
Dan banyak sekali hikmah yang bisa ku dapat,
dan ini akan menjadi kenangan bagiku dengan
temanku si Munif yang telah lebih dahulu
menghadap Alloh karena kecelakaan di
perjalanan kerjanya, semoga amal ibadahnya
diterima di sisi-Nya.
Suara sirene polisi memberi peringatan, agar
setiap mobil segera meninggalkan parkir di tepi jalan, jika tidak akan segera diderek, menandakan kami harus segera pulang, kembali ke pabrik, dan bekerja seperti biasa, dan tak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Taqdir telah dalam tergurat, baik buruk
siapapun tak ada yang akan tau akhirnya, kita
seperti pejalan kaki yang melintasi gelap, tak
ada yang memberi cahaya kecuali Sang Maha
pemberi cahaya, dan Alloh hanya memberi
cahaya pada siapa yang dikehendaki, dan kita
berharap kita, khususnya aku sendiri mengharap cahaya itu menjadi penerang di hati, memperoleh sedikit sudah cukup menjadi panduan, agar aku bisa melewati kegelapan hidup yang penuh tipu daya, sebab ketertipuan yang halus lebih menakutkan karena diri tidak
merasa, dan selalu merasa benar walau jelas
telah salah jalan, itu lebih menakutkan dari
masuk ke jurang secara nyata, sebab telah jauh amal dilakukan bukan menambah kita menuju
kebenaran, walau sisa umur habis sudah di
perjalanan panjang yang sia-sia, tak pernah bijak memaknai sepi, dan tak pernah mengerti tujuan perjalanan yang sejati.
Sampai di pabrik, masih ada waktu istirahat, dua orang TKI sudah ada di kamarku. Kami bicara tentang cerita masing-masing, dan tentu saja rokok Indonesia kebiasaan bagi TKI yang datang dari cuti atau baru datang dari Indonesia, sebab rokok di Saudi harganya selangit untuk rokok Indonesia.
Dua orang TKI baru itu bernama Yatno dan
Umam. Karena sudah teramat lelah aku pun tertidur. Hari-hari kerja seperti biasa, Alhamdulillah aku mendapat lemburan membersihkan masjid, walau waktunya setengah hari, tapi cukup lumayan untuk tambahan membeli rokok.
Biasa jam 9 istirahat, karena kerja di masjid
sendiri, aku memilih tempat menyendiri untuk
menulis pakai hp N75, sambil menyalakan rokok.
“Haram… hada duhon haram…!” seorang mutowak (kyai) membentakku. Dia seorang Arab.
Maksudnya, “Haram, ini rokok haram.”
“Siapa yang mengatakan haram?” tanyaku.
“Aku.”
“Siapa kamu berani menentukan hukum tanpa
dasar.” elakku.
“Aku kyai.”
“Kyai bukan Nabi, Al qur’an saja tidak
mengatakan haram, bagaimana kamu mengatakan haram.”
“Aku mengatakan haram, ya haram…” bantah
__ADS_1
Mutowak.
“He… di mana-mana haram itu sudah jelas,
alqur’an juga sudah menetapkannya, zina,
mencuri, mabuk-mabukan, riba, membunuh, itu sudah jelas di-nas, ditentukan oleh qur’an, kalau rokok makruh iya, karena tidak ada manfaatnya, tapi kalau haram tidak, bahkan tak ada wala
taqrobu duhon, jangan mendekati rokok juga tak ada, jadi jangan membuat hukum tanpa ada dasar hukumnya, kalau Alloh tidak mengharamkan maka jangan diharamkan, kalau melarang dalam ruang tertentu ndak papa.”
kataku juga ngotot.
“Pokoknya kalau haram, ya haram,” Mutowak juga tak mau kalah, walau dia tak punya dasar.
“He… aku tau kamu mutowak, dan aku orang
bodoh, tapi tidak bisa seseorang itu
memaksakan kehendaknya pada orang lain,
kecuali hal itu benar-benar berbahaya untuk
orang lain, seperti seorang dokter melarang
orang darah tinggi makan daging kambing, tapi untuk orang lain daging kambing kan bukan
larangan, pemerintah saja tidak melarang rokok, la kok kamu melarang, sekarang kalau gad (sejenis rumput yang bisa menambah stamina dan jika dikonsumsi bisa menjadikan orang yang mengkonsumsi ketagihan, dan di Saudi itu dilarang sebab hampir seperti ganja, walau efeknya aku sendiri tak tau apa bisa sakau) apa itu halal kok kamu mengkonsumsi?” tanyaku.
“Kalau itu halal.” jawab Mutowak.
“Tapi itu kan pemerintah melarang?”
“Ya itu kan urusan pemerintah.” jawab Mutowak.
“Lo yang rokok ndak dilarang, kamu haramkan,
kok gad yang dilarang pemerintah kamu makan?
ta’atlah pada Rosul, dan ta’at pada pemimpin
kalian, bukankah itu malah menyalahi Al-qur’an?”
“Kamu sok pinter.”
“Lhoh itu kan sudah ada di Alqur’an, bukan aku
sok pinter.” elakku.
“Begini saja menurutmu ayat yang menyatakan:
“wa anzalna minassama’i ma’an” [dan Aku (Alloh)
turunkan air hujan dari langit], menurutmu ayat itu benar tidak kalau Alloh yang menurunkan
hujan dari langit?” tanyaku.
“Ya benar itu kan Qur’an.” jawab Mutowak.
“Nah karena yang menurunkan hujan dari langit itu Alloh, jika yang kamu katakan benar, coba
kamu berdo’a minta hujan pada Alloh, kalau kamu benar tentu Alloh akan menurunkan hujan dari langit, bagaimana? Aku akan berhenti merokok sekarang juga.” kataku.
“Ya tidak bisa seperi itu.” kata Mutowak.
Karena di Jizan sendiri setahun memang belum tentu ada hujan, bahkan telah berulang kali dilakukan sholat minta hujan di lapangan, tetap saja panas amat terik.
Dan dari kyaiku aku sudah dibekali sendiri cara meminta hujan, memindah mendung, dan memerintah angin, maka aku berani menantang kyai dari Saudi itu.
Walau sebenarnya aku tak ingin apa yang
diberikan kyaiku itu untuk membenarkan atau
__ADS_1
mendukung hujahku, aku hanya ingin orang Arab itu tidak terlalu selalu menganggap ucapan dia adalah hukum, dan kebenaran, sementara ucapan orang di luar Arab itu salah.
“Nah kamu tak berani kan? Anak kecil juga bisa ngomong ini itu, netapkan sesuatu dengan ukuran udelnya sendiri.” kataku memanasinya.
“Coba kamu…” kata Mutowak itu yang sudah
termakan siasatku.
“Kalau turun hujan bagaimana?” tanyaku.
“Tak mungkin.”
“Bener aku yang berdo’a?”
“Iya kalau turun hujan bagaimana?” tanyaku lagi.
“Kamu boleh ngerokok semaumu, bebas di mana saja.” kata Mutowak itu yakin kalau aku tak akan bisa meminta hujan.
“Baik ku pegang ucapanmu.” kataku.
Aku segera ke luar dan melihat ke jauh, di mana ada setitik mendung jauh, lalu aku berkonsentrasi, meminta kepada Alloh,
memadukan dengan dzikir dan do’a, juga tenaga prana, angin lima menit kemudian berhembus keras, dan mendung bergulung mendatangi, aku tetap konsentrasi, dan menyatukan permintaan dengan kesungguhan, dan sepuluh menit kemudian hujan deras, aku berlari ke tempat teduh, menghindari hujan.
“Bagaimana?” tanyaku pada Mutowak.
“Itu sihir…” kata Mutowak.
“Lhoh kamu ini bisa dipegang kata-katanya tidak, jelas-jelas di qur’an Alloh yang menurunkan hujan, ini bukan aku yang menurunkan, bagaimana kau anggap sihir, la coba saja airnya disentuh, tanah basah gitu, kalau sihir mampu melakukan seperti itu, sampai tanah basah, air mengalir, wah hebat benar sihir itu.” kataku agak jengkel.
Memang tak ada gunanya otot-ototan sama
orang Arab, sebab kebanyakan mereka
memperdebatkan sesuatu tanpa dasar, dan
hanya memakai dasar agar diri dianggap benar.
Aku tinggalkan Mutowak Arab itu, dan kembali
bekerja.
Esoknya lagi Mutowak itu mendatangiku, dan
memberikan rokok padaku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Aku hanya ingin mengatakan, kamu jangan
menunjukkan kelebihanmu di hadapan orang lain, karena kamu bisa dibawa polisi, dituduh
melakukan sihir, dan akan dipancung.” kata
Mutowak.
“Lhoh aku sama sekali tak melakukan sihir.”
“Iya, aku tau, tapi di Saudi seperti itu tak ada,
kamu memiliki ilmu haq, tapi di sini, Saudi,
seperti itu tak ada, pemerintah mempunyai
mazhab wahabi, yang bersandar pada ibadah
yang logika, masuk akal, dan wajar, jadi kalau
minta hujan ya pakai istisqo’, do’a itu ada kalanya diijabah di akherat sana.”
“Hehehe… aneh.”
__ADS_1