Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Tertutup


__ADS_3

“Ini ada apa Wan kok gak biasanya main ke


kamarku?”


“Anu mas, saya juga mau minta tolong…” kata


Iwan.


“Wah kalo begini terus lama-lama aku dianggep dukun ini di Saudi..” candaku.


“Ya beda to mas, kalau dukun kan pakai menyan, kembang, sesajen, la panjenengan kan minta langsung sama Alloh..” sela pak Purwanto.


“Ada apa dengan nenekmu Wan?” tanyaku.


“Nenekku itu sudah lima tahun lumpuh tak bisa


jalan, mas…”


“Lalu?”


“Ya saya minta mas mendo’akan nenek saya itu


diberi kesembuhan oleh Alloh, soalnya selama ini sudah diobatkan kemana-mana juga hasilnya nihil, sudah banyak biaya yang kami keluarkan.”


“Ya suruh saja di rumah sedia air mineral, biar


obatnya ku transfer ke air itu… sudah sana yang


di rumah dihubungi.” kataku.


“Iya makasih mas sebelumnya.” kata Iwan lalu


berlalu menelpon rumahnya.


“Ini pak Pur ada apa?” tanyaku pada pak


Purwanto.


“Sama mas, mau minta do’anya untuk anakku


yang di rumah, anak lelakiku sebesar mas tapi


pikirannya kayak terganggu.”


“Terganggunya bagaimana pak?” tanyaku.


“Dulu pernah mengalami kecelakaan motor dan


sejak saat itu jadi sering diam, kayak orang


bengong gitu…”


“Hm… ya sama kalau begitu di rumah disuruh


saja sedia air mineral, biar obatnya nanti ku


transfer ke air itu.”


“Ya mas makasih, biar saya telpon ke rumah.”


kata Purwanto.


Sodikun sudah menghadap lagi,


“Sudah saya suruh sedia air mas.” kata Sodikun.


“Bapak tulis nama dan nama bapak di kertas,


besok pagi airnya suruh minum ke anak bapak,


moga saja sembuh.” kataku. Dan Sodikun pun


menulis nama anaknya dan nama dia.


“Nanti airnya diminum waktu pagi ya mas?” tanya Sodikun.


“Iya minumnya waktu pagi, sebelum makan atau minum apapun, insa Alloh kalau Alloh mengijinkan sembuh, nanti tumornya akan hancur, terbuang lewat jalan pembuangannya.” kataku. “Jadi kalau keluar daging dan darah banyak tak usah terkejut dan kaget.”


“Iya mas… makasih..” kata Sodikun, dan undur


diri dari kamarku.


“Ini mas, airnya sudah disediakan,” kata Iwan.


“Suruh saja besok pagi diminum nenekmu, dan


diusapkan di kakinya, tapi Wan, belum tentu

__ADS_1


kesembuhan itu membawa kebaikan.” jelasku.


“Ya mas, asal nenekku sembuh, kasihan dia sudah sakit sejak lama…” kata Iwan.


“Moga-moga saja sembuh.” kataku.


“Makasih mas,” kata Iwan.


“Iya sama-sama.”


“Airnya sudah disediakan mas.” kata pak


Purwanto.“Iya besok, airnya diminumkan ke anaknya, dan dipakaikan mandi.” kataku.


“Besok pagi ya mas..? “


“Iya besok pagi, moga saja diberi kesembuhan


oleh Alloh.”


“Makasih banyak mas… semoga Alloh membalas kebaikan mas Ian.”


“Amiin.” pak Pur pun berlalu, dan masih beberapa orang yang ngobrol ngalor ngidul tak karuan.


Aku tertidur, dan tak tau orang-orang sudah


pergi, ketika bangun, segera menjalankan sholat isya’, dan mendo’akan yang minta dido’akan.


Lukman masuk, baru pulang kerja lembur,


wajahnya nampak kusut. Aku melanjutkan


dzikirku. Setelah selesai dzikir, aku membuat


indomie, karena perut keroncongan.


Ku buatkan sekalian Lukman yang masih mandi.


“Ayo makan indomie.” kataku ketika Lukman


selesai mandi.


“Makasih mas, gak nafsu makan.” katanya tak


semangat “Lhoh jangan gitu, ini sudah terlanjur ku buat dua, sudah, ada masalah bisa dipikirkan dengan perut kenyang, kalau perut lapar, masalah kecil juga tak akan selesai,


Jangan karena satu masalah lalu diri terseret dalam arusnya, tenangkan diri, hanya hati yang tenang yang mampu menyelesaikan masalah, ayo makan..”


“Bagaimana soal istri saya?” tanya Lukman lagi setelah kami selesai makan.


“Hehehe… kembali lagi, mbok gak usah nanyakan soal istrimu…” kataku sambil menyalakan rokok.


“Aku benar-benar belum tenang mas, jika belum tau hal yang sebenarnya.” kata Lukman.


“Perlu kamu tau, aku melihat aib orang lain itu,


akan sangat membuat mata hatiku buta, jadi ada batas-batas mana yang tak boleh aku lihat, dan mana yang boleh aku lihat, apa yang ku miliki ini anugerah, maunah dari Alloh, jadi tidak bisa diriku asal diriku seenaknya memakai, misal melihat aib orang lain, atau melihat misal


perempuan mandi, bisa jadi apa yang ku miliki ini akan tercabut.”


“Tapi mas, aku minta sekali ini saja, mas


membantuku.”


“Ketahuilah, jika kamu tau, ku katakan


sejujurnya, itu tak akan menjadikanmu malah


semakin baik, tapi malah akan merusakmu, maka tak tau akan lebih baik.” jelasku.


“Tolong lah mas…” kata Lukman menangis.


“Baik-baik, semoga Alloh mengampuni dosaku, dan suatu saat mengembalikan mata hatiku yang buta dan semoga kyaiku mema’afkan kesalahan yang akan ku perbuat, ku katakan istrimu selingkuh.” kataku dengan berat hati.


“Apa benar mas?” tanya Lukman, menatapku


mencari kepastian.


“Biar sekalian detail, kamu nanti bisa telpon


istrimu dan mencari kejelasan dengan apa yang ku katakan nanti, dengarkan baik-baik, dia kenal dengan lelaki selingkuhannya di sebuah taman, lelaki itu bernama Rohman, perawakannya sedang, kulit kuning, dia juga sudah punya istri, awalnya istrimu curhat, lalu bertemu kembali ketika menonton bola volly, lalu bertemu kembali di hotel, jadi uang yang kau kirimkan dipakai berdua membayar hotel, malah waktu ke hotel ditemani anak kecilmu, nah sudah aku tak bisa bicara banyak, ini sudah menyiksaku.” kataku panjang lebar.


Dan Lukman menangis.


“Sebaiknya kau bicara dengan istrimu,


menanyakan kejelasan, sebagai lelaki sejati

__ADS_1


harus tegar, hadapi kenyataan sepahit apapun


itu, jangan cengeng, itu kenyataan, sudah ku


katakan tak tau mungkin akan lebih baik.”


Aku tinggal Lukman tidur, sementara dia


menelpon istrinya, dan walau awalnya istrinya


membantah, tapi akhirnya mengakui semua,


setelah apa yang ku katakan pada Lukman


diungkapkanya, sampai istrinya heran karena suaminya yang berada jauh di Saudi bisa tau sedetail itu, tapi setelah pengungkapanku itu, mata batinku seperti tertutup, aku tak bisa melihat lagi kegaiban di sekitarku, tak bisa lagi menterjemahkan apa yang tersirat di balik kejadian, ah memang perjalananku harus mengulang, aku meneteskan air mata.


Sore sepulang kerja, dan selesai mandi Sodikun sudah menungguku.


“Maaf mas, kata mas benar, anak perempuanku, seharian ini berak dan kencing mengeluarkan gumpalan daging yang banyak sekali, ini bagaimana mas… katanya tubuhnya sampai lemas.” kata Sodikun.


“Ya ndak papa, bagus, ya dibawa ke rumah sakit lagi saja, biar dilihat apa tumornya masih ada.”


jelasku.


“Begitu ya mas?” tanya Sodikun.


“Ya, sebaiknya begitu.”


——————————————-


Malamnya Iwan juga masuk, membawa beberapa bungkus rokok ditaruh di mejaku.


“Apa ini?” tanyaku.


“Ini mas sekedar terima kasihku.” kata Iwan.


“Terima kasih apa?”


“Nenekku sudah bisa jalan.” kata Iwan,


“Ndak perlu repot-repot wan.”


“Gak papa mas…”


——————————————-


“Aku mau pulang ke Indonesia mas…” kata


Lukman.


“Cuti?” tanyaku.


“Tidak mas, aku berhenti kerja di pabrik.”


“Lhoh kok gitu?”


“Iya mas, apa perlunya kalau aku kerja jauh-jauh di Saudi, kalau rumah tanggaku hancur.”


“Kamu sudah mengajukan berhenti?” tanyaku


pada Lukman.


“Sudah mas.” jawabnya singkat.


“Ingat segala sesuatunya apapun kejadian di


dunia ini sudah digariskan oleh Alloh, jangan


menyalahkan keadaan dan apapun yang terjadi, sadari diri kenyataannya mengalami itu, lalu


kembalikanlah kepada Alloh, hati itu kadang


harus terluka, seperti tanah itu kadang dicangkul dibajak, agar tanah menjadi subur, dan mau kembali ingat kepada Alloh,


Jika kita tidak melakukan kehalusan diri membajak hati kita sendiri maka Alloh akan memperingatkan kita dengan kasar, dan lewat cobaan-cobaan yang maksudnya agar kita ingat, hati menjadi subur, dan kembali ke jalan yang tak mengutamakan ego, manusia itu dalam kenyataannya dibuat menjadi mahluk yang lemah, tapi bisa jadi karena suatu ilmu atau kekuasaan maka kemudian merasa diri kuat, dan egois,


Maka Alloh kemudian memperingatkan kembali keberadaan manusia kembali sebagai diri yang lemah, Alloh ledakkan gunung, Alloh goyangkan bumi dengan gempa, Alloh tumpahkan laut dengan tsunami,


Alloh perintahkan angin untuk memporak-


porandakan bumi, agar hati manusia menyadari


kelemahan, dan kembali menggantungkan diri


pada dzat yang paling perkasa dan maha


menolong yaitu Alloh,

__ADS_1


Sebaiknya sebelum pulang umroh dulu ke Makkah, dan sedikit tenangkan


hati, ingat hanya orang yang hatinya tenang yang akan mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.” jelasku panjang lebar.


__ADS_2