
Sampai hari ke tiga, pagi-pagi sekali cepat-cepat kambing ku potong, dan ku kuliti. Dan sungguh mencengangkan, perut kambing telah bocor, ada lubang sebesar jari di segala tempat, sehingga isi perut keluar dari penampungannya, dan di dalam perut kambing berisi gedebong pisang yang dicacah,
Aneh kayaknya kambing tak makan
gedebong pisang, juga ada rambut manusia, ada taring sebesar jempol tangan orang dewasa, ada irisan ban mobil dan ada banyak kerikil sebesar telur puyuh,
Kayaknya barang-barang itu tak mungkin ada di dalam perutnya kambing, pantesan kalau kambingnya kesakitan.
Barang-barang itu ku masukkan plastik,
rencananya ku bawa ke rumah pak Mahrus. Kalau organ dalam, paru-paru dan hati kambing telah
membusuk, bahkan telah berbau tak sedap.
Aku hanya geleng-geleng kepala, merasa amat
aneh. Dan barang yang ada di dalam tubuh
kambing itu ku bawa ke rumah pak Mahrus, dan aku kembali diberi air untuk diberikan pada
Asrifah.
Aku bersukur Asrifah sudah tidak mengaduh-
aduh lagi, tapi rasa senangku dan anggapanku
akan kesembuhan Asrifah hanya tinggal harapan, hanya seminggu Asrifah tenang, dan setelah itu menjerit-jerit kesakitan lagi.
Ah aku sudah kehabisan akal, mau bagaimana lagi, terpaksa akhirnya ku diamkan.
Sebulan–setahun sudah, pas genap Mbak
Asrifah sakit, dia pun meninggal dunia.
Awalnya ketika akan meninggal susah sekali, maka aku mengambil Al-qur’an dan ku bacakan surah Yasin, belum sampai surah Yasin selesai Mbak Asrifah telah pulang ke rahmatulloh.
Rasanya seperti melepas beban di pundak, mungkin meninggal lebih baik daripada berlarut-larut merasakan sakit yang tak berkesudahan.
Semoga kisahnya bisa menjadi orang yang
membaca menjadi sadar, dan seseorang hati-
hati dalam bertindak, sebab tak ada manusia itu tidak sakit, tak ada manusia itu tidak mati,
sekalipun saat sehat bisa membanggakan diri
dan merasa punya uang kemudian merasa bisa
melakukan apa saja, jika diberi sakit sama sekali tak berdaya.
Tak ada manusia hebat, selama masih sebagai
manusia, kecuali dia telah menjadi Tuhan, yang
tak pernah sakit, tak lemah, tak menyandarkan
pada sesuatu selain pada dirinya.
Jika manusia itu sudah tak butuh lagi makan, tak butuh lagi minum, tak butuh udara untuk
bernafas, di mana mana tempat ruang dan waktu tak menghalangi gerak geriknya, dimana
keterbatasan-keterbatasan itu tak membatasinya, selalu kekal dan abadi, maka
manusia telah pantas untuk membanggakan diri, tapi nyatanya manusia tak ada yang seperti itu, maka jelas manusia tak ada yang pantas untuk membanggakan diri.
Seminggu telah berlalu, setelah pemakaman
mbak Asrifah, aku sendiri telah beraktifitas
seperti biasa.
Dan malam ku isi dengan dzikir. Saat itu jam dua dini hari, aku masih duduk memutar tasbih malam terasa amat sepi, sekali waktu terdengar gerimis, dalam suasana yang
__ADS_1
sepi, lamat-lamat ku dengar suara memanggil.
“Maaak…!, maak..!” begitu suara itu, tapi
suaranya seperti suara mbak Asrifah.
Apa aku yang salah dengar, dan suara itu
berulang-ulang. Tapi aku masih merasa seperti
mendengar itu dari halusinasiku sendiri, tapi aku bukan berhalusinasi, memang mata rasanya ngantuk, jadi sampai berulang kali aku tidur sambil duduk.
Aku benar-benar merasa aneh dengan suara
Mbak Asrifah, tapi aku benar-benar bukan
mimpi,
“Siapa itu?” tanyaku dari tempat aku duduk
dzikir.
Tiba-tiba terdengar suara cring-krincing-krincing
seperti suara besi yang diseret, dan berdiri di
hadapanku Mbak Asrifah, yang wajah dan
rambutnya dipenuhi tanah, wajahnya menghitam, lengkap dengan pakaian morinya yang dipakainya compang-camping seperti bekas cambukan yang sampai membekas di mori, tangan dan kakinya dirantai dengan rantai hitam.
“Setan dari mana kau…!?” bentakku.
“Aku kakakmu Yan.. Asrifah, aku ndak diterima
di sana, tolong aku Yaaan… aduh panaaas…”
katanya memelas dan kepanasan karena aku
“Benar kau mbak Asrifah? Jangan-jangan kau
setan yang menyaru-nyaru belaka?” kataku
dengan pertanyaan yang bernada tinggi dan Berwaspada dari tipu daya bangsa tersebut.
“Benar Yaan aku Asrifah, maafkan kesalahanku
padamu, aku tak mengindahkan nasehatmu..,
sekarang aku tak diterima, lihat aku disiksa
seperti ini, dirantai, apa kau tak kasihan
padaku..?”
Terus terang aku sendiri takut setengah mati,
melihat perwujudan yang amat menyeramkan,
rambutnya yang tinggal sedikit dan acak-acakan, pipinya yang seperti habis ditampar, dan bau tanah kuburan berbaur dengan bau bangkai sangat kuat tercium, tapi aku berusaha bertahan, sebagai orang yang yakin pada Alloh, la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissama’, tak ada yang berbahaya jika kita berpegang teguh pada Alloh, apapun yang di bumi dan di langit.
Seperti ada yang membisikiku, agar memutuskan rantai dengan akhir surrah Taubah.
“Kesinikan rantainya.” kataku.
Lalu dia menyeret rantai dan menyodorkan
rantai kepadaku, lalu ku pegang rantai dengan
membaca akhir surrah Taubah, Alhamdulillah
rantai lepas, lalu rantai di kakinya, dan sama
seperti ku lakukan pada rantai di tangannya, dan rantai pun lepas.
__ADS_1
“Lalu bagaimana nasibku Yaan…!, Aku tak
diterima, bagaimana ini?” katanya memelas.
“Sudah tak usah banyak ribut, besok akan ku
coba menolong, sekarang pergilah.”
“Tak bolehkah aku tinggal di rumahmu… aku di
sana dipukuli..”
“Tak boleh, nanti kau menakutkan keluargaku,
sudah sana pergi, besok aku tolong.” kataku.
Lalu dia pergi tersaruk-saruk, tubuhnya
membungkuk-bungkuk menahan sakit.
Aku meneteskan air mata karena kasihan dengan nasibnya, manusia tetap hanya mampu berusaha, hidayah itu bulat-bulat milik Alloh.
Paginya Jum’at aku kirimi mbak Asrifah, ku
bacakan sholawat nabi 10 ribu kali, ku mintakan pada Alloh agar ruhnya diterima dan dibebaskan dari siksaan.
Aku yakin dengan apa yang ku kirimkan pasti sampai. Malam aku sengaja menunggu, aku dzikir duduk di kursi ruang tamu, kira-kira jam 1 dini hari, terdengar suara pintu rumah diketuk dan suara salam.
“Waalaikum salam, masuk saja tidak dikunci.”
kataku.
Ternyata mbak Asrifah, di belakangnya ku lihat
empat anak kecil mengiring, sekarang pakaiannya pakaian seorang penganten.
Dan wajahnya yang kemaren menghitam seperti bekas tempelengan sekarang warna hitam itu sudah tak ada, tapi ada bekas kayak kulit mengelupas bekas terbakar, rambutnya tersisir rapi, dan bau wewangian semerbak.
“Bagaimana mbak?” tanyaku.
“Alhamdulillah Yan, terima kasih atas segala
pertolongannya, sekarang aku akan berangkat ke alam sana, aku mau pamitan, aku benar-benar berterima kasih, jika tau kau orang seperti itu, sungguh dulu aku melayanimu pun mau…”
“Sudah mbak…, semoga engkau mendapat tempat yang enak di sana.”
“Terima kasih Yan…, aku mohon diri,
wassalamualaikum.” kata mbak Asrifah
melangkah pergi diiringi ke empat anak kecil.
Setelah berbagai kejadian, aku merasa betapa
masih banyak yang di luar pengetahuanku, dan
rasa ingin menuntut ilmu makin menggebu.
Ku putuskan untuk ke pesantren lagi dan menuntut ilmu lagi.
Di pesantren, santri-santri lama sudah tak ada
lagi, memang selalu begitu di tempat kyai, tahun ini dan tahun besok santri sudah lain, apalagi ini, aku sudah lama tak kembali ke pesantren, kembali kemaren juga sebentar hanya menanyakan soal cara mengobati orang yang terkena santet.
Cara yang ku lakukan dalam mencari ilmu tidak
sama dengan cara orang lain mencari ilmu, dan
cara yang ku lakukan itu secara lahirnya tidak
seperti orang yang mencari ilmu, tapi hasil yang dicapai, mencari ilmu sebulan maka akan sama saja dengan mencari ilmunya orang umum dalam......
Bersambung......
__ADS_1