
“Lho kan yastaqdimuna sa’atan wala
yasta’khiruna, itu kan rujuk jamak, maksudnya
manusia semua itu tak bisa memajukan dan tak bisa memundurkan, kalau Alloh ya terserah Alloh, mau memajukan atau memundurkan itu kan hak mutlak Alloh, karena sifat Dia ‘ala kulli
syai’ing qodir, jadi Alloh tidak membantah pada
firmanNya, sebab firman itu ditujukan pada
manusia, jadi harus dipahami itu.”
“Berarti apa perlunya firman kalau ajal itu tidak
bisa dimajukan dan dimundurkan walau sesaat?” tanya Munif.
“La Al- qur’an itu kan turun untuk memberi petunjuk bagi orang yang bertaqwa, ya jelas maksudnya untuk memberi petunjuk bagi orang yang bertaqwa, memberi petunjuk kalau ajal itu hal yang sudah ditulis, ditentukan, digariskan, jadi manusia itu pasti mati, dan kematiannya sudah dipastikan, tapi bukan berarti Alloh tak bisa merubah apa yang telah dia tentukan, ya kalau tak bisa lagi merubah sekehendakNya, ya berhenti jadi Alloh, kekuasaan Alloh itu tak
terbatas, tak bisa diganggu gugat, dan apapun
yang akan Alloh lakukan maka tak salah, karena Dia yang menciptakan, mau menghancurkan ataupun menciptakan itu terserah Dia.”
“Kalau menurutku ya tidak begitu, kalau umur
yang sudah ditentukan ya sudah tak bisa
dirubah,” kata Munif ngotot.
“Ya kalau Alloh tak bisa merubah, kan waman
aroda syai’an aiyaqula lahu kun fayakun harus di hapus dari ayat qur’an.”
“Menurutku rizqi, ajal, jodoh, itu sudah tak bisa
dirubah.” otot Munif.
“Gini saja, jika kataku ini benar, bahwa Alloh itu mampu memajukan ajal, dan memundurkannya sekehendak-Nya, berani tidak kamu bulan depan mati, dan jika menurut pendapatmu bahwa Alloh itu tak sanggup memajukan dan memundurkan ajal, moga-moga aku bulan depan mati.” kataku agak emosi.
“Ya tak bisa seperti itu, itu tak bisa dibuat
ukuran kebenaran.” katanya.
“Ya kita lihat, bulan depan.” kataku.
Malamnya seperti biasa bila ada yang cuti semua pada main untuk mengucapkan selamat jalan.
Dan saat malam telah larut, jam satu malam,
tinggal dua tamu di kamarku, yaitu Muhsin dan Umam, di malam itu Munif mengetuk pintuku.
“Aku minta maaf.” kata Munif
“Wah dramatis banget ada apa?” kataku melihat wajah Munif yang sedih.
“Iya siapa tau kita tak ketemu lagi,”
“Wah aneh- aneh saja kamu Nif.”
“Iya siapa tau kamu tak kembali lagi ke Saudi.”
__ADS_1
“Aku kembali lagi kok, kan aku belum hajian, rugi lah jauh-jauh dari Indonesia ke Saudi kalau tak hajian.”
———————————–
Baru setengah bulan di rumah, aku mendengar kabar Munif meninggal dalam kecelakaan,
ceritanya, para pekerja dikirim ke pabrik
satunya, sebenarnya Munif bukan salah satu
pekerja yang dikirim, jadi dia tak tercatat
sebagai salah satu pekerja yang dikirim, tapi
salah satu pekerja yang dikirim mengalami
halangan, maka Munif yang dijadikan ganti,
semua pekerjaan sudah diselesaikan, dan
pekerja akan pulang ke pabrik asal, tapi busnya mogok, maka disewalah bus lain, di saat menuruni jalan gunung yang curam, bus remnya blong, sopir membanting setir agar bus tak menghantam jurang, tapi bus malah menghantam dinding gunung, lalu terguling ke arah dinding gunung, lantas terbanting lagi ke aspal, dan terseret sampai dua ratusan meter,
Karena terbanting-banting, sehingga penumpang menimpa penumpang lain, sehingga yang dibawah, terkena aspal dan pecahan kaca, ada yang tangannya hancur sampai siku, ada yang semua jarinya lepas, ada yang sebagian wajahnya terkelupas, Munif tak terluka sama sekali, tapi dia yang meninggal, setelah aku kembali cuti,
Jasad Munif tak bisa diurus kembali ke
Indonesia, dan dimakamkan di Saudi, itu juga
menunggu tiga bulan, sebab cutiku tiga bulan,
aku menyesal telah berkata yang keras kepada
Munif, tapi nasi sudah menjadi bubur, memang seharusnya aku bisa menjaga lisan, walau semua adalah ketentuan Alloh, tapi aku amat merasa bersalah sekali, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Alloh.
“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku Ibu Sarah,” “Ibu Sarah siapa?” tanyaku lagi.
“Aku seorang TKW,” katanya.
“Ooo, maaf bu… aku tak ada waktu bicara yang
tak perlu.” kataku dan HP ku matikan.
Aku tak mau terjebak oleh telpon-telponan
dengan TKW, hanya melakukan perbuatan yang sia-sia saja. Tapi HP berdering lagi, dan ku lihat masih nomer yang sama.
“Iya bu… ada apa?” tanyaku dengan nada tak
suka.
“Anu nak, ibu mau minta tolong,”
“Minta tolong apa Bu?” tanyaku.
“Terus terang aku tak tau lagi harus minta
tolong pada siapa, maka aku coba mengacak
__ADS_1
nomer telpon, kok yang keluar nomer anak ini,
namanya siapa?”
“Saya Febrian,” jawabku.
“Nak Febrian, saya minta tolong, ya setidaknya
minta do’a, saya sangat tertekan sekali dengan majikanku, yang orang si’ah, yang suka memukulku, menyiksaku, bagaimana ini nak,”
“Ooo, ibu tenangkan diri, coba perbanyak dzikir basmalah, nanti ku bantu supaya majikan ibu
menjadi baik, dan tak suka menyiksa.” kataku.
“Berapa kali saya harus wirid basmalah nak?”
“Ya sebanyak yang ibu mampu, dua belas ribu
juga boleh kalau mampu, atau lebih, nanti ku
do’akan dari sini.” kataku menghibur.
“Iya nak, ternyata tak salah aku mengacak
nomer telpon, terimakasih nak…” kata Sarah.
“Tapi ingat ya bu…, jangan menyumpahi majikan ya..”
Lalu HP mati, sepertinya pulsa habis.
Jika Alloh menjamin sesuatu, maka berarti Alloh telah menempatkan segala sesuatu sebagai pelengkapnya, itu suatu perencanaan Alloh atas segala kejadian, sehingga semua sesuai dengan yang Alloh kehendaki, dan Alloh tak pernah membutuhkan sebab tapi Alloh selalu membuat segala sesuatu seakan kejadian yang wajar yang masuk akal jika dicerna dengan ilmu pengetahuan,
Seperti garam yang asin, dan tersedia air laut yang bila diuapkan akan menjadi garam, kejadian dan kejadian lain itu saling berkaitan dan saling melengkapi, saling mendukung dan menyempurnakan, seperti orang membuat sambel tanpa garam tak enak.
Semua kejadian dirancang untuk bergerak dan
saling membutuhkan, satu saja kurang kelengkapan itu maka tak akan terjadi, kita manusia yang wajib mempelajari maka tertemukan teori dan ilmu pengetahuan, walau sekedar membuat sambel, sambel tanpa cabe, maka tak akan enak, atau membuat mobil,
Mobil tanpa roda maka tak jalan. Begitu juga jika Alloh membuat syarat ubudiyah, penyembahan, penundukan hati dan ketundukan atas perintah, tak ada seorang pun yang akan bisa mengakali Alloh, kecuali akan mengakali dirinya sendiri, tidak ada seorang pun yang menipu Alloh, kecuali hanya akan menipu dirinya sendiri, sebab Alloh telah melihat hati bahkan nasib seseorang, tembus terlihat jelas, maka daripada menipu lebih baik jujur, kejujuran itu lebih menyelamatkan.
Pagi-pagi baru bangun tidur HP sudah berdering, dan kulihat ternyata Sarah.
“Ada apa bu?” tanyaku.
“Amalan dari anak sudah ku amalkan,” kata
Sarah.
“Lalu?” tanyaku.
“Ini nak, ibu kok jadi takut.” kata Sarah.
“Takut apa bu?”
“Gini, kemaren kan aku dimarah-marahi sama majikanku lagi, sampai matanya melotot-lotot, lalu aku sumpahi, matamu copot, ya aku juga tak sadar bilang itu dengan bahasa Indonesia, dan majikanku tak tau, la tadi pagi, aku nyapu, kok ku lihat di lantai menggelinding seperti kelereng, setelah ku teliti ternyata kok bolamata,
Bola mata majikanku itu lepas satu, ini bagaimana nak, ibu merasa berdosa, huuu… ibu berdosa pada Alloh.”
kata Sarah sambil menangis.
__ADS_1
“Sudah bu… sudah yang terjadi ya biar terjadi, sekarang saya minta ibu berhati-hati menggunakan lisan, walau cuma bacaan basmalah, kelihatan sepele, dan anak kecil juga bisa, tapi basmalah yang ku berikan pada ibu itu ada sanadnya menyambung sampai Nabi, dari guruku,,
Bersambung...