
Saya ini sakit kyai…” jawabnya lirih.
“Sakit apa?”
“Sakit disantet orang..”
“Disantet…?” tanyaku heran.
“Iya.” jawabnya masih dengan nada lirih.
“Iya saya disantet sudah sejak 5 tahun silam, dan sudah saya obatkan kemana-mana, tapi tak sembuh juga..”
“Boleh diceritakan bagaimana awal mulanya?”
“Saya bekerja membuat rengginang (kalau Jawa Timur namanya krecek, makanan dari ketan yang ditanak, dikeringkan dan diberi rasa trasi, atau rasa gula merah), saya usaha meningkat pesat sampai saya titipkan ke Matahari, atau mall, juga Indomaret, banyak pesanan dari mana-mana, sampai saya punya banyak karyawan dan bisa untuk menyekolah kan anak saya sampai tingkatan kuliah, namun 5 tahun yang lalu, awalnya di rumah kayak ada pasir yang ditaburkan, atau terdengar ledakan berkali-kali tiap malam, dan anehnya kemudian beras ketan yang saya masak jadi berwarna seperti warna batu bata yang dihancurkan, sehingga tak bisa saya jadikan rengginan.
Lama-lama usaha saya bangkrut dan saya juga sakit, sakit saya ini seperti ada yang berjalan di dalam tubuh, ya seperti kelabang gitu, sehingga rasanya sakit sekali, tapi anehnya ketika saya ke rumah sakit kok gak ada apa-apa, tak ada penyakit di tubuh saya, sementara sakit saya makin parah saja, akhirnya saya bawa ke pengobatan orang pinter dan dari tubuh saya dikeluarkan ada paku, benang, rambut.” kisahnya memelas.
“Lalu bagaimana setelah dikeluarkan, apa sembuh?” tanyaku.
“Ya sembuh, tapi cuma sekali, seharian itu aja besoknya malah kambuh lagi malah semakin sakit dari sebelumnya, perut seperti ditusuk-tusuk, bahkan nafas rasanya sampai tak bisa, saya hanya tidur tak berdaya, anehnya kalau saya pakai sholat ada saja gangguannya.”
“Gangguannya bagaimana itu bu?”
“Pernah saya sedang berdiri sholat, tiba-tiba di tempat saya sujud ada pocong yang sedang tiduran, ya saya kan jadi gak bisa sujud, saya mundur, pocong itu mengikuti merubah duduknya, saya akhirnya kabur, dan tak jadi sholat, saya sudah lelah berobat, sampai tetangga saya mengajak dzikir di majlis kyai
ini.”
“Ooo ibu pernah ikut dzikir di majlis to?
Pantesan kayaknya saya pernah lihat, cuma saya lupa di mana, lalu bagaimana?”
“Nah waktu dzikir ke sini kemarin kan saya membawa air yang ditaruh di tengah jamaah itu, air itu saya pakai mengepel rumah, dan saya pakai mandi.”
__ADS_1
“Lalu bagaimana kelanjutannya?”
“Ya waktu rumah saya pel, terjadi banyak ledakan, entah di dalam tanah atau di atas genteng, suaranya seperti petasan sampai rumah saya bergetar, ya saya yakin saja, juga saya pakai mandi, dan alhamdulillah sakit saya
berkurang banyak..”
“Syukur kalau begitu.”
“Juga saya sudah mulai membuat rengginang lagi, tapi dua hari yang lalu, kok sakit saya kembali lagi, bahkan beras ketan yang saya mau buat rengginang bukan hanya berwarna merah, tapi berwarna hitam seperti pasir aspal, ini bagaimana kyai, tolong saya dibantu.”
“Ya insaAllah saya akan bantu ibu ini, semoga Allah menolong kita dari orang-orang fasik, coba ibu minum air yang ku beri, biar yang dalam tubuh saya keluarkan dulu, kalau di rumah, itu harus dipagar, kalau ndak dipagar juga diobati, misal sembuh dihantam lagi juga akan kena karena tak dipagar, insaAllah nanti ku beri pagaran untuk rumahnya, semoga nanti akan selamat, dan usahanya berkah.” kataku
menghibur.
Setelah ibu itu meminum air yang ku doakan, dan ku suruh menempelkan jari di fotoku, sebentar kemudian pingsan, dan ku tarik satu persatu apa yang dikirim orang, setelah semua keluar, dia segera sadar, dan ku berikan pagaran untuk rumahnya, lalu setelah merasa tubuhnya enakan dia pamit pulang. Sebenarnya lelah juga walau kelihatannya dalam praktek tidak banyak melakukan gerakan atau kerjaan berat, mengeluarkan penyakit atau jin, sangat menguras tenaga dan energi, tapi pengalaman sekian waktu sedikit banyak akhirnya tau bagaimana agar ketika mengeluarkan jin atau kekuatan jahat dari tubuh seseorang tapi tak banyak menguras energi.
Aku juga masih selalu belajar dan belajar, untuk mengartikan anugerah Allah ini agar ber manfaat untuk menolong sesama, walau jika menolong orang yang kena jin kiriman, atau menolong orang yang kena santet, aku akan disantet atau diserang dukun yang mengirim jin, jika menolong 10 orang maka akan di keroyok dukun 10, ya itu resiko, masak ada orang minta tolong lantas ku tolak, Allah sudah menggerakkan mereka datang kepadaku, artinya juga Allah pasti memberikan kekuatan padaku yang kenyataannya tak punya kelebihan apa-apa.
“Bersama rombongan, dari mana kang?” tanyaku setelah kang Ridwan duduk di depanku, dia tertawa-tawa, ku tunggu saja selesai tertawanya.
“Kenapa tertawa?” tanyaku, karena dia makin
senyam senyum penuh rahasia.
“Ini habis menyidangmu…”
“Kok menyidangku, maksudnya apa?” tanyaku heran.
“Lhoh kamu gak ngerti to kalau telah dibuat ribut di masjid?” tanyanya makin membuatku
bingung.
“Lhoh dibuat ribut soal apa? Aku kan gak ada urusan sama masjid. Apa salahku?”
__ADS_1
“Biasa dari Askan yang memusuhimu…”
“Wah apalagi masalahnya? Coba ceritakan..” aku makin penasaran.
“Begini ceritanya, kemaren Askan kan mengumpulkan para pengurus masjid, untuk diajak menyerangmu, ya maksudnya kamu kan menyalur air dari masjid, jadi para pengurus diajak untuk mengobrak abrik paralon yang kamu pasang.”
“Lhoh itu kan sudah 3 tahunan, selama ini tak
apa-apa kok..”
“Ya pengurus masjid ada yang terpancing, ada juga yang tidak terpancing, soale Askan bilang yang kamu lakukan mengambil air di masjid itu haram, tidak boleh mengambil apa yang di masjid termasuk air, itu kata dia..”
“Kok aneh, kan saya ijin pada pengurus to kang, dan bagaimana orang yang berwudhu di masjid itu, bukannya mereka semua mengambil air di masjid, malah Masjidil Haram kan orang dari seluruh dunia datang mengambil air zam-zam, kalau itu salah kan Masjidil Haram itu sudah melarang orang mengambil air zam-zam,
bagaimana itu?”
“Kami orang bodo, makanya kami bingung atas pernyataan dari Askan itu, ya lantas kami tadi menghadap ke kyai Sofwan, meminta pertimbangannya, tadi kami semua pengurus masjid menghadap kyai Sofwan.”
“Lalu apa kata kyai Sofwan?” tanyaku.
“Ya malah kyai Sofwan, malah bilang tak apa- apa, apalagi air yang kamu pakai kan untuk keperluan jamaah, bukan untuk kepentingan diri sendiri, air masjid itu milik Allah, jadi bebas dipakai siapa saja, asal bukan listriknya, kan kamu tak memakai listrik masjid.”
“Lalu bagaimana ini kelanjutannya?”
“Ya kamu boleh mengambil air masjid, tak
papa.”
“Ya Askan itu selalu berusaha mengerecoki aku, biarkan saja, satu masalah selesai, mencari masalah baru untuk dijadikan masalah, entah mau membuat saingan mendirikan majlis tandingan, ya aku malah seneng saja, kan makin banyak orang yang mendakwahkan Islam, Islam makin subur, tapi seharusnya gak pakai mengerecoki diriku, bikin saja jamaah sendiri kan beres. Oh ya kalau dia ngajar ngaji di masjid itu yang pakai sepeker itu yang datang berapa orang?”
“Ya yang datang paling 4 orang, orang juga malas datang kalau datangnya selalu malah dijelek-jelekkan di depan jamaah yang lain..”
jawab kang Ridwan.
__ADS_1