
Kebetulan Pak Lurah ke dalam sebentar, memanggil istri dan anaknya diminta untuk menyediakan minuman, sementara semangka kuning yang telah di tangan Mujahidi, segera cepat dilahapnya, ketika Pak Lurah keluar, semangka itu telah hilang termakan tak tersisa sampai kulit-kulitnya.
Pak Lurah keluar bersama istri dan anak perempuannya, sambil membawa minuman di atas nampan.
“Ini lo bu murid dari Pesantren Pacung, anak-anak muda yang sakti-sakti.″ terdengar suara Pak Lurah yang benar membuat aku jengah, serba salah, tapi aku berusaha bersikap wajar.
Sementara itu Anak Pak Lurah yang bernama Anggraini, wajahnya terlihat ayu, wajah polos khas anak desa, tapi aku kaget ketika Anggraini meletakkan minuman, terlihat matanya mengerling mengarah padaku, bagaimanapun aku lelaki normal wajarlah kalau ada rasa berdesir dalam hatiku. Setelah ramah-tamah, istri dan anaknya Pak Lurah ke masuk dalam, tinggal aku, Mujahidi, dan Pak Lurah. Sementara satu pemuda dan dua orang desa yang sebelumnya menemani Pak Lurah telah
melanjutkan ronda kembali. Aku melanjutkan pembicaraan sambil sekali-kali mencicipi tahu isi dengan cabe kesukaanku.
“Sebenarnya ada pencurian yang bagaimana sih pak, kok sampai meminta bantuan Kyai?”
“Begini lo nak mas Febri,” Pak Lurah mulai bercerita, setelah menarik napas panjang.
“Desa Pasir Seketi adalah desa yang damai, tak pernah ada pencurian, kehilangan. Sampai satu
hari… Anak perawan desa ini ada yang hilang, namanya Nining. Sehari dua hari Nining tak muncul, kedua orang tuanya menyangka Nining pergi ke kota menyusul abangnya yang bekerja di Jakarta, jadi orangtuanya kemudian menghubungi abang Nining yang ada di Jakarta, tapi abangnya mengatakan, Nining tidak menyusul ke Jakarta, semua orang bertanya lalu kemana Nining, sampai seminggu kemudian tubuh Nining ditemukan di sungai pinggir desa sudah tak bernyawa.
Semua orang geger, siapa yang tega melakukan kekejian seperti itu? Setelah diperiksa forensik ternyata Nining diperkosa sebelum dibunuh, Polisi berusaha menyelidiki tapi hasilnya tak ada. Pembunuh Nining tak bisa ditemukan. Sampai sebulan kemudian, lagi-lagi Melati perempuan desa ini pun menghilang, malah menurut ibunya Melati malam itu menghilang dari kamarnya, karena memang jendelanya terbuka, seluruh desa telah diubeg-ubeg tapi Melati tak juga ditemukan, sampai seminggu kemudian mayatnya ditemukan di sungai dulu Nining ditemukan. Ini jelas bahwa penjahat yang menculik adalah penjahat cabul belaka. Tapi kami tak tau bagaimana dia beraksi.”
__ADS_1
Pak Lurah berhenti bercerita, dia mengambil rokok Dji sam soe dan menyalakannya, aku dan Mujahidi pun ikut-ikutan mengambil rokok dan menyalakannya, selama ini kami ngerokok tingwe alias ngelinteng dewe. Itu pun tembakau puntung, maka saat menghisap rokok Dji sam soe terasa nikmat sekali, asap mengepul- ngepul bergulung.
Pak Lurah melanjutkan ceritanya.
“Kami tak mau kecolongan lagi, maka perondaan ditingkatkan, dibantu para Polisi, sampai seminggu yang lalu, kami meronda, salah satu rombongan peronda melihat bayangan dalam gelap malam,lalu berteriak
“berhenti.!!” tapi bayangan itu,
malah berlari, dan ternyata menggendong karung di pundaknya, tak salah lagi, itu penculiknya, sebagian rombongan segera mengejar, yang lain memukul kentongan memanggil bantuan, semua orang berlarian ke arah suara kentongan, dan setelah tau semua mengejar, saat itu Pak Lurah sendiri dan tiga Polisi ikut mengejar. Betapa saktinya orang itu, dengan masih menggendong orang yang diculiknya dia melesat meloncati pagar meloncat ke wuwungan atap rumah, lalu meloncat ke atap yang lain, Polisi mau menembak tapi takut mengenai perempuan yang dipanggul, lalu penculik itu berhenti dan menoleh, seperti mengejek. Lalu melesat cepat, dan hilang di telan gelap malam. Tempat sekitar penculik itu menghilang sudah kami aduk-aduk tapi kami tetap tak menemukan apa-apa, dan yang hilang kali ini gadis bernama Tunik, seminggu kemudian kami menemukan nyawa Tunik dibuang begitu saja di sungai ujung desa.
Maka setelah kami adakan rapat, kami memutuskan meminta bantuan Kyai Lentik …,” belom lagi Pak Lurah menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba terdengar jeritan istri Pak Lurah dari dalam.
“Anggraini..! Anggraini pak.” Pak Lurah segera melesat lari ke dalam, aku dan Mujaidi segera mengikuti, nampak bu Lurah menangis.
“Tadi di kamar, sekarang nggak ada..”
“Sudah dicari kemana-mana?″
“Sudah pak tapi tidak ada.”
__ADS_1
Tiba-tiba ditabuh kentongan bertalu-talu. Aku segera menghambur ke arah suara kentongan, disusul Mujahidi.
“Kejar..!” “penculik tangkap…!”
Aku berlari cepat, Mujahidi menyusul di belakangku, orang berserabutan mengejar. Tubuhku terasa ringan, aku dapat menyusul yang lain, malah aku tak sadar ada paling depan di antara pengejar. Kulihat bayangan meloncati sebuah pagar, di pundakya kelihatan karung, tentunya berisi, ah pasti Anggraini, aku makin cepat mengejar, semangat, meloncati pagar, meloncati sungai kecil, menerobos kebon pisang.
Aku berhenti membungkuk mengatur napas, mengusap keringat yang membasahi jidatku. Aku baru sadar kalau aku sendiri, kemana yang lain, aku tengak tengok tak ada orang, yang lain pada kemana, tapi aku tadi benar-benar melihat orang itu lari ke sini, dengan sinar bulan yang seperti potongan kuku, kucoba mengenali tempat sekitarku. Perlahan pandanganku mulai jelas. Kuburan. Benar tempat ini kuburan, mungkin pemakaman orang desa Pasir Seketi, tapi semakin ku perhatikan ini pemakaman tua, terlihat seperti tak begitu terurus, dan batu nisannya dari batu yang menyerupai batuan candi, semua hitam berlumut. Segala pohon melintang kesana kesini, rumput setinggi lutut, pohon besar di tengah pemakaman, sungguh tempat yang angker, mungkin dulu aku kalau tidak digembleng Kyai mengitari pulau Jawa dan tidur di sembarang tempat yang lebih serem dari tempat ini, tentu aku akan takut.
Aku melangkah berhati-hati sambil kaki meraba-raba, sekali waktu mataku menengok ke arah aku datang mengharap ada yang menyusulku, tapi keadaan teramat sepi, aku mau memutuskan tuk kembali, tiba-tiba terdengar, suara daun kering terinjak,
”Siapa?” kataku, tak yakin. Muncul di depanku bayangan manusia, pakaiannya hitam-hitam dan memakai penutup wajah hitam.
“Heh cuma mas Ian ha ha ha.” suara orang itu dan bentuk tubuhnya yang tinggi besar, aku seperti pernah mengenalnya.
“Hah kau penjahat cabul…” kataku sambil masih tengak tengok, mengharap orang yang datang. Sebab kalau sampai aku berhadapan dengan lelaki ini sendirian bisa berabe. Apakah begini rasanya kalau mau berkelahi, tubuh gemetar. Bagaimana aku menghadapi orang ini, kulihat tubuhnya tinggi besar, berotot, kalau dibandingkan denganku tubuh kecil ceking, tangan kecil kurang gizi, jangankan berkelahi salaman aja kalau tanganku diremasnya tentu seperti meremas kobis. Apalagi sampai berantem, aku sendiri pun takut untuk membayangkannya.
Terus terang selama ini belum pernah aku berkelahi, pernah juga mau berkelahi, waktu aku kelas SD, kelas dua, kursi yang ku tempati ditempati sama anak lain, lalu ku suruh dia pergi, tapi tak mau malah ngajak berantem, lalu dia memegang hidungku, akupun menangis
sekencangnya. Tanpa sadar ku pegang hidungku yang mancung. Wah bagaimana kalau nanti....
__ADS_1
Bersambung...
Nb. Hai Sahabat2 yang budiman ane doakan mudah2an sahabat semua selalu diberi rezeki yang melimpah sehat selalu sekeluarga Aamiin.. mohon maaf ya sahabat, ane lama baru update lagi, karena banyak urusan yg mesti diselesaikan,, mudah2an sahabat semua tetap mau mensupport lewat like koment n share syukur2 nyawer.. Love you aLL