Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kyai Dengki


__ADS_3

Ketika dalam qur’an itu ada cerita tentang


neraka, maka diri itu merasa telah jatuh


kedalam lautan apinya, ketika Alqur’an itu menceritakan surga, maka diri merasa rindu


akan kedamaian dan keindahan di dalamnya.


Orang yang telah tergetar hatinya oleh qur’an,


maka ketika mengimami jam’ah sholat, akan


menggedor juga hatinya makmum, seperti orang yang menggoyang meja teman duduk dalam satu mejanya.


Semakin mendekati pusat getaran yaitu Alloh,


maka getaran itu akan makin terasa, jadi


getaran antara satu orang dengan orang lain itu beda, sebab bedanya kedekatan antara satu


orang dengan orang lain dengan Alloh, pusat


segala getaran keimanan.


Sama seperti ketika membaca cersil, lalu


seseorang tergeret oleh alur cerita, artinya


orang yang membaca itu akan merasa sedih


ketika nasib malang menimpa tokoh yang


disukainya, begitu juga jika seseorang telah


terseret getaran qur’an akan merasa iba dengan keadaannya karena telah tersesat, jika membaca Waladzoliin, dirinya itulah yang tersesat, dan ingin kembali memperoleh hidayah.


Rasa takut itu akan muncul membayangkan andai saja diri tidak mendapat hidayah dari Alloh, lalu diri menjadi orang yang merugi selamanya, dan masuk neraka tidak ada masa habisnya.


Ketika aku pulang dua minggu sekali ke rumah dari tempat usahaku, Kyai Askan datang ke


rumah.


“Ada apa Kang?” tanyaku.


“Lha sampean ini bagaimana, masak waktu aku menjadi imam sampean tidak ikut menjadi


makmumku.” katanya dengan nada marah.


“Lho saya kan seringnya ada di tempat kerja


saya to kang, jadi jarang pulang, bagaimana saya bisa ikut?” jelasku.


“Ya harus tetap ikut, ya disempat-sempatkan


ikut.” katanya memaksa.


“Lha tempatnya kan jauh to kang, kalau saya


wira wiri, apa ndak ngabiskan bensin banyak?”


kataku, aku mulai ndak sabar juga, kalau ada


orang yang diberi hati malah minta jantung.


“Lalu apa kata orang, itu si kyai Askan jadi imam, kyai Ian tak pernah mau menjadi makmum, pasti karena bacaan kyai Askan tidak fasih.” katanya.


“Lha sampean ini kok ya aneh, apa ada orang


bilang begitu?”

__ADS_1


“Ya belum ada, tapi nanti kan juga ada.”


Aku geleng-geleng kepala,


“Sesuatu yang belum ada kok sampean ada-ada, itu namanya su’udzon, sampean ini kyai…” kataku.


“Juga apa urusannya bacaan fatekhah sampean sama kehadiran saya, lha kalau saya itu lidah sampean, misal saya ndak hadir otomatis sampean jadi cedal, hu-ha-hu-hu kayak orang bisu, lha saya kan orang lain, mau saya hadir atau tidak kan ndak pengaruh sama sholat jama’ah, la sampean ini ikhlas apa endak to sebenarnya? Kok selalu ngajak ribut dan meributkan saya, saya kan juga punya keluarga, perlu mencari ma’isah, perlu makan, nyari uang, sampean itu udah tak kasih minta semua, lha kok masih kurang, sebenarnya maunya apa?”


Dia berdiri, dan pergi begitu saja tanpa pamit,


aku hanya menatapnya dengan heran, kok ada


orang kayak gitu, mau mengatakan tidak ada


juga, kenyataannya sudah dihadapi, mau


bagaimana.


Penyakit iri dengki memang super sulit


mengobatinya, jika seseorang tak mau menyadari bahwa penyakit itu memang benar-benar ada dan membakar hati pikiran orang yang memiliki penyakit itu.


Sebenarnya dalam pemikiran dangkalku,


mengobati penyakit hati itu tak bedanya seperti mengobati penyakit lahir. Seperti kita kalau


pergi ke dokter, kan diperiksa dulu, tidak asal


disuruh nungging, trus jarum suntik ditancapkan, tapi didiagnosa, dokter akan bertanya apa keluhannya, lalu mengelompokkan dalam suatu


penyakit.


Keluhan itu disesuaikan dengan


kebiasaan penyakit, jika pasien bilang giginya


senut-senut, tak akan dibilang itu penyakit


ambaien atau susah buang air besar, dibilang


dokter itu sakit gigi, kalau dokternya seperti itu


Dia berdiri, dan pergi begitu saja tanpa pamit,


aku hanya menatapnya dengan heran, kok ada


orang kayak gitu, mau mengatakan tidak ada


juga, kenyataannya sudah dihadapi, mau


bagaimana.


Penyakit iri dengki memang super sulit


mengobatinya, jika seseorang tak mau menyadari bahwa penyakit itu memang benar-benar ada dan membakar hati pikiran orang yang memiliki penyakit itu.


Sebenarnya dalam pemikiran dangkalku,


mengobati penyakit hati itu tak bedanya seperti mengobati penyakit lahir.


Seperti kita kalau pergi ke dokter, kan diperiksa dulu, tidak asal disuruh nungging, trus jarum suntik ditancapkan, tapi didiagnosa, dokter akan bertanya apa keluhannya, lalu mengelompokkan dalam suatu penyakit.


Keluhan itu disesuaikan dengan kebiasaan penyakit, jika pasien bilang giginya


senut-senut, tak akan dibilang itu penyakit


ambaien atau susah buang air besar, dibilang


dokter itu sakit gigi, kalau dokternya seperti itu

__ADS_1


Sebuah diagnosa akan menentukan penyakit, lalu akan ditemukan penyakitnya dan obat yang tepat, sakit gigi, obatnya pasti obat untuk


meredakan sakit gigi, jangan mau dikasih salep ambeien, dioleskan di lubang gigi.


Begitu juga sakit yang mengenai hati, maka


didiagnosa, apa penyakitnya, yang jelas manusia yang mengidap penyakit harus menyadari kalau dirinya sakit, kalau tak mau menyadari ya makin susah untuk diobati.


Dan obat itu selalu bertentangan dengan


penyakit, jika punya rasa sombong, ya


bersikaplah tawadhu’, kalau perlu bayar orang


suruh meludahi kita di tengah pasar, biar


sombongnya hilang.


Sebab namanya juga penyakit, dirasa atau tidak dirasa itu akan mengganggu. Khususnya


mengganggu dalam pendekatan diri pada Alloh, dan amal ibadahnya tak akan diterima, dengan


kata lain, seumur-umur orang yang berpenyakit hati itu ibadah, maka tak akan mengecap


manisnya ibadah, dan nikmatnya terijabahnya


do’a.


Ternyata Kyai Askan masih tetap menjelek-


jelekkanku di setiap pengajiannya, aku dibilang tak bertanggung jawab diberi amanat di masjid, nifak, dan lain-lain, tapi ku biarkan saja.


Itung-


itung mengurangi dosaku, aku tetap santai menjalankan aktifitasku tiap hari.


Sampai pada suatu hari, aku mendengar anak


dari Kyai Askan yang sudah bisa jalan tiba-tiba


lumpuh, dan kakinya mengecil, tiap malam selalu menangis sampai pagi, sudah dibawa ke dokter, tapi tak ada perubahan sama sekali.


Anaknya tetap dalam keadaan lumpuh, dan tiap mulai magrib menangis sampai suaranya habis, karena sebelum ada adzan subuh, anaknya itu tak mau berhenti menangis.


Sehingga Kyai Askan dan istrinya dibuat pusing, karena tiap malam harus begadang menjaga anaknya yang menangis terus, tiap hari dicarikan obat kesana kemari tapi semua tak sanggup mengobati, sampai dibawa ke Kyai Sepuh.


Di katakan oleh kyai Sepuh itu kalau anaknya itu digandoli dua jin lumpuh, dan bahkan kyai Sepuh itu tak sanggup mengambil, dan yang sanggup mengambil hanya seorang pemuda berkaca mata, rumahnya depannya ada pohon mangganya, dekat balai desa Bligo, itu ku dengar setelah istrinya bercerita padaku.


Sudah sebulan anak Kyai Askan seperti itu, mau dibawa ke rumahku, jelas gengsi, mencoba dibawa ke paranormal, atau kyai, dukun, semua tetap hasilnya nihil.


Sampai mungkin sudah tak ada jalan keluar,


maka istrinya jam 2 malam disuruh ke rumahku membawa anaknya yang lumpuh dan digendong, dalam keadaan menangis, mengetuk rumahku.


“Siapa…?” tanyaku yang waktu itu masih dzikir.


“Saya dik.. istrinya Askan..” jawab istrinya


Askan.


Aku keluar membuka pintu, dan kulihat anaknya digendong dalam keadaan menangis.


“Mari silahkan masuk.” kataku mempersilahkan.


Anehnya ketika melangkah ke pintuku, maka


anaknya langsung diam, tak menangis. Memang di luar ku lihat dua jin lumpuh, tengah bersembunyi dari tatapan mataku.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2