
“Ya jelas nyai Blorong kalah kalau melawan kyai, tapi….”
“Tapi kenapa?”
“Tapi kyai apa siap dikeroyok semua dukun ilmu hitam seluruh Indonesia? Misal kyai mampu, bagaimana dengan anak istri kyai, bagaimana dengan Aisyah?”
“Ya… ya…., lalu bagaimana dengan ki Semar Siapa dia?”
“Dia awalnya dari jin di atas angin, di planet lain kyai, yang turun ke sini, dan kemudian jadi menakluk pada nyai Ratu kidul, dan diserahi untuk menguasai gunung Merapi.”
“Ooo begitu rupanya…?”
“Menurut cerita itu nyai Roro Kidul itu nikah sama Senopati? Apa benar begitu?”
“Ah tidak kyai, itu hanya cerita yang dibuat-buat orang, ya tidaklah, kan kyai sendiri sudah melawan suami nyai Roro Kidul, bukan Senopati,”
“Kata cerita juga nyai Roro Kidul itu dari manusia, apa benar begitu?”
“Tidak kyai, dia dari bangsa jin.”
“Asli jin..”
“Asli… kan bentuk aslinya ular, cuma dia sering membuat bentuk sebagai perempuan cantik, kayak Aisyah sering menyerupai bentuk wanita cantik, tapi bentuk Aisyah adalah burung dara, atau Dewi Lanjar asli bentuknya ular, tapi sering menyerupai bentuk wanita cantik, itu kan hanya bentuk yang disukai kyai.”
“Wah makin bingung aku dengan soal gaib, ya sudahlah, memang namanya juga gaib..”
“Kyai… ada yang melarang Aisyah.”
“Melarang Aisyah untuk apa?”
“Untuk banyak bercerita soal dunia jin yang sesungguhnya pada kyai.”
“Siapa yang melarang nduk?” kadang risih juga memanggil Aisyah dengan panggilan nduk, padahal Aisyah itu sudah ada sebelum kakek nenekku ada, karena dia sudah berumur ratusan tahun, tapi kalau melihat lagak lagunya yang secara manusia berumur manusia 20an tahun, maka dengan sendirinya aku memanggil nduk, padahal umurnya sudah 300-400 tahunan. Makin aneh saja.
“Yang melarang tak tau pak kyai…”
“Oo ya, tadi ki Semar bagaimana?”
“Apa kyai mau menariknya?”
“Ya…”
“Silahkan kyai.” Aku segera menarik ki Semar ku masukkan ke tubuh mediator.
“Apa ini ki Semar?”
“Ya…. hm…”
“Apa ki Semar yang membuat gunung Merapi meletus..?”
“Iya… hm kamu kan yang melempar nyai Roro ke neraka?.”
“Iya aku yang melemparkan.”
“Hm..” ki Semar pasang kuda-kuda mau menyerangku.
“Aku lagi malas bertarung ki, kalau ki Semar
__ADS_1
memaksa, maka akan ku lempar ke neraka.”
jelasku disertai ancaman, tapi ki Semar tetap menyerangku. Maka ku pegang kepalanya, dan ku tarik ruhnya ku lemparkan ke neraka. Permono pun datang tanpa bilang ba-bi-bu langsung menyerangku setelah masuk ke mediator, maka tanpa peringatan juga, ku tangkap dan ku lemparkan ke neraka.
“Sudah…” suara Aisyah.
“Sudah apa Aisyah?”
“Sudah wassalam semua… semua mati kyai.., pak kyai kalau marah galak ya… Aisyah jadi takut, tubuh pak kyai diliputi cahaya dari neraka… hiiii takut, hawanya malaikat maut sama hawanya malaikat Malik penguasa neraka menyatu… hiii Aisyah takut sekali kyai… kalau kyai marah.”
“Kyai kan gak marah sama Aisyah..”
___________________________________
Makin hari, makin banyak jin dari segala penjuru yang datang ingin masuk Islam, ada yang datang sendiri-sendiri, ada yang datang bergerombol, ada serombongan sebanyak ratusan ribu jin, ada juga berombongan jin berbentuk kera putih, yang berombongan sebanyak ratusan ribu, mengakunya lewat menulis di kertas, mereka dari langit ke empat, ah tak tau juga, semuanya tak bisa bicara, hanya ha-hu-ha-hu…. setelah ku Islamkan, mereka ku suruh tinggal bersama Dewi Lanjar, yang memang sudah ku pesan sebelumnya kalau ada jin yang masuk Islam, akan ku kirim ke sana, karena tempatku sudah penuh.
Sementara itu Sengkuni makin gencar saja serangannya, karena menangkap Aisyah berulang kali gagal, maka dia memakai strategi lain, dia memakai jurus pelet jaran goyang, yang dipelet adalah mbaknya Yaya, yang biasa ku pakai mediumisasi Aisyah, mbaknya Yaya merasa rindu dan ingin bertemu Sengkuni, siang malam yang dibicarakan ingin ke tempatnya Sengkuni di Surabaya, dan ingin bersama Sengkuni, dan membawa Yaya, untuk diserahkan Sengkuni. Sama suaminya lalu dibawa ke rumahku.
“Ini bagaimana mas, ini istri saya mau terus ketemu Sengkuni.” kata kang Slamet.
“Ditempel saja kang, biar jinnya bangkit.” jelasku. Maka kang Slamet segera menempel tubuhnya mbak Sun, agar jinnya bangkit.
“Ampuun panas.. ampun panas..” kata jin dalam tubuhnya mbak Sun.
“Siapa, dari mana, dan perintahan siapa?” Si jin diam, dan tak bicara.
“Aisyah..”
“Iya pak kyai..”
“Iya kyai..”
Aisyah segera mengeluarkan cambuk sesuai kunci mengeluarkan cambuk api yang ku ajarkan, dan mulai mencambuk jin yang ada di tubuh mbak Sun.
“Aduuh ampuuun…. panas… panaass…! Iya iya aku mengaku. Aku jangan dicambuk lagi.”
“Jawab pertanyaanku tadi.”
“Aku diperintah Sengkuni.”
“Siapa dukunnya?”
“Dukunnya adiknya sendiri, yang ada di Surabaya, yang tinggalnya dekat tugu.”
“Diperintah apa?”
“Diperintah mempengaruhi perempuan ini, agar mau membawa adiknya menghadapnya, nanti mau dibunuh, agar tak bisa membantumu.”
“Kamu dari mana?”
“Aku dari Alas Roban… aku saudaranya jin yang mencuri ilmunya Aisyah itu.”
“Ha jadi kamu saudaranya dia..?”
“Ya…”
“Di mana sekarang saudaramu? Coba panggil ke sini.”
__ADS_1
“Saudara saya sedang sakit kyai, dia ada di Alas Roban..”
“Panggil kesini..”
“Hm… panggil kesini, sakit juga panggil kesini.”
“Ya.. akan saya panggil.”
Sebentar kemudian jin yang dipanggil datang.
“Kamu yang mencuri ilmunya Aisyah dulu,”
“Iya, ampun kyai.”
“Hm, aku akan cabut nyawamu, atas kelancanganmu mengambil ilmu aisyah.”
“Ampun kyai.”
Aku lalu berdoa pada Allah agar nyawa jin ini dicabut… dan alhamdulillah Allah mengabulkan,
dan nyawa jin itu pun tercabut dan dilempar ke neraka. Kembali lagi yang muncul jin yang tadi dikirim Sengkuni.
“Ampun kyai saya jangan dimatikan.”
“Dengan ilmu apa Sengkuni mengirimmu?”
“Dengan ilmu jarang goyang, ilmu pelet..”
“Apa dia bisa ilmu pelet?”
“Tidak kyai, dia membayar dukun dan menyuruh adiknya.”
“Memang adiknya bisa?”
“Sengkuni itu mencari ilmu sebanyaknya di Banten, dan yang disuruh mengamalkan adiknya, dia juga banyak meminta ilmu pada kyai Cilik lalu diberikan pada adiknya untuk diamalkan, cuma kemudian diamalkan dengan cara sesat.”
“Bagaimana kamu keluar sendiri?”
“Ya saya mau keluar sendiri, tapi saya ingin diIslamkan sama kyai..”
“Baik tirukan saya membaca dua kalimat sahadat. Ada berapa temanmu di dalam yang disuruh Sengkuni?”
“Ada tiga kyai..”
“Apa semua mau masuk Islam?”
“Ya kyai.”
“Suruh semua menirukan ucapanku.” Maka ku ajarkan melafadzkan dua kalimat syahadat.
___________________________________
Ingat cerita yang ku tulis tanpa pakem cerita, atau mengekor pada cerita siapa saja, ku tulis hanya sekedar pengalaman, bisa saja benar, dan juga bisa saja salah, jadi apa yang terjadi pada cerita ini bisa saja tak sama dengan cerita siapa saja, karena bukan meniru, atau mengekor pada cerita siapa saja atau cerita yang sudah menjadi mitos. Ini hanya kejadian yang ku alami, yang lantas ku tulis menjadi satu kisah, malah cenderung yang ku anggap kok terlalu di luar nalar, aku memilihnya tak ku tulis saja, daripada nantinya menjadi polemik, karena ketidak percayaan orang dan menjadi perdebatan panjang, apa yang ku tulis ini yang ku anggap masih dalam kepatutan untuk dikisahkan, jadi masih banyak yang belum dan tak ku tulis, yang akan menjadi konsumsi pribadiku, semoga apa yang ku tulis ini bisa membawa manfaat, dan yang membaca tak bosan dengan tulisan-tulisanku. Dan maaf jika ada salah kata dan tulisan selama ini, yang mungkin bahasa yang ku pakai tanpa adanya aturan bahasa yang benar, dan cenderung ku tulis dengan tulisan apa adanya. Karena juga tulisan ini ku tulis di saat-saat waktu luangku. Jadi kadang ceritanya gak.....
Bersambung....
Tuh kan baca doank?? ga komen like n kasi support, semangat,,😥
__ADS_1