
“Sekarang menurutmu Alloh ada di Jakarta
tidak Nges?” tanyaku pada Renges. Ketika kami ada di dalam angkot.
“Iya, iya ada…” jawabnya sambil ketawa, yang
tak ada manisnya sama sekali.
“Alloh itu ada, dan selalu ada, tak pernah
melupakan kita, kita aja yang melupakan Dia,
kuasanya bisa menggerakkan hati siapa aja,
buktinya pada hati orang Jepara tadi.” kataku
setengah berfilsafat.
“Iya, iya… Kamu memang anak pesantren, jadi
lebih ngerti, tapi aku lelah banget nih,
kotbahnya nanti aja lah, sekarang aku yakin aja, nebeng di keyakinanmu, wong juga sudah
ngelihat buktinya.” katanya sambil nyedot rokok Djisamsoe.
Setelah hari itu, aku pun dapat job lukisan, juga kaligrafi kaca. Sehingga kami tak perlu untuk
pergi menyusuri lorong, melewati jalan-jalan,
menawarkan pada setiap orang yang kami temui.
Karena orang yang akan memesan lukisan sudah datang sendiri ke kontrakan di Cipinang muara. Jadi aku tinggal beli material, dan mengerjakan pesanan, tapi aku ingat tujuanku sebelumnya.
Maka setelah ku rasa cukup, aku pun kembali ke pesantren dengan uang yang lumayan.
Paginya aku menghadap Kyai, setelah sebulan di pesantren aku ingin pulang sekaligus ngamalkan ‘ngedan’ dari rumah, karena kepasrahanku pada ALLOH, masih butuh penggemblengan, mengingat masih ada keraguan atas berserahku pada Alloh, kelabilan jiwaku, atas tawakal, yang belum sebenar-benarnya, dan Kyai pun mengijinkan.
Tanpa menunggu lama aku pun berangkat pulang, dengan naik bus jurusan Kalideres, lalu ganti metro mini ke Pulogadung, baru naik bus ke Tuban, daerahku.
Sampai di rumah aku disambut pelukan ibuku, ditanya ini itu, dan diceritai tentang pacar-pacarku dulu yang datang ke rumah, minta ijin menikah, aneh-aneh aja.
Juga lek Mukhsin yang saban hari datang minta
ditulari ilmu, kang Murikan, juga teman-temanku silih berganti datang, juga orang-orang yang datang minta diobati.
Baru seminggu di rumah, aku pamitan pada kedua orang tuaku, pamit pergi dengan alasan menjual kaligrafi. Untung di rumah ada kaligrafi cukup banyak.
Saat itu yang ku ajak temanku Majid, karena kaligrafi yang banyak kami pun berangkat, pas kebetulan habis hari raya, jadi dalam bulan Syawal, yang ku tuju adalah Rembang, di taman Kartini, walau aku tak ngomong jujur pada Majid kalau aku akan ngejalani ngedan.
Sampai di taman Kartini, kami segera memajang lukisan. Dan kaligrafi. Sehari semalam kami tungguin, tak juga ada yang membeli. Nawar juga cuma satu orang. Ah apakah karena niatku ngedan tak murni, ku tunggangi dengan niat yang lain? Entahlah.
Malamnya kami tidur di masjid Rembang, sebelah alun-alun. Dan paginya Majid ku ajak menawarkan lukisan dari pintu ke pintu, tapi tak juga ada yang beli.
Ah sial amat, sampai siang itu aku dan Majid nyampai di desa Peterongan. Seperti biasa aku menawarkan lukisan dari pintu ke pintu.
“Feb… Febri… Febrian….!” ada 3 cewek cantik
__ADS_1
berlari-lari dari rumah memanggil namaku, aku
dan Majid yang tengah berjalan pun berhenti.
Aku dan Majid berdiri mematung, heran! Kenapa ada cewek cantik-cantik siang-siang kerasukan, sampai mengenalku, ah bener-bener aneh.
“Iya bener Febri,” kata cewek satu, tinggi,
langsing berkulit sawo mateng, berhidung kyak orang luar, berbibir tipis, setelah ku tau namanya Tia, yang kedua cewek jangkung, berkulit putih pucat, kayak orang Cina, bermata sipit, apalagi kalau ketawa matanya makin hilang, namanya Karti, dan yang larinya paling belakang, adiknya Tia, baru SMP kelas tiga, namanya Lola, orangnya imut.
“Heeh, gak salah, Febri.” kata Karti.
“Buktinya juga, kita panggil langsung berhenti,
berarti iya.” tambahnya.
“Bener kan kamu Febri..?” kata Tia ketika telah
nyampai di depanku.
“Bener namaku Febri, tapi mungkin bukan orang yang kalian maksud.” jawabku, takut ada
kesalahfahaman.
Sementara Majid malah
bengong terlongong-longong di dekatku, kayak orang kesambet.
“Ah tak mungkin salah, wong kami ini udah
kompak, mengidolakanmu sejak dulu…” kata Karti ngotot. Oo, rupanya idolaku. Ah ada lagi.
mencoba menghindar,
“Bener, kami tak salah, dagunya, hidungnya,
mulutnya, rambut panjangnya, wah tak salah..”
kata Tia menelitiku satu-satu.
“Udah kita bawa kerumah aja, pasti cocok.” kata Karti yang segera memegang pergelangan
tanganku dan menariknya. Terpaksa aku ngikut aja.
Sampai di rumah Tia aku didudukkan dan
ditunjukkan berbagai majalah yang ada tulisan
plus fotoku, terang aja aku tak bisa menghindar, kecuali menjawab “iya”.
Kontan ketiga cewek berebutan memelukku, menciumku, mencubit pipiku, aku diserang mendadak, tentu saja tak bisa menghindar, Astagfirulloh, moga-moga tak dicatat termasuk dosaku.
Ya kalau dianggap dosa, diampunkan oleh Alloh.
“Ih Febri, kami gemes..!” kata Tia mencubitku,
“Udah-udah,” kataku kikuk. Emang repot jadi
__ADS_1
terkenal.
“Mas Febri, sekarang lagi apa nyampek sini?”
tanya Karti.
“Wah pasti lagi cari bahan untuk bikin cerita
terbaru, iya kan?” kata Tia mengerling.
“Nah masukin dong kita pada cerita terbarunya.”
“Tau aja kalian.” jawabku singkat, agar tak
berbantahan, dan untuk Tia, karti, dan Lola, ini
kalian udah ku bawa dalam cerita.
Berarti aku udah tak punya hutang harapan pada kalian. Kami berdua dijamu bak tamu kebesaran, bahkan makan mereka bertiga menyuapiku, huedan, bener-bener, padahal aku penulis kacangan, penulis angin-anginan, penulis kambuhan,,
Lalu apa yang terjadi andai aku sekaliber Habiburrohman Assayrozi, atau misal saja aku artis terkenal.
Sore itu, kami jalan-jalan ke taman Kartini lagi,
kulihat betapa bangganya mereka berjalan di
sampingku, seakan berjalan dengan orang yang benar-benar terkenal, ah biarlah mereka
menikmati daya hayal mereka.
Aku tenang saja. Sementara Majid mengikuti dari belakang, kayak nunggu uang jatuh.
Aku diminta menginap, tapi aku tak mau, bisa
berbahaya, maka kami berdua pamit, dan tak
lupa menghadiahkan semua lukisan.
Aku dan Majid pulang dengan kegagalan total. Sekarang aku memutuskan pergi sendiri, mungkin ini lebih Aku diminta menginap, tapi aku tak mau, bisa berbahaya, maka kami berdua pamit, dan tak lupa menghadiahkan semua lukisan.
Aku dan Majid pulang dengan kegagalan total. Sekarang aku memutuskan pergi sendiri, mungkin ini lebih baik, maka aku pamitan pada orang tuaku, ku bilang mau main ke rumah teman, pagi itu aku berangkat ke Bojonegoro, kemudian naik kereta api KRD jurusan Jakarta,,
Aku memutuskan turun di daerah yang tak ku kenal, agar perjalananku tak tergantung pada siapa-siapa, uang di sakuku ku berikan pada pengemis semua, aku ingin kepasrahanku total pada Alloh.
Ku pilih turun di Kradenan Purwodadi. Daerah pedalaman.
Aku mulai melangkahkan kaki tak tentu arah, tanpa bekal apapun, hanya kepasrahan, kepasrahan yang ku usahakan setotal mungkin, ya Alloh inilah aku, aku yang masih tertempeli keakuan yang menumpuk, aku yang berserah padamu lengkap dengan dosa-dosaku masa lalu,,
Bila Kau tolak aku, aku sendirian, apapun
tanggapanMu, apapun kehendakMu, aku adalah orang yang berusaha berserah. Jerit hatiku, di
sela-sela kaki yang melangkah satu-satu.
Aku terus berjalan, hanya berhenti, kalau waktu sholat datang, mampir ke masjid, dan menjalankan sholat, lalu berjalan lagi.
Malam telah tiba, aku yang tau jalan, sama sekali tak takut tersesat, karena tak punya tujuan,,
__ADS_1
Bersambung....