
Ku lihat tubuhnya biru tua, bukan hijau, tapi biru ke arah ungu, matanya merah menyala, tak ada taring, tapi lengannya sebesar pohon kelapa aku yakin perwujudannya seperti itu karena sifat yang dimilikinya, bibirnya basah oleh darah,entah darah siapa,
Tiba-tiba tangannya mengibas berusaha menyerangku, reflek aku segera menghindar, dan berkali-kali aku diserang, aku berkelit seperti burung srigunting, meliuk di antara ketiaknya yang bau bangkai, dan kontan saja membuatku merasa mual mau muntah, aku mencoba mengitarinya dengan ikatan gaib tak terlihat yang ku bangun dengan lafad Ba’, seperti jaring laba-laba, berulang kali
ku kitari tubuhnya, dan setelah dengan susah
payah ku ringkus, aku menyeretnya, ku seret
sepanjang perjalanan, dia menyumpah-serapah dengan bahasa sunda yang tak ku mengerti, ku seret terus sampai di pinggir air terjun.
Lalu ku ikat kuat-kuat di akar-akar pohon yang
menjuntai. Lalu ku pukul telak dengan petir yang ku bayangkan tercipta dari takbir, dia pun
pingsan. Lalu aku pun segera melesat pergi lagi.
Setengah jam ku tempuh perjalanan jauh, dan
sampai di tubuhku, kamar telah sepi, Safi telah
tertidur sambil mengigau-ngigau, aku pejamkan mata, mengucap syukur, Alloh telah mempermudah dan memberi ijin tugasku.
Dan akupun segera berangkat tidur, setelah ku lihat jam di meja menunjukkan jam dua dini hari.
Jika segala masalah selesai semudah pembuat roti mencampur tepung membuat adonan roti,
dan semangat karena hasil akhir yang diharap
kenikmatan merasakan setiap gigitan, walau
nafsu itu sesepele makanan melintasi lidah dan semua telah tak bisa dibedakan jika telah
dikeluarkan, nilai nafsu sebenarnya tak
sebernilai ketika dibanding perjuangan
memuaskan kepuasannya.
Perjuangan yang meneteskan setiap keringat
dari pori-pori, dan dinikmati lebih cepat dari
kedipan mata, dan selalu rasa bosan itu meraja, sekalipun seorang lelaki jatuh bangun
memperjuangkan gadis yang siang malam
dimimpikan, tak akan lama juga akan bosan jika telah diraihnya kemudian.
Dan jika hal itu tidak juga disadari, maka
manusia hanya mengulang-ulang kisah yang sama di waktu dan kondisi yang berbeda.
——————————————-
Toni masuk kamarku dengan wajah yang tak
bersemangat seperti biasanya, bahkan ku candai dia tak tertawa.
“Kenapa, kok murung amat..?” tanyaku datar,
sambil memainkan game Bubblet.
Arif, Ibnu, Heri, Fathur, menyusul masuk, semua pada tertawa ngakak.
“Ada apa kok pada ketawa?” tanyaku heran.
“Ini mas si Toni sudah dapat foto dari
perempuan yang diajak telpon-telponan.” jelas
Arif.
__ADS_1
“Bener Ton? Coba sini aku lihat…!” kataku.
“Udah ku hapus.” jawab Toni.
“Hahahahah… jelek banget mas..” sela Ibnu.
“Lebih jelekan dari Kunti, ampun deh, tua,
monyong, hitam, aku malah jadi merinding
melihatnya, hahahaha…” canda Arif.
“Ah yang bener, apa separah itu…? Coba mana
Ton…”
Toni mengulurkan hape lipatnya, lalu ku buka.
“Di mana kamu nyimpennya?” tanyaku.
“Ya masih di inbox sms.” jawab Toni.
Ku buka inbox dan memang perempuannya jelek banget, sudah hitam, gemuk, mulutnya kayak suneo, rambutnya dilepas memang kelihatan serem.
“Ya kan ada baiknya Ton, kamu tau sebelum
terlambat, setidaknya kamu kan tidak yang-
yangan setiap malam, sudah habis pulsa banyak, ee taunya perempuannya kayak gitu, emakmu saja gak bakal ridho kamu kawin sama orang kayak gitu.” jelasku.
“Diikat di bawah ranjang untuk nakutin tikus
mas…” canda Ibnu.
“Ah itu pasti bukan foto asli.” bantah Toni.
Semua terdiam, memang bisa jadi bukan foto
“Ya untuk membuktikan kan mudah, misal itu
foto orang lain,” kataku.
“Caranya bagaimana?” tanya Toni.
“Ya bilang ke perempuan itu, kalau itu bukan
foto asli, lalu minta foto baru, foto yang
setengah telanjang, atau telanjang sekalian, jika
itu yang di foto orang lain, apa mungkin mau
diminta foto telanjang?”
“Terus kalau dia tak mau?” tanya Toni.
“Ah gampang itu aku yang atur, dia pasti mau, ya maksudku, biar jelas sekalian, daripada uang kamu habis untuk hal yang tak karuan
juntrungnya, telpon-telponan sama cewek mulu, aku dengar saja telinga rasanya gatel…”
“Lalu caranya bagaimana?” tanya Toni.
“Sekarang kamu telpon saja, minta foto yang
baru, untuk membuktikan foto itu asli, maka
kamu minta foto yang setengah telanjang, atau yang telanjang.” jelasku.
“Kalau dia tak mau?” tanya Toni.
“Ya langsung saja tutup hapenya…, nanti kalau
__ADS_1
dia nelpon lagi biar aku yang jawab.” jelasku.
Udah ku jamin dia mau ngasih foto yang
telanjang. Memang aku kalau lagi ngacau, lebih ngacau dari siapa saja.
Toni menelpon, dan pasti jawabannya
perempuannya marah-marah, dan tak mau
memberi foto telanjang. Toni menjawab akan
memutuskan hubungan. lalu hape segera ditutup sama Toni.
Aku kasihan sama Toni, dia sudah 4 tahun di
Saudi, dia kerja di Saudi karena ibunya bekerja
jadi pembantu di rumah manajer pabrik semen, makanya dia walau umurnya di bawah duapuluh tapi bisa bekerja di pabrik semen, tapi gara-gara telponan sama TKW, gaji bulanannya ludes, bukan masalah membeli pulsa, tapi TKW yang selalu ngajak telponan selalu minta dikirimi pulsa, kalau ndak ngirim akan diputuskan, ya anak muda seumuran Toni ya jelas susah melepaskan kesenangan walau cuma mendengar suara cewek yang mendesah-desah.
Sebab kadangkala orang yang kesepian
cenderung dibisiki syaitan sampai mempunyai
kelainan hayalan. Dari mendengar ******* saja bisa membangkitkan birahi, ya ujung-ujungnya melakukan onani yang merusak badan dan pikiran, sekalipun aku tak bisa menghentikan kebiasaan buruk orang-orang itu, setidaknya aku selalu berusaha.
Bahkan dari usaha yang buruk sekalipun, jika tidak tercatat sebagai amal baikku di sisi Alloh, tak apa-apa, asal teman-temanku bisa utuh uangnya, bisa mengirimkan kepada orang yang lebih berhak, yaitu istri dan anak atau keluarga mereka. Bukan diberikan kepada orang yang bicara di hp yang ah-uh tak karuan.
Lama juga kami menunggu hape Toni bunyi lagi, tak juga bunyi. Safi masuk, sambil nelpon dengan suara perempuan, semua tertawa.
“Fi… udah kasihan, jangan seperti itu, matikan
hape nya.” kataku. Safi segera mematikan hape nya.
“Coba panggil pak Bunawi ke sini…” kataku pada Arif. Yang segera beranjak ke kamar pak
Bunawi.
Sebentar kemudian pak Bunawi muncul disertai Arif.
“Pak Bun… pak Bun suka telpon telponan sama cewek ya?” tanyaku pada orang tua berumur 55 tahun itu.
“Ah gak juga…” jawab pak Bun.
“He pak Bun, cewek yang pak Bun telpon, dan pak Bun kirimi pulsa itu bukan cewek beneran.” kataku.
“Tidak kok itu cewek, kami malah mau ketemuan kalau aku cuti nanti, kami mau ketemuan di Indonesia.” jawab pak Bun.
“Wah bisa pedang ketemu pedang, gini pak Bun, yang pak Bun telpon itu sebenarnya Safi.”
jelasku.
“Lhoh kok bisa nomer cewek itu ada di Safi?”
tanya pak Bun tak mengerti.
“Bukan nomernya ada di Safi, tapi itu ya Safi
itu…” jelasku. “Coba Saf, kamu telpon pak Bun
biar aku tak banyak menjelaskan.”
Safi pun menelpon pak Bun, dan hp pak Bun pun bunyi tanda ada telpon masuk, lalu diangkat oleh pak Bun, dan Safi bicara dengan suara perempuan, pak Bun gemetar.
“Bagaimana pak Bun? Sudah percaya dengan
ucapanku? Sudahlah kembali ke tujuan awal, ke Saudi itu untuk mencari uang, bukan untuk
menghabiskan uang untuk mengisi kesepian, ya....
Bersambung...
__ADS_1