
Selagi aku duduk dengan Lutfi, tak lama Zamrosi datang membawa tahu aci beserta sambal petis pasanganya, juga teh manis hangat sebagai minumanya,,
Kami pun menikmatinya sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang.
Apalagi ini adalah bulan Agustus, sudah
menjadi tradisi di daerah Pekalongan tiap bulan Agustus, ada acara makan gratis satu bulan
penuh.
Setiap malam ada acara makan gratis di setiap gang secara bergiliran. Juga ada lomba-lomba yang langsung mendapatkan hadiah di tempat.
Seperti melempar paku pada lingkaran, di lingkaran itu ada tulisannya, kalau melempar tepat pada tulisan itu maka akan mendapatkan langsung apa yang ditulis, kalau disitu tertulis jam dinding, maka akan mendapat jam dinding sebagai hadiahnya, tinggal minta kepada panitia.
Juga ada permainan memasukkan gelang pada botol dengan cara dilempar, dan masih banyak permainan yang lainnya.
Sehingga membuat jalanan menjadi sangat ramai, kalau ada makan gratis seperti ini, tukang bakso, mie pangsit, dan tukang jualan dorong lainya, tak usah takut tak laku, karenanga para penjual itu malah semua dagangannya telah diborong oleh rumah yang memanggilnya untuk melayani orang-orang yang mau makan. Gratis.
Banyak Orang-orang berdatangan, tapi karena kami menangani dengan sigap dalam mengatur jalan, maka kemacetan yang ditimbulkanpun tidak sampai berlarut-larut, kami bertiga segera nyangkruk lagi, namun saat tak lama kami sedang nyangkruk, kembali lagi terjadi kecelakaan kendaraan bermotor.
Saat kami sedang enak-enakan duduk ngobrol,
tiba-tiba “Sroook..! Braak… praak..!” Sebuah
sepeda motor tanpa ada sebab yang jelas, begitu saja tergelincir, terbanting-banting di aspal, pengendaranya terseret sampai enam meter.
Aku, Lutfi dan Zamrosi segera saja berlarian kearah kecelakaan itu, Lutfi dengan sigap menuntun motor ke tepi jalan dan aku memapah pengendara yang babak bundas semua badany itu, sementara Zamrosi dengan cekatan memberi isyarat pada kendaraan yang mau lewat.
Kebetulan ada becak lewat, aku pun langsung
menghentikan serta memintanya untuk segera membawa pengendara motor yang kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat, sementara motornya yang sudah tak karuan ku titipkan di bengkel sebelah.
Kali ini seorang pengendara sepeda yang sedang menyeberang di hantam speda motor lain tepat di roda belakangnya, sehingga lelaki pengendara sepeda itu langsung terlempar, sementara pengendara motor juga jatuh menyluruk, keadaan teramat ribut dan memacetkan jalan, yang memang dalam kondisi ramai.
Kali ini aku tak ikut menolong, karena korban
kecelakaan yg satunya telah dikerubuti banyak orang, dan yang mengalami kecelakaan itu telah ditolong orang lain.
Lutfi, yang sebelumnya ikut membantu lancarnya lalu lintas, telah duduk lagi di sampingku.
“Wah apa biasanya di sini sering terjadi
kecelakaan seperti ini, Lut?” tanyaku.
“Ah kyaknya tidak tuh, tapi yang lebih tau
Zamrosi, dia kan asli orang sini, kalau aku dari
Pekalongan kota, jadi kurang tau persis.”
Zamrosi yang sebelumnya kuminta untuk membelikan rokok baru saja kembali,
“Benar Zam di sini sering terjadi kecelakaan?
Seperti hari ini?”
“Setahuku tak pernah tuh mas, ya hanya hari ini,
aku juga heran, kenapa hari ini banyak terjadi
kecelakaan? Ada apa ya?” kata Zamrosi.
“Mana aku tau Zam…” kataku yang memang tak menguasai ilmu teropong.
__ADS_1
“Tadi juga ada anak kecil umur tujuh tahunan
jatuh mas, waktu digandeng ibunya, tiba-tiba
saja tubuhnya terbanting jatuh menghantam
bekas tebangan pohon itu, dan giginya tanggal.”
Kata Lutfi sembari menunjuk bekas pohon dipinggir jalan yang ditebang, cuma setinggi mata kaki.
“Ada apa ya..?” tanyaku sendiri.
“Apa mungkin karena rumah ini mas bersihkan, lalu setannya lari ke jalan terus ngamuk?” kata
Lutfi.
“Tak taulah….”
“Iya mas bisa jadi begitu..??”tambah Zamrosi.
Malam makin larut, jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, aku masuk rumah untuk melakukan sholat isya, sekaligus melakukan pemagaran secara wirid.
Saat aku melakukan wirid, kedua temanku itu di belakangku sedang ngobrol besenak-besenik,
karena tak mau mengganggu wiridku, Mereka
berdua ngobrol sambil ngerokok, tiba-tiba
terdengar ledakan dalam tembok,
“Duar..!”
Suaranya di tembok bagian kananku.
“Iya ya kok ada ledakan dalam dinding, suaranya seperti suara letusan bohlamp,” jawab Lutfi.
Aku tetap khusuk dalam wirid, dan tak
memperdulikan kedua temanku yang mulai
memeriksa. Dan mereka kembali duduk karena tak menemukan apa-apa.
“Aneh wong ada ledakan tapi tak tau apa yang
meledak.” kata Lutfi dengan nada heran.
“Apa mungkin kita yang salah dengar?” kata
Zamrosi.
“Ah mana mungkin, wong terdengar sangat jelas” yakin
Lutfi.
Kembali mereka pun melanjutkan obrolanya, hingga yang ku dengar suara dengkuran halus dari kedua temanku itu, karena jam telah menunjukkan sekitar pukul satu dinihari.
Aku masih meneruskan wiridku, sampai
terdengar penjaga memukul tiang listrik dua
kali, pertanda menunjukkan pukul dua dinihari, lalu kurasakan desiran angin dingin mengitari tubuhku.
Aku berusaha untuk tetap tenang penuh konsentrasi, terdengar kembali suara,,
__ADS_1
“kreeet..!” Kontan saja aku langsung membuka mata karena suara itu,lalu menajamkan mataku untuk menengok ternit asal dari suara tadi,
kulihat ternit melengkut, seperti terinjak kaki
yang sangat besar, akupun sempat kaget dibuatny… tapi terus melanjutkan wiridku,,
Dan kembali terdengar suara “krek…nyut…krek nyut…” Ternit memantul-mantul seperti dibuat nyot-nyotan kaki yang besar, mengingat ternit yang kuat, nampaknya tak mungkin kucing atau tikus. Tapi aku tak bergeming dan terus melanjutkan wirid sampai selesai.
Ternit mental-mentul itu terjadi hanya sampai
setengah jam, kemudian berhenti lagi.
Jam tiga aku baru menyelesaikan wirid,
kemudian ikut tidur di dekat kedua
temanku.
Paginya setelah sholat subuh aku tidur
lagi, karena mata yang masih mengantuk, jam
sembilan aku baru bangun, setelah memakan
sarapan yang disediakan, aku menghampiri
Zamrosi, yang tengah menyapu halaman,
“Lutfi kemana Zam?”
“Pulang dulu mas… ada apa mas..?”
“Aku mau naik ke atas ternit..”
“Wah mau ngapain mas, kok repot…”
“Mau melihat ada apa di atas ternit,”
Tanpa menunggu jawaban Zamrosi, aku segera mencari cara jalan naik ke ternit. Dan tak lama kemudian ku temukan di atas dapur, untung ada planggangan di sana-sini,,
Sehingga memudahkanku untuk bisa naik ke atas.
Untung aku ingat membawa senter, sehingga
kalau terlalu gelap bisa ku lihat, aku juga
membuka genteng, sehingga cahaya sinar matahari bisa masuk, dan dalam ternit menjadi tak terlalu gelap,,
Aku kembali menyusuri kayu sampai ke arah di atas tempatku semalam melakukan wirid, dan itu melewati satu ruangan, kubuka genteng lagi untuk mengusir gelap, sehingga peneranganpun seketika bisa menerobos masuk, dan suasananya kini menjadi terang, kulihat kayu penahan ternit kuat, ku injak dengan kakiku tepat di mana semalam kayu ini melengkung,
Sembari berpegangan pada usuk takut jatuh,
tapi aku merasa aneh, memang tanpa pegangan sekalipun kayu ini kuat menopang tubuhku, bagaimana mungkin semalam bisa melengkung-lengkung tak karuan??,
Tiba-tiba mataku melihat dua benda
tergeletak, aku segera memungutnya.
Benda itu ternyata sebuah batu akik sebesar
jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris
kecil, beserta warangkanya, keris itu cuma sebesar....
__ADS_1
Bersambung...