“Mas tadi pagi kok aku kencing isinya lendir banyak sekali, kayak nanah, dan ingus, tapi banyak sekali, apa tak apa-apa?” tanya Harni.


“La sekarang bagaimana?”


“Sekarang tubuh enteng dan enak.”


“Moga saja sembuh penyakitnya.” kataku.


——————————————-


Seminggu kemudian Harni nelpon lagi.


“Ada apa?” tanyaku.


“Anu mas tadi ada orang datang ke rumah saya, dia berkata, pagarmu ini dari mana, ku santet kok gak tembus-tembus,”


“Ya aku jawab, pagar apa? dan dia pergi begitu saja, aku jadi takut.”


“Tak apa-apa, biarkan saja, usaha saja seperti biasa, kalau ada apa-apa jangan lupa memberi kabar.” kataku, dan sejak saat itu Harni tak memberi kabar lagi padaku.


Pernah datang ke rumah sekali untuk mengucapkan terima kasih.


Setelah sholat isya’, seorang lelaki berjaket kulit datang bertamu, biasanya aku santai setelah sholat isya’ kadang duduk di teras, sambil melihat orang lewat.


“Ada keperluan apa mas?” tanyaku pada orang tersebut, setelah ku persilahkan duduk, yang ku taksir umurnya 45 tahun.


“Ini pak kyai… saya sakit.” kata orang itu yang bernama Munawar.


“Sakit apa mas? ” tanyaku.


“Sakit saya ini ya kalau kata dokter macem-


macem mas, ada jantung, ginjal, asma, dan saya sudah berulang kali operasi.” kata lelaki itu sambil membuka jaket kulitnya dan memperlihatkan bekas bedah, di sana-sini.


“Tapi saya sudah dioperasi berulang kali kayak begini tapi tak juga sembuh mas, sudah sepuluh tahun tak bisa kerja, dilihat dari luar kelihatan sehat, padahal saya amat sakit dan sering tak kuasa apa-apa, saya sampai dibenci anak istri, mengiranya penyakit saya ini saya pura-pura, dan sawah ladang sudah habis saya jual untuk berobat.”


“Coba angkat tapak kakinya,” kataku sambil


melihat tapak kakinya yang diangkat dan ku lihat tapak kakinya mengembung.


“Coba tapak tangannya lihat.” kataku dan ku lihat tapak tangannya juga mengembung.


“Perutnya selalu terasa penuh ya?”


“Iya mas kyai, perut saya terus terasa penuh.”


jawabnya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2